Ketika Tidur

Aku mendengar sayup hasutan di telinga kiri. Dia tertawa agak jauh dari telinga. Hanya gaungnya yang bias dengan gema membuat bertanya di koridor mana ia menyusup pada kepala.

Perlahan hasutan itu semakin kencang. Seperti teror mendekat pada nadir manusia ketakutan. Tubuhku kaku. Selimutku menggerayang hingga ke leher.

Mataku terkatup ketika tawa itu berubah jadi teriakan. Yang anehnya tiba-tiba melengking menjauh namun menyisakan sakit yang pekat pada areal dekat mata. Mata tak bisa kubuka. Aku gelagapan hanya dalam nafas yang menanti keluar dalam satu kali hembusan.

Ada apa? Ada apa?

Mana sempat bertanya. Yang kusadar ketika surat-surat doa perlahan berjalan dari buku-buku jariku ke ujung mimpiku, suara itu menghilang, dan tiba-tiba saja badanku lemas. Aku membuka mata. Tak lama adzan subuh mengudara.

Aku rasa sudah belasan kali hal tersebut kerap terjadi. Tapi kalau ada yang bilang aku ketindihan, sepertinya tidak se-ekstrim itu juga.

Setan kok isengnya kebangetan.

Cerita yang Bercerita

Saya mulai menulis cerita di kelas 5 SD. Saya ingat, pikiran saya selalu menghadirkan sirkus dialog. Suatu hari, saya mengambil buku bekas kelas 4 SD yang baru terpakai 2-3 halaman. Ketika berhadapan dengan buku tersebut, pikiran saya hanya berkata, “Kayaknya saya bisa nulis cerpen deh…”

Dan berikutnya selama seminggu buku tersebut habis terisi oleh cerita-cerita pendek. Akhirnya sirkus dialog di kepala saya tersalurkan. Namun, ada juga hasil duplikasi dan penulisan kembali dari cerita pendek yang pernah saya baca. Dari kecil, gaya tulis saya sudah ‘gelap’ karena saya ingin berbeda saja. Anak-anak senang dengan cerita yang ceria, tapi sentuhan ‘gelap’ bisa menambahkan pilihan atau malah menyentuh mereka.

Buku itu berputar di antara teman sekelas. Kalau tidak salah ingat, teman dekat saya yang bernama Alexa jadi pembaca pertamanya. Dia salah satu supporter saya hingga masuk SMP. Dia rutin memberi masukan, meminjamkan saya buku, dan berbincang tentang cerita-cerita yang telah kami baca. Kami pernah mencoba membuat sebuah novel bersama, saya penulisnya dan Alexa ilustratornya, sayang tidak selesai.

Ada satu cowok di kelas yang akhirnya jadi pacar saya selama 8 bulan (gokil juga anak kecil bisa pacaran 8 bulan, mana norak banget cuma berani SMS-an. salahkan sinetron Inikah Rasanya!), dia membaca buku saya dan berkata, “Lo bisa nulis ya! Bagus deh! Tapi yang cerita ini kayak di Bobo deh gue pernah baca. Mau dong baca buku yang kedua.”

Mungkin itu kali pertama, saya termotivasi untuk menulis lebih banyak cerita. Dari dua buku, jadi tiga. Lalu akhirnya saya mulai menulis di laptop papa, print, sebarkan di kelas. Jadi Penulis! Itu jawaban saya di kelas 6 SD setiap ditanya cita-cita. No more jawaban dokter bedah supaya kelihatan keren.

Sayangnya pacar saya ketika SMP, tidak pernah tertarik pada dunia saya itu. Namun di masa SMP, saya menyelesaikan 1 novel tentang persahabatan dan cinta (ya teenlit abis gitu) yang saya tulis sebagai hadiah kelulusan untuk 8 teman segeng saya. Itu pertama kalinya saya berusaha melakukan sesuatu untuk orang-orang yang saya sayangi. Sesuatu yang memiliki motif.

Saya selesaikan 1 novel lagi di kelas 1 SMA, sahabat saya sewaktu SD-SMA yang bernama Wilona sangat menyukainya. Di tahun itu pula saya aktif menulis puisi karena lagi kesengsem sama cowok yang ga bisa didapetin dan mungkin lagi sadar soal realitas dunia ya… Sahabat saya lainnya, Rancha adalah kawan saya bertukar balasan puisi kritik sosial. Kami aktif menulis di Facebook dan selalu senang mendapatkan respon yang berujung pada diskusi.

