Deconstruct

Hal ini dikatakan secara berantai. Dari dosen kepada mahasiswanya. Dari mahasiswa kepada kawan-kawannya. Bisa juga dari seorang kakak kepada adiknya. 

Teman-teman saya harus melalui proses ini dalam pengerjaan skripsinya dan tesisnya. Beberapa mungkin dalam kegiatan penelitiannya. 

Saya, ternyata melaluinya setiap hari dalam pekerjaan. 

Sebagai editor buku, saya menerima naskah dari penulis. Ketika kita berhadapan dengan tulisan, lawan bicara kita melampaui basa-basi manusia. Kita bicara dengan gagasan, diskursus, atau paradigma. Saya belum tentu lebih pintar… Sudah pasti saya sering terpukau, kagum, menyetujui. Apakah mungkin proses penyuntingan terjadi dengan sikap seperti itu? 

Dalam produksi buku, ada tahapan krusial yang bagi saya lebih sulit dibanding penyuntingan naskah yaitu Tahap Peninjauan. Dan ini adalah tahapan paling awal. Di sini, keputusan penting dibuat, luar dan dalam. 

Di sini, saya akhirnya menyadari sebuah proses yang dinamakan ‘dekonstruksi’ atau ‘unlearning’ di mana kita melepaskan segala pemahaman, asumsi, dan perasaan yang menurut kita benar untuk memberi jarak dan melihat dengan sudut pandang dan perasaan yang berbeda. Itu mungkin yang membuat saya bisa meninjau naskah lebih dari satu kali. Membacanya minggu ini, mendiamkan lalu membacanya seminggu kemudian. 

Saya ‘meruntuhkan’ bangunan utuh dan kokoh yang tadinya saya percayai agar bisa melihat setiap kepingan secara perlahan. Dengan begitu, bagian yang perlu dipertajam, ditambahkan, atau malah dikurangi nampak lebih jelas. 

Menyadari ini membuat saya memahami bahwa mungkin ada masanya dalam hidup kita mendekonstruksi makna. Manusia tentu punya kesalahan bahkan orang terbaik, terpintar, terhebat sekalipun. Namun, seringkali alpa. Luput. Khilaf. 

Dekonstruksi membantu kita tumbuh dan melihat apa yang kita tak hiraukan. Menyadari sebuah kesalahan, kesesatan pemikiran, dan menerima kenyataan yang tak berjalan dengan baik. Proses ini menyedihkan dan melelahkan. Namun, bagi saya, tanpa proses ini, saya mungkin sulit memaafkan diri sendiri dan bangkit. Mungkin tanpa proses ini… Saya akan menjadi terlalu angkuh untuk memahami mereka yang terdekat dan signifikan, yang membutuhkan, atau yang sesungguhnya benar. 

Idul Fitri

Dulu sekali,  saya kira Idul Fitri dan Natal itu selalu berdekatan. Tahun 90an akhir sepertinya memang jatuh di bulan Desember, sampai saya pikir perayaan tidak pernah ada habisnya. Saya juga masih ingat, ditawari makan malam karena saya malu di acara Natalan keluarga, saya jawab “Inta masih puasa.” Lantas saya diketawai saudara-saudaralah. Dikira lucu. (untungnya! Karena kalau sudah besar, pasti dikira bodoh) 

Nah bagi saya, perayaan keagamaan adalah tentang liburan, kumpul keluarga, dan makan enak. Saya tak kenal tuh salam tempel. Yang menerima selalu ibu saya dan langsung dimasukan tabungan. Sehingga saya tidak pernah anggap perayaan adalah tentang mengepul rezeki berkali-kali lipat tanpa harus kerja lebih keras. 

Semakin besar, saya semakin merenungi banyak hal. Betapa saat kecil hingga remaja saya selalu menanti Ramadhan seperti papa yang ingin makan rujak di siang bolong. Kamu tahu kan maksudnya? Seperti tubuh kekeringan dan butuh kesegaran.

