Quarter Life

Nasihat yang paling sering gue dengar belakangan ini adalah, “Tetapkan impianmu dan carilah mentor untuk membimbingmu.”

Dan percayalah, sudah susah-susah menentukan impian (tujuan hidup, pencapaian, atau apa pun itu), mendapatkan mentor juga tak sesederhana ngevote oshi di sousenkyo memilih tutor di Ruangguru. Tidak semua orang merasa dirinya mentor material yang dengan percaya diri mendedikasikan dirinya membimbing seseorang dari 0. Mencurahkan segala pengetahuan dan keterampilannya kepada si mentee dan membantunya berkembang. Mengorbankan waktu dan tenaga. Tak jarang juga, untuk mendapat mentor, seseorang harus mengeluarkan uang (banyak, I’m not gonna mention anyone).

Gue punya pengalaman tersendiri soal eksekusi nasihat ini. Walaupun enggak begitu menginspirasi, tapi gue pengen cerita saja sebelum lupa gue pernah muda dan optimistis.

Pertama, menentukan impian. Sampai sekarang gue masih bingung kalau harus menjelaskan ini. Karena gue mengimpikan banyak hal dari kecil, tapi sayangnya tidak semuanya solid. Dari mulai jadi penulis, jurnalis, membuat perubahan revolusioner di industri media, dll. Bullshit! I stop dreaming and start doing the exact thing.

Pada akhirnya yang bisa gue percaya adalah emang ga ada impian yang solid. Yang ada adalah perjalanan menemukan impian itu. Long haul. Gue jadi jurnalis, terus jadi editor, dan disela-sela gue masih tetap menulis, sebenarnya perjalanan itu mengajarkan gue banyak hal.

Yes, living a dream is a series of struggle.

Impian itu sesuatu yang kita pupuk. Jadi jurnalis, jadi editor, jadi penulis, bahkan sekarang gue sering jadi MC & moderator, atau nanti kuliah di luar negeri, kerja di perusahaan ternama, apa pun itu cuma benihnya. Kalau gue tetap melakukan hal sebaik-baiknya, bertumbuh di dalamnya, gue akan jadi sebuah pohon kuat dan solid. Mungkin itu yang disebut have a significant role, atau jadi orang, atau sukses. Makanya, walau bisa dibilang gue berhenti jadi jurnalis karena it wasn’t work well, gue sih enggak sedih-sedih amat. Keterampilannya enggak sia-sia, malah jadi added value untuk bidang lain. Teman-teman nyebutnya, gue ‘lulus’ bukan DO hahaha.

Di titik ini, gue cukup senang karena gue menemukan pekerjaan, hobi, dan kegiatan yang membuat gue ingin terus melakukan yang terbaik, bertumbuh, dan punya harapan.

Kedua, menemukan mentor. Jangankan buat orang yang sudah menentukan impiannya, bagi orang yang belum nemu impiannya apa lagi, mentor itu sangat penting. Karena dalam hidup, banyak pertanyaan mengawang di benak kita, punya seseorang yang membimbing kita menemukan jawabannya akan sangat membantu.

Sebenarnya bisa banyak caranya untuk menemukan mentor. Cara yang orang-orang anggap paling mudah adalah memanfaatkan jaringan yang sudah dibentuk sejak kuliah. Makanya, wajar banget kalau melihat anak kuliahan tuh sibuk organisasi dan magang atau ikut komunitas sana-sini. Wajar banget juga melihat anak-anak kuliahan yang nempelin senior, dosen, hingga ikut proyekan biar bisa dikenalin sama tokoh masyarakat.

Namun bagi saya, cara paling realistis adalah masuk ke industrinya dan kerja sama orang. Mentor saya adalah bos saya. Akan tetapi, enggak semua bos juga errr gimana ya nyebutnya mentor material. Balik lagi, enggak ada manusia yang sempurna, enggak semua orang willing jadi mentor.

Gue pernah meng-add Facebook dan nge-chat cerpenis idola gue yang juga seorang scriptwriter andal. Beliau menanggapi dengan baik pesan gue, tapi menolak jadi mentor. Merasa kurang percaya diri untuk mendidik. Beliau menyarankan untuk ikut sekolah-sekolah informal. Namun, yang saya cari bukan lagi sekadar ilmu, melainkan juga pembimbingan.

Sulit kan?

