Buku Kaifa dan Alexa

Saya sedang tidak bisa tidur karena otak aktif sekali lepas tengah malam. Jadi saya putuskan mencari buku-buku lama untuk dibaca sampai ketiduran. Saya pilihlah ‘The Magic of Ruby Valley’. 

Eh malah saya kepikiran… 

Saya tumbuh dengan budaya bercerita. Pengaruh yang tertular karena kerap membaca buku. Tahu novel pertama yang saya baca apa ketika umur 5 tahun? Putri Huan Zhu… Ya that serial on Indosiar… Dari buku itu saya sadar bahasa Mandarin sangatlah kompleks sampai nama Cewei ternyata dibacanya Cuwei. Hampir saya salah mengeja nama para karakter yang berbeda antara tulisan dan lisan di televisi. 

Namun, kesukaan saya terhadap cerita belum melulu terhadap buku saat itu. Saya lebih suka baca cerpen seperti di majalah/tabloid dari mulai yang saya langgan seperti Bobo, Ina, Ino, Fantasi, dan Teen hingga yang dilanggan Mama seperti Femina, Kartini, Nova. 

Tapi saya baru benar-benar tumbuh bersama buku ketika saya kenal Alexa di kelas 5 SD. 

Saya dan Alexa beberapa bulan lalu, setelah 7 tahun tidak bertemu. Alexa sekarang bekerja di bidang eco-wisata maritim

Entah bagaimana awalnya kami terlibat obrolan kegemaran membaca. Waktu itu Alexa meminjamkan saya novel Rahasia Hembusan Angin. Sebuah buku impor translasi yang diterbitkan Kaifa (sepertinya bagian dari grup penerbit Mizan). Sejak saat itu kalau saya ke toko buku, saya selalu mencari buku-buku Kaifa. Alexa selalu bilang ketika meminjamkan bukunya ke saya, 

“Ini magic! Pasti rasanya merinding atau terbayang-bayang.”

Mungkin karena daya imajinasi anak SD masih berlebihan ya, saya merasakan that magic thing.  

Empat di antara koleksi buku Kaifa ketika SMP

Kami sering bertukar novel terbitan Kaifa hingga SMP. Selain sesuai umur kami, kisah-kisahnya seru sekali. Berbalut misteri dan permasalahan sosial. Membawa kami banyak belajar dan sedikit banyak memengaruhi gaya tulis saya kala itu. 

Sekarang, sepertinya Kaifa sudah tidak ada ya…

Di saat-saat seperti ini, ketika saya bertekad untuk serius sebagai penulis (sembari berjibaku sebagai jurnalis), saya membaca 2-3 buku dalam seminggu untuk memperkaya khazanah kata, gaya, dan sekedar distraksi. Sejujurnya, saya rindu cerita-cerita yang berusaha dihadirkan Kaifa di pasar buku kita. Atau mungkin saya saja kali ya belum nemu cerita remaja yang cocok lagi. Kan emang usia saya juga sudah dewasa muda. Hehehe

Anyway, terima kasih Alexa. Karena dia, saya semakin senang membaca dan menulis. Kapan-kapan kita buat graphic novel lagi ya… Jujur itu memori sekolah dasar yang paling menyenangkan. 

Holy Journey

Juru kamera Aris Sandi mengabadikan fragmen perjalanan Hakam dan Rofi yang singgah di kota Depok, Jawa Barat. Bulan kedua Holy Journey.

Kemarin siang, kami berbincang dengan Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiyah yang tengah singgah di Jabodetabek selama Kementerian Sosial dan Kementerian Luar Negeri mengurus berkas terkait perjalanan mereka ke Timur Tengah dengan sepeda. Keduanya mengayuh sepedanya dari wilayah Bojongsari melewati Sawangan dan berakhir di Beji, Depok bersama kawan-kawan Komunitas Gober Depok. 
Bagi Hakam ini bukan perjalanan personal. Niatnya bukan sekedar menyentuh tanah suci, melainkan menyapa kawan, menyusuri jejak peradaban Islam, bertemu para pemuka, berdialog antar agama, dan mempromosikan perdamaian. Tanpa modal, selalu ada yang membantu sejak mereka berangkat dari Malang Desember lalu. Bahkan sepeda tandem pun gratis dari kawan di perusahaan sepeda. Mereka mengibaratkan diri sebagai raga dan setiap individu yang mendoakan, mendukung, dan membantu mereka sebagai ruh. Perjalanan menguji mental ini pun tak lagi jadi misi pribadi. Yang membuat saya kagum betapa keteguhan hati dan ketulusan membuka jalan dan menjernihkan pandangan menuju ridho Allah SWT. 

