Mari ke Taman

#YOIPlayDate (14/4) di Taman Cattleya. Piknik imprint YOI Books biar santai sedikit setelah capek kerja di kantor.

Terlepas dari gayaku yang emang alay, menghabiskan waktu di taman adalah salah satu weekly goal yang jarang banget kesampaian di hidupku. Dulu, karena sering pas liputan diminta cari voxpop, aku sering ke taman buat cari narasumber. Selain itu, hampir nggak pernah aku ke taman, susah banget ngajak teman ke sana.

Namun akhirnya kemarin, aku kembali ke taman. Merasakan semilir hembusan angin sambil tidur-tiduran di bawah pohon; bicara soal rahasia-rahasia dengan teman-teman yang cukup dekat; melihat langit biru sampai awan berarak hilang dan menggelap; mendengar anak-anak tertawa hanya karena nyaris tercebur ke kolam; melihat sekelompok ibu-ibu senam sore dengan riang; menertawai sejoli yang diam-diam berpegangan tangan di sisi yang agak sepi. Aku merasa bersemangat dan dipenuhi inspirasi. Taman begitu hidup. Dia menjadi salah satu pembuluh kota besar yang ada untuk tujuan yang baik.

Kalau kamu anak kota sepertiku, kamu pasti paham bahwa hidup di kota sangat bising. Kota terus bergerak dan selalu saja tergesa. Aku merasa sesak, aku yakin kamu juga. Namun kita memaksa diri kita bertahan, pura-pura mencintainya, atau berusaha mencari blessing in disguise di tiap sudutnya.

Setiap aku berangkat kerja, aku lebih memilih berdiri hanya agar bisa melihat Taman Suropati dari jendela bus. Aku suka membayangkan menghabiskan waktu membaca buku atau menulis di sana. Waktu untuk memberikan diriku energi.

Dorongan itu makin terasa belakangan ini. Aku sampai menandai kalenderku, di hari mana saja kira-kira aku bisa cuti dan menghabiskan waktu seharian di taman.

Mungkin taman adalah blessing in disguise di belantara kota ini. Dan aku sebagai anak kota, merindukan sesuatu yang baik dan perlahan.

Advertisements

Quarter Life

Nasihat yang paling sering gue dengar belakangan ini adalah, “Tetapkan impianmu dan carilah mentor untuk membimbingmu.”

Dan percayalah, sudah susah-susah menentukan impian (tujuan hidup, pencapaian, atau apa pun itu), mendapatkan mentor juga tak sesederhana ngevote oshi di sousenkyo memilih tutor di Ruangguru. Tidak semua orang merasa dirinya mentor material yang dengan percaya diri mendedikasikan dirinya membimbing seseorang dari 0. Mencurahkan segala pengetahuan dan keterampilannya kepada si mentee dan membantunya berkembang. Mengorbankan waktu dan tenaga. Tak jarang juga, untuk mendapat mentor, seseorang harus mengeluarkan uang (banyak, I’m not gonna mention anyone).

Gue punya pengalaman tersendiri soal eksekusi nasihat ini. Walaupun enggak begitu menginspirasi, tapi gue pengen cerita saja sebelum lupa gue pernah muda dan optimistis.

Pertama, menentukan impian. Sampai sekarang gue masih bingung kalau harus menjelaskan ini. Karena gue mengimpikan banyak hal dari kecil, tapi sayangnya tidak semuanya solid. Dari mulai jadi penulis, jurnalis, membuat perubahan revolusioner di industri media, dll. Bullshit! I stop dreaming and start doing the exact thing.

Pada akhirnya yang bisa gue percaya adalah emang ga ada impian yang solid. Yang ada adalah perjalanan menemukan impian itu. Long haul. Gue jadi jurnalis, terus jadi editor, dan disela-sela gue masih tetap menulis, sebenarnya perjalanan itu mengajarkan gue banyak hal.

Yes, living a dream is a series of struggle.

