Buku Kaifa dan Alexa

Saya sedang tidak bisa tidur karena otak aktif sekali lepas tengah malam. Jadi saya putuskan mencari buku-buku lama untuk dibaca sampai ketiduran. Saya pilihlah ‘The Magic of Ruby Valley’. 

Eh malah saya kepikiran… 

Saya tumbuh dengan budaya bercerita. Pengaruh yang tertular karena kerap membaca buku. Tahu novel pertama yang saya baca apa ketika umur 5 tahun? Putri Huan Zhu… Ya that serial on Indosiar… Dari buku itu saya sadar bahasa Mandarin sangatlah kompleks sampai nama Cewei ternyata dibacanya Cuwei. Hampir saya salah mengeja nama para karakter yang berbeda antara tulisan dan lisan di televisi. 

Namun, kesukaan saya terhadap cerita belum melulu terhadap buku saat itu. Saya lebih suka baca cerpen seperti di majalah/tabloid dari mulai yang saya langgan seperti Bobo, Ina, Ino, Fantasi, dan Teen hingga yang dilanggan Mama seperti Femina, Kartini, Nova. 

Tapi saya baru benar-benar tumbuh bersama buku ketika saya kenal Alexa di kelas 5 SD. 

Saya dan Alexa beberapa bulan lalu, setelah 7 tahun tidak bertemu. Alexa sekarang bekerja di bidang eco-wisata maritim

Entah bagaimana awalnya kami terlibat obrolan kegemaran membaca. Waktu itu Alexa meminjamkan saya novel Rahasia Hembusan Angin. Sebuah buku impor translasi yang diterbitkan Kaifa (sepertinya bagian dari grup penerbit Mizan). Sejak saat itu kalau saya ke toko buku, saya selalu mencari buku-buku Kaifa. Alexa selalu bilang ketika meminjamkan bukunya ke saya, 

“Ini magic! Pasti rasanya merinding atau terbayang-bayang.”

Mungkin karena daya imajinasi anak SD masih berlebihan ya, saya merasakan that magic thing.  

Empat di antara koleksi buku Kaifa ketika SMP

Kami sering bertukar novel terbitan Kaifa hingga SMP. Selain sesuai umur kami, kisah-kisahnya seru sekali. Berbalut misteri dan permasalahan sosial. Membawa kami banyak belajar dan sedikit banyak memengaruhi gaya tulis saya kala itu. 

Sekarang, sepertinya Kaifa sudah tidak ada ya…

Di saat-saat seperti ini, ketika saya bertekad untuk serius sebagai penulis (sembari berjibaku sebagai jurnalis), saya membaca 2-3 buku dalam seminggu untuk memperkaya khazanah kata, gaya, dan sekedar distraksi. Sejujurnya, saya rindu cerita-cerita yang berusaha dihadirkan Kaifa di pasar buku kita. Atau mungkin saya saja kali ya belum nemu cerita remaja yang cocok lagi. Kan emang usia saya juga sudah dewasa muda. Hehehe

Anyway, terima kasih Alexa. Karena dia, saya semakin senang membaca dan menulis. Kapan-kapan kita buat graphic novel lagi ya… Jujur itu memori sekolah dasar yang paling menyenangkan. 

Morning Person

Saya bukan penderita insomnia. Saya pernah depresi, namun tetap bisa tertidur walau mimpi saya bergerak seperti kenyataan dengan perandaian realita yang akan saya hadapi di hari esoknya. Tetap saja, rasanya sulit untuk menjadi morning person dengan tertidur lebih awal. 

Menurut saya, hidup akan jauh lebih sehat ketika kita mulai bekerja sepagi mungkin. Tentunya ini pekerjaan yang tak melibatkan kemacetan jalan di antaranya. 

Saya berhenti kerja dan memutuskan untuk menulis cerpen dan novel sementara waktu ini. Sehingga saya membuat jadwal yang mendisiplinkan kerja saya. Passion ini juga butuh profesionalitas kan. Saya berharap bisa menulis sepagi mungkin yaitu setelah sholat subuh karena saya pikir itu saat pikiran masih sangat segar. Saya pernah merasakan kerja subuh, terkena terpaan angin, dimanjakan sinar matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik awan, dan mendengar suara orang-orang mengeluh atau menyemangati diri. 