Saya hanya ingin menyampaikan Islam adalah agama keselamatan, agama damai. Dengan cara bersilahturahmi dengan orang-orang di luar agama saya, selain dengan tokoh agama saya sendiri. Islam bukan seperti meneriakan Allahuakbar, namun malah membawa kehancuran. Bagi saya, Allahuakbar adalah bentuk saya memuji Tuhan saya. Maka perjalanan ini bukan perjalanan personal, ada ruh umat di dalamnya. Ruh itu adalah mereka yang mendukung dengan doa dan ingin pesan ini tersampaikan hingga perjalanan ini berakhir. 

Setelah bersapa dengan Gus Mus, Khofifah Indar Parawansa, dan para pemimpin umat agama yang lain, keduanya akan berjumpa juga dengan Dalai Lama ketika melintas Nepal kemudian Tibet. Saya berharap semoga hijrah keduanya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. 

jawapostv

Belum banyak orang yang tahu, jawapostv itu ada. Mungkin selama ini gue disangka kerja di TV siluman kali ya (bisa iya, bisa engga tergantung lihatnya dari mana). Sebenarnya post ini didedikasikan buat tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 di TV ini.

Jawapostv merupakan televisi berjaringan milik Jawa Pos Group yang resmi bersiaran sejak 17 Agustus 2015. Berada pada frekuensi 60 UHF yang menjangkau wilayah Jabodetabek. Tapi buat nonton emang butuh effort sih, coba aja wkwkwk…

Untuk tayangan nasional pukul 06.00-08.00 WIB (Nusantara Kini Pagi) dan 22.00-23.30 WIB (Nusantara Kini Malam) sementara tayangan lokal pada pukul 08.00-22.00. Program nasional berformat news magazine ini disiarkan di televisi jaringan Jawa Pos Group lainnya yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi. Jadi kalau mendapati stasiun TV lokal seperti misalnya Riau TV, Pal TV, Pon TV, Nirwana TV,  JTV, dan Fajar TV itu sebagian kecil yang menyiarkan siaran kami pada jam di atas. Jawa Pos Group sendiri punya 200 media dalam naungannya yang menjadikan perusahaan media ini salah satu yang terbesar di Indonesia. Jawapostv juga bisa ditonton melalui live streaming lewat profile youtube jawapostv.

Gue bergabung sebagai reporter di sini sejak 30 Agustus 2015, 2 hari setelah wisuda. Sementara teman dekat gue dari kuliah, Dodi Prananda adalah angkatan pertama yang bergabung sejak penggodokan pra-siar, Februari 2015.

Nah, untuk lebih kenal, gue mau kasih tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 dari 3 program di jawapostv.

CARITA

Program dengan format feature yang tayang selama 30 menit dalam 4 segmen. Sebuah narasi dimensional tentang alam dan manusia. Ketiga tayangan di bawah ini punya kisah yang kuat, personal, dan lengkap. Berpihak pada yang berhak dan menggambarkan dampak yang nyata.

Kehidupan Pesisir Jakarta

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Rizal Machyudin | Camera Person: Dio Malau | Editor: Tri Widyastuti)

Terpenjara Janji Penyalur Kerja

(Produser: Rio Rizalino | Reporter: Novaeny Wulandari | Camera Person: Agus Sofyan | Editor: Khoirul)

Merawat Orangutan

(Produser: Rio Rizalino | Reporter : Vela Andapita | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Khoirul)

BICARA INDONESIA

Program current affair tentang profil tokoh yang redaksi anggap memiliki kontribusi dan wacana berpengaruh di Indonesia. Tiga tokoh ini yang paling berkesan buat saya. Mengangkat isu kuliner, pengembangan diri, dan kreativitas. Program ini juga membahas tokoh-tokoh di bidang olahraga, sosial, militer, agama, pendidikan, pertanian, seni, dan lain-lain. Jadi sempatkan untuk menengok dan siap-siap terinspirasi.

Episode Leonard Theosabrata

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Ikbal Rambe | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Yanti Bei)

Episode Sisca Soewitomo

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter: Risca Andalina | Reporter: Leovina Putri | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

Episode Yoris Sebastian

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter & Reporter: Vela Andapita | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

UNTUK PEREMPUAN

Juga sebuah program current affair yang mengangkat topik yang diperuntukan untuk penonton perempuan. Ditayangkan selama 30 menit dan terdiri dari 4 segmen berbentuk paket liputan dan talkshow. Karena gue yang berada di balik layar program ini, berikut tayangan yang paling berkesan dalam masa pembuatannya.

