Quarter Life

Nasihat yang paling sering gue dengar belakangan ini adalah, “Tetapkan impianmu dan carilah mentor untuk membimbingmu.”

Dan percayalah, sudah susah-susah menentukan impian (tujuan hidup, pencapaian, atau apa pun itu), mendapatkan mentor juga tak sesederhana ngevote oshi di sousenkyo memilih tutor di Ruangguru. Tidak semua orang merasa dirinya mentor material yang dengan percaya diri mendedikasikan dirinya membimbing seseorang dari 0. Mencurahkan segala pengetahuan dan keterampilannya kepada si mentee dan membantunya berkembang. Mengorbankan waktu dan tenaga. Tak jarang juga, untuk mendapat mentor, seseorang harus mengeluarkan uang (banyak, I’m not gonna mention anyone).

Gue punya pengalaman tersendiri soal eksekusi nasihat ini. Walaupun enggak begitu menginspirasi, tapi gue pengen cerita saja sebelum lupa gue pernah muda dan optimistis.

Pertama, menentukan impian. Sampai sekarang gue masih bingung kalau harus menjelaskan ini. Karena gue mengimpikan banyak hal dari kecil, tapi sayangnya tidak semuanya solid. Dari mulai jadi penulis, jurnalis, membuat perubahan revolusioner di industri media, dll. Bullshit! I stop dreaming and start doing the exact thing.

Pada akhirnya yang bisa gue percaya adalah emang ga ada impian yang solid. Yang ada adalah perjalanan menemukan impian itu. Long haul. Gue jadi jurnalis, terus jadi editor, dan disela-sela gue masih tetap menulis, sebenarnya perjalanan itu mengajarkan gue banyak hal.

Yes, living a dream is a series of struggle.

Impian itu sesuatu yang kita pupuk. Jadi jurnalis, jadi editor, jadi penulis, bahkan sekarang gue sering jadi MC & moderator, atau nanti kuliah di luar negeri, kerja di perusahaan ternama, apa pun itu cuma benihnya. Kalau gue tetap melakukan hal sebaik-baiknya, bertumbuh di dalamnya, gue akan jadi sebuah pohon kuat dan solid. Mungkin itu yang disebut have a significant role, atau jadi orang, atau sukses. Makanya, walau bisa dibilang gue berhenti jadi jurnalis karena it wasn’t work well, gue sih enggak sedih-sedih amat. Keterampilannya enggak sia-sia, malah jadi added value untuk bidang lain. Teman-teman nyebutnya, gue ‘lulus’ bukan DO hahaha.

Di titik ini, gue cukup senang karena gue menemukan pekerjaan, hobi, dan kegiatan yang membuat gue ingin terus melakukan yang terbaik, bertumbuh, dan punya harapan.

Kedua, menemukan mentor. Jangankan buat orang yang sudah menentukan impiannya, bagi orang yang belum nemu impiannya apa lagi, mentor itu sangat penting. Karena dalam hidup, banyak pertanyaan mengawang di benak kita, punya seseorang yang membimbing kita menemukan jawabannya akan sangat membantu.

Sebenarnya bisa banyak caranya untuk menemukan mentor. Cara yang orang-orang anggap paling mudah adalah memanfaatkan jaringan yang sudah dibentuk sejak kuliah. Makanya, wajar banget kalau melihat anak kuliahan tuh sibuk organisasi dan magang atau ikut komunitas sana-sini. Wajar banget juga melihat anak-anak kuliahan yang nempelin senior, dosen, hingga ikut proyekan biar bisa dikenalin sama tokoh masyarakat.

Namun bagi saya, cara paling realistis adalah masuk ke industrinya dan kerja sama orang. Mentor saya adalah bos saya. Akan tetapi, enggak semua bos juga errr gimana ya nyebutnya mentor material. Balik lagi, enggak ada manusia yang sempurna, enggak semua orang willing jadi mentor.

