Natsu Yasumi (Pt. 2)

Baru sempat melanjutkan cerita cuti singkat saya di bulan Agustus.

Kamis, 18 Agustus 2016

KYOTO DAY! Kyoto punya banyaaaak sekali tujuan wisata. Karakteristiknya sedikit mirip Yogyakarta; kota dengan sejarah dan budaya yang mengakar sampai sekarang.

06.00-17.00 JST

Shuntokumichi – Fushimi Inari – Arashiyama Bamboo Grove – Snack & shopping time at Saga Arashiyama –  Kyomizudera – Lunch at Senenzaka

Fushimi Inari dan Arashiyama jadi tujuan wisata favorit turis Indonesia. Menurut beberapa orang, nggak bisa mengunjungi Fushimi Inari dan Arashiyama digabung dalam satu hari. Ya, akhirnya kami memutuskan untuk nggak ke Gion demi dapat semuanya.

Kiyomizudera berada di tengah kota. Kita juga bisa mengunjungi Museum Nasional dan Kyoto Tower jika mau. Namun, waktu kami sudah habis berjalan-jalan di Saga Arashiyama. Dan mengejar menikmati pemandangan Osaka di Umeda Sky Building (yang ujungnya gagal karena kemalaman selesai makan di Grand Front Osaka).

Kyoto memang kota tua yang memikat. Saya mendapatkan sinar senja terbaik yang saya rindukan sejak kecil di Senenzaka.

Wisatawan lain akan menyempatkan waktu dan uangnya untuk memakai kimono & hakama selama berada di Kyoto. Ada banyak tempat penyewaannya, rata-rata sekitar 3.500-5000 yen. Tapi, kami memilih untuk menghematnya.

Pusat kegiatan rata-rata sepi sejak jam 8 malam walaupun denyut perkotaan masih berlangsung hingga tengah malam.

 

Jumat, 19 Agustus 2016

My birthday!

Pagi hari kami sibuk mencari tempat print tiket Summersonic. Karena (gomeen…) salah memahami email mana yang harus diprint.

Jepang bukan seperti Indonesia yang banyak kang fotokopian di pinggir jalan. Tempat ter-serba ada jelas conbini, tapi juga tidak semua conbini menyediakan mesin fotokopi sekaligus print. Untungnya di Osakajoukoen ada Lawson besar yang menyediakan alat. Cara printnya ada banyak; Bluetooth, USB, Memory Card, bahkan email.

Hadiah terbaik tahun ini adalah bisa pergi ke tempat paling diidam-idamkan sejak SMA. Akhirnya setelah hampir 7 tahun pacaran, saya dan Gery bisa merayakan ulang tahun bersama di Osakajou. Sayang, kami datang bukan saat musim semi sehingga tak ada kembang-kembang sakura merekah. Yang ada hanya matahari membara di puncak musim panas…

Biaya masuk ke Osakajou sekitar 600 yen untuk orang dewasa. Lebih murah jika kita datang dengan minimum rombongan 15 orang.

Kastil ini sangat ramai. Naik turun dengan tangga lebih saya rekomendasikan karena liftnya penuh. Selain belajar sejarah, kita juga bisa melihat pemandangan kota di lantai paling atas. I remembered shouting, “Ah itu NHK!”

Kami makan siang di Ichiran Ramen Dotonburi. Nggak bohong, ini ramen terenak yang pernah ada di muka bumi. Saya nangis pas makan (lebay). Antriannya super panjang. Belinya pun pakai vending machine. Dan tempat makannya kayak bilik warnet. Cukup untuk isi energi berbelanja sampai malam di Namba.

Oh ya, jangan lupa untuk beli dan coba Pablo cheesecake di Dotonburi. Heaven on earth!

 

Sabtu, 20 Agustus 2016

SUMMERSONIC 2016!! Sebagai festival musik terbesar di Jepang, acara ini juga diadakan di Tokyo dengan guest star yang lebih lengkap. Tapi line up Osaka juga nggak kalah keren kok.

