Hal yang Sedih

Waktu menulis di balik detik-detik jarumnya.  Meminta kata berujar dalam ketenangan. Tidak terburu-buru dan sangat lembut. Pada bunyi tik tok tik tok juga dentang bandul di tiap pergantian. 

Hingga ketika tersadar, kita sudah menua, dengan sedikit kerutan di lipatan dekat mata, dan perut membuncit, serta keluarga yang jarang berkumpul di meja makan. 

Sungguh hidup seperti itu sangat menyedihkan… 

Dengan tabah, ibu tertidur di kursi malas. Juga ayah menanti mengunci pagar.

Ketika anak pulang ke rumah. Tak bawa banyak tanda terima kasih hanya menambah tumpuk keluhan ke gudang. Penuh, sepenuh piring rendang yang tak tersentuh. 

Sungguh hidup seperti itu sangat menyedihkan… 

Dan bila baumu hanya tinggal mangkat. Peluh amarah asamu bagai sisa debu di ujung jemari tangan. Dan kau ingat masa mudamu tak penuh cinta,  hanya tekanan. 

Waktu menulis di balik jam-jam, hari-hari, tahun-tahun jarumnya. Meminta kata berujar dalam kebisingan. Karena setelahnya kamu bisu tanpa suara. Hanya tangis batin menjelma menggetar retak lantai surga. Ibu dan ayah menciduk airnya yang mengental. Berharap menambal lubang-lubang kasih sayang. 

Dan kawan, 

Sungguh mati seperti itu sangatlah menyedihkan… 

Napas

Aku mendengar napasmu
Pelan teratur
Terhentak di akhir
Dengus membentur
Dinding-dinding pikiranmu
Dan kerak-kerak batinku

Bilamana kamu lebih baik
Aku lebih baik
Kita beri rusa makan sekali lagi
—————————————–
kamu cepat sembuh

07. Paseban

Rumahnya terletak di dalam gang, di antara ramainya Pasar Paseban. Menjulang dua lantai. Hanya ada lima kamar tidur yang disewakan untuk beberapa mahasiswa pemalas dan pekerja rendahan di pusat perbelanjaan. Begitulah Bude, begitu perempuan tua itu akrab disapa, mendapatkan penghasilan sehari-hari.

Paseban tak pernah sepi seperti kawasan pasar pada umumnya. Bahkan meski letaknya terlalu dalam, kendaraan masih melewatinya, menjadikannya pelarian dari kemacetan Jakarta di jam-jam sibuk. Sehingga motor dan kendaraan umum beradu bersama mobil yang arogan dan orang-orang yang sibuk tawar-menawar.

Bude biasa membuka pintu rumahnya pada pukul empat pagi. Menyapu teras rumah sambil menyapa beberapa pedagang yang puluhan tahun dikenalnya menjajakan sayur dan buah. Kemudian ketika adzan subuh terdengar dari surau terdekat, Bude akan masuk kembali ke dalam rumah, menanak nasi dan menunaikan ibadah pagi.

Ketika satu persatu penyewa kamar-kamarnya bangun, mereka akan menemukan nasi goreng dan telur mata sapi hangat tersaji di atas meja. Sarapan bagi mereka yang taat membayar uang sewa.

Namun hari ini, Bude terpaksa menunda segala rutinitasnya. Baru pukul 4 pagi, seorang perempuan keluar dari salah satu kamarnya. Yang jadi masalah, ia hanya menyewakan kamar-kamar itu untuk laki-laki. Sebelum ia kaget dan hendak marah-marah, perempuan itu dengan cepat menjelaskan siapa dia.

Maaf maaf… Aku bukan siapa-siapa. Aku pergi sekarang…

Belakangan diketahui namanya Nirmaya. Ikrar membawanya pulang sekali-kali tanpa pengetahuan siapa-siapa.

Dalam Kotak

Aku menghadap timur. Dari sana matahari terbit. Menyinari kulitku yang kuning dan terawat baik. Sayangnya, ada masa aku tak rasakan hangatnya. Dan aku tahu pasti di bawah tanah yang kujejak ini ada kotak-kotak dengan roh kedinginan. Namun, pada masa itu, roh dan jiwaku rasakan bahagia yang buta.