Impian itu sesuatu yang kita pupuk. Jadi jurnalis, jadi editor, jadi penulis, bahkan sekarang gue sering jadi MC & moderator, atau nanti kuliah di luar negeri, kerja di perusahaan ternama, apa pun itu cuma benihnya. Kalau gue tetap melakukan hal sebaik-baiknya, bertumbuh di dalamnya, gue akan jadi sebuah pohon kuat dan solid. Mungkin itu yang disebut have a significant role, atau jadi orang, atau sukses. Makanya, walau bisa dibilang gue berhenti jadi jurnalis karena it wasn’t work well, gue sih enggak sedih-sedih amat. Keterampilannya enggak sia-sia, malah jadi added value untuk bidang lain. Teman-teman nyebutnya, gue ‘lulus’ bukan DO hahaha.

Di titik ini, gue cukup senang karena gue menemukan pekerjaan, hobi, dan kegiatan yang membuat gue ingin terus melakukan yang terbaik, bertumbuh, dan punya harapan.

Kedua, menemukan mentor. Jangankan buat orang yang sudah menentukan impiannya, bagi orang yang belum nemu impiannya apa lagi, mentor itu sangat penting. Karena dalam hidup, banyak pertanyaan mengawang di benak kita, punya seseorang yang membimbing kita menemukan jawabannya akan sangat membantu.

Sebenarnya bisa banyak caranya untuk menemukan mentor. Cara yang orang-orang anggap paling mudah adalah memanfaatkan jaringan yang sudah dibentuk sejak kuliah. Makanya, wajar banget kalau melihat anak kuliahan tuh sibuk organisasi dan magang atau ikut komunitas sana-sini. Wajar banget juga melihat anak-anak kuliahan yang nempelin senior, dosen, hingga ikut proyekan biar bisa dikenalin sama tokoh masyarakat.

Namun bagi saya, cara paling realistis adalah masuk ke industrinya dan kerja sama orang. Mentor saya adalah bos saya. Akan tetapi, enggak semua bos juga errr gimana ya nyebutnya mentor material. Balik lagi, enggak ada manusia yang sempurna, enggak semua orang willing jadi mentor.

Gue pernah meng-add Facebook dan nge-chat cerpenis idola gue yang juga seorang scriptwriter andal. Beliau menanggapi dengan baik pesan gue, tapi menolak jadi mentor. Merasa kurang percaya diri untuk mendidik. Beliau menyarankan untuk ikut sekolah-sekolah informal. Namun, yang saya cari bukan lagi sekadar ilmu, melainkan juga pembimbingan.

Sulit kan?

Gue enggak punya senior yang benar-benar bisa gue jadikan tempat berguru. Apa yang mereka tunjukkan bukanlah yang gue cari. Ya dan kebanyakan umur kami enggak berbeda jauh, mereka juga masih cari jati diri.

Akhirnya, kerja pada orang tetaplah jadi pilihan terbaik. Gue harus cari tempat itu. Baiknya Tuhan, gue dikasih jawaban sangat cepat.

Saat ini, gue masuk ke tempat yang siapa pun bisa jadi mentor gue. Tuhan kayak kasih gue banyak opsi. Mau belajar X, bisa sama A. Belajar Y, bisa sama B. Enggak jarang beliau-beliau yang berinisiatif memberikan gue pembelajaran dan bimbingan.

Gue makin percaya bahwa jodoh enggak lari ke mana….

Ketiga, expand the playground. Yang satu ini adalah salah satu nasihat dari senior yang gue anggap mentor di kantor. Beliau bilang, “Tempat di mana kamu merasa tumbuh adalah tempat terbaik untuk membangun playground-mu. Kamu bisa bertahan di sana atau malah memperluasnya.”

Gue selalu beranggapan bahwa gue harus fokus ke satu hal yang mau gue kejar. Gue lupa ya kalau sebagai manusia, Tuhan tuh kasih kita banyak talenta. Seakan ada nubuat non-verbal yang mengisyaratkan untuk berkreasilah dengan maksimal agar bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Sempit banget ketika gue berpikir, gue sibuk kerja, maka gue enggak bisa nulis, enggak bisa bisnis, enggak bisa bantu orang. Padahal bukan kerjaan gue yang salah. Guenya aja yang enggak bisa mengatur waktu dengan baik.