Meskipun puasa bolong-bolong, saya selalu ingin bangun sahur, menahan-nahan tak makan, menahan bohong, menahan ngejahilin teman, menahan bergosip. Rasanya senang ketika maghrib tiba, saya bisa berkata, “Wah aku berhasil!” Kamu tahu, mungkin itu seperti sekarang kita bisa sabar menunggu orang keluar kereta dahulu sebelum kita masuk dan mencari tempat duduk dengan tertib. Kamu senang karena merasa telah berbuat yang benar. 

Namun,  belakangan saya meragukan kemenangan itu. Meskipun puasa saya full di 2 tahun Ramadhan ini, saya tidak merasa menang. Yang saya dapat hanya lapar dan haus saja. Sepertinya saya hanya senang karena puasa berakhir. “Wah akhirnya bisa bablas tidur sampai subuh lagi. Wah bisa ngemil pas lagi bosen kerja. Wah ga perlu ngerasa sedih gabisa tarawih. Wah akhirnya berakhir sudah momen konsumtif bernama bukber yang bikin pulang malam terus.” dan wah wah wah yang lainnya… 

Karena saya pun ga pernah mengharapkan THR segitunya, jadi saya makin merasa biasa saja… 

Mungkin itu yang dinamakan kurang ikhlas. 

Hmmm, pagi ini sembari jalan pulang setelah shalat Ied, saya berpikir saya sudah menjadi orang biasa kebanyakan. Dan saya benci jadi orang biasa. Saya merasa sedih dan malu di hadapan Allah… Kamu tahu? Iman mulai dari pikiran? Saya justru merasa kalah. Saya tak tahu apa yang Allah rasakan pada umat-Nya yang satu ini. 

Dan seharusnya tak perlu menunggu Ramadhan, tak perlu menunggu hilal dan Lebaran, segala hal yang dulu saya jalani dengan murni dan penuh kesenangan serta kemenangan atas ego itu, bisa saya jalani setiap hari. YA SETIAP HARI! 

Sungguh hamba memohon ampun lahir dan batin… 

Langkah Pertama

Bicara soal karier, saya baru menapaki langkah kedua. Jika dulu saya menjuluki teman kost saya kutu loncat karena pindah-pindah kantor, maka saya lebih parah dari kutu loncat itu. Saya berubah profesi.

Saya hanya tahu sedikit tentang industri yang tengah saya geluti ini karena selama ini hanya menjadi konsumen. Bayangkan rasanya jadi raja, kemudian jadi pelayan.

Tapi saya raja yang senang datang ke dapur dan mencicipi tiap bumbu sebelum jadi resep masakan dan terhidang sebagai makanan matang. Well, belajar itu menyenangkan.

Namun sabar, kali ini, saya tidak akan bicara tentang langkah kedua.

***

Beberapa bulan lalu ketika saya sedang happy setelah resign, saya terlibat obrolan tentang karier dengan Bella (junior saya di kampus) yang baru lulus. Obrolan itu menyadarkan saya bahwa karier pertama punya dampak yang signifikan.

Passion Bella adalah jurnalisme. Mungkin kami sedikit sama, sejak sebelum masuk kuliah tahu apa yang harus dikejar dan dilakukan untuk sampai ke sana. Jejaknya juga hampir mirip; tahu dari awal ‘oh aku mau pilih peminatan Jurnalisme’, kayaknya harus nyoba nyemplung jadi panitia Journalight Pekom deh biar dapat banyak insight dan makin yakin, next jadi anggota pers mahasiswa hmm FISIPERS kalau gitu, waktunya magang dapat di NET, oke fixlah habis lulus gue akan jadi jurnalis.

