Dua Hari Terakhir

Aroma jengkol masih melekat di tubuh saya yang seminggu ini mengerjakan feature tentang Jejak Jengkol Nusantara. Setelah 1.5 tahun berada di jawapostv akhirnya saya memegang program utama yang selalu saya harapkan. Dan sekaligus jadi program dan karya terakhir saya untuk media ini. 

Akhir bulan Februari,  saya terbangun di suatu pagi dan memutuskan untuk berpindah ‘sekolah’ (begitu kami reporter belia menyebut tempat kami bekerja). Sungguh… pengalaman pertama memutuskan berhenti kerja memiliki kesan yang mendalam bagi saya dan sedikit romantis. Yah terlepas dari alasan apapun yang ternyata malah memotivasi saya untuk keluar dibanding bertahan, tempat ini benar mendidik saya dan merekam jejak karya saya. Tempat pertama saya mencurahkan hasrat saya sebagai jurnalis. 

Dan tiba di hari ini… Dua hari terakhir saya di sekolah ini. Saya menghampiri siapapun yang ada di redaksi. Termasuk salah satu produser saya di kantor, Mbak Apri Dahliani. Ia yang pertama menghubungi saya untuk datang wawancara kerja dan banyak berjasa serta memberi pembelajaran. Terutama… menghadapi ‘drama-ga-drama’ nya dunia pertelevisian. She gave me a big and tight hug with her teary eyes. And I feel that kind of heartwarming feelings. 

Sempat juga saya keluar kantor sebentar dan ketemu Mbak Jihan presenter andalan yang lagi menunggu dijemput. Sembari mendengarkan dia memberikan saya wejangan soal pendirian di tempat kerja, saya mengelus-ngelus perut hamilnya. 

Kemudian saya makan sore dengan Dodi. Baru sadar, saya seperti ekornya. Dodi masuk FISIPERS, saya ternyata juga. Sama-sama di divisi Reporter. Di tahun ketiga, Dodi dan saya mengajukan diri jadi Pemimpin Umum FISIPERS dengan Dodi yang keluar sebagai pemenang dan saya jadi abdinya yaitu Pemimpin Redaksi. Dodi lulus dan jadi jurnalis TV, saya mengikuti dan masuk ke TV yang sama. Kami juga menjadwalkan waktu menulis cerpen yang sama. Lalu Dodi jatuh sakit dan tak bisa bekerja selama 6 bulan, saya lalang-melintang berganti program dari mulai daily news hingga current affair. Ketika kembali masuk, ia diangkat jadi produser saya. Dua karya terakhir saya berada di bawah supervisinya. Saya harus minta maaf kepadanya karena tidak bisa melanjutkan dan meninggalkannya. Ini jadi kali pertama sejak kuliah, saya tak mengikuti jejaknya. 

Saya masih sempat minta tanda tangan Kepala Pemberitaan untuk form absensi. Orang yang dulu mewawancarai saya itu masih menghela napas mengingat dia juga jadi orang yang saya mintai persetujuan atas pengunduran diri saya. Kalau dipikir, jika bukan karena Mas Fariansyah ya saya belum tentu memiliki kesempatan mencoba banyak hal. Sekaligus ia juga sih yang bikin saya stres. 

Dianti masih bercanda-canda dengan saya seperti biasa. Ketika dia pulang pun hanya melambai sekedarnya. Katanya, dia masih akan ngajak saya nongkrong sore di Cikini seperti kegiatan selepas les biasanya. Yah hitung-hitung mengganti waktu makan siang di Pujasera sembari membicarakan banyak hal tentang hidup. 

Ketika saya selesai membereskan tas, Mbak Nufuszahra yang baru saya kenal 3 bulan terakhir ini pun kembali memeluk saya. Hampir tiap hari selama seminggu ini, dia memeluk saya sambil bertanya ‘mau ke mana sih? sumpah kok buru-buru?’ padahal saya sedang bau jengkol. Rasanya bakal rindu juga ngelawak pilon di redaksi sama Ratu Kebembem ini. 