Memiliki kawan menulis dan pembaca adalah hal yang esensial dan memotivasi. Saya selalu tidak percaya diri mengirimkan tulisan ke media ataupun lomba, hal ini saya sesali hingga sekarang… Tidak ada yang bisa mengukur.

Akhirnya saya berhenti cukup lama… Tanpa kawan, tanpa pembaca, tanpa berani, dan dibunuh rutinitas harian. Tidak menemukan alasan, motivasi, apalagi gairah. Berhenti dari kegiatan mewaraskan tersebut. Sesuatu yang membuat saya mengeksplorasi pikiran dan perasaan. Sama halnya dengan dunia jurnalisme yang saya tekuni sekarang, bercerita adalah tentang bagaimana menuturkan perspektif dan sesuatu yang tidak terlihat.

Hingga di tahun 2014, Gery yang sudah menemani saya selama 6.5 tahun mengenalkan saya dengan Komunitas Logika Rasa. Dia adalah kritikus dan orang paling tulus yang mau mengetahui apapun yang saya lakukan dalam hidup. Iseng-iseng di tengah tugas kuliah membuat feature televisi di Bandung, saya menulis cerita pendek Kepada Ibu Tentang Pertanyaan Arila setelah pulang liputan dan kedua rekan setim saya sudah tepar kehabisan tenaga. Dari satu tulisan, jadi dua, kemudian tiga dan empat, hingga tahu-tahu sekarang sudah 11. Pembacanya dari seratusan tahu-tahu jadi ribuan. Kapan saya pernah terpikir tulisan saya dibaca segitu banyak orang, disukai, maupun dikritik, “Ga ngerti gue lu ngomongin apa.” Tetap saja itu terbaca. Tetap saja mendapatkan perhatian. Tidak lagi tersimpan di dalam buku-buku sisa sekolah, laptop papa, kertas printan yang kemudian hilang, atau halaman Facebook yang isinya hanya inner circle.

Dan tiba-tiba saja sekarang sudah 2 tahun, saya menjadi bagian di dalamnya. Malam ini kami merayakannya dengan sederhana sekaligus meluncurkan antologi TITIK KOMA. Dari hanya segelintir orang yang percaya cerita mereka punya makna dan arti menjadi 450 orang mengirimkan tulisan dan 30 di antaranya menjadi pencerita tetap. Saya beruntung menjadi salah satu yang bergabung sejak awal.

LR

Karena bergabung dalam entitas ini, apa yang sempat mati suri karena kehilangan gairahnya perlahan hidup. Dari sini, saya menemukan gaya saya sendiri. Dari sini, saya punya alasan mengapa saya harus mencicil satu paragraf setiap hari. Dari sini, saya ingin menghadapi dunia penulisan yang lebih luas semacam menganeksasi diri dalam industri. Dari sini, saya punya motivasi untuk mengukur sejauh apa sebuah karya punya arti dan makna di mata orang lain.

Saya bukan orang yang nyastra dan nyeni. Saya hanya suka bercerita. Seperti membagi energi dan meluruskan pemikiran. Karena ketika saya bicara, acap kali ngelantur. Maka menulis, jadi satu-satunya jalan keluar untuk berbagi sirkus dialog dan realita sosial.

Selamat ulang tahun Logika Rasa. Terima kasih!

Perjalanan Pulang

Ada 3 hal yang sering saya lakukan untuk membuat diri tenang:

  1. Berjalan kaki sambil menggerutu lalu setel kipas angin di rumah, gelosoran sampai tidur
  2. Mengelilingi tempat-tempat favorit saya di Jakarta
  3. Memandangi lampu-lampu gedung pencakar langit di Thamrin, Sudirman, dan Menteng

***

Hanya tersisa 3 hari lagi di tahun 2015. Dalam perjalanan pulang hari ini, saya berusaha membuat diri tenang karena sejak bekerja tidak ada hari untuk menenangkan diri. Semua serba tergesa-gesa. Itulah tahun 2015, penuh ketergesaan.

