Dodi

Saya bisa bertemu Dodi Prananda adalah rencana Tuhan yang unik. Bagaimana saya yang sangat Jakartasentris ini bisa berteman dengan orang di luar lingkaran saya adalah sebuah anugerah. Saya tidak pernah berpikir akan punya teman seluas ini. Di antara hamparan keluasan anugerah itu, Dodi jadi salah satu pohon besar berakar kuat dengan dahan dan ranting bercabang-cabang yang rimbun.

Persahabatan kami juga terbilang unik. Menandingi Dodi adalah ego terbesar saya. Namun ada satu momen dalam hidup saya yang menjadi titik balik dalam hubungan ini. Momen itu adalah saat Dodi meminta saya menjadi ‘salah satu dari tiga tungku’. Walau setelah itu, saya tidak serta merta menganggapnya sahabat, dia membuat saya belajar menghargai orang lain. 

Jika diingat pacar saya dulu sering sekali menasihati saya, “Coba deh kamu dengarkan Dodi dulu. Jangan marah-marah terus.” Akhirnya saya mulai mencoba mendengarkan dan memahami Dodi. Butuh waktu lama sampai akhirnya saya merasa Dodi adalah sosok yang perlu ada di hidup saya. 
Sepanjang saya mengenalnya, Dodi adalah pribadi pemaaf. Dia memandang hidup dari sudut pandang yang positif. Segala hal dilakukannya demi keluarga. Jika Dodi ingin melakukan sesuatu, dia akan berpikir dengan saksama; mengukur kesempatan dan risiko. Terkadang tidak jadi dieksekusi, tapi kalau sudah berani,  maka dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan presisi. Dia juga rajin mengintrospeksi diri. Dodi yang saya kenal sekarang adalah hasil metamorfosis pola pikir, olah rasa, dan etos kerja. 

Saat ini, kami tidak hanya menjadi karib. Dalam jalan takdir yang juga unik, saya sekarang berperan sebagi editor untuk buku non fiksi pertamanya. Setelah bertahun-tahun menjadi teman sekelas, bekerja satu organisasi, menjadi jurnalis di stasiun TV yang sama dan mengerjakan program yang sama, akhirnya kami dipersatukan untuk mewujudkan impian yang sama. 

Pada hari ulang tahunnya yang ke-24 ini saya tak ingin dia merasa tua seperti keluhannya. Dodi justru sedang terlahir kembali karena kini dia jauh lebih sehat, lebih bersemangat mencoba hal baru, bertambah kawannya, semakin luas pandangannya, dan dilingkupi oleh cinta-cinta dari sekitarnya. 

Selamat ulang tahun. Terima kasih, Sahabat. 

Advertisements

Kesakitan

Riek tertidur dengan napas teratur. Setelah berminggu merintih dan meringis, sejenak ia bisa beristirahat dengan normal.

Anak keenamnya berdiri di tepian tempat tidur menggenggam tangan berkata, “Lepaskan… Lepaskan….”

Kedua cucunya yang lama ia besarkan, hanya menatap tanpa banyak kata. Yang satu berpikir tentang kemungkinan ia melihat napas terakhir. Yang satunya lagi ingin menyampaikan kabar gembira, namun dia tak tahu apa itu saja cukup menyembuhkan.

Jika Riek terjaga, ia akan lebih sering mengulang cerita. Akan tetapi, lebih sering ia berkata, “Ampuni aku, Tuhan.” Seperti rasa sakitnya adalah penebusan dosa.

Namun sekali lagi, syukurlah kali ini, ia tertidur dengan napas teratur.

Jika Riek tak sengaja membuka sebelah matanya, ia akan mulai bertanya, “Sudah pukul berapa sekarang?” Maka keluarganya menjawab. Setelah itu, dia akan menanggapi dengan seragam, “Masih lama ya ternyata….” Seakan menunggu jemputan di teras rumah seperti yang biasa dilakukannya.

Namun sekali lagi, syukurlah kali ini, ia tertidur dengan napas teratur.