***

Di dalam kotak.

Begitu caranya aku tiba di tempat ini. Atau begitu jadinya aku saat ini. Di tengah hujan, di tengah panas terik, di tengah angin malam yang jahat, di tengah kabut. Saat-saat aku terserang penyakit, saat-saat aku sehat dan tetap masih ingin berada di sini.

Semua dimulai pukul setengah lima pagi, seringkali didahului adzan subuh yang mampu membangunkan seluruh penghuni di sepanjang jalan. Maka, sebuah mobil akan memarkirkan diri di garasi rumah yang selalu terang, namun tak terlihat seperti berpenghuni.

“Hah lagi?! Perasaan baru kemarin dia bawa pulang Mimi,” Ain akan berdecak heran. Begitu pula aku, Aru, Toni, dan Ima. Sementara anak-anak yang umurnya lebih tua dari kami sudah masa bodoh dengan pertanyaan kami, tapi juga tidak menjawab apa yang terjadi.

Aku sering bertanya-tanya, apa ketika aku dulu datang ke tempat ini, kakak-kakak itu mempertanyakanku juga? Mungkin saja… Karena kemudian selalu ada penjelasan.

“Aku melihat bayi mungil lain yang menangis tanpa tahu apa-apa. Bahkan ia tidak bisa merasakan sebab musabab yang dibuat siapapun pendahulunya,” selalu begitu jawaban atau cerita Bu Mar. Ya, Bu Mar yang selalu pulang setiap menjelang subuh dan terkadang membawa satu kotak yang di dalamnya terlihat bayi menangis.

Bayi itu benar-benar hidup. Begitu pula aku saat dibawanya pulang ke RUMAH ANAK BAHAGIA ini. Hidup, berdetak, tertidur, mengoek. Dalam kotak kardus air mineral.

Di dalam kotak itu, semua diberikannya selimut sebagai alas. Ia berikan kami juga susu hangat. Lalu ia berikan kami perlindungan. Hingga dari dalam kotak juga, setiap anak tumbuh dan melihat dunia yang hanya seluas RUMAH ANAK BAHAGIA.

***

Tidak ada yang kenal Bu Mar. Semula, ia ditaruh begitu saja dalam sebuah kotak. Bertahun-tahun hidup dalam dinding yang tak beribu apalagi berbapak. Hingga begitu ia suka pada penderitaan dan tak terasa apapun lagi sakitnya ditindas.

Maka tak ada lagi yang tahu benar tentang kisahnya setelah ia pindah ke lingkungan ini. Tak ada sapa untuk tetangga. Tak ada banyak informasi untuk dicatat dalam arsip kelurahan. Karena ia bentengi rumahnya dengan pagar tinggi dan halaman yang cukup luas untuk tiba ke pintu depan. Namun lampunya terang, terang benderang, agar siapapun yang menghuni bersamanya tak terjun dalam kegelapan yang selama ini melingkupi hidupnya.

Namun sekali lagi, kisahnya hanya miliknya.

Maka, pertama dibawa pulanglah Nona, anak perempuan berusia dua belas tahun. Dia yang paling tua. Dia yang paling dipercaya. Sedari kecil juga, aku dirawat olehnya. Ketika aku datang, dia masih berumur lima tahun.

Setelah dua belas tahun berjalan, sudah ada lima belas anak dalam rumah ini. Termasuk aku dan empat temanku. Ah ya, juga termasuk dua bayi yang dibawa pulang Bu Mar sepekan ini.

“Jadi siapa namanya? Siapa?” Ima selalu bersemangat setiap dia merasa punya adik baru.

“Koko,” jawab Bu Mar.

“Jadi dia laki-laki?” Aru tersenyum senang. Di rumah ini hanya ada empat anak laki-laki. Aru, Toni, Ain, dan yang tertua Boy. “Taruh kotaknya di sebelah kotakku, akan kujaga dia setiap hari!”