Bella mendaftar ke banyak stasiun televisi dari mulai iNews, Kompas TV, NET TV, dan ‘mantan sekolah’ saya jawapostv. Sempat coba media online, Kumparan juga kalau nggak salah. Dari awal saya sudah bilang, panggilan tes buat dia itu bakalan ada terus. She’s smart, camera-face, skilled, experienced, able to work under-pressure, and so on. Dan benar, yang ada dia bingung mau ke mana…

Sebagai ehem… orang yang sudah melewati langkah pertama, saya bilang sama dia:

Lari ke rumah yang paling ingin kamu huni.

Alias, fokus ke prioritas utama. Akhirnya dia berhasil tembus MDP V NET TV sebagai Reporter (soon, we’ll see Nabilla Putri Fhatya on screen). Saya ikut juga lho dalam seleksi dan gagal. Well, setelah kepikiran resign kan saya masih mencari rezeki dengan coba pindah institusi, tetapi kayaknya jalan Allah memang beda sih.

Bella bikin saya merefleksi banyak hal. Saya minta dia hati-hati memilih karena saya sadar ini semua percobaan yang hasilnya bisa hit or miss. Karier pertama kita adalah realita. Waktu kita di sana akan menjadi jawaban apakah jalur yang kita pilih adalah yang paling tepat. Apa yang kita jalani, lalui, dan rasakan akan mempengaruhi jalan kita ke depannya.

Yang bagus adalah ketika karier pertama mengarahkan kita pada tujuan-tujuan baru yang lebih baik, membuka jalan dan jaringan pada kesempatan yang lebih luas, dan membuat lebih percaya diri.

Well, kita semua tahu ekspektasi nyaris tidak pernah sama dengan realita. And you will find it hard! I found it hard! I did my best, all of me. Till I said I’m broken.

Karier pertama akan menguji sebesar apa passion kita. Jika kamu bagus dalam pekerjaan, maka tantangannya jauh lebih sulit. MENTAL! Kamu mungkin ketemu kantor yang unstable, politik dan drama kantor yang nggak banget, atau janji-janji yang tidak terpenuhi. Saat itu, kamu akan diajak berpikir kembali soal kelurusan niat.

Ada orang yang kerja memang cuma ingin cuan. Jadi mau kayak gimana juga keadaannya kalau dia masih bisa ngehasilin cuan ya dia bisa menolerir hal yang tidak mengenakkan. Ada yang karena pengen belajar, jadi ketika tidak berkembang mereka akan pindah mencari tempat baru. Ada yang karena mengikuti gairahnya, ketika hal-hal tersebut membuatnya hilang gairah, dia mulai berpikir untuk pindah kantor atau malah ekstrimnya tertarik dengan profesi lain (oh ini saya hehehe).

Eh tunggu, itu juga kalau kamu sampai ke tempat yang memang kamu ingin tuju.

Kalau tidak? Saya bisa bilang, awal yang salah itu menyulitkan. Mau jadi X karena sangat takut nggak dapat kerja atau kalah dalam ‘kompetisi’ rela jadi A, B, C, D, dst. Pastikan itu bukan keputusan yang prematur dan sia-sia. Karena saat kita tersadar waktu kita terbuang untuk hal yang sia-sia, bisa jadi kita telah kehilangan momen. ITU MENYEDIHKAN! (humm, saya pernah merasakan kehilangan momen itu…)

Setelah proses yang akan draining self esteem, kita akan mulai berpikir soal langkah kedua. Biasanya pilihannya 3:

  • Niat gue lurus, it’s okay gue bisa menghadapi semua ini.
  • Gue cuma salah tempat saja, ayodah cari tempat baru
  • Kayaknya memang rezeki gue bukan di sini… Mari menata hidup baru

Apapun itu, akan membawa kita pada kedewasaan berpikir. Selalu jujur pada diri sendiri. Hit? Miss? Berhasil? Gagal? Oh saya nggak gengsi untuk mengakui langkah pertama saya mungkin gagal dan saya mematikan karier jurnalis saya sendiri dengan banting setir ke jalur lain.