Fajar Jakarta dari lantai 11 Graha Pena Jawa Pos

Namun belakangan, ide jernih saya datang selepas siang menuju malam. Dan saya tanpa sadar menghabiskan waktu hingga dini hari, ditambah dengan kegiatan selingan yang padat. 

Setiap saya coba untuk tetap terjaga selepas sholat subuh, pikiran saya tak berkompromi. Ia buntu. Saya rasa hati saya kurang mendorong untuk jadi manusia pagi. 

Alhasil seringkali saya tertidur lagi dan baru terbangun pukul 8 pagi. Setelah itu kemalasan mendera hingga pukul 1 siang dan kesegaran air mandi membuat saya jernih berpikir, namun terpaksa saya sela dulu dengan makan siang dan bersih-bersih rumah. Menghindari protes ibu jauh lebih penting. 

Dan rutinitas itu berulang bagai lingkaran setan. Naaah… Ini saja sudah dini hari dan saya baru selesai menulis. Kan ngaco! 

Napas

Aku mendengar napasmu
Pelan teratur
Terhentak di akhir
Dengus membentur
Dinding-dinding pikiranmu
Dan kerak-kerak batinku

Bilamana kamu lebih baik
Aku lebih baik
Kita beri rusa makan sekali lagi
—————————————–
kamu cepat sembuh

Meaning

Because if you’ve found meaning in your life, you don’t want to go back. You want to go forward.

-Morrie Schwartz quoted by Mitch Albom on Tuesday with Morrie

I’ve read Tuesday with Morrie for the second time. It didn’t feel the same. I remember back then in high school, I cried for a bittersweet ending. Now then, I’m asking deeply toward my heart, “Have I grown better?”

Life is a process of definite death. To be alive is to be dead someday. It’s important to know who I am, whom I live with, whose ‘place I rent’, which road I should take. Cause I don’t want to ‘die’ while I’m alive. The art of using our life for a purpose.

In life, we meet the good and the bad. The angel and the evil. A halo and a horn. Both are gifts. While one is trying to save, the other is showing us how to save ourselves. When their task was done, so did we.

Back to the first line I’ve wrote here. Found meaning, go forward.

I just understand that the meaning is to find. In order to find, I have to go forward. Today, I realized that I had took miles of small steps every single day. I smiled on my way back home after see the growth. I’m standing not so tall, but enough to see the view.

I’ve impulsively making progress to my own life. Which is nice. Which deserved to be grateful for.

“Kayaknya…”

Rasanya sudah lama banget nggak nulis blog ini. Ada banyak hal yang mau gue bagi, tapi buku harian jadi tumpuanku belakangan ini. Hemat waktu, hemat energi, dan private. Beberapa hal memang lebih baik disimpan sendiri sebagai pelajaran hidup.

Setelah mau setahun lepas dari bayang-bayang anak kuliahan, gue pun masih tetap menjadi anak-anak. Baby in adulthood.

Gue ingat pernah mengirim pesan whatsapp ke salah satu teman curhat di kantor.

Kayaknya umur 23 bakal seru banget ya…

Sebuah prediksi yang kemudian akan terbantah. Mendekati pertambahan usia, mendekati masa setahun bekerja, mendekati umur setahun di dunia dewasa gue mengirimkan pesan whatsapp ke grup teman-teman kantor yang sebaya (ga sebaya-sebaya amat sih yang menjelang umur 30 beranak 1 juga ada).

Umur 23 kayaknya urakan banget nih…

Karena gue yang paling muda, ya gue cuma diketawain. Pernyataan itu ga serta-merta keluar gitu aja sih. Gue melihat dan merasakan banyak hal baru bergolak di dalam diri gue.

Tempo hari, Path gue sempat ramai dengan postingan tentang umur 23 tahun. Spesifiknya seperti yang ditulis di sini sih. Beberapa teman yang berada dalam usia itu dan juga yang baru saja melewatinya, mengafirmasi.

Gue ingat bagaimana gue memulai 2016 dengan optimistis. Gue merasa yakin bahwa gue punya rencana yang jelas, manajemen waktu yang cukup, dan juga kesempatan yang banyak. Sekarang masuk di pertengahan tahun, niat dan manajemen waktu ternyata benar-benar membantu rencana berjalan dengan mulus walau gue harus bernegosiasi dan menahan emosi dengan kehidupan kerja yang membuat gue mempertanyakan kewarasan gue sebagai manusia.