Untuk menebus kecupuan gue dulu, sekarang gue enggak mau menyia-nyiakan sedetik pun waktu gue.

Sorry banget emang belum ada hasil nyatanya…. Ya baru setahun ini gue berusaha memperluas playground. Namun gue enggak akan berani nulis kayak gini, kalau realisasinya ga segera terwujud.

Lagi-lagi terima kasih buat lingkungan baru gue. Banyak orang di sini yang ngasih tunjuk jalan-jalan terbaik yang bisa gue lewati. Walau ya…. terlalu indie. But in this competitive world, even the smallest step is matter.

Keempat dan terakhir, hustling passionately. Dua setengah tahun terjun ke dunia kerja, gue menyimpulkan passion itu bukan tentang karier hahahaha. Passion adalah tentang pembawaan diri.

Buktinya yaaa… Gue mengira jurnalistik adalah passion gue, tapi kenyataannya ketika gue benar-benar menjalaninya passionately, gue malah kehilangan diri gue sendiri. Jadi buat apa?

Namun yang salah bukan passion gue. Passion itu baik. Karena harusnya passion itu ada ketika kita menjalani kegiatan apa pun. Kalau bagi gue, passion itu yang menggerakkan untuk melakukan yang terbaik, minimal buat diri sendiri. Jadi di dalam playground, mustahil gue bisa memainkan wahananya kalau enggak ada passion di dalamnya. Mustahil gue bisa mencapai sesuatu kalau bukan karena passion.

Beberapa orang bilang, passion harus dicari. Enggak, passion itu udah ada di dalam diri, yang perlu dicari tahu adalah ke mana nyalurinnya. Cause we’re the subject. We’re hustling everyday.

Nah, empat hal tersebut yang gue maknai dalam perjalanan menuju umur gue 25 tahun Agustus nanti. Wkwkwk makasih ya udah baca curhatan orang yang baru recover dari quarter life crisis.

Buku Kaifa dan Alexa

Saya sedang tidak bisa tidur karena otak aktif sekali lepas tengah malam. Jadi saya putuskan mencari buku-buku lama untuk dibaca sampai ketiduran. Saya pilihlah ‘The Magic of Ruby Valley’. 

Eh malah saya kepikiran… 

Saya tumbuh dengan budaya bercerita. Pengaruh yang tertular karena kerap membaca buku. Tahu novel pertama yang saya baca apa ketika umur 5 tahun? Putri Huan Zhu… Ya that serial on Indosiar… Dari buku itu saya sadar bahasa Mandarin sangatlah kompleks sampai nama Cewei ternyata dibacanya Cuwei. Hampir saya salah mengeja nama para karakter yang berbeda antara tulisan dan lisan di televisi. 

Namun, kesukaan saya terhadap cerita belum melulu terhadap buku saat itu. Saya lebih suka baca cerpen seperti di majalah/tabloid dari mulai yang saya langgan seperti Bobo, Ina, Ino, Fantasi, dan Teen hingga yang dilanggan Mama seperti Femina, Kartini, Nova. 

Tapi saya baru benar-benar tumbuh bersama buku ketika saya kenal Alexa di kelas 5 SD. 

Saya dan Alexa beberapa bulan lalu, setelah 7 tahun tidak bertemu. Alexa sekarang bekerja di bidang eco-wisata maritim

Entah bagaimana awalnya kami terlibat obrolan kegemaran membaca. Waktu itu Alexa meminjamkan saya novel Rahasia Hembusan Angin. Sebuah buku impor translasi yang diterbitkan Kaifa (sepertinya bagian dari grup penerbit Mizan). Sejak saat itu kalau saya ke toko buku, saya selalu mencari buku-buku Kaifa. Alexa selalu bilang ketika meminjamkan bukunya ke saya, 

“Ini magic! Pasti rasanya merinding atau terbayang-bayang.”