Gue pernah meng-add Facebook dan nge-chat cerpenis idola gue yang juga seorang scriptwriter andal. Beliau menanggapi dengan baik pesan gue, tapi menolak jadi mentor. Merasa kurang percaya diri untuk mendidik. Beliau menyarankan untuk ikut sekolah-sekolah informal. Namun, yang saya cari bukan lagi sekadar ilmu, melainkan juga pembimbingan.

Sulit kan?

Gue enggak punya senior yang benar-benar bisa gue jadikan tempat berguru. Apa yang mereka tunjukkan bukanlah yang gue cari. Ya dan kebanyakan umur kami enggak berbeda jauh, mereka juga masih cari jati diri.

Akhirnya, kerja pada orang tetaplah jadi pilihan terbaik. Gue harus cari tempat itu. Baiknya Tuhan, gue dikasih jawaban sangat cepat.

Saat ini, gue masuk ke tempat yang siapa pun bisa jadi mentor gue. Tuhan kayak kasih gue banyak opsi. Mau belajar X, bisa sama A. Belajar Y, bisa sama B. Enggak jarang beliau-beliau yang berinisiatif memberikan gue pembelajaran dan bimbingan.

Gue makin percaya bahwa jodoh enggak lari ke mana….

Ketiga, expand the playground. Yang satu ini adalah salah satu nasihat dari senior yang gue anggap mentor di kantor. Beliau bilang, “Tempat di mana kamu merasa tumbuh adalah tempat terbaik untuk membangun playground-mu. Kamu bisa bertahan di sana atau malah memperluasnya.”

Gue selalu beranggapan bahwa gue harus fokus ke satu hal yang mau gue kejar. Gue lupa ya kalau sebagai manusia, Tuhan tuh kasih kita banyak talenta. Seakan ada nubuat non-verbal yang mengisyaratkan untuk berkreasilah dengan maksimal agar bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Sempit banget ketika gue berpikir, gue sibuk kerja, maka gue enggak bisa nulis, enggak bisa bisnis, enggak bisa bantu orang. Padahal bukan kerjaan gue yang salah. Guenya aja yang enggak bisa mengatur waktu dengan baik.

Untuk menebus kecupuan gue dulu, sekarang gue enggak mau menyia-nyiakan sedetik pun waktu gue.

Sorry banget emang belum ada hasil nyatanya…. Ya baru setahun ini gue berusaha memperluas playground. Namun gue enggak akan berani nulis kayak gini, kalau realisasinya ga segera terwujud.

Lagi-lagi terima kasih buat lingkungan baru gue. Banyak orang di sini yang ngasih tunjuk jalan-jalan terbaik yang bisa gue lewati. Walau ya…. terlalu indie. But in this competitive world, even the smallest step is matter.

Keempat dan terakhir, hustling passionately. Dua setengah tahun terjun ke dunia kerja, gue menyimpulkan passion itu bukan tentang karier hahahaha. Passion adalah tentang pembawaan diri.

Buktinya yaaa… Gue mengira jurnalistik adalah passion gue, tapi kenyataannya ketika gue benar-benar menjalaninya passionately, gue malah kehilangan diri gue sendiri. Jadi buat apa?

Namun yang salah bukan passion gue. Passion itu baik. Karena harusnya passion itu ada ketika kita menjalani kegiatan apa pun. Kalau bagi gue, passion itu yang menggerakkan untuk melakukan yang terbaik, minimal buat diri sendiri. Jadi di dalam playground, mustahil gue bisa memainkan wahananya kalau enggak ada passion di dalamnya. Mustahil gue bisa mencapai sesuatu kalau bukan karena passion.

Beberapa orang bilang, passion harus dicari. Enggak, passion itu udah ada di dalam diri, yang perlu dicari tahu adalah ke mana nyalurinnya. Cause we’re the subject. We’re hustling everyday.

Nah, empat hal tersebut yang gue maknai dalam perjalanan menuju umur gue 25 tahun Agustus nanti. Wkwkwk makasih ya udah baca curhatan orang yang baru recover dari quarter life crisis.