Talkshow Wulan Tilaar eps Citra Cantik Perempuan Indonesia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera person: Willy Andry & Anggi Prayosi | Editor: Ardiyanto Endan)

Episode Urban Farming

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Cahyani Dean | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera Person: Lucky Devianto & Fachru Rozi | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Polisi Wanita eps Hari Polwan

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Gunther Immerheiser | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Pantara eps Gangguan Belajar Disleksia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Willy Andry | Editor: Ardiyanto Endan)

Talkshow Sinta Nuriyah Wahid eps Perempuan Pembangun Bangsa

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Vela Andapita | Reporter: Dianti Kurnianingrum | Camera Person: Willy Andry & Lucky Devianto | Editor: Ardiyanto Endan)

Natsu Yasumi (Pt. 2)

Baru sempat melanjutkan cerita cuti singkat saya di bulan Agustus.

Kamis, 18 Agustus 2016

KYOTO DAY! Kyoto punya banyaaaak sekali tujuan wisata. Karakteristiknya sedikit mirip Yogyakarta; kota dengan sejarah dan budaya yang mengakar sampai sekarang.

06.00-17.00 JST

Shuntokumichi – Fushimi Inari – Arashiyama Bamboo Grove – Snack & shopping time at Saga Arashiyama –  Kyomizudera – Lunch at Senenzaka

Fushimi Inari dan Arashiyama jadi tujuan wisata favorit turis Indonesia. Menurut beberapa orang, nggak bisa mengunjungi Fushimi Inari dan Arashiyama digabung dalam satu hari. Ya, akhirnya kami memutuskan untuk nggak ke Gion demi dapat semuanya.

Kiyomizudera berada di tengah kota. Kita juga bisa mengunjungi Museum Nasional dan Kyoto Tower jika mau. Namun, waktu kami sudah habis berjalan-jalan di Saga Arashiyama. Dan mengejar menikmati pemandangan Osaka di Umeda Sky Building (yang ujungnya gagal karena kemalaman selesai makan di Grand Front Osaka).

Kyoto memang kota tua yang memikat. Saya mendapatkan sinar senja terbaik yang saya rindukan sejak kecil di Senenzaka.

Wisatawan lain akan menyempatkan waktu dan uangnya untuk memakai kimono & hakama selama berada di Kyoto. Ada banyak tempat penyewaannya, rata-rata sekitar 3.500-5000 yen. Tapi, kami memilih untuk menghematnya.

Pusat kegiatan rata-rata sepi sejak jam 8 malam walaupun denyut perkotaan masih berlangsung hingga tengah malam.

 

Jumat, 19 Agustus 2016

My birthday!

Pagi hari kami sibuk mencari tempat print tiket Summersonic. Karena (gomeen…) salah memahami email mana yang harus diprint.

Jepang bukan seperti Indonesia yang banyak kang fotokopian di pinggir jalan. Tempat ter-serba ada jelas conbini, tapi juga tidak semua conbini menyediakan mesin fotokopi sekaligus print. Untungnya di Osakajoukoen ada Lawson besar yang menyediakan alat. Cara printnya ada banyak; Bluetooth, USB, Memory Card, bahkan email.

Hadiah terbaik tahun ini adalah bisa pergi ke tempat paling diidam-idamkan sejak SMA. Akhirnya setelah hampir 7 tahun pacaran, saya dan Gery bisa merayakan ulang tahun bersama di Osakajou. Sayang, kami datang bukan saat musim semi sehingga tak ada kembang-kembang sakura merekah. Yang ada hanya matahari membara di puncak musim panas…

Biaya masuk ke Osakajou sekitar 600 yen untuk orang dewasa. Lebih murah jika kita datang dengan minimum rombongan 15 orang.

Kastil ini sangat ramai. Naik turun dengan tangga lebih saya rekomendasikan karena liftnya penuh. Selain belajar sejarah, kita juga bisa melihat pemandangan kota di lantai paling atas. I remembered shouting, “Ah itu NHK!”

Kami makan siang di Ichiran Ramen Dotonburi. Nggak bohong, ini ramen terenak yang pernah ada di muka bumi. Saya nangis pas makan (lebay). Antriannya super panjang. Belinya pun pakai vending machine. Dan tempat makannya kayak bilik warnet. Cukup untuk isi energi berbelanja sampai malam di Namba.

Oh ya, jangan lupa untuk beli dan coba Pablo cheesecake di Dotonburi. Heaven on earth!