Dalam tubuh yang telah 86 tahun menampung sedih dan senangnya dunia, ia telah berkelana dari gunung ke gunung. Ia melindungi nyawa-nyawa kecil yang telah lebih dulu berangkat ke rumah Bapa. Ia menanggung kisah, dendam, dan cinta. Ia pun membesarkan nyawa-nyawa kecil yang sekarang menjadi jiwa-jiwa besar.

Ia ingin larung bersama laut dan angin. Ia ingin memaafkan dan dimaafkan. Ia ingin berangkat. Ia ingin tak merasakan sakit lagi…

Salah satu cucunya mengelus keriput-keriput di sela-sela jari Riek. Gadis itu punya cukup waktu akhirnya. Seminggu ini telah mendesak di pikirannya untuk bertemu omanya. Tidak ada yang lebih penting dari menghabiskan waktunya di sini, saat ini.

Cucunya merasakan sakit itu. Sakit di balik aorta, usus, serambi jantung, dan pelupuk mata. Sakit yang bernama kesedihan. Dia pun menyadari betapa ‘hidup’ dirinya dan ingin sekali dia melimpahkan hidup itu untuk memperpanjang usia omanya.

Akan tetapi Nak, menjadi hidup adalah menjalani sakit.

Sakit adalah rasa paling nyata dan paling mudah disadari. Sakit adalah peneguran. Sakit adalah penghabisan. Sakit adalah hal yang harusnya kita syukuri.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak cucunya yang lain, Riek kerap mengingatkan untuk tak bertikai, untuk mengosongkan rumahnya dan memenuhi rumah masing-masing dengan kenangan manis, untuk menjalani hidup sebaik-baiknya.

Akan tetapi Riek, menjadi hidup adalah menjalani sakit…. Sakit…. Sakit yang berkepanjangan yang mungkin seperti yang engkau panggul berpuluh-puluh dekade. Bagi tubuh kecil cucu dan cicit-cicitmu rasa sakit terlalu mengerikan.

Ah tetapi, itu kan artinya engkau menunjukkannya pada mereka saat ini. Agar mereka punya jiwa cukup besar dan hati cukup luas untuk menampungnya.

Riek mengangguk, bernapas teratur, mata terpejam, dan tangan melemas.

***

Riek berangkat ke rumah Bapa, beberapa hari kemudian. Ia tak lagi bernapas teratur, bertanya tentang waktu, memohon ampun, dan berusaha tertidur nyenyak. Waktu telah berjalan begitu lama untuknya dan dalam beberapa detik saja, ia bisa melepaskan jiwanya.

Tak ada keluarga yang melihat. Tak ada.

Ketenangan baginya. Membiarkan sakitnya terbang bersamanya. Membiarkan keluarganya menyimpan maknanya.

 


I learned that to live a life is to feel a pain. We could nurturing this pain. Learn to live within it and share the remedy.


To Oma Riek, you always have ‘a special passage in my book’. Thank you for genuinely raising me with books, stories, macaroni schotel, and love. I love you…,

My Frederieka Elisabeth Esther Mamoedi-Pelenkahu (19 February 1931-26 July 2017)

 

Deconstruct

Hal ini dikatakan secara berantai. Dari dosen kepada mahasiswanya. Dari mahasiswa kepada kawan-kawannya. Bisa juga dari seorang kakak kepada adiknya. 

Teman-teman saya harus melalui proses ini dalam pengerjaan skripsinya dan tesisnya. Beberapa mungkin dalam kegiatan penelitiannya. 

Saya, ternyata melaluinya setiap hari dalam pekerjaan. 

Sebagai editor buku, saya menerima naskah dari penulis. Ketika kita berhadapan dengan tulisan, lawan bicara kita melampaui basa-basi manusia. Kita bicara dengan gagasan, diskursus, atau paradigma. Saya belum tentu lebih pintar… Sudah pasti saya sering terpukau, kagum, menyetujui. Apakah mungkin proses penyuntingan terjadi dengan sikap seperti itu? 

Dalam produksi buku, ada tahapan krusial yang bagi saya lebih sulit dibanding penyuntingan naskah yaitu Tahap Peninjauan. Dan ini adalah tahapan paling awal. Di sini, keputusan penting dibuat, luar dan dalam. 