Dan karena itu semua, sebelum mencapai usia 23, beberapa hal sudah terjadi. Usia itu semacam datang lebih awal. Perubahan-perubahan kecil yang gue nggak expect ternyata hadir dan cukup bikin gue gelisah, tidak pernah puas dengan jawaban atau nasihat, dan emosi naik turun. Di saat yang bersamaan gue menemui kondisi-kondisi baru yang membuat gue ingin menyelami lebih jauh perasaan, pemikiran, dan pengalaman itu.

Well, ketika gue umur 20 tahun, gue pikir ini usia yang sudah cukup stable terutama bagi orang selabil gue. Tapi yang namanya quarter life crisis itu nyata ya. Sejujurnya, ungkapan klise kedewasaan nggak bisa dilihat dari umur ya bener juga.

Lucunya, ternyata gue bisa melalui itu sedikit, perlahan-lahan sampai nggak ada lagi “kayaknya…”. Lagi-lagi gue harus ngechat teman kantor gue…

Kayaknya gue udah ngerti deh sekarang harus ngapain.

Sorry gue kebanyakan ngelantur… hehe

 

Perjalanan Pulang

Ada 3 hal yang sering saya lakukan untuk membuat diri tenang:

  1. Berjalan kaki sambil menggerutu lalu setel kipas angin di rumah, gelosoran sampai tidur
  2. Mengelilingi tempat-tempat favorit saya di Jakarta
  3. Memandangi lampu-lampu gedung pencakar langit di Thamrin, Sudirman, dan Menteng

***

Hanya tersisa 3 hari lagi di tahun 2015. Dalam perjalanan pulang hari ini, saya berusaha membuat diri tenang karena sejak bekerja tidak ada hari untuk menenangkan diri. Semua serba tergesa-gesa. Itulah tahun 2015, penuh ketergesaan.

Ketika saya menyadari, beberapa hari ini saya tidak pernah tidak tersenyum-senyum sendiri selama perjalanan pulang, saya tahu mungkin saya sedang bahagia. Alasannya mungkin tidak bisa dideskripsikan karena hanya bisa dirasakan. Namun perjalanan pulang hari ini terasa sangat menenangkan. Tanpa kemacetan, hanya ada angin jalan, lampu-lampu gedung pencakar langit, dan kereta melaju di sepanjang rel Latuharhari.

Saya mulai menyenandungkan sebuah lagu yang saya kenal setelah menonton salah satu film Aragaki Yui berjudul Kuchibiru ni Uta o.

Bila lagu ini bercerita tentang diri orang dewasa yang menyapa kembali dirinya di usia 15 tahun, sedang penuh dengan angan-angan dan kebingungan menghadapi masa depan, saya sedang berusaha mengingat apa yang setahun ini saya lalui.

 

Dan ada 3 hal utama yang ada di pikiran saya tadi. Pertama, saya telah memutuskan beberapa hal penting yang menentukan masa depan saya. Kedua, saya melalui banyak hal karena keputusan itu. Ketiga, saya bertemu orang-orang baru yang memberi lebih dari sekedar inspirasi, tapi juga harapan…

Saya ingat post penuh kegamangan di awal tahun. Sepertinya saya sudah memecahkan separuh dari teka-tekinya.

Dan apakah saya sudah jadi cukup kuat saat ini? Itu yang belum saya capai. Setidaknya Tuhan masih berikan 2016, semoga saya bisa kembali menuntaskan.

28 Desember 2015, hari ini saya menemukan ketenangan. Kembali di jalanan Jakarta. Kembali pada pikiran apakah saya akan menjadi orang yang berbeda? Karena hari terus berjalan, seperti kereta yang melaju di lintasan rel sepanjang Latuharhari menuju stasiun pemberhentian terakhir. Karena akan ada waktunya menjadi tinggi menjulang dan bersinar, seperti cahaya pencakar langit di jalan-jalan protokol Jakarta. Karena akan ada saatnya itu semua jadi kenangan setelah tuntas ia terlewati, seperti angin yang meninggalkan jejak belaian namun tak kembali ke tempat yang sama.