Teman dekat saya waktu SMP bahkan sampai ada yang kaget. “Ta serius, itu kan mimpi lo!!! Kenapa lo lepas?” Percayalah sis, menjalani mimpi itu jauh lebih sulit daripada meraihnya. Mungkin saja kalau gue lebih hati-hati, jalan ceritanya berbeda. Walau sebenarnya, gue senang sih jalan hidup gue kayak gini. Feeling lost and depressed makes me grateful for everything. Somehow, it encourages me to be a better person. Kadang kita harus menghadapi kenyataan kalau kita kalah.

Tapi untuk Bella, dia baru memulai langkahnya. Saya sangat berharap dia menemukan dirinya dan semakin yakin menjadi jurnalis. Karena pada akhirnya ini adalah perjalanan untuk menemukan jati diri.

with bella

Akhir tahun 2015. Bella berhenti dari FISIPERS, saya sedang semangat-semangatnya jadi jurnalis. Cepat banget waktu berjalan!

Follow what excites you the most!

Kita akan tetap belajar. Di tempat terburuk sekalipun, memberikan usaha terbaik (walau kadang nyakitin) akan menghasilkan sesuatu yang baik juga kok. You won’t forget your first step. It showed passion, insecurity, naivete, growth, and maturity.

Morning Person

Saya bukan penderita insomnia. Saya pernah depresi, namun tetap bisa tertidur walau mimpi saya bergerak seperti kenyataan dengan perandaian realita yang akan saya hadapi di hari esoknya. Tetap saja, rasanya sulit untuk menjadi morning person dengan tertidur lebih awal. 

Menurut saya, hidup akan jauh lebih sehat ketika kita mulai bekerja sepagi mungkin. Tentunya ini pekerjaan yang tak melibatkan kemacetan jalan di antaranya. 

Saya berhenti kerja dan memutuskan untuk menulis cerpen dan novel sementara waktu ini. Sehingga saya membuat jadwal yang mendisiplinkan kerja saya. Passion ini juga butuh profesionalitas kan. Saya berharap bisa menulis sepagi mungkin yaitu setelah sholat subuh karena saya pikir itu saat pikiran masih sangat segar. Saya pernah merasakan kerja subuh, terkena terpaan angin, dimanjakan sinar matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik awan, dan mendengar suara orang-orang mengeluh atau menyemangati diri. 

Fajar Jakarta dari lantai 11 Graha Pena Jawa Pos

Namun belakangan, ide jernih saya datang selepas siang menuju malam. Dan saya tanpa sadar menghabiskan waktu hingga dini hari, ditambah dengan kegiatan selingan yang padat. 

Setiap saya coba untuk tetap terjaga selepas sholat subuh, pikiran saya tak berkompromi. Ia buntu. Saya rasa hati saya kurang mendorong untuk jadi manusia pagi. 

Alhasil seringkali saya tertidur lagi dan baru terbangun pukul 8 pagi. Setelah itu kemalasan mendera hingga pukul 1 siang dan kesegaran air mandi membuat saya jernih berpikir, namun terpaksa saya sela dulu dengan makan siang dan bersih-bersih rumah. Menghindari protes ibu jauh lebih penting. 

Dan rutinitas itu berulang bagai lingkaran setan. Naaah… Ini saja sudah dini hari dan saya baru selesai menulis. Kan ngaco! 

Dua Hari Terakhir

Aroma jengkol masih melekat di tubuh saya yang seminggu ini mengerjakan feature tentang Jejak Jengkol Nusantara. Setelah 1.5 tahun berada di jawapostv akhirnya saya memegang program utama yang selalu saya harapkan. Dan sekaligus jadi program dan karya terakhir saya untuk media ini. 

Akhir bulan Februari,  saya terbangun di suatu pagi dan memutuskan untuk berpindah ‘sekolah’ (begitu kami reporter belia menyebut tempat kami bekerja). Sungguh… pengalaman pertama memutuskan berhenti kerja memiliki kesan yang mendalam bagi saya dan sedikit romantis. Yah terlepas dari alasan apapun yang ternyata malah memotivasi saya untuk keluar dibanding bertahan, tempat ini benar mendidik saya dan merekam jejak karya saya. Tempat pertama saya mencurahkan hasrat saya sebagai jurnalis. 