Advertisements

2017

Ini tahun yang asik bagi gue pribadi. Namun juga tahun di mana gue sadar, gue enggak puas sama kualitas seseorang dalam bermasyarakat sehingga gue fokus untuk enggak jadi orang kayak mereka. Sayangnya, itu membuat gue dinilai apatis sama beberapa orang. Well, gue cuma mau hidup tenang dan bikin orang lain juga tenang.

Akhirnya ada sebuah tahun yang gue enggak bikin banyak resolusi. Gue cuma punya dua! Resign dan cari kerjaan baru, itu pun langsung gue wujudkan di awal tahun. Untuk pertama kalinya, gue merasakan yang namanya jadi pengangguran terbuka beberapa bulan. Ternyata seperti ada berkilo-kilo beban terangkat, walau semu. Di saat uang tabungan gue mulai kepakai 20% dan gue belum nemu solusi untuk mendatangkan income (karena cara-cara yang gue pakai tak bekerja dengan baik dan guenya emang kurang usaha lebih keras), akhirnya terasa juga jenuhnya jadi pengangguran.

Alhamdulillah, di bulan Mei gue mulai kerja lagi. Bukan jurnalis, gue sekarang editor buku nonfiksi di penerbit Elex Media. Bidang yang benar-benar baru bagi gue. Gue cuma modal EYD, kosa kata di KBBI, kemampuan linguistik sederhana yang dipelajari di masa kuliah jurnalistik, dan kecintaan akan buku. Namun, tidak butuh waktu lama untuk gue menyenangi industri ini. Di balik semua keabu-abuannya, rasanya senang membantu orang lain yang juga suka menulis mewujudkan karyanya. Terlebih gue dapat banyak asupan buku yang bikin tambah ‘kaya pengetahuan’ juga punya kesempatan meluaskan jaringan yang lebih intim dan intense dibanding ketika gue jadi jurnalis. Beberapa bulan di sini, gue merasa bertumbuh secara pribadi. God gave me more than I have ever hoped for. 

Nah sebenarnya selain resolusi ada hal yang bikin gue merasa 2017 itu tahun yang asik. Gue membangun rutinitas. Banyak orang enggak betah dengan aktivitas rutin, tapi bagi gue ini esensial untuk dibangun. Gue merasa hidup gue jadi lebih teratur, less stress, dan tentunya mendekatkan pada tujuan yang signifikan. I spent my time, money, and energy to things that matter.

Apa saja rutinitias yang gue bangun? 

– Jangan tidur setelah sholat subuh dan bangun sepagi mungkin walau tidak sholat. Rentang waktu sehari terasa lebih panjang karena melek lebih lama. 

– Meal Prep, belanja dan masak di akhir pekan. Menu sederhana saja, tapi gue jadi aware dengan keperluan domestik dan menghemat banyak pengeluaran. Di kantor pun jadi hemat energi, waktu yang biasa gue pakai ke kantin bisa gue alihkan untuk nyelesein kerjaan. 

– Nabung emas di Pegadaian untuk dana darurat. Hakikatnya dana darurat itu likuid, tapi karena sekarang tanggung jawab gue belum banyak, gue bagi dua saja emas dan likuid dengan porsi 80:20. Sebagai penyimpan nilai di masa depan, emas adalah pilihan yang oke dan terjangkau. Duit Rp10 ribu saja bisa dapat 0.02 gram, ya kan kalau uang jajanku sisa bisa berubah jadi aset produktif. 

– Baca buku dan nulis novel dalam perjalanan ke kantor. Yang namanya ngejalanin hobi itu pasti bikin senang dan naikin mood. Gue naik Transjakarta 2x karena harus transit dan ganti jalur. Jadi, dalam perjalanan pertama biasanya gue baca buku. Lalu setelah transit, gue lanjut nulis novel di notes HP. Cara kayak gini emang terasa lambat banget, tapi namanya juga curi-curi waktu untuk buat progress. Di salah satu surat cinta Gery ketika kami SMA, ada nasihat, “Waktu paling jauh itu, satu detik yang lalu.” It’s impossible to turn back time, but we could always make time. 

– Sarapan. Perut kenyang, pikiran fokus. 