Mungkin karena daya imajinasi anak SD masih berlebihan ya, saya merasakan that magic thing.  

Empat di antara koleksi buku Kaifa ketika SMP

Kami sering bertukar novel terbitan Kaifa hingga SMP. Selain sesuai umur kami, kisah-kisahnya seru sekali. Berbalut misteri dan permasalahan sosial. Membawa kami banyak belajar dan sedikit banyak memengaruhi gaya tulis saya kala itu. 

Sekarang, sepertinya Kaifa sudah tidak ada ya…

Di saat-saat seperti ini, ketika saya bertekad untuk serius sebagai penulis (sembari berjibaku sebagai jurnalis), saya membaca 2-3 buku dalam seminggu untuk memperkaya khazanah kata, gaya, dan sekedar distraksi. Sejujurnya, saya rindu cerita-cerita yang berusaha dihadirkan Kaifa di pasar buku kita. Atau mungkin saya saja kali ya belum nemu cerita remaja yang cocok lagi. Kan emang usia saya juga sudah dewasa muda. Hehehe

Anyway, terima kasih Alexa. Karena dia, saya semakin senang membaca dan menulis. Kapan-kapan kita buat graphic novel lagi ya… Jujur itu memori sekolah dasar yang paling menyenangkan. 

Morning Person

Saya bukan penderita insomnia. Saya pernah depresi, namun tetap bisa tertidur walau mimpi saya bergerak seperti kenyataan dengan perandaian realita yang akan saya hadapi di hari esoknya. Tetap saja, rasanya sulit untuk menjadi morning person dengan tertidur lebih awal. 

Menurut saya, hidup akan jauh lebih sehat ketika kita mulai bekerja sepagi mungkin. Tentunya ini pekerjaan yang tak melibatkan kemacetan jalan di antaranya. 

Saya berhenti kerja dan memutuskan untuk menulis cerpen dan novel sementara waktu ini. Sehingga saya membuat jadwal yang mendisiplinkan kerja saya. Passion ini juga butuh profesionalitas kan. Saya berharap bisa menulis sepagi mungkin yaitu setelah sholat subuh karena saya pikir itu saat pikiran masih sangat segar. Saya pernah merasakan kerja subuh, terkena terpaan angin, dimanjakan sinar matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik awan, dan mendengar suara orang-orang mengeluh atau menyemangati diri. 

Fajar Jakarta dari lantai 11 Graha Pena Jawa Pos

Namun belakangan, ide jernih saya datang selepas siang menuju malam. Dan saya tanpa sadar menghabiskan waktu hingga dini hari, ditambah dengan kegiatan selingan yang padat. 

Setiap saya coba untuk tetap terjaga selepas sholat subuh, pikiran saya tak berkompromi. Ia buntu. Saya rasa hati saya kurang mendorong untuk jadi manusia pagi. 

Alhasil seringkali saya tertidur lagi dan baru terbangun pukul 8 pagi. Setelah itu kemalasan mendera hingga pukul 1 siang dan kesegaran air mandi membuat saya jernih berpikir, namun terpaksa saya sela dulu dengan makan siang dan bersih-bersih rumah. Menghindari protes ibu jauh lebih penting. 

Dan rutinitas itu berulang bagai lingkaran setan. Naaah… Ini saja sudah dini hari dan saya baru selesai menulis. Kan ngaco! 

Napas

Aku mendengar napasmu
Pelan teratur
Terhentak di akhir
Dengus membentur
Dinding-dinding pikiranmu
Dan kerak-kerak batinku

Bilamana kamu lebih baik
Aku lebih baik
Kita beri rusa makan sekali lagi
—————————————–
kamu cepat sembuh

Meaning

Because if you’ve found meaning in your life, you don’t want to go back. You want to go forward.

