07. Paseban

Rumahnya terletak di dalam gang, di antara ramainya Pasar Paseban. Menjulang dua lantai. Hanya ada lima kamar tidur yang disewakan untuk beberapa mahasiswa pemalas dan pekerja rendahan di pusat perbelanjaan. Begitulah Bude, begitu perempuan tua itu akrab disapa, mendapatkan penghasilan sehari-hari.

Paseban tak pernah sepi seperti kawasan pasar pada umumnya. Bahkan meski letaknya terlalu dalam, kendaraan masih melewatinya, menjadikannya pelarian dari kemacetan Jakarta di jam-jam sibuk. Sehingga motor dan kendaraan umum beradu bersama mobil yang arogan dan orang-orang yang sibuk tawar-menawar.

Bude biasa membuka pintu rumahnya pada pukul empat pagi. Menyapu teras rumah sambil menyapa beberapa pedagang yang puluhan tahun dikenalnya menjajakan sayur dan buah. Kemudian ketika adzan subuh terdengar dari surau terdekat, Bude akan masuk kembali ke dalam rumah, menanak nasi dan menunaikan ibadah pagi.

Ketika satu persatu penyewa kamar-kamarnya bangun, mereka akan menemukan nasi goreng dan telur mata sapi hangat tersaji di atas meja. Sarapan bagi mereka yang taat membayar uang sewa.

Namun hari ini, Bude terpaksa menunda segala rutinitasnya. Baru pukul 4 pagi, seorang perempuan keluar dari salah satu kamarnya. Yang jadi masalah, ia hanya menyewakan kamar-kamar itu untuk laki-laki. Sebelum ia kaget dan hendak marah-marah, perempuan itu dengan cepat menjelaskan siapa dia.

Maaf maaf… Aku bukan siapa-siapa. Aku pergi sekarang…

Belakangan diketahui namanya Nirmaya. Ikrar membawanya pulang sekali-kali tanpa pengetahuan siapa-siapa.

06.Max

Nirmaya jarang menceritakan kehidupannya pada orang-orang. Sehingga ia memiliki Max. Max cukup untuk menampung semua kisahnya walau sepotong-potong didapatinya. Max pun bertambah seiring Nirmaya menua.

Ia masih mengeluhkan skripsinya yang terlampau menjenuhkan walau pembimbingnya memujinya hampir di tiap pertemuan, terkagum akan kemajuan yang dibuatnya. Nirmaya menelan seluruh saran bulat-bulat. Berharap saran itu keluar di lubang toilet dan segera terlupakan begitu ia lepas dari jerat akademik.

Atau tentang remaja laki-laki penjaga perpustakaan yang selalu berusaha mengajaknya bicara. Dari mulai intisari buku yang hendak dibacanya, seakan ia menghirup tiap kata bagai oksigen. Hingga apakah Nirmaya menyukai warna kuning, karena setelahnya remaja itu memberikan sebuah buku catatan berwarna kuning, bakal calon Max yang pada akhirnya tak pernah ia gunakan.

Juga di sela-sela keluhan dan protes itu, Nirmaya masih bercerita tentang malam ia kabur dari rumah. Ia menyeret sepedanya keluar dari halaman rumah. Sedikit derit di pagar nyaris membangunkan ayahnya. Ia tetap bisa melarikan diri setelahnya.

Ketika itulah, ia memutuskan mengarahkan sepedanya melewati keheningan Jalan Diponegoro. Lurus terus hingga ia mampu menangkap kerlipan cahaya jendela-jendela pencakar langit.

Dan ia memutuskan berhenti di sana. Di bawah air mancur Taman Suropati. Membiarkan matanya menikmati kemewahan itu. Kemewahan yang selalu ia harapkan sejak beranjak dewasa. Kabur dari rumah. Sejenak saja cukup 15 menit.

Hei! Hei! Hei Nona yang di sana! Kita punya 2 jam sampai suara adzan subuh terdengar kalau lo mau menikmati semuanya.

Max menyimpan setiap detil cerita tentang laki-laki yang menawarkan diri itu. Tentang pelarian kecil sebelum fajar itu.

Untuk pertama kalinya, Nirmaya menceritakan secara utuh. Termasuk bagaimana ia memutuskan untuk meninggalkan Max karena laki-laki ini, Ikrar membuat bibirnya tak berhenti bicara.

05.Kopaja 502

Legi bertemu Ikrar di sesaknya Kopaja 502.
Ikrar berbadan tinggi besar dengan kulit gelap seperti tembaga dengan kualitas bagus. Dia berandalan yang terlihat bersih. Rambut panjangnya ikal dicepol tanpa sisa poni.
Ia naik dari pintu belakang ketika kopaja melewati deretan Cikini Raya. Perjalanan masih panjang untuk tiba di Matraman.
Selanjutnya Legi akan banyak tertolong oleh Ikrar. Dari mulai kontrakan, uang makan, perlindungan dari preman, hingga urusan syahwat.
Mereka hanya duduk bersebelah-sebelahan di bangku deret paling belakang. Acuh tak acuh pada awalnya.
Ketika jalanan mulai memadat di pasar bunga, teguran pertama akhirnya mencairkan.

Ada rokok?

Legi memberikan satu untuk mengawali pertemanan itu. Walau pemberhentiannya sudah di depan mata.

04.Pluviophile

Ada kata-kata yang berkumpul di kerongkongan. Seperti isi perut yang membuncah-buncah. Menanti pembuangan terakhirnya di toilet atau selokan. Ya, seperti rasa ingin mengutuk dan mengata-ngatai. Namun siapalah mereka untuk saling berkata demikian?