Kami yang terjaga setiap malam, akhirnya bisa kembali ke dalam kotak masing-masing untuk tidur. Hidup kami akan dimulai pukul dua belas siang, ketika suara adzan terdengar lagi. Aku pun bertanya-tanya untuk apa suara itu terus diperdengarkan, sampai akhirnya aku mengenal Tuhan bertahun-tahun kemudian, ketika aku memberanikan diri menceritakan ini pada kalian.

Tidak ada kamar di sini. Hanya kotak-kotak yang dalamnya begitu hangat dan begitu nyaman serta menenangkan. Hingga umur lima, ku masih tidur di dalam kardus air mineral, namun sekarang aku sudah tidur dalam kardus kulkas kecil.

Kami bahagia berada di sini. Itu juga cukup menjelaskan nama rumah ini.

***

Bu Mar mengajarkan Nona dan Boy membaca, menulis, dan berhitung agar mereka bisa mengajarkannya kepada kami atau kami kepada anak-anak yang lain. Setiap bulan, Bu Mar memberikan sebuah buku bacaan dan amplop yang kadang tak hanya berisi uang, tetapi juga surat bagi yang beruntung. Angka dan huruf jadi hal lain yang kami tunggu-tunggu. Aku ingat saat kecil, aku belajar dengan rajin agar bisa membaca buku-buku yang diberikan padaku.

Dengan segala hal kecil itu, Bu Mar bagaikan ibu untukku. Ia ciptakan dunia kami dalam tempat yang mungkin terasa sebesar kotak kardus air mineral. Begitu sempit dan sederhana, namun cukup untuk segalanya.

“Uangmu sudah berapa?” Toni dan Aru senang membicarakan tabungan mereka.

“Ssst… seratus ribu…,” bisik Aru pada Toni. Matanya akan melirik sekeliling takut ada yang mendengar. Dengan suara bisikan sebesar itu, aku dan Ima yang berjarak dua meter jelas masih bisa mendengar.

Aku menimbun buku-bukuku di sebuah kardus di antara kotak tidurku dan Ima. Jika semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan, aku dan Ima suka membaca buku dan saling meminjam. Namun, sejak Ima sibuk bermain dengan Bayi Mimi, aku sering dibiarkannya menyendiri. Seperti saat ini, setelah dia puas menghitung dan melihat sepintas apa yang didapatnya, ia meninggalkanku.

“Kamu tidak dapat surat?” aku bertanya pada Ima.

“Ada…, akan kubaca nanti. Kamu dapat? Ah kamu kan yang paling beruntung! Aku mandiin Mimi dulu ya…” Dia berlalu sambil bersenandung.

Maka, aku masuk ke dalam kotakku, melihat-lihat amplop yang baru kudapatkan. Aku akan membacanya nanti kalau sempat—dan nyatanya aku tak pernah sempat membaca surat terakhir. Ku gabungkan dengan puluhan amplop-amplop lain di dalam sarung bantalku. Dengan begitu, aku bisa hidup dengan kata-kata Bu Mar atau tidur dengan imajinasi darinya.

***

Teringat jelas di kepalaku. Itu mungkin hari paling tidak membahagiakan dalam hidup. Juga awal aku menyadari bahwa hidupku tidak hanya berada dalam kotak.

Padahal semua berlangsung dengan sangat biasa. Adzan mendahului mobil Bu Mar yang terparkir di garasi. Namun, suara mobil tetap kalah dengan suara tangis Mimi dan Koko yang takut dengan hujan deras dan petir.

Bu Mar tampak kelelahan. Ia membawa banyak kantung plastik. “Ini terlalu banyak untuk tiga hari,” ujar Nona keheranan.

“Ini untuk satu bulan,” Bu Mar menjelaskan.

“Aku selalu heran darimana ibu mendapatkan uang,” ujar Ain sambil lalu.

Ya, kami tidak ada yang pernah tahu. Pertanyaan dalam pikiran kami tentu bukan hanya itu saja. Namun seperti yang kujelaskan di awal, Bu Mar menyimpan sendiri kisahnya. Segala rahasia dan jawaban dia bawa bersama dirinya. Bersama dirinya yang tiba-tiba tercerabut dari kami…, dari aku.