Tiket summersonic dilunasi kedua setelah tiket pesawat. Karena nggak bisa diperjualbelikan atau dipindahtangankan, tiket ini jadi motivasi harus berangkat. Karena di Osaka harganya lebih murah dari di Tokyo; sekitar Rp 1.800.000 untuk 1 hari. Ada pula tiket terusan 2 hari sekitar Rp 3.500.000. Tahun ini kembali diadakan di Maishima Arena yang kayak kota mati begitu keluar dari Stasiun Cosmosquare. Dari stasiun menuju venue disambung dengan bis dari panitia seharga 1000 yen untuk pulang pergi. Tempat ini sebenarnya agak mirip Tanjung Priuk kurang ramai aja hehehehe

It’s worth! Kalau niat banget sehari minimal bisa nonton 4-5 penampilan dalam 1 panggung. Penampilan utama biasanya di panggung yang paling jauh, Ocean Stage. Sementara panggung yang lebih kecil, Forest Stage untuk para newcomer. International band/artist yang super mainstream biasanya juga ditaruh di Mountain Stage (di dalam lapangan baseball super besar). Kalau mau ngadem sih di Sonic Stage, indoor, ber-AC, luas.

Saya bisa nonton 5 penampilan (Alexandros, Kenshi Yonezu, James Bay, Sakanaction, Radiohead) tapi nggak bisa full karena jarak antar panggung yang jauh-jauhan. Hanya Kenshi Yonezu yang benar-benar bisa full. Sebenarnya bisa nonton Two Doors Cinema Club, tapi kan butuh makan dan ke toilet hehehe. Sure it was REALLY GREAT!!! Sakanaction surely made my day!

pixlr

Usahakan sudah sarapan sebelum sampai venue. Kalau di Osaka, setiap stage ada oasis untuk beli konsumsi. Saat terbaik adalah ketika penampilan sudah dimulai karena sepi.

Jangan lupa pakai sunblock dan bawa handuk! Karena panas banget seriusan deh…

Yang jadi highlight hari ini adalah Radiohead tampil kemalaman dan daya tampung bis nggak cukup untuk mengangkut semua penonton balik ke Cosmosquare. Kami naik bis ke Stasiun Universal City (Sakurajima Line) yang sebenarnya lebih dekat. Sayang kami tak bisa mengejar kereta terakhir ke Higashiosaka. Dan malahan………….. TERSESAT DI NARA!!!

Kalau nggak karena skill bahasa jepang yang pas-pasan, kami mungkin nggak tahu baru saja turun di Stasiun Takaida Nara alih-alih Takaida Osaka. Kepala stasiun bilang kalau naik taksi bakalan mahal banget. Karena itu hari terakhir kami sudah nggak punya duit banyak. Akhirnya bermalamlah di stasiun, hampir tidur di halte pinggiran Sungai Yamato dengan angin musim panas yang ternyata dingin.

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Kami punya waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai rumah, packing, dan segera menuju airport. Naik kereta pertama sekitar setengah 5 pagi dan berlari-lari sampai rumah. Mandi sekedarnya, masuk-masukin barang, habisin sisa Pablo untuk sarapan. Out out out kejar kereta ke airport.

Salah satu perjalanan yang membentuk perspektif, membuat saya menghargai orang lain, menikmati hidup, dan menjalani semua apa adanya. Beruntung Jepang sudah well-established sehingga kami bisa survived.

And until now, I’m still dreaming of Osaka windy night and Kyoto lovely noon. Jya, mata nee…

Natsu Yasumi (Pt. 1)

Pertengahan Agustus kemarin saya menjalani liburan singkat ke Osaka dan Kyoto, Jepang. Berhubung ini baru kedua kalinya saya ke luar negeri dan perjalanan pertama sudah 10 tahun yang lalu, jadi saya memang agak sedikit norak.

Liburan singkat ini terbilang dadakan. Baru direncanakan sekitar April 2016. Dengan nawaitu nonton Summersonic. Kebetulan ada tiket murah berkah travel fair. Saya dan teman-teman membeli tiket dulu, lalu melakukan pelunasan tiket dan tempat menginap, bikin visa/e-paspor, baru menabung untuk hidup selama di sana.

Saya bawa cash 40.000 yen atau sekitar Rp 5.200.000

Sebagai gambaran umum, total uang yang saya habiskan sedari April-Agustus untuk ke Jepang sekitar Rp 14.000.000.

Selasa, 16 Agustus 2016 saya masih ngantor dulu paginya, menyelesaikan beberapa printilan untuk liputan sekembalinya saya liburan. Sedih sih nggak bisa ikut tapping talkshow dengan Ibu Sinta Nuriyah Wahid (anw talkshownya bisa ditonton di sini). Saya naik penerbangan langsung Jakarta-Kansai dengan Garuda Indonesia pukul 23.15 WIB.