Gue enggak punya senior yang benar-benar bisa gue jadikan tempat berguru. Apa yang mereka tunjukkan bukanlah yang gue cari. Ya dan kebanyakan umur kami enggak berbeda jauh, mereka juga masih cari jati diri.

Akhirnya, kerja pada orang tetaplah jadi pilihan terbaik. Gue harus cari tempat itu. Baiknya Tuhan, gue dikasih jawaban sangat cepat.

Saat ini, gue masuk ke tempat yang siapa pun bisa jadi mentor gue. Tuhan kayak kasih gue banyak opsi. Mau belajar X, bisa sama A. Belajar Y, bisa sama B. Enggak jarang beliau-beliau yang berinisiatif memberikan gue pembelajaran dan bimbingan.

Gue makin percaya bahwa jodoh enggak lari ke mana….

Ketiga, expand the playground. Yang satu ini adalah salah satu nasihat dari senior yang gue anggap mentor di kantor. Beliau bilang, “Tempat di mana kamu merasa tumbuh adalah tempat terbaik untuk membangun playground-mu. Kamu bisa bertahan di sana atau malah memperluasnya.”

Gue selalu beranggapan bahwa gue harus fokus ke satu hal yang mau gue kejar. Gue lupa ya kalau sebagai manusia, Tuhan tuh kasih kita banyak talenta. Seakan ada nubuat non-verbal yang mengisyaratkan untuk berkreasilah dengan maksimal agar bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Sempit banget ketika gue berpikir, gue sibuk kerja, maka gue enggak bisa nulis, enggak bisa bisnis, enggak bisa bantu orang. Padahal bukan kerjaan gue yang salah. Guenya aja yang enggak bisa mengatur waktu dengan baik.

Untuk menebus kecupuan gue dulu, sekarang gue enggak mau menyia-nyiakan sedetik pun waktu gue.

Sorry banget emang belum ada hasil nyatanya…. Ya baru setahun ini gue berusaha memperluas playground. Namun gue enggak akan berani nulis kayak gini, kalau realisasinya ga segera terwujud.

Lagi-lagi terima kasih buat lingkungan baru gue. Banyak orang di sini yang ngasih tunjuk jalan-jalan terbaik yang bisa gue lewati. Walau ya…. terlalu indie. But in this competitive world, even the smallest step is matter.

Keempat dan terakhir, hustling passionately. Dua setengah tahun terjun ke dunia kerja, gue menyimpulkan passion itu bukan tentang karier hahahaha. Passion adalah tentang pembawaan diri.

Buktinya yaaa… Gue mengira jurnalistik adalah passion gue, tapi kenyataannya ketika gue benar-benar menjalaninya passionately, gue malah kehilangan diri gue sendiri. Jadi buat apa?

Namun yang salah bukan passion gue. Passion itu baik. Karena harusnya passion itu ada ketika kita menjalani kegiatan apa pun. Kalau bagi gue, passion itu yang menggerakkan untuk melakukan yang terbaik, minimal buat diri sendiri. Jadi di dalam playground, mustahil gue bisa memainkan wahananya kalau enggak ada passion di dalamnya. Mustahil gue bisa mencapai sesuatu kalau bukan karena passion.

Beberapa orang bilang, passion harus dicari. Enggak, passion itu udah ada di dalam diri, yang perlu dicari tahu adalah ke mana nyalurinnya. Cause we’re the subject. We’re hustling everyday.

Nah, empat hal tersebut yang gue maknai dalam perjalanan menuju umur gue 25 tahun Agustus nanti. Wkwkwk makasih ya udah baca curhatan orang yang baru recover dari quarter life crisis.

Advertisements

2017

Ini tahun yang asik bagi gue pribadi. Namun juga tahun di mana gue sadar, gue enggak puas sama kualitas seseorang dalam bermasyarakat sehingga gue fokus untuk enggak jadi orang kayak mereka. Sayangnya, itu membuat gue dinilai apatis sama beberapa orang. Well, gue cuma mau hidup tenang dan bikin orang lain juga tenang.

Akhirnya ada sebuah tahun yang gue enggak bikin banyak resolusi. Gue cuma punya dua! Resign dan cari kerjaan baru, itu pun langsung gue wujudkan di awal tahun. Untuk pertama kalinya, gue merasakan yang namanya jadi pengangguran terbuka beberapa bulan. Ternyata seperti ada berkilo-kilo beban terangkat, walau semu. Di saat uang tabungan gue mulai kepakai 20% dan gue belum nemu solusi untuk mendatangkan income (karena cara-cara yang gue pakai tak bekerja dengan baik dan guenya emang kurang usaha lebih keras), akhirnya terasa juga jenuhnya jadi pengangguran.