Waktu itu masih pukul delapan pagi saat seseorang memaksa menerobos benteng kami. Mataku terbelalak dan Koko tiba-tiba menangis. Ketika mereka mulai dengan kasar menggedor-gedor pintu rumah kami, semua anak keluar dari dalam kotaknya. Ima dan Aru buru-buru mengamankan Koko dan Mimi sementara Nona dan Boy berpandang-pandangan. Nona menyuruh kami semua masuk kembali dalam kotak dan menutup diri rapat-rapat agar tak ada yang curiga.

Satu menit berlalu dan pintu depan akhirnya terbuka. Aku menggigit bibirku ketakutan. Ada manusia lain, manusia besar lain yang datang dari luar, mereka berkata-kata dengan suara keras.

“Ikut kami!”

“Kalian siapa?” Bu Mar bertanya, suaranya naik tinggi. Nada yang tak pernah ku dengar.

“Pak Win mau bertemu! Anda harus ikut kami!”

“Pak Win?! Urusan kami sudah selesai tadi malam!”

Siapa Pak Win ini? Apa dia seperti Bu Mar? Penyelamat anak-anak.

Berikutnya yang terdengar adalah suara teriakan Bu Mar disusul suara seperti pintu terpukul dan semua terdiam. Aku pun terdiam, Mimi dan Koko terdiam. Napasku tercekat, dadaku terasa sakit, mataku panas, dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak keluar dari dalam kotak. Begitu pula anak-anak yang lain. Namun sudah tak ada siapa-siapa di pintu. Hanya Nona yang berdiri sangat dekat dengan jendela, tidak bergerak, dan perlahan jatuh berlutut.

Hari itu Bu Mar diseret keluar rumah dengan meninggalkan jejak darah hingga ke pagar. Saat itu juga, rumah itu menghapus BAHAGIA dari namanya.

***

Aku masih ingat, hampir sebulan berlalu dan tak ada kabar yang terdengar. Nona dan aku masih sering terjaga setiap pukul setengah lima pagi, berharap Bu Mar pulang dengan selamat. Namun, tak pernah ada yang tiba.

Kebutuhan untuk satu bulan yang dibeli Bu Mar sudah menipis. Kami makan semakin hari semakin sedikit. Anak-anak balita mulai terserang sakit. Aku pun sempat terserang demam, namun sembuh dalam tiga hari.

“Kita harus mulai memikirkan rencana selanjutnya,” ujar Boy pada makan malam kami yang dingin dan sepi.

“Aku dan Manis akan menyatukan uang tabungan kami, ada satu juta rupiah. Rasanya cukup untuk satu bulan ke depan,” Nona membuka mulutnya. “Boy, kamu dan aku harus memberanikan diri keluar dari kotak ini. Kita yang paling tua.”

“Setelah itu?” Ima bertanya. “Mimi dan Koko tidak kunjung sembuh. Anak-anak lain mulai kesakitan. Kita juga butuh uang untuk obat.”

“Mereka masih kecil, ambil saja uang yang mereka tabung. Mereka juga tidak mengerti,” Boy berkata cepat. Itu usul yang jahat, namun tidak ada cara lain sehingga tak ada yang membantahnya. “Aku dan Nona akan bekerja. Manis akan mengurus rumah.”

“Bekerja? Kalian mengerti?” gantian Toni bertanya. Tidak ada jawaban, hanya denting sendok beradu dengan piring mereka yang berisi kaldu ayam dengan sedikit sayuran dan nasi.

Aku masih ingat, selepas makan malam, mataku hanya bisa terpejam tanpa sedetik pun tertidur. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan dalam hidupku. Untuk pertama kalinya, aku memikirkan bagaimana orangtuaku, memikirkan kehidupan di luar sana, memikirkan apa yang dilihat matahari, memikirkan Bu Mar, hingga memikirkan hal yang paling menakutkan; bagaimana hidupku setelah ini?