Karena beli di travel fair saya bisa dapat harga miring. PP Jakarta-Kansai-Jakarta hanya Rp 5.055.000 (ngepas banget sama sisaan duit di ATM setelah kerja hampir 8 bulan). Sebenarnya bisa dapat lebih murah sekitar 4jt atau 3.5jt, tapi ada jam-jamnya dan tergantung keberuntungan masing-masing asal tekad dan nawaitunya buat nunggu dan balik lagi besoknya.

Rabu, 17 Agustus 2016 tiba di Kansai pukul 08.15 WIB. Waktu di Osaka 2 jam lebih cepat dibanding Jakarta.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendatangi Tourist Information Center. Beli travel pass yang memudahkan akomodasi kita. Namun karena saya cuma mau muter-muter Osaka-Kyoto, kami langsung ke stasiun dan membeli kartu ICOCA. Karena hanya 5 hari di Jepang, jadi kartu hanya saya isi 1000 yen dan dikhususkan untuk transportasi. Dengan kartu sakti ini saya bisa keliling naik segala jenis kereta di Jepang kecuali Shinkansen. Beberapa bis juga bisa menggunakan kartu.

Hari pertama dihabiskan di Namba: Dotonbori, Shinshaibashi, Nipponbashi, OCAT. Ya bener-bener muterin Namba jalan kaki. Sebenarnya juga hari ini cuma mau dihabiskan untuk riset toko-tokonya dan foto-foto atau jajan takoyaki. Osaka terkenal dengan takoyaki dan okonomiyaki btw. Menghabiskan waktu sebelum waktunya check-in.

Biar mudah dalam bergerak, di setiap stasiun disediakan coin locker yang muat untuk koper dari ukuran small-large. Harganya kisaran 300-700 yen sesuai ukuran koper dan keberadaannya hampir di semua sudut kota. Hanya saja jangan terpaku untuk berlama-lama mencari coin locker. Sambil dibawa asik jalan aja, nanti ngabisin waktu.

Kansai ke Namba bisa ditempuh dengan kereta Nankai. Kira-kira 30-45 menit lamanya (ibarat Jatinegara-Kampung Bandan-Tanah Abang).

Biar gampang mobilisasi dengan kereta di Jepang, kami pakai jasa website Hyperdia. Jalur dan jenis kereta yang super banyak dan ruwet bisa diatasi dengan mudah. Cukup dengan memasukan nama stasiun keberangkatan dan tujuan kita.

Dengan suhu 35 derajat celcius, emang rasanya panas banget. Dan kami sama-sama belum tahu kalau semua bisa ditempuh dari bawah tanah di Namba. Bahkan banyak toko dan restoran yang bisa kita datangin. Makan siang kami lakukan di restoran sekitaran Namba Walk. Ya dalamnya ada yang mirip mall, ada yang level ITC saja. Tapi sayang kalau hari pertama nggak dimanfaatin buat lihat-lihat suasana jalanan. Jadi makan malamnya ya Yoshinoya (entah mengapa rasanya beda banget sama di Jakarta. cabe bubuknya enak banget hahaha)

Harga makanan di Namba agak mirip dengan restoran di Jakarta. Kita bisa ketemu makanan harga 100-500 yen macam onigiri atau bento di conbini (Family Mart, 7/11, Lawson). Atau makanan restoran seharga 500-1500 yen. Minumnya ocha ajalah yang gratis dan refill ibarat teh tawar di warteg.

Kami akhirnya pulang ke penginapan sekitar pukul 9 malam.

Dari jam 8, sudah banyak toko yang tutup di Namba. Dan peak ramainya stasiun sampai kira-kira jam 10-an.

Penginapan kami terletak di Shuntokumichi, Higashiosaka-shi. Kami pesan rumah dengan 3 kamar via AirBnb dan dapat tempat yang super memuaskan. Biaya dibagi berenam. Per orang untuk 4 malam hanya mengeluarkan Rp 1.200.000. Arigatou Akira-san!

Penting! Kawasan pemukiman cenderung sepi dan tenang. Meski banyak orang yang pulang ke rumah masing-masing di waktu malam, tapi ada baiknya kita tidak berbicara terlalu keras, tertawa-tawa, atau berbuat bising. Menghormati orang yang sudah berada di dalam rumah untuk beristirahat sangat penting.

Segitu dulu ya… Kapan-kapan saya lanjutkan lagi! Masih ada 4 hari lagi. Kerjaan masih numpuk.