Alhamdulillah, di bulan Mei gue mulai kerja lagi. Bukan jurnalis, gue sekarang editor buku nonfiksi di penerbit Elex Media. Bidang yang benar-benar baru bagi gue. Gue cuma modal EYD, kosa kata di KBBI, kemampuan linguistik sederhana yang dipelajari di masa kuliah jurnalistik, dan kecintaan akan buku. Namun, tidak butuh waktu lama untuk gue menyenangi industri ini. Di balik semua keabu-abuannya, rasanya senang membantu orang lain yang juga suka menulis mewujudkan karyanya. Terlebih gue dapat banyak asupan buku yang bikin tambah ‘kaya pengetahuan’ juga punya kesempatan meluaskan jaringan yang lebih intim dan intense dibanding ketika gue jadi jurnalis. Beberapa bulan di sini, gue merasa bertumbuh secara pribadi. God gave me more than I have ever hoped for. 

Nah sebenarnya selain resolusi ada hal yang bikin gue merasa 2017 itu tahun yang asik. Gue membangun rutinitas. Banyak orang enggak betah dengan aktivitas rutin, tapi bagi gue ini esensial untuk dibangun. Gue merasa hidup gue jadi lebih teratur, less stress, dan tentunya mendekatkan pada tujuan yang signifikan. I spent my time, money, and energy to things that matter.

Apa saja rutinitias yang gue bangun? 

– Jangan tidur setelah sholat subuh dan bangun sepagi mungkin walau tidak sholat. Rentang waktu sehari terasa lebih panjang karena melek lebih lama. 

– Meal Prep, belanja dan masak di akhir pekan. Menu sederhana saja, tapi gue jadi aware dengan keperluan domestik dan menghemat banyak pengeluaran. Di kantor pun jadi hemat energi, waktu yang biasa gue pakai ke kantin bisa gue alihkan untuk nyelesein kerjaan. 

– Nabung emas di Pegadaian untuk dana darurat. Hakikatnya dana darurat itu likuid, tapi karena sekarang tanggung jawab gue belum banyak, gue bagi dua saja emas dan likuid dengan porsi 80:20. Sebagai penyimpan nilai di masa depan, emas adalah pilihan yang oke dan terjangkau. Duit Rp10 ribu saja bisa dapat 0.02 gram, ya kan kalau uang jajanku sisa bisa berubah jadi aset produktif. 

– Baca buku dan nulis novel dalam perjalanan ke kantor. Yang namanya ngejalanin hobi itu pasti bikin senang dan naikin mood. Gue naik Transjakarta 2x karena harus transit dan ganti jalur. Jadi, dalam perjalanan pertama biasanya gue baca buku. Lalu setelah transit, gue lanjut nulis novel di notes HP. Cara kayak gini emang terasa lambat banget, tapi namanya juga curi-curi waktu untuk buat progress. Di salah satu surat cinta Gery ketika kami SMA, ada nasihat, “Waktu paling jauh itu, satu detik yang lalu.” It’s impossible to turn back time, but we could always make time. 

– Sarapan. Perut kenyang, pikiran fokus. 

Kata almanak, shio gue ciong tahun ini. Namun, gue merasa Allah kasih banyak rezeki dan berkah di hidup gue yang sebenarnya segini-gini saja. Setiap hari, gue selalu merasa bersyukur dan lebih bahagia karena bukan berharap-harap sesuatu, tapi gue melakukan sesuatu yang membuahkan hasil. 

But it was not always sunshine… Ada juga sedihnya. Gue kehilangan oma dan eyang kakung dalam waktu yang berdekatan. Namun di sisi lain, kesedihan itu mengajarkan gue arti penting memaafkan dan hadir untuk satu sama lain di keluarga. Gue beruntung bukan hidup di keluarga penuntut, gue hidup di keluarga yang saling menerima dan berusaha bahagia, fokus kepada hidup nyata di hadapan mereka. So it was a rainbow… To be present and be real.
Semoga di tahun depan, gue bisa lebih manusiawi dan melakukan banyak hal baik. 