Aku mengerutkan mata berusaha menghilangkan bayangan apapun. Tepat saat itu, Ima berteriak. “Tidak! Tidak! Bangunlah…! Nona, Nona aku butuh bantuan.” Aku mengintip keluar dan Ima melihatku dan sontak berseru, “Mimi tidak bergerak! Dia tidak menangis! Dingin!”

Tergesa, aku keluar dari kotakku. Semua yang terbangun karena kegaduhan itu mendekat. Pada saat yang sama kepanikan merajalela. Aku terdiam berlutut di dekat kotakku. Aku melihat satu persatu anak mulai menangis. Aku melihat bagaimana Nona perlahan menitikan air matanya. Sesuatu telah terjadi. Untuk pertama kalinya, untuk menyelesaikan ini semua salah satu dari mereka harus pergi keluar mencari pertolongan.

Semua kembali di mulai pukul setengah lima pagi. Mataku merekamnya dengan cepat ketika tubuhku masih belum beranjak dari lantai yang mengikatku. Kemudian para anak laki-laki datang, dibawa oleh mereka koper-koper berukuran besar, ada juga kotak-kotak penyimpanan baik dari kayu maupun plastik.

“Hanya ini yang bisa kita lakukan,” Boy berkata pasrah.

Aku bisa melihat Aru, Toni, dan Ain tersedu-sedan. Mereka mengangkat tubuh kecil Koko dan Mimi yang dingin tak bernapas lalu memasukannya ke dalam koper. Begitu pula bersama-sama mereka mengangkat tubuh Lila, Gadis, dan Bunga ke dalam kotak-kotak.

Hari itu, kami bersama-sama menggali tanah di halaman belakang. Tersedu-sedan, kami adakan upacara pemakaman. Untuk lima anak yang tadinya bahagia dan untuk Bu Mar yang pernah menyelamatkan kami dari ketiadaan.

***

Di dalam kotak. Semua berawal lalu kemudian berakhir. Apa yang bahagia adalah hal fana.

Aku kembali menghadap timur.

Bertahun-tahun setelah percakapan yang dingin, semua memulai hidupnya masing-masing. Ketika perlahan beberapa orang datang menghampiri rumah kami. Mencerai-beraikan aku dengan saudara-saudaraku. Menjauhkan aku dari kotak tidurku. Setelah itu mengirimku ke sebuah keluarga kecil yang tak berbuah hati untuk membesarkanku dengan berkat, pendidikan, dan agama.

Aku ingat Ima pernah bilang aku selalu beruntung. Begitu akhirnya saat kutemukan dalam saku jaketku selembar kertas dengan tulisan Bu Mar yang kubawa dari rumah. Di atas bumi yang kujejak aku pun membacakannya.

Matari, apa kamu pernah bermain ke halaman belakang dan berjemur di bawah matahari? Matahari itu saudara tuamu. Suatu hari kamu akan kembali ke halaman belakangan ini entah untuk apapun. Saat itu aku menjadi matahari dan saudara-saudaramu menjadi embun, tanah, dan angin. Setelah itu hidup jadi lebih baik dan kita sama-sama kembali menyatu dengan tanah dalam kotak kehidupan tanpa perlu bertanya rahasia dan apa yang terjadi di hidup satu sama lain. Di situ bahagia berada.


Jakarta, 2015

cerpen saya yang sempat jadi Juara III UI Idea Fest 2015

Yang Lupa Dirindukan

 

rona matahari memang tak berubah

dari arah Kota menuju Matraman

dari Timur Jatinegara menuju Sudirman

bergumul, berkelebat, bersusuk ria dalam benak

ya, dan kamu di hadapan kemudimu

ya, dan aku di belakang tubuhmu

pelukan dan percakapan

senandung angin dan lembayung langit

ketika hijaunya daun sama dengan belia usia

ketika suka begitu membuncah-buncah

dan kita terlalu naif membaca rasa

sebelum sedu, haru, tawa, lega menyaru

yang kita tahu esok masih akan seperti itu

 

lantas bagaimana kita mengingatnya lagi hari ini?


ku dengar Berlin mengalun dan aku lupa 6 tahun hampir berlalu

06.Max

Nirmaya jarang menceritakan kehidupannya pada orang-orang. Sehingga ia memiliki Max. Max cukup untuk menampung semua kisahnya walau sepotong-potong didapatinya. Max pun bertambah seiring Nirmaya menua.