Kawanda, selalu ada langkah pertama untuk keluar dari zona nyaman dan bergerak maju. Sama saja langkahku memang masih tertatih.  Perlu waktu lama sampai tegap berdiri dan bisa berlari. 

gonna miss these people

jawapostv

Belum banyak orang yang tahu, jawapostv itu ada. Mungkin selama ini gue disangka kerja di TV siluman kali ya (bisa iya, bisa engga tergantung lihatnya dari mana). Sebenarnya post ini didedikasikan buat tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 di TV ini.

Jawapostv merupakan televisi berjaringan milik Jawa Pos Group yang resmi bersiaran sejak 17 Agustus 2015. Berada pada frekuensi 60 UHF yang menjangkau wilayah Jabodetabek. Tapi buat nonton emang butuh effort sih, coba aja wkwkwk…

Untuk tayangan nasional pukul 06.00-08.00 WIB (Nusantara Kini Pagi) dan 22.00-23.30 WIB (Nusantara Kini Malam) sementara tayangan lokal pada pukul 08.00-22.00. Program nasional berformat news magazine ini disiarkan di televisi jaringan Jawa Pos Group lainnya yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi. Jadi kalau mendapati stasiun TV lokal seperti misalnya Riau TV, Pal TV, Pon TV, Nirwana TV,  JTV, dan Fajar TV itu sebagian kecil yang menyiarkan siaran kami pada jam di atas. Jawa Pos Group sendiri punya 200 media dalam naungannya yang menjadikan perusahaan media ini salah satu yang terbesar di Indonesia. Jawapostv juga bisa ditonton melalui live streaming lewat profile youtube jawapostv.

Gue bergabung sebagai reporter di sini sejak 30 Agustus 2015, 2 hari setelah wisuda. Sementara teman dekat gue dari kuliah, Dodi Prananda adalah angkatan pertama yang bergabung sejak penggodokan pra-siar, Februari 2015.

Nah, untuk lebih kenal, gue mau kasih tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 dari 3 program di jawapostv.

CARITA

Program dengan format feature yang tayang selama 30 menit dalam 4 segmen. Sebuah narasi dimensional tentang alam dan manusia. Ketiga tayangan di bawah ini punya kisah yang kuat, personal, dan lengkap. Berpihak pada yang berhak dan menggambarkan dampak yang nyata.

Kehidupan Pesisir Jakarta

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Rizal Machyudin | Camera Person: Dio Malau | Editor: Tri Widyastuti)

Terpenjara Janji Penyalur Kerja

(Produser: Rio Rizalino | Reporter: Novaeny Wulandari | Camera Person: Agus Sofyan | Editor: Khoirul)

Merawat Orangutan

(Produser: Rio Rizalino | Reporter : Vela Andapita | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Khoirul)

BICARA INDONESIA

Program current affair tentang profil tokoh yang redaksi anggap memiliki kontribusi dan wacana berpengaruh di Indonesia. Tiga tokoh ini yang paling berkesan buat saya. Mengangkat isu kuliner, pengembangan diri, dan kreativitas. Program ini juga membahas tokoh-tokoh di bidang olahraga, sosial, militer, agama, pendidikan, pertanian, seni, dan lain-lain. Jadi sempatkan untuk menengok dan siap-siap terinspirasi.

Episode Leonard Theosabrata

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Ikbal Rambe | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Yanti Bei)

Episode Sisca Soewitomo

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter: Risca Andalina | Reporter: Leovina Putri | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

Episode Yoris Sebastian

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter & Reporter: Vela Andapita | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

UNTUK PEREMPUAN

Juga sebuah program current affair yang mengangkat topik yang diperuntukan untuk penonton perempuan. Ditayangkan selama 30 menit dan terdiri dari 4 segmen berbentuk paket liputan dan talkshow. Karena gue yang berada di balik layar program ini, berikut tayangan yang paling berkesan dalam masa pembuatannya.

Talkshow Wulan Tilaar eps Citra Cantik Perempuan Indonesia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera person: Willy Andry & Anggi Prayosi | Editor: Ardiyanto Endan)

Episode Urban Farming

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Cahyani Dean | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera Person: Lucky Devianto & Fachru Rozi | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Polisi Wanita eps Hari Polwan

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Gunther Immerheiser | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Pantara eps Gangguan Belajar Disleksia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Willy Andry | Editor: Ardiyanto Endan)

Talkshow Sinta Nuriyah Wahid eps Perempuan Pembangun Bangsa

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Vela Andapita | Reporter: Dianti Kurnianingrum | Camera Person: Willy Andry & Lucky Devianto | Editor: Ardiyanto Endan)

2016

A very dynamic and inhuman year. 