Dodi

Saya bisa bertemu Dodi Prananda adalah rencana Tuhan yang unik. Bagaimana saya yang sangat Jakartasentris ini bisa berteman dengan orang di luar lingkaran saya adalah sebuah anugerah. Saya tidak pernah berpikir akan punya teman seluas ini. Di antara hamparan keluasan anugerah itu, Dodi jadi salah satu pohon besar berakar kuat dengan dahan dan ranting bercabang-cabang yang rimbun.

Persahabatan kami juga terbilang unik. Menandingi Dodi adalah ego terbesar saya. Namun ada satu momen dalam hidup saya yang menjadi titik balik dalam hubungan ini. Momen itu adalah saat Dodi meminta saya menjadi ‘salah satu dari tiga tungku’. Walau setelah itu, saya tidak serta merta menganggapnya sahabat, dia membuat saya belajar menghargai orang lain. 

Jika diingat pacar saya dulu sering sekali menasihati saya, “Coba deh kamu dengarkan Dodi dulu. Jangan marah-marah terus.” Akhirnya saya mulai mencoba mendengarkan dan memahami Dodi. Butuh waktu lama sampai akhirnya saya merasa Dodi adalah sosok yang perlu ada di hidup saya. 
Sepanjang saya mengenalnya, Dodi adalah pribadi pemaaf. Dia memandang hidup dari sudut pandang yang positif. Segala hal dilakukannya demi keluarga. Jika Dodi ingin melakukan sesuatu, dia akan berpikir dengan saksama; mengukur kesempatan dan risiko. Terkadang tidak jadi dieksekusi, tapi kalau sudah berani,  maka dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan presisi. Dia juga rajin mengintrospeksi diri. Dodi yang saya kenal sekarang adalah hasil metamorfosis pola pikir, olah rasa, dan etos kerja. 

Saat ini, kami tidak hanya menjadi karib. Dalam jalan takdir yang juga unik, saya sekarang berperan sebagi editor untuk buku non fiksi pertamanya. Setelah bertahun-tahun menjadi teman sekelas, bekerja satu organisasi, menjadi jurnalis di stasiun TV yang sama dan mengerjakan program yang sama, akhirnya kami dipersatukan untuk mewujudkan impian yang sama. 

Pada hari ulang tahunnya yang ke-24 ini saya tak ingin dia merasa tua seperti keluhannya. Dodi justru sedang terlahir kembali karena kini dia jauh lebih sehat, lebih bersemangat mencoba hal baru, bertambah kawannya, semakin luas pandangannya, dan dilingkupi oleh cinta-cinta dari sekitarnya. 

Selamat ulang tahun. Terima kasih, Sahabat. 

Langkah Pertama

Bicara soal karier, saya baru menapaki langkah kedua. Jika dulu saya menjuluki teman kost saya kutu loncat karena pindah-pindah kantor, maka saya lebih parah dari kutu loncat itu. Saya berubah profesi.

Saya hanya tahu sedikit tentang industri yang tengah saya geluti ini karena selama ini hanya menjadi konsumen. Bayangkan rasanya jadi raja, kemudian jadi pelayan.

Tapi saya raja yang senang datang ke dapur dan mencicipi tiap bumbu sebelum jadi resep masakan dan terhidang sebagai makanan matang. Well, belajar itu menyenangkan.

Namun sabar, kali ini, saya tidak akan bicara tentang langkah kedua.

***

Beberapa bulan lalu ketika saya sedang happy setelah resign, saya terlibat obrolan tentang karier dengan Bella (junior saya di kampus) yang baru lulus. Obrolan itu menyadarkan saya bahwa karier pertama punya dampak yang signifikan.

Passion Bella adalah jurnalisme. Mungkin kami sedikit sama, sejak sebelum masuk kuliah tahu apa yang harus dikejar dan dilakukan untuk sampai ke sana. Jejaknya juga hampir mirip; tahu dari awal ‘oh aku mau pilih peminatan Jurnalisme’, kayaknya harus nyoba nyemplung jadi panitia Journalight Pekom deh biar dapat banyak insight dan makin yakin, next jadi anggota pers mahasiswa hmm FISIPERS kalau gitu, waktunya magang dapat di NET, oke fixlah habis lulus gue akan jadi jurnalis.