Kata almanak, shio gue ciong tahun ini. Namun, gue merasa Allah kasih banyak rezeki dan berkah di hidup gue yang sebenarnya segini-gini saja. Setiap hari, gue selalu merasa bersyukur dan lebih bahagia karena bukan berharap-harap sesuatu, tapi gue melakukan sesuatu yang membuahkan hasil. 

But it was not always sunshine… Ada juga sedihnya. Gue kehilangan oma dan eyang kakung dalam waktu yang berdekatan. Namun di sisi lain, kesedihan itu mengajarkan gue arti penting memaafkan dan hadir untuk satu sama lain di keluarga. Gue beruntung bukan hidup di keluarga penuntut, gue hidup di keluarga yang saling menerima dan berusaha bahagia, fokus kepada hidup nyata di hadapan mereka. So it was a rainbow… To be present and be real.
Semoga di tahun depan, gue bisa lebih manusiawi dan melakukan banyak hal baik. 

Deconstruct

Hal ini dikatakan secara berantai. Dari dosen kepada mahasiswanya. Dari mahasiswa kepada kawan-kawannya. Bisa juga dari seorang kakak kepada adiknya.

Teman-teman saya harus melalui proses ini dalam pengerjaan skripsinya dan tesisnya. Beberapa mungkin dalam kegiatan penelitiannya.

Saya, ternyata melaluinya setiap hari dalam pekerjaan.

Sebagai editor buku, saya menerima naskah dari penulis. Ketika kita berhadapan dengan tulisan, lawan bicara kita melampaui basa-basi manusia. Kita bicara dengan gagasan, diskursus, atau paradigma. Saya belum tentu lebih pintar… Sudah pasti saya sering terpukau, kagum, menyetujui. Apakah mungkin proses penyuntingan terjadi dengan sikap seperti itu?

Dalam produksi buku, ada tahapan krusial yang bagi saya lebih sulit dibanding penyuntingan naskah yaitu Tahap Peninjauan. Dan ini adalah tahapan paling awal. Di sini, keputusan penting dibuat, luar dan dalam.

Di sini, saya akhirnya menyadari sebuah proses yang dinamakan ‘dekonstruksi’ atau ‘unlearning’ di mana kita melepaskan segala pemahaman, asumsi, dan perasaan yang menurut kita benar untuk memberi jarak dan melihat dengan sudut pandang dan perasaan yang berbeda. Itu mungkin yang membuat saya bisa meninjau naskah lebih dari satu kali. Membacanya minggu ini, mendiamkan lalu membacanya seminggu kemudian.

Saya ‘meruntuhkan’ bangunan utuh dan kokoh yang tadinya saya percayai agar bisa melihat setiap kepingan secara perlahan. Dengan begitu, bagian yang perlu dipertajam, ditambahkan, atau malah dikurangi nampak lebih jelas.

Menyadari ini membuat saya memahami bahwa mungkin ada masanya dalam hidup kita mendekonstruksi makna. Manusia tentu punya kesalahan bahkan orang terbaik, terpintar, terhebat sekali pun. Namun, sering kali alpa. Luput. Khilaf.

Dekonstruksi membantu kita tumbuh dan melihat apa yang kita tak hiraukan. Menyadari sebuah kesalahan, kesesatan pemikiran, dan menerima kenyataan yang tak berjalan dengan baik. Proses ini menyedihkan dan melelahkan. Namun, bagi saya, tanpa proses ini, saya mungkin sulit memaafkan diri sendiri dan bangkit. Mungkin tanpa proses ini… Saya akan menjadi terlalu angkuh untuk memahami mereka yang terdekat dan signifikan, yang membutuhkan, atau yang sesungguhnya benar.