Dan tiba di hari ini… Dua hari terakhir saya di sekolah ini. Saya menghampiri siapapun yang ada di redaksi. Termasuk salah satu produser saya di kantor, Mbak Apri Dahliani. Ia yang pertama menghubungi saya untuk datang wawancara kerja dan banyak berjasa serta memberi pembelajaran. Terutama… menghadapi ‘drama-ga-drama’ nya dunia pertelevisian. She gave me a big and tight hug with her teary eyes. And I feel that kind of heartwarming feelings. 

Sempat juga saya keluar kantor sebentar dan ketemu Mbak Jihan presenter andalan yang lagi menunggu dijemput. Sembari mendengarkan dia memberikan saya wejangan soal pendirian di tempat kerja, saya mengelus-ngelus perut hamilnya. 

Kemudian saya makan sore dengan Dodi. Baru sadar, saya seperti ekornya. Dodi masuk FISIPERS, saya ternyata juga. Sama-sama di divisi Reporter. Di tahun ketiga, Dodi dan saya mengajukan diri jadi Pemimpin Umum FISIPERS dengan Dodi yang keluar sebagai pemenang dan saya jadi abdinya yaitu Pemimpin Redaksi. Dodi lulus dan jadi jurnalis TV, saya mengikuti dan masuk ke TV yang sama. Kami juga menjadwalkan waktu menulis cerpen yang sama. Lalu Dodi jatuh sakit dan tak bisa bekerja selama 6 bulan, saya lalang-melintang berganti program dari mulai daily news hingga current affair. Ketika kembali masuk, ia diangkat jadi produser saya. Dua karya terakhir saya berada di bawah supervisinya. Saya harus minta maaf kepadanya karena tidak bisa melanjutkan dan meninggalkannya. Ini jadi kali pertama sejak kuliah, saya tak mengikuti jejaknya. 

Saya masih sempat minta tanda tangan Kepala Pemberitaan untuk form absensi. Orang yang dulu mewawancarai saya itu masih menghela napas mengingat dia juga jadi orang yang saya mintai persetujuan atas pengunduran diri saya. Kalau dipikir, jika bukan karena Mas Fariansyah ya saya belum tentu memiliki kesempatan mencoba banyak hal. Sekaligus ia juga sih yang bikin saya stres. 

Dianti masih bercanda-canda dengan saya seperti biasa. Ketika dia pulang pun hanya melambai sekedarnya. Katanya, dia masih akan ngajak saya nongkrong sore di Cikini seperti kegiatan selepas les biasanya. Yah hitung-hitung mengganti waktu makan siang di Pujasera sembari membicarakan banyak hal tentang hidup. 

Ketika saya selesai membereskan tas, Mbak Nufuszahra yang baru saya kenal 3 bulan terakhir ini pun kembali memeluk saya. Hampir tiap hari selama seminggu ini, dia memeluk saya sambil bertanya ‘mau ke mana sih? sumpah kok buru-buru?’ padahal saya sedang bau jengkol. Rasanya bakal rindu juga ngelawak pilon di redaksi sama Ratu Kebembem ini. 

Kawanda, selalu ada langkah pertama untuk keluar dari zona nyaman dan bergerak maju. Sama saja langkahku memang masih tertatih.  Perlu waktu lama sampai tegap berdiri dan bisa berlari. 

gonna miss these people

Menulis Tentang Kamu

Untuk G, 

Menulis tentang kamu adalah carita 1 dekade sebagai manusia. 

Tentang kamu yang dibicarakan orang-orang dan berusaha keras meresapnya hingga menjadi satu bagian darimu. Membuat mereka diam dan membutuhkanmu. Yang tersisa busanya masuk ke pembuangan bersama yang buruk-buruk. 