Bella mendaftar ke banyak stasiun televisi dari mulai iNews, Kompas TV, NET TV, dan ‘mantan sekolah’ saya jawapostv. Sempat coba media online, Kumparan juga kalau nggak salah. Dari awal saya sudah bilang, panggilan tes buat dia itu bakalan ada terus. She’s smart, camera-face, skilled, experienced, able to work under-pressure, and so on. Dan benar, yang ada dia bingung mau ke mana…

Sebagai ehem… orang yang sudah melewati langkah pertama, saya bilang sama dia:

Lari ke rumah yang paling ingin kamu huni.

Alias, fokus ke prioritas utama. Akhirnya dia berhasil tembus MDP V NET TV sebagai Reporter (soon, we’ll see Nabilla Putri Fhatya on screen). Saya ikut juga lho dalam seleksi dan gagal. Well, setelah kepikiran resign kan saya masih mencari rezeki dengan coba pindah institusi, tetapi kayaknya jalan Allah memang beda sih.

Bella bikin saya merefleksi banyak hal. Saya minta dia hati-hati memilih karena saya sadar ini semua percobaan yang hasilnya bisa hit or miss. Karier pertama kita adalah realita. Waktu kita di sana akan menjadi jawaban apakah jalur yang kita pilih adalah yang paling tepat. Apa yang kita jalani, lalui, dan rasakan akan mempengaruhi jalan kita ke depannya.

Yang bagus adalah ketika karier pertama mengarahkan kita pada tujuan-tujuan baru yang lebih baik, membuka jalan dan jaringan pada kesempatan yang lebih luas, dan membuat lebih percaya diri.

Well, kita semua tahu ekspektasi nyaris tidak pernah sama dengan realita. And you will find it hard! I found it hard! I did my best, all of me. Till I said I’m broken.

Karier pertama akan menguji sebesar apa passion kita. Jika kamu bagus dalam pekerjaan, maka tantangannya jauh lebih sulit. MENTAL! Kamu mungkin ketemu kantor yang unstable, politik dan drama kantor yang nggak banget, atau janji-janji yang tidak terpenuhi. Saat itu, kamu akan diajak berpikir kembali soal kelurusan niat.

Ada orang yang kerja memang cuma ingin cuan. Jadi mau kayak gimana juga keadaannya kalau dia masih bisa ngehasilin cuan ya dia bisa menolerir hal yang tidak mengenakkan. Ada yang karena pengen belajar, jadi ketika tidak berkembang mereka akan pindah mencari tempat baru. Ada yang karena mengikuti gairahnya, ketika hal-hal tersebut membuatnya hilang gairah, dia mulai berpikir untuk pindah kantor atau malah ekstrimnya tertarik dengan profesi lain (oh ini saya hehehe).

Eh tunggu, itu juga kalau kamu sampai ke tempat yang memang kamu ingin tuju.

Kalau tidak? Saya bisa bilang, awal yang salah itu menyulitkan. Mau jadi X karena sangat takut nggak dapat kerja atau kalah dalam ‘kompetisi’ rela jadi A, B, C, D, dst. Pastikan itu bukan keputusan yang prematur dan sia-sia. Karena saat kita tersadar waktu kita terbuang untuk hal yang sia-sia, bisa jadi kita telah kehilangan momen. ITU MENYEDIHKAN! (humm, saya pernah merasakan kehilangan momen itu…)

Setelah proses yang akan draining self esteem, kita akan mulai berpikir soal langkah kedua. Biasanya pilihannya 3:

  • Niat gue lurus, it’s okay gue bisa menghadapi semua ini.
  • Gue cuma salah tempat saja, ayodah cari tempat baru
  • Kayaknya memang rezeki gue bukan di sini… Mari menata hidup baru

Apapun itu, akan membawa kita pada kedewasaan berpikir. Selalu jujur pada diri sendiri. Hit? Miss? Berhasil? Gagal? Oh saya nggak gengsi untuk mengakui langkah pertama saya mungkin gagal dan saya mematikan karier jurnalis saya sendiri dengan banting setir ke jalur lain.

Teman dekat saya waktu SMP bahkan sampai ada yang kaget. “Ta serius, itu kan mimpi lo!!! Kenapa lo lepas?” Percayalah sis, menjalani mimpi itu jauh lebih sulit daripada meraihnya. Mungkin saja kalau gue lebih hati-hati, jalan ceritanya berbeda. Walau sebenarnya, gue senang sih jalan hidup gue kayak gini. Feeling lost and depressed makes me grateful for everything. Somehow, it encourages me to be a better person. Kadang kita harus menghadapi kenyataan kalau kita kalah.