Idul Fitri

Dulu sekali,  saya kira Idul Fitri dan Natal itu selalu berdekatan. Tahun 90an akhir sepertinya memang jatuh di bulan Desember, sampai saya pikir perayaan tidak pernah ada habisnya. Saya juga masih ingat, ditawari makan malam karena saya malu di acara Natalan keluarga, saya jawab “Inta masih puasa.” Lantas saya diketawai saudara-saudaralah. Dikira lucu. (untungnya! Karena kalau sudah besar, pasti dikira bodoh) 

Nah bagi saya, perayaan keagamaan adalah tentang liburan, kumpul keluarga, dan makan enak. Saya tak kenal tuh salam tempel. Yang menerima selalu ibu saya dan langsung dimasukan tabungan. Sehingga saya tidak pernah anggap perayaan adalah tentang mengepul rezeki berkali-kali lipat tanpa harus kerja lebih keras. 

Semakin besar, saya semakin merenungi banyak hal. Betapa saat kecil hingga remaja saya selalu menanti Ramadhan seperti papa yang ingin makan rujak di siang bolong. Kamu tahu kan maksudnya? Seperti tubuh kekeringan dan butuh kesegaran.

Meskipun puasa bolong-bolong, saya selalu ingin bangun sahur, menahan-nahan tak makan, menahan bohong, menahan ngejahilin teman, menahan bergosip. Rasanya senang ketika maghrib tiba, saya bisa berkata, “Wah aku berhasil!” Kamu tahu, mungkin itu seperti sekarang kita bisa sabar menunggu orang keluar kereta dahulu sebelum kita masuk dan mencari tempat duduk dengan tertib. Kamu senang karena merasa telah berbuat yang benar. 

Namun,  belakangan saya meragukan kemenangan itu. Meskipun puasa saya full di 2 tahun Ramadhan ini, saya tidak merasa menang. Yang saya dapat hanya lapar dan haus saja. Sepertinya saya hanya senang karena puasa berakhir. “Wah akhirnya bisa bablas tidur sampai subuh lagi. Wah bisa ngemil pas lagi bosen kerja. Wah ga perlu ngerasa sedih gabisa tarawih. Wah akhirnya berakhir sudah momen konsumtif bernama bukber yang bikin pulang malam terus.” dan wah wah wah yang lainnya… 

Karena saya pun ga pernah mengharapkan THR segitunya, jadi saya makin merasa biasa saja… 

Mungkin itu yang dinamakan kurang ikhlas. 

Hmmm, pagi ini sembari jalan pulang setelah shalat Ied, saya berpikir saya sudah menjadi orang biasa kebanyakan. Dan saya benci jadi orang biasa. Saya merasa sedih dan malu di hadapan Allah… Kamu tahu? Iman mulai dari pikiran? Saya justru merasa kalah. Saya tak tahu apa yang Allah rasakan pada umat-Nya yang satu ini. 

Dan seharusnya tak perlu menunggu Ramadhan, tak perlu menunggu hilal dan Lebaran, segala hal yang dulu saya jalani dengan murni dan penuh kesenangan serta kemenangan atas ego itu, bisa saya jalani setiap hari. YA SETIAP HARI! 

Sungguh hamba memohon ampun lahir dan batin… 

Langkah Pertama

Bicara soal karier, saya baru menapaki langkah kedua. Jika dulu saya menjuluki teman kost saya kutu loncat karena pindah-pindah kantor, maka saya lebih parah dari kutu loncat itu. Saya berubah profesi.

Saya hanya tahu sedikit tentang industri yang tengah saya geluti ini karena selama ini hanya menjadi konsumen. Bayangkan rasanya jadi raja, kemudian jadi pelayan.

Tapi saya raja yang senang datang ke dapur dan mencicipi tiap bumbu sebelum jadi resep masakan dan terhidang sebagai makanan matang. Well, belajar itu menyenangkan.

Namun sabar, kali ini, saya tidak akan bicara tentang langkah kedua.

***

Beberapa bulan lalu ketika saya sedang happy setelah resign, saya terlibat obrolan tentang karier dengan Bella (junior saya di kampus) yang baru lulus. Obrolan itu menyadarkan saya bahwa karier pertama punya dampak yang signifikan.