Saya mengawali tahun ini dengan biasa saja. Sampai akhirnya saya dipercaya mengerjakan program Untuk Perempuan bersama Dianti di bulan Februari 2016. Perpindahan itu jadi pintu masuk saya untuk semangat berkarya. Saya sangat menghargai proses kreatif jurnalisme yang saya lalui di ‘kelas’ ini. Hampir setiap hari saya bertemu dengan perempuan inspiratif yang membuka mata saya pada dunia yang begitu banyak rupa. Pun saya hadir di banyak acara yang saya pikir tak akan pernah ingin saya datangi. Dan ternyata, sangat menyenangkan. Karena sering bekerja tanpa produser, di ‘kelas’ ini saya berlatih peka dan menerapkan self-critic. Filosofi ‘1 hari 1 hal baru’ membuat saya termotivasi untuk berkarya lebih baik lagi. 

Untuk pertama kali juga, saya mengikuti fellowship peliputan pada September lalu. ‘Kelas’ ini memperkenalkan saya pada jurnalis-jurnalis lain dari berbagi daerah. Saya semangat belajar karena meski 4 tahun kuliah jurnalisme, rasanya ilmu itu tak cukup-cukup mengisi gelas akal ini. Meski karya yang saya hasilkan belum cukup untuk menembus jajaran nominasi lomba, saya tetap puas karena cukup bernyali meski belum genap 2 tahun di bidang ini.

Bekerja di media baru yang kekurangan SDM, membuat saya jadi bunglon. Dipaksa autopilot ngerjain tugas produser, back up asisten produser, sampai jadi ban serep presenter. Yang kurang cuma jadi solo journalist dan editor. Oh ya, dari pas kuliah dibilang suaranya ga news material sampai di sini dididik jadi audio talent. Sangat bersyukur karena sepanjang tahun ini saya berusaha meningkatkan kemampuan ini untuk membuka peluang baru. 

Di tengah tahun, saya dan Dodi memulai proyek seminggu satu cerita. Proyek ini berjalan dua bulan sampai tiba-tiba Dodi sakit dan tak ada satupun cerita kami yang dimuat di media. Dodi sakit dan berhenti menulis memang disayangkan. Logika Rasa pun harus hiatus sementara karena perbaikan website. Sampai akhir tahun ini saya masih berusaha menyelesaikan cerita pendek lagi. Tapi tiap hari, saya tak berhenti menuliskan ide di buku harian. Berharap suatu hari, ia benar-benar terlahir.

Untuk Dodi, semoga lekas sembuh. 

2016 tahun yang ribut. Diawali dari bom Thamrin hingga aksi bela Islam yang berlangsung 3 jilid. Gaduh saling serang, tarung paling benar. Bermain dengan massa, pengadilan digelar dari mulai kasus kopi sianida hingga Al Maidah. Sementara di gang milik warga, sembari tetap menghitungi stok mie instan, harta benda keluarga mulai dikemas karena buldoser dan ekskavator mempersiapkannya jadi arena sulap proyek citra cantik Jakarta. Menggeser yang kumuh ke pinggir dalam beton-beton tinggi. 

Dan bagi saya, ini juga bukan tahun yang tenang. Banyak hal yang tak ingin saya ulang. Namun, satu mimpi terwujud akhirnya. 

Pergi ke Jepang secara impulsif. Menonton konser band favorit. Dan berulang tahun bersama di tengah musim panas. Di 2017, saya ingin terbangun di suatu pagi seperti saat-saat itu. 

Nah, sekarang mendekati maghrib terakhir tahun ini. Di pinggiran Bundaran HI, saya menulis di sela peliputan. Berharap ada hal unik yang melengkapi penghujung tahun. Berharap 2017 memberi lebih banyak kesukaan dibanding kesukaran. 

Information Overload

Back then in university, information overload became an issue that we discussed. It might became a problem since third world revolution runs. There’re too many information that we passively got. Some of them were just hoax. We tend to accept but forgot to seek the truth.