Dendam seperti itulah jalannya.

Lebih baik simpan saja atau menyesal telah berniat.

Kemudian kereta masih terus melaju sementara gerbongnya menyepi. Kereta melewati Kampung Bandan yang selalu nampak murung. Awan hitam mulai menggelayuti terlihat di atas hamparan rerumputan liar di luar stasiun. Dan kereta kembali melaju.

Kini, roti isi Nirmaya telah habis dimakannya sendiri. Ia memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. Bertanya-tanya apakah hujan akan turun.

Legi menyenderkan dirinya pada sisi tempat duduk yang empuk. Membiarkan kepalanya mengetuk jendela sementara matanya mencuri-curi pandang. Ia tersenyum sedikit. Membiarkan imajinya kembali dalam dejavu ketika ia sering melakukannya dahulu di tempat yang berbeda.

Dan kemudian rintik pertama turun ketika kereta mendekati Duri. Perlahan-lahan menjadi deras.

Kamu masih suka dengan hujan?

Kereta berhenti. Mereka tiba di Duri. Ketika ratusan orang berganti dengan puluhan lainnya dan mulai memenuhi apa yang tadinya tak terisi.

Dan Nirmaya bergeming saja. Ia sudah lama berhenti menyukai hujan sementara Legi baru saja mulai jatuh cinta pada rintik-rintiknya.

 

03.2011

Banyak hal di mulai pada tahun 2011.

Bagi Nirmaya, ia sedang mempersiapkan kelulusan kuliahnya. Mendapati semua orang mendesaknya menyelesaikan bab 3 di tengah batas akhir yang hanya tinggal 2 minggu. Nirmaya tahu, hati kecilnya tak siap untuk buru-buru.

Bagi Legi, ia tak tahu seperti apa ibukota itu sebenarnya. Ngawi tidak memberinya banyak pilihan. Terlebih setelah kakak perempuannya memilih kawin di usia 19 dan ikut suaminya transmigrasi ke Sumatera. Kini ia sendirian, di persimpangan memutuskan untuk lanjut berkuliah atau bekerja. Legi bekerja.

Sangat sulit menerima logika bahwa ada dua jenis manusia di dunia ini. Mereka yang menuntut kecepatan dan mereka yang menuntut perlambatan. Dan keduanya tak bisa hidup berdampingan.

Sehingga ketika Legi bertemu dengan Nirmaya di sebuah perpustakaan umum kota, ia tahu jatuh cinta adalah omong kosong. Jatuh cinta adalah kesadaran yang menyadarkan jarak di antara mereka terpaut jauh. Dari segala lini, dari segala pandangan sosial.

Hanya dengan melihat dari mata coklat itu, Legi tahu ada ketidaknyamanan. Namun, perlakukan konsumenmu sebagai raja dan ratu. Darimanapun kelas sosial mereka.

SELAMAT TAHUN BARU

Nirmaya akhirnya mengulas senyum dan menerima setumpuk buku yang dicari staf magang di perpusatakaan itu, Legi.

 

02.Rajawali

Legi bersandar pada pintu kereta yang sewaktu-waktu bisa terbuka. Maka, ia sisakan celah di balik punggungnya untuk berjaga-jaga.
Terlambat. Ia tergesa-gesa karena uang mengalir seiring waktu berjalan. Bagai darah, bagai jantung, bagai tak ada istirahat untuk orang sepertinya. Setiap detik adalah 1 rupiah. Dan kesiangan membuatnya rugi ratusan ribu.
Juga kesiangan, berarti merelakan tempat untuknya di kereta.
Kemudian matanya memandang satu perempuan di seberangnya. Yang begitu ayu, namun juga begitu angkuh.
Namun, ia ingat betul. Tidak akan terjadi apapun di antara mereka. Kini maupun dulu. Tidak ada yang tahu nanti.

Hmmm…

Deham adalah satu-satunya suara yang bisa ia buat. Menjawab tatapan penuh cibiran perempuan itu.
Kereta pun tiba di Rajawali. Kumpulan manusia itu keluar berbondong-bondong seperti semut menuju lobangnya.
Kini mereka berhadapan hanya sebatas dua langkah di lorong gerbong yang dingin.

01.Sepotong Roti Isi

Nirmaya menyeruak di antara bapak, ibu, murid berseragam putih abu-abu biasa, murid berseragam dengan jaket almamater, perempuan muda yang lebih sibuk dengan ponselnya dibanding memperhatikan langkah dan celah peron, juga keluarga dengan anak-anak mereka yang siap mengokupasi jendela.
Dan ia berhasil mendapat satu tempat di antara kakek tua berkemeja lusuh yang tak henti tersenyum dan perempuan paruh baya yang terlalu lelah untuk memikirkan pekerjaannya di kantor dan anak-anaknya di sekolah.
Satu helaan nafas lega dihembuskan. Kini ia menikmati sepotong roti isi yang dibelinya sesaat yang lalu. Seakan perang telah dimenangkan.
Kemudian seiring roti isi terkunyah, ia tak menyadari pandangan penuh dendam masih dilemparkan seseorang yang berdiri menyender di pintu kereta di seberangnya.
Namun tetap, meski hatinya bertanya-tanya, ia tidak hiraukan.

Sial!

Tidak ada rutukan lain. Suapan terakhir dilahapnya bersama apa yang pernah terjadi.