Tapi untuk Bella, dia baru memulai langkahnya. Saya sangat berharap dia menemukan dirinya dan semakin yakin menjadi jurnalis. Karena pada akhirnya ini adalah perjalanan untuk menemukan jati diri.

with bella

Akhir tahun 2015. Bella berhenti dari FISIPERS, saya sedang semangat-semangatnya jadi jurnalis. Cepat banget waktu berjalan!

Follow what excites you the most!

Kita akan tetap belajar. Di tempat terburuk sekalipun, memberikan usaha terbaik (walau kadang nyakitin) akan menghasilkan sesuatu yang baik juga kok. You won’t forget your first step. It showed passion, insecurity, naivete, growth, and maturity.

Dua Hari Terakhir

Aroma jengkol masih melekat di tubuh saya yang seminggu ini mengerjakan feature tentang Jejak Jengkol Nusantara. Setelah 1.5 tahun berada di jawapostv akhirnya saya memegang program utama yang selalu saya harapkan. Dan sekaligus jadi program dan karya terakhir saya untuk media ini. 

Akhir bulan Februari,  saya terbangun di suatu pagi dan memutuskan untuk berpindah ‘sekolah’ (begitu kami reporter belia menyebut tempat kami bekerja). Sungguh… pengalaman pertama memutuskan berhenti kerja memiliki kesan yang mendalam bagi saya dan sedikit romantis. Yah terlepas dari alasan apapun yang ternyata malah memotivasi saya untuk keluar dibanding bertahan, tempat ini benar mendidik saya dan merekam jejak karya saya. Tempat pertama saya mencurahkan hasrat saya sebagai jurnalis. 

Dan tiba di hari ini… Dua hari terakhir saya di sekolah ini. Saya menghampiri siapapun yang ada di redaksi. Termasuk salah satu produser saya di kantor, Mbak Apri Dahliani. Ia yang pertama menghubungi saya untuk datang wawancara kerja dan banyak berjasa serta memberi pembelajaran. Terutama… menghadapi ‘drama-ga-drama’ nya dunia pertelevisian. She gave me a big and tight hug with her teary eyes. And I feel that kind of heartwarming feelings. 

Sempat juga saya keluar kantor sebentar dan ketemu Mbak Jihan presenter andalan yang lagi menunggu dijemput. Sembari mendengarkan dia memberikan saya wejangan soal pendirian di tempat kerja, saya mengelus-ngelus perut hamilnya. 

Kemudian saya makan sore dengan Dodi. Baru sadar, saya seperti ekornya. Dodi masuk FISIPERS, saya ternyata juga. Sama-sama di divisi Reporter. Di tahun ketiga, Dodi dan saya mengajukan diri jadi Pemimpin Umum FISIPERS dengan Dodi yang keluar sebagai pemenang dan saya jadi abdinya yaitu Pemimpin Redaksi. Dodi lulus dan jadi jurnalis TV, saya mengikuti dan masuk ke TV yang sama. Kami juga menjadwalkan waktu menulis cerpen yang sama. Lalu Dodi jatuh sakit dan tak bisa bekerja selama 6 bulan, saya lalang-melintang berganti program dari mulai daily news hingga current affair. Ketika kembali masuk, ia diangkat jadi produser saya. Dua karya terakhir saya berada di bawah supervisinya. Saya harus minta maaf kepadanya karena tidak bisa melanjutkan dan meninggalkannya. Ini jadi kali pertama sejak kuliah, saya tak mengikuti jejaknya. 

Saya masih sempat minta tanda tangan Kepala Pemberitaan untuk form absensi. Orang yang dulu mewawancarai saya itu masih menghela napas mengingat dia juga jadi orang yang saya mintai persetujuan atas pengunduran diri saya. Kalau dipikir, jika bukan karena Mas Fariansyah ya saya belum tentu memiliki kesempatan mencoba banyak hal. Sekaligus ia juga sih yang bikin saya stres. 

Dianti masih bercanda-canda dengan saya seperti biasa. Ketika dia pulang pun hanya melambai sekedarnya. Katanya, dia masih akan ngajak saya nongkrong sore di Cikini seperti kegiatan selepas les biasanya. Yah hitung-hitung mengganti waktu makan siang di Pujasera sembari membicarakan banyak hal tentang hidup. 