Tentang kamu yang yakin berhasil mencapai target utama di saat semua orang memprioritaskan belasan cadangan. Kamu selalu menunjukkan bahwa yang tersulit adalah yang paling penting untuk diselesaikan. Akhirnya benar begitu. 

Tentang kamu yang memesan nasi goreng sosis spesial dan es teh untuk makan siang dan masih punya sedikit sisa uang untuk membelikan kekasihnya yang pelit KFC Attack di sore hari sebelum berangkat bimbel. Berbagi jadi caramu menghargai hidup.

Tentang kamu yang kesal jika temanmu tak mau bergantian main game dengan temanmu yang sabar mengantri. Setiap orang tidak punya ‘kemewahan’ yang sama makanya tenggang rasa itu jadi dasar keadilan. 

Tentang kamu yang membolos les dan menyesal berhenti bermusik. Padahal memberi ruang diri kita mencoba hal lain juga adalah sebuah pembelajaran. Nah… Di masa depan yang ‘bukan hal lain’ itulah yang kemudian menjadi ‘hal lain’. Tak apa…, kamu sudah jujur pada dirimu. 

Tentang kamu dan 1001 trik membaca perempuan. Memang aset manusia itu pengalaman hidupnya. Aku rasa itu hal yang harusnya banyak perempuan syukuri jika memiliki pendamping yang seperti kamu. 

Tentang kamu yang berpiutang sebungkus rokok dengan kawan indekost dan bangga melihat si kawan kini mengalungkan berlian pada kekasih. Mensyukuri nikmat itu memang beragam caranya. 

Tentang kamu yang maju pertama dalam pidato ajakanku dan paling marah saat aku berniat berhenti kerja. Bagaimana kita saling menguatkan menghadapi titik terendah dalam hidup.

Tentang kamu yang pemaaf. Aku rasa tidak ada hati yang selapang itu untuk diisi rasa bercampur yang membikin mual. Dan kamu menelan itu kembali… Membuatku menangis nyaris membunuhmu. 

Terakhir, tentang kamu yang menangis… Karena selama hampir 1 dekade bersamamu. Aku tahu banyak tangismu yang hanya menjelma dari permintaan untuk aku memelukmu lebih erat, atau lidahmu yang memilih tak melempar kata kasar, atau ucapan “tapi itu kembali lagi padamu”, dan menungguku sedari tengah malam sampai bangun tidur berangkat kerja subuh-subuh di dalam mobil. 

Dan sebagai manusia kamu lengkap… Tulisanku punya akhir tentang hidup bersamamu menjadi lebih baik. 

thanks for growing up together

Ketika Tidur

Aku mendengar sayup hasutan di telinga kiri. Dia tertawa agak jauh dari telinga. Hanya gaungnya yang bias dengan gema membuat bertanya di koridor mana ia menyusup pada kepala.

Perlahan hasutan itu semakin kencang. Seperti teror mendekat pada nadir manusia ketakutan. Tubuhku kaku. Selimutku menggerayang hingga ke leher.

Mataku terkatup ketika tawa itu berubah jadi teriakan. Yang anehnya tiba-tiba melengking menjauh namun menyisakan sakit yang pekat pada areal dekat mata. Mata tak bisa kubuka. Aku gelagapan hanya dalam nafas yang menanti keluar dalam satu kali hembusan.

Ada apa? Ada apa?

Mana sempat bertanya. Yang kusadar ketika surat-surat doa perlahan berjalan dari buku-buku jariku ke ujung mimpiku, suara itu menghilang, dan tiba-tiba saja badanku lemas. Aku membuka mata. Tak lama adzan subuh mengudara.

Aku rasa sudah belasan kali hal tersebut kerap terjadi. Tapi kalau ada yang bilang aku ketindihan, sepertinya tidak se-ekstrim itu juga.

Setan kok isengnya kebangetan.