Di sini, saya akhirnya menyadari sebuah proses yang dinamakan ‘dekonstruksi’ atau ‘unlearning’ di mana kita melepaskan segala pemahaman, asumsi, dan perasaan yang menurut kita benar untuk memberi jarak dan melihat dengan sudut pandang dan perasaan yang berbeda. Itu mungkin yang membuat saya bisa meninjau naskah lebih dari satu kali. Membacanya minggu ini, mendiamkan lalu membacanya seminggu kemudian. 

Saya ‘meruntuhkan’ bangunan utuh dan kokoh yang tadinya saya percayai agar bisa melihat setiap kepingan secara perlahan. Dengan begitu, bagian yang perlu dipertajam, ditambahkan, atau malah dikurangi nampak lebih jelas. 

Menyadari ini membuat saya memahami bahwa mungkin ada masanya dalam hidup kita mendekonstruksi makna. Manusia tentu punya kesalahan bahkan orang terbaik, terpintar, terhebat sekalipun. Namun, seringkali alpa. Luput. Khilaf. 

Dekonstruksi membantu kita tumbuh dan melihat apa yang kita tak hiraukan. Menyadari sebuah kesalahan, kesesatan pemikiran, dan menerima kenyataan yang tak berjalan dengan baik. Proses ini menyedihkan dan melelahkan. Namun, bagi saya, tanpa proses ini, saya mungkin sulit memaafkan diri sendiri dan bangkit. Mungkin tanpa proses ini… Saya akan menjadi terlalu angkuh untuk memahami mereka yang terdekat dan signifikan, yang membutuhkan, atau yang sesungguhnya benar. 

Holy Journey

Juru kamera Aris Sandi mengabadikan fragmen perjalanan Hakam dan Rofi yang singgah di kota Depok, Jawa Barat. Bulan kedua Holy Journey.

Kemarin siang, kami berbincang dengan Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiyah yang tengah singgah di Jabodetabek selama Kementerian Sosial dan Kementerian Luar Negeri mengurus berkas terkait perjalanan mereka ke Timur Tengah dengan sepeda. Keduanya mengayuh sepedanya dari wilayah Bojongsari melewati Sawangan dan berakhir di Beji, Depok bersama kawan-kawan Komunitas Gober Depok. 
Bagi Hakam ini bukan perjalanan personal. Niatnya bukan sekedar menyentuh tanah suci, melainkan menyapa kawan, menyusuri jejak peradaban Islam, bertemu para pemuka, berdialog antar agama, dan mempromosikan perdamaian. Tanpa modal, selalu ada yang membantu sejak mereka berangkat dari Malang Desember lalu. Bahkan sepeda tandem pun gratis dari kawan di perusahaan sepeda. Mereka mengibaratkan diri sebagai raga dan setiap individu yang mendoakan, mendukung, dan membantu mereka sebagai ruh. Perjalanan menguji mental ini pun tak lagi jadi misi pribadi. Yang membuat saya kagum betapa keteguhan hati dan ketulusan membuka jalan dan menjernihkan pandangan menuju ridho Allah SWT. 

Saya hanya ingin menyampaikan Islam adalah agama keselamatan, agama damai. Dengan cara bersilahturahmi dengan orang-orang di luar agama saya, selain dengan tokoh agama saya sendiri. Islam bukan seperti meneriakan Allahuakbar, namun malah membawa kehancuran. Bagi saya, Allahuakbar adalah bentuk saya memuji Tuhan saya. Maka perjalanan ini bukan perjalanan personal, ada ruh umat di dalamnya. Ruh itu adalah mereka yang mendukung dengan doa dan ingin pesan ini tersampaikan hingga perjalanan ini berakhir. 

Setelah bersapa dengan Gus Mus, Khofifah Indar Parawansa, dan para pemimpin umat agama yang lain, keduanya akan berjumpa juga dengan Dalai Lama ketika melintas Nepal kemudian Tibet. Saya berharap semoga hijrah keduanya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. 