Passion Bella adalah jurnalisme. Mungkin kami sedikit sama, sejak sebelum masuk kuliah tahu apa yang harus dikejar dan dilakukan untuk sampai ke sana. Jejaknya juga hampir mirip; tahu dari awal ‘oh aku mau pilih peminatan Jurnalisme’, kayaknya harus nyoba nyemplung jadi panitia Journalight Pekom deh biar dapat banyak insight dan makin yakin, next jadi anggota pers mahasiswa hmm FISIPERS kalau gitu, waktunya magang dapat di NET, oke fixlah habis lulus gue akan jadi jurnalis.

Bella mendaftar ke banyak stasiun televisi dari mulai iNews, Kompas TV, NET TV, dan ‘mantan sekolah’ saya jawapostv. Sempat coba media online, Kumparan juga kalau nggak salah. Dari awal saya sudah bilang, panggilan tes buat dia itu bakalan ada terus. She’s smart, camera-face, skilled, experienced, able to work under-pressure, and so on. Dan benar, yang ada dia bingung mau ke mana…

Sebagai ehem… orang yang sudah melewati langkah pertama, saya bilang sama dia:

Lari ke rumah yang paling ingin kamu huni.

Alias, fokus ke prioritas utama. Akhirnya dia berhasil tembus MDP V NET TV sebagai Reporter (soon, we’ll see Nabilla Putri Fhatya on screen). Saya ikut juga lho dalam seleksi dan gagal. Well, setelah kepikiran resign kan saya masih mencari rezeki dengan coba pindah institusi, tetapi kayaknya jalan Allah memang beda sih.

Bella bikin saya merefleksi banyak hal. Saya minta dia hati-hati memilih karena saya sadar ini semua percobaan yang hasilnya bisa hit or miss. Karier pertama kita adalah realita. Waktu kita di sana akan menjadi jawaban apakah jalur yang kita pilih adalah yang paling tepat. Apa yang kita jalani, lalui, dan rasakan akan mempengaruhi jalan kita ke depannya.

Yang bagus adalah ketika karier pertama mengarahkan kita pada tujuan-tujuan baru yang lebih baik, membuka jalan dan jaringan pada kesempatan yang lebih luas, dan membuat lebih percaya diri.

Well, kita semua tahu ekspektasi nyaris tidak pernah sama dengan realita. And you will find it hard! I found it hard! I did my best, all of me. Till I said I’m broken.

Karier pertama akan menguji sebesar apa passion kita. Jika kamu bagus dalam pekerjaan, maka tantangannya jauh lebih sulit. MENTAL! Kamu mungkin ketemu kantor yang unstable, politik dan drama kantor yang nggak banget, atau janji-janji yang tidak terpenuhi. Saat itu, kamu akan diajak berpikir kembali soal kelurusan niat.

Ada orang yang kerja memang cuma ingin cuan. Jadi mau kayak gimana juga keadaannya kalau dia masih bisa ngehasilin cuan ya dia bisa menolerir hal yang tidak mengenakkan. Ada yang karena pengen belajar, jadi ketika tidak berkembang mereka akan pindah mencari tempat baru. Ada yang karena mengikuti gairahnya, ketika hal-hal tersebut membuatnya hilang gairah, dia mulai berpikir untuk pindah kantor atau malah ekstrimnya tertarik dengan profesi lain (oh ini saya hehehe).

Eh tunggu, itu juga kalau kamu sampai ke tempat yang memang kamu ingin tuju.

Kalau tidak? Saya bisa bilang, awal yang salah itu menyulitkan. Mau jadi X karena sangat takut nggak dapat kerja atau kalah dalam ‘kompetisi’ rela jadi A, B, C, D, dst. Pastikan itu bukan keputusan yang prematur dan sia-sia. Karena saat kita tersadar waktu kita terbuang untuk hal yang sia-sia, bisa jadi kita telah kehilangan momen. ITU MENYEDIHKAN! (humm, saya pernah merasakan kehilangan momen itu…)

Setelah proses yang akan draining self esteem, kita akan mulai berpikir soal langkah kedua. Biasanya pilihannya 3:

  • Niat gue lurus, it’s okay gue bisa menghadapi semua ini.
  • Gue cuma salah tempat saja, ayodah cari tempat baru
  • Kayaknya memang rezeki gue bukan di sini… Mari menata hidup baru

Apapun itu, akan membawa kita pada kedewasaan berpikir. Selalu jujur pada diri sendiri. Hit? Miss? Berhasil? Gagal? Oh saya nggak gengsi untuk mengakui langkah pertama saya mungkin gagal dan saya mematikan karier jurnalis saya sendiri dengan banting setir ke jalur lain.