Ia masih mengeluhkan skripsinya yang terlampau menjenuhkan walau pembimbingnya memujinya hampir di tiap pertemuan, terkagum akan kemajuan yang dibuatnya. Nirmaya menelan seluruh saran bulat-bulat. Berharap saran itu keluar di lubang toilet dan segera terlupakan begitu ia lepas dari jerat akademik.

Atau tentang remaja laki-laki penjaga perpustakaan yang selalu berusaha mengajaknya bicara. Dari mulai intisari buku yang hendak dibacanya, seakan ia menghirup tiap kata bagai oksigen. Hingga apakah Nirmaya menyukai warna kuning, karena setelahnya remaja itu memberikan sebuah buku catatan berwarna kuning, bakal calon Max yang pada akhirnya tak pernah ia gunakan.

Juga di sela-sela keluhan dan protes itu, Nirmaya masih bercerita tentang malam ia kabur dari rumah. Ia menyeret sepedanya keluar dari halaman rumah. Sedikit derit di pagar nyaris membangunkan ayahnya. Ia tetap bisa melarikan diri setelahnya.

Ketika itulah, ia memutuskan mengarahkan sepedanya melewati keheningan Jalan Diponegoro. Lurus terus hingga ia mampu menangkap kerlipan cahaya jendela-jendela pencakar langit.

Dan ia memutuskan berhenti di sana. Di bawah air mancur Taman Suropati. Membiarkan matanya menikmati kemewahan itu. Kemewahan yang selalu ia harapkan sejak beranjak dewasa. Kabur dari rumah. Sejenak saja cukup 15 menit.

Hei! Hei! Hei Nona yang di sana! Kita punya 2 jam sampai suara adzan subuh terdengar kalau lo mau menikmati semuanya.

Max menyimpan setiap detil cerita tentang laki-laki yang menawarkan diri itu. Tentang pelarian kecil sebelum fajar itu.

Untuk pertama kalinya, Nirmaya menceritakan secara utuh. Termasuk bagaimana ia memutuskan untuk meninggalkan Max karena laki-laki ini, Ikrar membuat bibirnya tak berhenti bicara.

04.Pluviophile

Ada kata-kata yang berkumpul di kerongkongan. Seperti isi perut yang membuncah-buncah. Menanti pembuangan terakhirnya di toilet atau selokan. Ya, seperti rasa ingin mengutuk dan mengata-ngatai. Namun siapalah mereka untuk saling berkata demikian?

Dendam seperti itulah jalannya.

Lebih baik simpan saja atau menyesal telah berniat.

Kemudian kereta masih terus melaju sementara gerbongnya menyepi. Kereta melewati Kampung Bandan yang selalu nampak murung. Awan hitam mulai menggelayuti terlihat di atas hamparan rerumputan liar di luar stasiun. Dan kereta kembali melaju.

Kini, roti isi Nirmaya telah habis dimakannya sendiri. Ia memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. Bertanya-tanya apakah hujan akan turun.

Legi menyenderkan dirinya pada sisi tempat duduk yang empuk. Membiarkan kepalanya mengetuk jendela sementara matanya mencuri-curi pandang. Ia tersenyum sedikit. Membiarkan imajinya kembali dalam dejavu ketika ia sering melakukannya dahulu di tempat yang berbeda.

Dan kemudian rintik pertama turun ketika kereta mendekati Duri. Perlahan-lahan menjadi deras.

Kamu masih suka dengan hujan?

Kereta berhenti. Mereka tiba di Duri. Ketika ratusan orang berganti dengan puluhan lainnya dan mulai memenuhi apa yang tadinya tak terisi.

Dan Nirmaya bergeming saja. Ia sudah lama berhenti menyukai hujan sementara Legi baru saja mulai jatuh cinta pada rintik-rintiknya.