-Morrie Schwartz quoted by Mitch Albom on Tuesday with Morrie

I’ve read Tuesday with Morrie for the second time. It didn’t feel the same. I remember back then in high school, I cried for a bittersweet ending. Now then, I’m asking deeply toward my heart, “Have I grown better?”

Life is a process of definite death. To be alive is to be dead someday. It’s important to know who I am, whom I live with, whose ‘place I rent’, which road I should take. Cause I don’t want to ‘die’ while I’m alive. The art of using our life for a purpose.

In life, we meet the good and the bad. The angel and the evil. A halo and a horn. Both are gifts. While one is trying to save, the other is showing us how to save ourselves. When their task was done, so did we.

Back to the first line I’ve wrote here. Found meaning, go forward.

I just understand that the meaning is to find. In order to find, I have to go forward. Today, I realized that I had took miles of small steps every single day. I smiled on my way back home after see the growth. I’m standing not so tall, but enough to see the view.

I’ve impulsively making progress to my own life. Which is nice. Which deserved to be grateful for.

“Kayaknya…”

Rasanya sudah lama banget nggak nulis blog ini. Ada banyak hal yang mau gue bagi, tapi buku harian jadi tumpuanku belakangan ini. Hemat waktu, hemat energi, dan private. Beberapa hal memang lebih baik disimpan sendiri sebagai pelajaran hidup.

Setelah mau setahun lepas dari bayang-bayang anak kuliahan, gue pun masih tetap menjadi anak-anak. Baby in adulthood.

Gue ingat pernah mengirim pesan whatsapp ke salah satu teman curhat di kantor.

Kayaknya umur 23 bakal seru banget ya…

Sebuah prediksi yang kemudian akan terbantah. Mendekati pertambahan usia, mendekati masa setahun bekerja, mendekati umur setahun di dunia dewasa gue mengirimkan pesan whatsapp ke grup teman-teman kantor yang sebaya (ga sebaya-sebaya amat sih yang menjelang umur 30 beranak 1 juga ada).

Umur 23 kayaknya urakan banget nih…

Karena gue yang paling muda, ya gue cuma diketawain. Pernyataan itu ga serta-merta keluar gitu aja sih. Gue melihat dan merasakan banyak hal baru bergolak di dalam diri gue.

Tempo hari, Path gue sempat ramai dengan postingan tentang umur 23 tahun. Spesifiknya seperti yang ditulis di sini sih. Beberapa teman yang berada dalam usia itu dan juga yang baru saja melewatinya, mengafirmasi.

Gue ingat bagaimana gue memulai 2016 dengan optimistis. Gue merasa yakin bahwa gue punya rencana yang jelas, manajemen waktu yang cukup, dan juga kesempatan yang banyak. Sekarang masuk di pertengahan tahun, niat dan manajemen waktu ternyata benar-benar membantu rencana berjalan dengan mulus walau gue harus bernegosiasi dan menahan emosi dengan kehidupan kerja yang membuat gue mempertanyakan kewarasan gue sebagai manusia.

Dan karena itu semua, sebelum mencapai usia 23, beberapa hal sudah terjadi. Usia itu semacam datang lebih awal. Perubahan-perubahan kecil yang gue nggak expect ternyata hadir dan cukup bikin gue gelisah, tidak pernah puas dengan jawaban atau nasihat, dan emosi naik turun. Di saat yang bersamaan gue menemui kondisi-kondisi baru yang membuat gue ingin menyelami lebih jauh perasaan, pemikiran, dan pengalaman itu.

Well, ketika gue umur 20 tahun, gue pikir ini usia yang sudah cukup stable terutama bagi orang selabil gue. Tapi yang namanya quarter life crisis itu nyata ya. Sejujurnya, ungkapan klise kedewasaan nggak bisa dilihat dari umur ya bener juga.

Lucunya, ternyata gue bisa melalui itu sedikit, perlahan-lahan sampai nggak ada lagi “kayaknya…”. Lagi-lagi gue harus ngechat teman kantor gue…

Kayaknya gue udah ngerti deh sekarang harus ngapain.

Sorry gue kebanyakan ngelantur… hehe