Ketika saya menyadari, beberapa hari ini saya tidak pernah tidak tersenyum-senyum sendiri selama perjalanan pulang, saya tahu mungkin saya sedang bahagia. Alasannya mungkin tidak bisa dideskripsikan karena hanya bisa dirasakan. Namun perjalanan pulang hari ini terasa sangat menenangkan. Tanpa kemacetan, hanya ada angin jalan, lampu-lampu gedung pencakar langit, dan kereta melaju di sepanjang rel Latuharhari.

Saya mulai menyenandungkan sebuah lagu yang saya kenal setelah menonton salah satu film Aragaki Yui berjudul Kuchibiru ni Uta o.

Bila lagu ini bercerita tentang diri orang dewasa yang menyapa kembali dirinya di usia 15 tahun, sedang penuh dengan angan-angan dan kebingungan menghadapi masa depan, saya sedang berusaha mengingat apa yang setahun ini saya lalui.

 

Dan ada 3 hal utama yang ada di pikiran saya tadi. Pertama, saya telah memutuskan beberapa hal penting yang menentukan masa depan saya. Kedua, saya melalui banyak hal karena keputusan itu. Ketiga, saya bertemu orang-orang baru yang memberi lebih dari sekedar inspirasi, tapi juga harapan…

Saya ingat post penuh kegamangan di awal tahun. Sepertinya saya sudah memecahkan separuh dari teka-tekinya.

Dan apakah saya sudah jadi cukup kuat saat ini? Itu yang belum saya capai. Setidaknya Tuhan masih berikan 2016, semoga saya bisa kembali menuntaskan.

28 Desember 2015, hari ini saya menemukan ketenangan. Kembali di jalanan Jakarta. Kembali pada pikiran apakah saya akan menjadi orang yang berbeda? Karena hari terus berjalan, seperti kereta yang melaju di lintasan rel sepanjang Latuharhari menuju stasiun pemberhentian terakhir. Karena akan ada waktunya menjadi tinggi menjulang dan bersinar, seperti cahaya pencakar langit di jalan-jalan protokol Jakarta. Karena akan ada saatnya itu semua jadi kenangan setelah tuntas ia terlewati, seperti angin yang meninggalkan jejak belaian namun tak kembali ke tempat yang sama.

What dream has taught me

It’s cool that now you’re really living your dream. It came true.

My lovely junior high school friend told me that a week ago. It took three days for me to accept the truth of her statement.

I keep asking,

Is it true? Am I living my dream?

Or

So what am I going to do next?

There’s a thin line between life and dream. That small gap makes me doesn’t like dream interfere my life.

***

I just graduated from university. Reaching my bachelor degree in social science. I studied communication and journalism, aimed higher to be a journalist. Moreover, it’s already my third weeks became a reporter in new emerging media, one of the largest group in Indonesia (not MNC, thank you).

I planned my life very well. I made the strategy. I was struggling. I was fully awake for what I’m doing all this years. And I’m pretty arrogant so some people could called me ‘ambitious bitch’. I’m fine with that.

I don’t like to romanticize my dream. I made future. I made living.

I don’t know what God had planned. I surrendered my life, but I wasn’t stop living. What if, God gives me this arrogant and ambitious feature to make a good future for everyone? If it’s true, I won’t stop being like that. I don’t want to waste my time. I need to ensure that my life is useful for others.

What I’m doing with my life is not actualizing dream. Life is more than that.

So when my friend told me that I made my dream came true, I got frustrated. I never heard the story of someone living his/her dream. People tend to tell how they reaching out their dream. It’s cliche.

I really want to know how they’re living their dream. Because I’m feeling uneasy. My life is getting harder. And I’m not always passionate as in the past. Life is more than that, it’s infinite struggle. Infinite fight. Crawled, walked, ran, then jumped. It’s a long way journey to tell that,

“Ah… I was living my dream, wasn’t I?”

And to sum it up, I have just started. And I aim to give all I have to fight for the future. So well, I don’t like dream interfere my life. The only thing that dream has taught me is, anything is possible even when you think it’s not. So abstract!