Rumah itu di Hati

How’s life in Jakarta?

Sabtu lalu, salah satu narasumber saya dari Belanda, Monica Stepak bertanya pada saya dalam sesi interview terbalik. Ia merekam saya dengan kamera ponselnya untuk daily vlog selama sebulan mengajar di Yayasan Nurani Insani, Petamburan, Jakarta Pusat.

Saya menjawab dengan kikik kekanakan, “It’s frustratin yet it is home.”  

Ketika saya melihat buku harian, minggu ini saya harus bicara tentang rumah. Sedari pagi saya berpikir kata-kata bagus apa yang menggambarkan rumah. Apa? Siapa?

Apakah saya harus berbicara tentang betapa ‘hidupnya’ tinggal di Jakarta? 

Entahlah…

Saya memiliki banyak ‘rumah’. Di sisi orangtua, di dalam kebersamaan dengan Gery, di pelukan guling yang sulit saya lepas ketika pagi datang, di kampus, di f(x) Sudirman yang pernah hampir setiap hari saya datangi beberapa tahun lalu, di semilir angin Matraman yang menyentuh kulit, dan di setiap sudut Menteng yang hanya bisa saya lewati.

Rumah bagi saya bukan sekedar kenyamanan. Rumah menggerakan saya untuk mengisinya dan menikmati setiap momen di dalamnya. Rumah membiarkan saya hidup dalam ruang yang paling kecil sekalipun. Dan rumah tak selalu berarti kepulangan. Rumah bisa jadi titik awal. 

Namun, segala persepsi serta makna yang saya beri pada sudut, ruang, dan kota… Itu berasal dari pikiran dan perasaan saya sendiri. Yang akhirnya membuat saya memahami dalam perjalanan untuk puluhan ribu kalinya sepanjang 23 tahun saya hidup, rumah itu adalah hati saya sendiri.

jawapostv

Belum banyak orang yang tahu, jawapostv itu ada. Mungkin selama ini gue disangka kerja di TV siluman kali ya (bisa iya, bisa engga tergantung lihatnya dari mana). Sebenarnya post ini didedikasikan buat tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 di TV ini.

Jawapostv merupakan televisi berjaringan milik Jawa Pos Group yang resmi bersiaran sejak 17 Agustus 2015. Berada pada frekuensi 60 UHF yang menjangkau wilayah Jabodetabek. Tapi buat nonton emang butuh effort sih, coba aja wkwkwk…

Untuk tayangan nasional pukul 06.00-08.00 WIB (Nusantara Kini Pagi) dan 22.00-23.30 WIB (Nusantara Kini Malam) sementara tayangan lokal pada pukul 08.00-22.00. Program nasional berformat news magazine ini disiarkan di televisi jaringan Jawa Pos Group lainnya yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi. Jadi kalau mendapati stasiun TV lokal seperti misalnya Riau TV, Pal TV, Pon TV, Nirwana TV,  JTV, dan Fajar TV itu sebagian kecil yang menyiarkan siaran kami pada jam di atas. Jawa Pos Group sendiri punya 200 media dalam naungannya yang menjadikan perusahaan media ini salah satu yang terbesar di Indonesia. Jawapostv juga bisa ditonton melalui live streaming lewat profile youtube jawapostv.

Gue bergabung sebagai reporter di sini sejak 30 Agustus 2015, 2 hari setelah wisuda. Sementara teman dekat gue dari kuliah, Dodi Prananda adalah angkatan pertama yang bergabung sejak penggodokan pra-siar, Februari 2015.

Nah, untuk lebih kenal, gue mau kasih tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 dari 3 program di jawapostv.

CARITA

Program dengan format feature yang tayang selama 30 menit dalam 4 segmen. Sebuah narasi dimensional tentang alam dan manusia. Ketiga tayangan di bawah ini punya kisah yang kuat, personal, dan lengkap. Berpihak pada yang berhak dan menggambarkan dampak yang nyata.