 

Sabtu, 20 Agustus 2016

SUMMERSONIC 2016!! Sebagai festival musik terbesar di Jepang, acara ini juga diadakan di Tokyo dengan guest star yang lebih lengkap. Tapi line up Osaka juga nggak kalah keren kok.

Tiket summersonic dilunasi kedua setelah tiket pesawat. Karena nggak bisa diperjualbelikan atau dipindahtangankan, tiket ini jadi motivasi harus berangkat. Karena di Osaka harganya lebih murah dari di Tokyo; sekitar Rp 1.800.000 untuk 1 hari. Ada pula tiket terusan 2 hari sekitar Rp 3.500.000. Tahun ini kembali diadakan di Maishima Arena yang kayak kota mati begitu keluar dari Stasiun Cosmosquare. Dari stasiun menuju venue disambung dengan bis dari panitia seharga 1000 yen untuk pulang pergi. Tempat ini sebenarnya agak mirip Tanjung Priuk kurang ramai aja hehehehe

It’s worth! Kalau niat banget sehari minimal bisa nonton 4-5 penampilan dalam 1 panggung. Penampilan utama biasanya di panggung yang paling jauh, Ocean Stage. Sementara panggung yang lebih kecil, Forest Stage untuk para newcomer. International band/artist yang super mainstream biasanya juga ditaruh di Mountain Stage (di dalam lapangan baseball super besar). Kalau mau ngadem sih di Sonic Stage, indoor, ber-AC, luas.

Saya bisa nonton 5 penampilan (Alexandros, Kenshi Yonezu, James Bay, Sakanaction, Radiohead) tapi nggak bisa full karena jarak antar panggung yang jauh-jauhan. Hanya Kenshi Yonezu yang benar-benar bisa full. Sebenarnya bisa nonton Two Doors Cinema Club, tapi kan butuh makan dan ke toilet hehehe. Sure it was REALLY GREAT!!! Sakanaction surely made my day!

pixlr

Usahakan sudah sarapan sebelum sampai venue. Kalau di Osaka, setiap stage ada oasis untuk beli konsumsi. Saat terbaik adalah ketika penampilan sudah dimulai karena sepi.

Jangan lupa pakai sunblock dan bawa handuk! Karena panas banget seriusan deh…

Yang jadi highlight hari ini adalah Radiohead tampil kemalaman dan daya tampung bis nggak cukup untuk mengangkut semua penonton balik ke Cosmosquare. Kami naik bis ke Stasiun Universal City (Sakurajima Line) yang sebenarnya lebih dekat. Sayang kami tak bisa mengejar kereta terakhir ke Higashiosaka. Dan malahan………….. TERSESAT DI NARA!!!

Kalau nggak karena skill bahasa jepang yang pas-pasan, kami mungkin nggak tahu baru saja turun di Stasiun Takaida Nara alih-alih Takaida Osaka. Kepala stasiun bilang kalau naik taksi bakalan mahal banget. Karena itu hari terakhir kami sudah nggak punya duit banyak. Akhirnya bermalamlah di stasiun, hampir tidur di halte pinggiran Sungai Yamato dengan angin musim panas yang ternyata dingin.

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Kami punya waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai rumah, packing, dan segera menuju airport. Naik kereta pertama sekitar setengah 5 pagi dan berlari-lari sampai rumah. Mandi sekedarnya, masuk-masukin barang, habisin sisa Pablo untuk sarapan. Out out out kejar kereta ke airport.

Salah satu perjalanan yang membentuk perspektif, membuat saya menghargai orang lain, menikmati hidup, dan menjalani semua apa adanya. Beruntung Jepang sudah well-established sehingga kami bisa survived.

And until now, I’m still dreaming of Osaka windy night and Kyoto lovely noon. Jya, mata nee…

Hal yang Sedih

Waktu menulis di balik detik-detik jarumnya.  Meminta kata berujar dalam ketenangan. Tidak terburu-buru dan sangat lembut. Pada bunyi tik tok tik tok juga dentang bandul di tiap pergantian. 

Hingga ketika tersadar, kita sudah menua, dengan sedikit kerutan di lipatan dekat mata, dan perut membuncit, serta keluarga yang jarang berkumpul di meja makan. 

Sungguh hidup seperti itu sangat menyedihkan… 

Dengan tabah, ibu tertidur di kursi malas. Juga ayah menanti mengunci pagar.

Ketika anak pulang ke rumah. Tak bawa banyak tanda terima kasih hanya menambah tumpuk keluhan ke gudang. Penuh, sepenuh piring rendang yang tak tersentuh. 