Ketika saya selesai membereskan tas, Mbak Nufuszahra yang baru saya kenal 3 bulan terakhir ini pun kembali memeluk saya. Hampir tiap hari selama seminggu ini, dia memeluk saya sambil bertanya ‘mau ke mana sih? sumpah kok buru-buru?’ padahal saya sedang bau jengkol. Rasanya bakal rindu juga ngelawak pilon di redaksi sama Ratu Kebembem ini. 

Kawanda, selalu ada langkah pertama untuk keluar dari zona nyaman dan bergerak maju. Sama saja langkahku memang masih tertatih.  Perlu waktu lama sampai tegap berdiri dan bisa berlari. 

gonna miss these people

Menulis Tentang Kamu

Untuk G, 

Menulis tentang kamu adalah carita 1 dekade sebagai manusia. 

Tentang kamu yang dibicarakan orang-orang dan berusaha keras meresapnya hingga menjadi satu bagian darimu. Membuat mereka diam dan membutuhkanmu. Yang tersisa busanya masuk ke pembuangan bersama yang buruk-buruk. 

Tentang kamu yang yakin berhasil mencapai target utama di saat semua orang memprioritaskan belasan cadangan. Kamu selalu menunjukkan bahwa yang tersulit adalah yang paling penting untuk diselesaikan. Akhirnya benar begitu. 

Tentang kamu yang memesan nasi goreng sosis spesial dan es teh untuk makan siang dan masih punya sedikit sisa uang untuk membelikan kekasihnya yang pelit KFC Attack di sore hari sebelum berangkat bimbel. Berbagi jadi caramu menghargai hidup.

Tentang kamu yang kesal jika temanmu tak mau bergantian main game dengan temanmu yang sabar mengantri. Setiap orang tidak punya ‘kemewahan’ yang sama makanya tenggang rasa itu jadi dasar keadilan. 

Tentang kamu yang membolos les dan menyesal berhenti bermusik. Padahal memberi ruang diri kita mencoba hal lain juga adalah sebuah pembelajaran. Nah… Di masa depan yang ‘bukan hal lain’ itulah yang kemudian menjadi ‘hal lain’. Tak apa…, kamu sudah jujur pada dirimu. 

Tentang kamu dan 1001 trik membaca perempuan. Memang aset manusia itu pengalaman hidupnya. Aku rasa itu hal yang harusnya banyak perempuan syukuri jika memiliki pendamping yang seperti kamu. 

Tentang kamu yang berpiutang sebungkus rokok dengan kawan indekost dan bangga melihat si kawan kini mengalungkan berlian pada kekasih. Mensyukuri nikmat itu memang beragam caranya. 

Tentang kamu yang maju pertama dalam pidato ajakanku dan paling marah saat aku berniat berhenti kerja. Bagaimana kita saling menguatkan menghadapi titik terendah dalam hidup.

Tentang kamu yang pemaaf. Aku rasa tidak ada hati yang selapang itu untuk diisi rasa bercampur yang membikin mual. Dan kamu menelan itu kembali… Membuatku menangis nyaris membunuhmu. 

Terakhir, tentang kamu yang menangis… Karena selama hampir 1 dekade bersamamu. Aku tahu banyak tangismu yang hanya menjelma dari permintaan untuk aku memelukmu lebih erat, atau lidahmu yang memilih tak melempar kata kasar, atau ucapan “tapi itu kembali lagi padamu”, dan menungguku sedari tengah malam sampai bangun tidur berangkat kerja subuh-subuh di dalam mobil. 

Dan sebagai manusia kamu lengkap… Tulisanku punya akhir tentang hidup bersamamu menjadi lebih baik. 

thanks for growing up together

Petamburan

Dari atap Yayasan Nurani Insani. Tak jauh dari Sekretariat Front Pembela Islam, Petamburan III, Tanah Abang. Sebuah sekolah nonformal dan klinik gratis berdiri. Mimpi yang terealisasi setelah belasan tahun silam, Dedi Rosadi memulai pengajaran ke anak jalanan dan dhuafa di pinggir rel, kolong jembatan, dan bantaran kali.

Hari itu hari Rabu. Saya berbicara dengan seorang anak bernama Amanda. Dia masih 8 tahun dan jarang masuk sekolah. Seharusnya kami bertemu sehari sebelumnya, namun ya itu… Dia jarang masuk sekolah, ikut ibunya ngamen dari pagi. 