Mengarung Lagu

Now you should do, what you do and do
Call the final light, it takes a little more

Do Re Mi Fa So La Ti Do
That’s the way the story goes

Though the truth may vary
This ship will carry our bodies safe to shore

I keep depictions of the war
On a roadside, on the floor

The war outside our door keeps raging on
Hold onto this lullaby

It’s a shot in the dark but I’ll make it

(If I could go back to that day
But I’ll never be that person again)

Cause you will hate yourself in the end

dan kawan, bawaku tersesat ke entah berantah

tersaru antara nikmat atau lara

***

Mereka tidak pernah gagal membawa ketenangan. Juga selama lagu masih memiliki ceritanya masing-masing, kita pun bisa memulai dengan memikirkan cerita dari seluruhnya.

2015

Hari ini saya berpikir jika saya mengambil langkah pertama di pertengahan tahun nanti, saya akan melangkah ke mana saja selama 1 dekade ke depan.

apa sebaiknya saya bertahan menjadi jurnalis, seperti yang saya tetapkan dari awal? apa saya sebaiknya kembali menjadi pencerita yang kebanyakan menulis fiksi tanpa daging sementara tidak ada lagi pulpen yang habis digunakan untuk menulis? apa saya sebaiknya merumahkan diri dan melepaskan rasa penasaran saya terhadap buku resep untuk dimasak lalu dimakan dengan senang, tapi tak menghasilkan apa-apa? atau sebaiknya saya melanjutkan sekolah dan berpikir untuk menjadi akademisi? atau atau kalau saya terus jadi jurnalis, apa saya masih bisa sekolah dan tetap menjadi jurnalis setelah itu? kenapa sih saya ga nyemplung dan belajar aja di berbagai media di luar, ganti-ganti gitu? bisa ga sih? atau ya kenapa tidak terpikir untuk buka bisnis aja? apa lebih baik ya kalau bangun perusahaan media? eh tapi katanya mau ngembangin koperasi di media komunitas? cuma ya, kalau udah kaya seru juga bikin studio yang bisa dipakai buat pesta sosialita dan studio tari! kangen juga ya nari, kenapa saya ga seriusin nari aja waktu SMA, kenapa musti berhenti? tapi bener, jadi jurnalis lebih bikin saya merasa hidup. tapi ya ga boong, nari itu salah satu cara bercerita dan seluruh emosi dari sedih, senang, patah hati, cinta, amarah, semua hingga kebohongan dan kebenaran bisa ditunjukan dalam tarian. ya andai, dulu saya mau ngikutin kata Gery daftar generasi pertama JKT48. oh iya, trus jadi sekrup kapitalis gitu? bukannya separuh diri saya juga ingin jadi orang terkenal? tapi ya, itu mengkhianati misi budaya. itu bukan seniman! tapi sejak kapan saya pengen jadi seniman? kembali lagi, kenapa saya tidak pindah dari Jakarta saja, mulai hidup yang baru? tapi kalau ga ada tujuan ya sama aja boong. ya tapi di Indonesia, saya merasa terjebak pada hal klise. saya ga mau jadi anjing tetangga yang sekedar ikut menyahut gonggongan. ya kalau gitu berdiri di atas kaki sendiri dong ya harusnya!

OH IYA TKA GUA BELUM SELESAI!!!

I don’t have any story, yet. Nothing to be proud of. Nothing to be shared. I know that I should be scared of what I believe in or what I dreamed. It’ll always be something that represent me. Something that I will taken care of or being frustrated of. Something that will spend more than I ever offered. And at that time, when I must choose the exact path… I wish I’m not a mediocre fighter anymore.

At that point, for the first time in my life, I forgot that I ever really wanted to get married right after graduated.

Am I being too honest?

Alienated

Where do you live?

Is it inside a home of a heartless world?

I keep telling myself that I should live in darkness. I could easily identifying a light. Even the black one looks less dark than the white one. And all in the world becoming grey, like the rest of human being.

I go searching the place without those spoiled adults around. Then find it between the line of life and dream where the elder became a kid and a kid became an aunt of eleven nieces. So there’s a door that called LOST. All the things feel unsatisfying while we’ve got what it takes.

I try to run. As far as I realize that people lie in shame. The need of being needless. And all the -less we could catch. Cause all I heard just high pitch of anger. All I watched just an unfair battle of coward waiting for revenge.  

So tell me where do you live?

Is it inside a home of a heartless world?