In newsroom we gathered information not only from field, but also using social media platform to find and track the story. As you know, everyone could make statements and share anything to their social media. Therefore we need to check it first, then verify from the actual source. It’s enriched the report, yet tricky.

Recently, I realized when we (the media workers) were using internet to look for information and news, we also became the audience. The difference between us and those who actually consume our product is context. We have the background, the source, the access, and agenda setting. We may see or hear it. We’re the first who should know and responsible to give the credible information.

On the similarity, we’re also trapped on information overload.

Then one day, I went home by Grab Car. The driver asked me:

Are you a reporter, Miss? Which media should I believed in?

Hmm… I was silent for a moment. I told him, you decide which one had the complete information. He said:

So should I believed in all of them? TV showed me all aspects but they gave me too much. Each of them had different point of view. That media is pro and another is contra and the others had no stance. I got mixed up and didn’t know which one gave me the best information but they sure offered me a lot.

Instead of answer his question, I told him: “You might be right. Luckily, I’m the media. Thanks for making me realize this thing.”

I gave him mislead answer before. What if he tended to believe in 1 mass media and forgot the other point of view? And that belief depends on political alignments? That would be unfair… even for himself.

I watch TV for entertainment and observation. I was biased whether I’m an audience or a medium. And I thought this matter had long gone since media literacy activism took place.

It’s hard to see it clear. Every newsroom applied their own agenda setting. Ideally, it leads people to see the bigger picture. So it’s irritating me that our audience hardly see the bigger picture, misjudged an issue, or even worse doubting our credibility. That differences disconcerting.

The essence of news is helping people to identify options and make decision. Would they got these benefits if we couldn’t make it clear?

Please someone help me to answer his question. hhh

Lesson Learned

Semester ini penuh dengan mata kuliah produksi feature. Ya, sejenis liputan jurnalisme yang mengedepankan sisi human-interest. Capek, rasanya bukan main menguras otak dan energi. Tapi saya belajar sesuatu, belajar memahami. Feature bukan liputan yang kita harus ngejar-ngejar tokoh penting buat kasih statement mutakhir, feature lebih dari itu. Feature mengajak kita mengenal cerita manusia yang disampaikan oleh manusia sendiri. Kadang subyeknya ini super biasa, hidup di tempat yang sangat biasa, ceritanya pun kadang biasa, tapi value-nya bisa jadi luar biasa.

Hmm… dalam perjalanan pulang dari lokasi liputan kemarin saya merasa dalam tingkat ketenangan dan kebahagiaan yang khidmat. Padahal saya tahu, banyak masalah dan tanggung jawab yang masih menanti saya tangani di Jakarta. Saya tahu, semua hal yang belum terselesaikan itu pasti bikin saya stress. Tapi ternyata ga tuh… Setelah saya belajar menggunakan hati dan logika saya secara bersamaan untuk memahami sebuah cerita, saya jadi belajar menggunakan keduanya untuk memahami kehidupan saya sendiri atau… perasaan saya sendiri.

I’m feeling like a human. A full human.

Saya ingat kenapa saya ambil jurusan ini 3.5 tahun yang lalu. Saya pikir, saya bisa bercerita dengan cara lain. Saya pikir, saya bisa semakin membumi, mendekat pada ‘tanah’ yang dzat-nya menciptakan kehidupan. Saya pikir, saya bisa tahu lebih banyak hal, pada isu-isu yang terasa asing, pada teori yang terasa tragis, pada ideologi yang terasa pahit, atau pada masyarakat yang kabarnya sakit. Saya ingin memastikan diri saya, apa saya menuju arah yang tepat. Apa saya menjejak dengan benar?

Ada di sini, menjadi seperti ini, dan bercerita dengan cara ini membuat saya lebih ikhlas.

Mungkin saat ini saya baru sadar, saya harus mengubah hidup saya. Hidup yang lebih terasa seperti manusia sehingga apapun yang akan terjadi di hari esok, saya siap menjadi manusia itu… yang menyediakan ruang besar untuk perubahan pada dirinya sendiri. Karena selalu ada waktu untuk ikhlas. Dan ada hati dan logika untuk memahami.

Jadi, saya memutuskan mengubah impian masa kecil saya. Sehingga suatu hari saya yang jadi subyek sebuah cerita.