Teman dekat saya waktu SMP bahkan sampai ada yang kaget. “Ta serius, itu kan mimpi lo!!! Kenapa lo lepas?” Percayalah sis, menjalani mimpi itu jauh lebih sulit daripada meraihnya. Mungkin saja kalau gue lebih hati-hati, jalan ceritanya berbeda. Walau sebenarnya, gue senang sih jalan hidup gue kayak gini. Feeling lost and depressed makes me grateful for everything. Somehow, it encourages me to be a better person. Kadang kita harus menghadapi kenyataan kalau kita kalah.

Tapi untuk Bella, dia baru memulai langkahnya. Saya sangat berharap dia menemukan dirinya dan semakin yakin menjadi jurnalis. Karena pada akhirnya ini adalah perjalanan untuk menemukan jati diri.

with bella

Akhir tahun 2015. Bella berhenti dari FISIPERS, saya sedang semangat-semangatnya jadi jurnalis. Cepat banget waktu berjalan!

Follow what excites you the most!

Kita akan tetap belajar. Di tempat terburuk sekalipun, memberikan usaha terbaik (walau kadang nyakitin) akan menghasilkan sesuatu yang baik juga kok. You won’t forget your first step. It showed passion, insecurity, naivete, growth, and maturity.

Morning Person

Saya bukan penderita insomnia. Saya pernah depresi, namun tetap bisa tertidur walau mimpi saya bergerak seperti kenyataan dengan perandaian realita yang akan saya hadapi di hari esoknya. Tetap saja, rasanya sulit untuk menjadi morning person dengan tertidur lebih awal. 

Menurut saya, hidup akan jauh lebih sehat ketika kita mulai bekerja sepagi mungkin. Tentunya ini pekerjaan yang tak melibatkan kemacetan jalan di antaranya. 

Saya berhenti kerja dan memutuskan untuk menulis cerpen dan novel sementara waktu ini. Sehingga saya membuat jadwal yang mendisiplinkan kerja saya. Passion ini juga butuh profesionalitas kan. Saya berharap bisa menulis sepagi mungkin yaitu setelah sholat subuh karena saya pikir itu saat pikiran masih sangat segar. Saya pernah merasakan kerja subuh, terkena terpaan angin, dimanjakan sinar matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik awan, dan mendengar suara orang-orang mengeluh atau menyemangati diri. 

Fajar Jakarta dari lantai 11 Graha Pena Jawa Pos

Namun belakangan, ide jernih saya datang selepas siang menuju malam. Dan saya tanpa sadar menghabiskan waktu hingga dini hari, ditambah dengan kegiatan selingan yang padat. 

Setiap saya coba untuk tetap terjaga selepas sholat subuh, pikiran saya tak berkompromi. Ia buntu. Saya rasa hati saya kurang mendorong untuk jadi manusia pagi. 

Alhasil seringkali saya tertidur lagi dan baru terbangun pukul 8 pagi. Setelah itu kemalasan mendera hingga pukul 1 siang dan kesegaran air mandi membuat saya jernih berpikir, namun terpaksa saya sela dulu dengan makan siang dan bersih-bersih rumah. Menghindari protes ibu jauh lebih penting. 

Dan rutinitas itu berulang bagai lingkaran setan. Naaah… Ini saja sudah dini hari dan saya baru selesai menulis. Kan ngaco! 

Dua Hari Terakhir

Aroma jengkol masih melekat di tubuh saya yang seminggu ini mengerjakan feature tentang Jejak Jengkol Nusantara. Setelah 1.5 tahun berada di jawapostv akhirnya saya memegang program utama yang selalu saya harapkan. Dan sekaligus jadi program dan karya terakhir saya untuk media ini. 