Ibunya hadir juga siang itu membawa si bungsu serta. Pagi tadi mereka tidak mengamen karena menunggu saya di sekolah. 

Pertanyaan saya singkat ke Amanda. 

Manda cita-citanya mau jadi apa? 

Murid kelas 3 SD itu menjawab dengan tersipu. 

Mau jadi artis, kepengen nyanyi. 

Lantas saya tanya lagi. 

Lebih senang sekolah atau ngamen? 

Dia jawab dua-duanya.

Kalau ngamen bisa nyanyi, bisa ketemu saudara terus main ke rumahnya. Kalau sekolah bisa bikin Manda cepat jadi artis. 

Entah dari mana konsepnya, tapi yang namanya anak kecil tidak begitu sadar setiap pilihan dalam hidupnya dan kebiasaannya memiliki dampak signifikan yang berbeda-beda. 

Karena Amanda berada di sekolah nonformal yang hampir seluruh siswanya adalah anak jalanan dan dhuafa, saya menemui banyak anak seperti Amanda. Lucunya mereka dengan senang hati mendeklarasikan ingin jadi artis. 

Kalau saya tanya:

Apa enaknya sih jadi artis? 

Mereka cuma jawab:

Bisa cantik kayak di Mermaid. Bisa hidup enak seperti Syahrini. 

Tapi ketika saya beritahu cara terbaik dan bergengsi untuk mencapai cita-cita mereka itu, mereka kebingungan lagi. Mereka nggak percaya hidup itu bukan tidur malam lalu besok akan berubah. Dan mereka nggak percaya ketika hampir semua orang dewasa di lingkungannya menyatakan hal demikian.

Saya menuliskan sebuah kertas arahan kepada Syifa dan Aliya, murid kelas 4 SD di Nurani Insani, Petamburan, Jakarta Pusat. Jika ingin jadi artis kamu harus sekolah terus karena nanti bisa ikut ajang xyz lah… Saya suruh mereka pajang itu di dinding kamarnya. Lalu Syifa dengan polosnya berkata:

Kak tapi aku nggak punya rumah. Aku taruh mana ya? 

Di situ saya terdiam. Dan yang saya sadar, setiap anak itu tidak bisa diberi tuntutan yang sama. Banyak hal di sekitar mereka jadi kendala yang kompleks. Seperti ternyata sekolah gratis tidak cukup menyelesaikan masalah akses pendidikan, atau memberi pengajaran yang sama dengan murid sekolah formal tidak cukup membantu mereka memperbaiki kualitas penalaran, atau PR ternyata tak mungkin dikerjakan di luar sekolah, lebih miris lagi ternyata tak semua orangtua senang anaknya sering-sering sekolah. 

Sekolah ini berusaha mengajarkan ke anak-anak didiknya bahwa hidup itu sebuah proses perjuangan tanpa henti. Apapun tingkatan akademiknya, nilai bagus atau nggak, nalar itu ditentukan dari kesadaran sosial dan sikap tanggung jawab. Nggak muluk. 

Tidak ada ikan di meja tanpa kail dan pancingan untuk menangkapnya. Bahkan terkadang butuh waktu lama hingga kail kita menarik perhatian si ikan. 

Walau pada akhirnya tak bisa memaksakan kehendak, perubahan itu munculnya dari diri sendiri ketika kita mau lebih mawas diri. 

Kembali pada Amanda dan ibunya. Di akhir sesi wawancara kami, sang ibu menangis. Hidup benar sebuah pertaruhan yang dia nggak tahu apa akan jadi lebih baik dengan semua pilihan yang dibuat. 

Sementara Syifa dan Aliya mereka hampir meninggalkan kertas itu begitu saja dan lebih menuntut saya menjawab bagaimana caranya main sinetron dari usia muda. Masih ngotot jadi artis dan sekolah itu bisa seimbang padahal kakak kelas mereka ada yang kedodoran sekolah dan ekonominya setelah jadi artis. Namun ketika saya mau pulang setelah seminggu saya datang ke sekolah mereka terus, Syifa dan Aliya memeluk saya dengan erat. 

Nanti aku taruh di buku sekolah saja ya. Kakak datang lagi ya, tulisin yang lain lagi. 

Di situ saya merasa hidup saya punya arti. Setidaknya saya punya tanggung jawab memberi mereka informasi yang baik. 

I’ll come back for sure 😆