Kehidupan Pesisir Jakarta

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Rizal Machyudin | Camera Person: Dio Malau | Editor: Tri Widyastuti)

Terpenjara Janji Penyalur Kerja

(Produser: Rio Rizalino | Reporter: Novaeny Wulandari | Camera Person: Agus Sofyan | Editor: Khoirul)

Merawat Orangutan

(Produser: Rio Rizalino | Reporter : Vela Andapita | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Khoirul)

BICARA INDONESIA

Program current affair tentang profil tokoh yang redaksi anggap memiliki kontribusi dan wacana berpengaruh di Indonesia. Tiga tokoh ini yang paling berkesan buat saya. Mengangkat isu kuliner, pengembangan diri, dan kreativitas. Program ini juga membahas tokoh-tokoh di bidang olahraga, sosial, militer, agama, pendidikan, pertanian, seni, dan lain-lain. Jadi sempatkan untuk menengok dan siap-siap terinspirasi.

Episode Leonard Theosabrata

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Ikbal Rambe | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Yanti Bei)

Episode Sisca Soewitomo

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter: Risca Andalina | Reporter: Leovina Putri | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

Episode Yoris Sebastian

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter & Reporter: Vela Andapita | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

UNTUK PEREMPUAN

Juga sebuah program current affair yang mengangkat topik yang diperuntukan untuk penonton perempuan. Ditayangkan selama 30 menit dan terdiri dari 4 segmen berbentuk paket liputan dan talkshow. Karena gue yang berada di balik layar program ini, berikut tayangan yang paling berkesan dalam masa pembuatannya.

Talkshow Wulan Tilaar eps Citra Cantik Perempuan Indonesia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera person: Willy Andry & Anggi Prayosi | Editor: Ardiyanto Endan)

Episode Urban Farming

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Cahyani Dean | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera Person: Lucky Devianto & Fachru Rozi | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Polisi Wanita eps Hari Polwan

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Gunther Immerheiser | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Pantara eps Gangguan Belajar Disleksia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Willy Andry | Editor: Ardiyanto Endan)

Talkshow Sinta Nuriyah Wahid eps Perempuan Pembangun Bangsa

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Vela Andapita | Reporter: Dianti Kurnianingrum | Camera Person: Willy Andry & Lucky Devianto | Editor: Ardiyanto Endan)

Memories

My lecturer once said

I watched a movie that reminds me of the memories in which we are shaped by the memories itself.

Do you even think that we are now are the collected experience of memories? Yah you might be. Even there’s a time while you’re busy talking to forget your past. Or regret your mistakes. Or trying hard to reach what’s already gone. In all those times, we probably denied to face that we had just shaped.

I always asking to myself. Why is it me? Why it should be me? Why I should be like this? Then I got the answer from the moment I start to do something for anything. I wouldn’t be like this if I haven’t tried. But somehow, there’s undefined thing drawn up as gravity to me. Unconsciously, I became someone that I never planned to be. That time, I’d like to push the rewind button on my head, looking for dime things I’ve been through. A past, a thing that already gone, a deed, and finally the consequences. And those were a collected experience of memories.

I thought I’m a psycho from the very beginning. I have this terrible vision on my head. I’d like to share it.

What is it?

Vision about a birthday boy who killed his parents.

My friend told me his unbearable imagination which he’d like to write but never been. He used to be a child who admiring psychotic-thriller movie. The motions would rewind on his head while imagining a good story. Sounds psychotic. Instead of ‘sharing’ it as a deed, he just telling the story. But the frame of creating a good story in his head are the memories of his childhood longs to psychotic-thriller movie.

While me, in other side writing some sad ending stories because of my childhood longs to a-bestfriend-death story. Anything that had a sad ending is a REAL THING. Because the reality is bitter for me. Back then on elementary school, all my friends praised me because of those sad ending stories which never been read on Bobo Magazine (lol). But then… I faced some friends that really had a bitter life. Painful and frustrating. That time, all the sad ending I’ve been wrote seemed so wrong. In time I get praised, someone out there feel the real pain itself. Till now,  I’m unable to write. All stories I’ve created seem so wrong. I’m not satisfy because of the frame of my memories.

But then… I learned to let myself shaped by the memories in order to face the future ahead. Cause we’re always moving forward.