Akhir bulan Februari,  saya terbangun di suatu pagi dan memutuskan untuk berpindah ‘sekolah’ (begitu kami reporter belia menyebut tempat kami bekerja). Sungguh… pengalaman pertama memutuskan berhenti kerja memiliki kesan yang mendalam bagi saya dan sedikit romantis. Yah terlepas dari alasan apapun yang ternyata malah memotivasi saya untuk keluar dibanding bertahan, tempat ini benar mendidik saya dan merekam jejak karya saya. Tempat pertama saya mencurahkan hasrat saya sebagai jurnalis. 

Dan tiba di hari ini… Dua hari terakhir saya di sekolah ini. Saya menghampiri siapapun yang ada di redaksi. Termasuk salah satu produser saya di kantor, Mbak Apri Dahliani. Ia yang pertama menghubungi saya untuk datang wawancara kerja dan banyak berjasa serta memberi pembelajaran. Terutama… menghadapi ‘drama-ga-drama’ nya dunia pertelevisian. She gave me a big and tight hug with her teary eyes. And I feel that kind of heartwarming feelings. 

Sempat juga saya keluar kantor sebentar dan ketemu Mbak Jihan presenter andalan yang lagi menunggu dijemput. Sembari mendengarkan dia memberikan saya wejangan soal pendirian di tempat kerja, saya mengelus-ngelus perut hamilnya. 

Kemudian saya makan sore dengan Dodi. Baru sadar, saya seperti ekornya. Dodi masuk FISIPERS, saya ternyata juga. Sama-sama di divisi Reporter. Di tahun ketiga, Dodi dan saya mengajukan diri jadi Pemimpin Umum FISIPERS dengan Dodi yang keluar sebagai pemenang dan saya jadi abdinya yaitu Pemimpin Redaksi. Dodi lulus dan jadi jurnalis TV, saya mengikuti dan masuk ke TV yang sama. Kami juga menjadwalkan waktu menulis cerpen yang sama. Lalu Dodi jatuh sakit dan tak bisa bekerja selama 6 bulan, saya lalang-melintang berganti program dari mulai daily news hingga current affair. Ketika kembali masuk, ia diangkat jadi produser saya. Dua karya terakhir saya berada di bawah supervisinya. Saya harus minta maaf kepadanya karena tidak bisa melanjutkan dan meninggalkannya. Ini jadi kali pertama sejak kuliah, saya tak mengikuti jejaknya. 

Saya masih sempat minta tanda tangan Kepala Pemberitaan untuk form absensi. Orang yang dulu mewawancarai saya itu masih menghela napas mengingat dia juga jadi orang yang saya mintai persetujuan atas pengunduran diri saya. Kalau dipikir, jika bukan karena Mas Fariansyah ya saya belum tentu memiliki kesempatan mencoba banyak hal. Sekaligus ia juga sih yang bikin saya stres. 

Dianti masih bercanda-canda dengan saya seperti biasa. Ketika dia pulang pun hanya melambai sekedarnya. Katanya, dia masih akan ngajak saya nongkrong sore di Cikini seperti kegiatan selepas les biasanya. Yah hitung-hitung mengganti waktu makan siang di Pujasera sembari membicarakan banyak hal tentang hidup. 

Ketika saya selesai membereskan tas, Mbak Nufuszahra yang baru saya kenal 3 bulan terakhir ini pun kembali memeluk saya. Hampir tiap hari selama seminggu ini, dia memeluk saya sambil bertanya ‘mau ke mana sih? sumpah kok buru-buru?’ padahal saya sedang bau jengkol. Rasanya bakal rindu juga ngelawak pilon di redaksi sama Ratu Kebembem ini. 

Kawanda, selalu ada langkah pertama untuk keluar dari zona nyaman dan bergerak maju. Sama saja langkahku memang masih tertatih.  Perlu waktu lama sampai tegap berdiri dan bisa berlari. 

gonna miss these people