Sungguh hidup seperti itu sangat menyedihkan… 

Dan bila baumu hanya tinggal mangkat. Peluh amarah asamu bagai sisa debu di ujung jemari tangan. Dan kau ingat masa mudamu tak penuh cinta,  hanya tekanan. 

Waktu menulis di balik jam-jam, hari-hari, tahun-tahun jarumnya. Meminta kata berujar dalam kebisingan. Karena setelahnya kamu bisu tanpa suara. Hanya tangis batin menjelma menggetar retak lantai surga. Ibu dan ayah menciduk airnya yang mengental. Berharap menambal lubang-lubang kasih sayang. 

Dan kawan, 

Sungguh mati seperti itu sangatlah menyedihkan… 

Natsu Yasumi (Pt. 1)

Pertengahan Agustus kemarin saya menjalani liburan singkat ke Osaka dan Kyoto, Jepang. Berhubung ini baru kedua kalinya saya ke luar negeri dan perjalanan pertama sudah 10 tahun yang lalu, jadi saya memang agak sedikit norak.

Liburan singkat ini terbilang dadakan. Baru direncanakan sekitar April 2016. Dengan nawaitu nonton Summersonic. Kebetulan ada tiket murah berkah travel fair. Saya dan teman-teman membeli tiket dulu, lalu melakukan pelunasan tiket dan tempat menginap, bikin visa/e-paspor, baru menabung untuk hidup selama di sana.

Saya bawa cash 40.000 yen atau sekitar Rp 5.200.000

Sebagai gambaran umum, total uang yang saya habiskan sedari April-Agustus untuk ke Jepang sekitar Rp 14.000.000.

Selasa, 16 Agustus 2016 saya masih ngantor dulu paginya, menyelesaikan beberapa printilan untuk liputan sekembalinya saya liburan. Sedih sih nggak bisa ikut tapping talkshow dengan Ibu Sinta Nuriyah Wahid (anw talkshownya bisa ditonton di sini). Saya naik penerbangan langsung Jakarta-Kansai dengan Garuda Indonesia pukul 23.15 WIB.

Karena beli di travel fair saya bisa dapat harga miring. PP Jakarta-Kansai-Jakarta hanya Rp 5.055.000 (ngepas banget sama sisaan duit di ATM setelah kerja hampir 8 bulan). Sebenarnya bisa dapat lebih murah sekitar 4jt atau 3.5jt, tapi ada jam-jamnya dan tergantung keberuntungan masing-masing asal tekad dan nawaitunya buat nunggu dan balik lagi besoknya.

Rabu, 17 Agustus 2016 tiba di Kansai pukul 08.15 WIB. Waktu di Osaka 2 jam lebih cepat dibanding Jakarta.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendatangi Tourist Information Center. Beli travel pass yang memudahkan akomodasi kita. Namun karena saya cuma mau muter-muter Osaka-Kyoto, kami langsung ke stasiun dan membeli kartu ICOCA. Karena hanya 5 hari di Jepang, jadi kartu hanya saya isi 1000 yen dan dikhususkan untuk transportasi. Dengan kartu sakti ini saya bisa keliling naik segala jenis kereta di Jepang kecuali Shinkansen. Beberapa bis juga bisa menggunakan kartu.

Hari pertama dihabiskan di Namba: Dotonbori, Shinshaibashi, Nipponbashi, OCAT. Ya bener-bener muterin Namba jalan kaki. Sebenarnya juga hari ini cuma mau dihabiskan untuk riset toko-tokonya dan foto-foto atau jajan takoyaki. Osaka terkenal dengan takoyaki dan okonomiyaki btw. Menghabiskan waktu sebelum waktunya check-in.

Biar mudah dalam bergerak, di setiap stasiun disediakan coin locker yang muat untuk koper dari ukuran small-large. Harganya kisaran 300-700 yen sesuai ukuran koper dan keberadaannya hampir di semua sudut kota. Hanya saja jangan terpaku untuk berlama-lama mencari coin locker. Sambil dibawa asik jalan aja, nanti ngabisin waktu.

Kansai ke Namba bisa ditempuh dengan kereta Nankai. Kira-kira 30-45 menit lamanya (ibarat Jatinegara-Kampung Bandan-Tanah Abang).

Biar gampang mobilisasi dengan kereta di Jepang, kami pakai jasa website Hyperdia. Jalur dan jenis kereta yang super banyak dan ruwet bisa diatasi dengan mudah. Cukup dengan memasukan nama stasiun keberangkatan dan tujuan kita.

Dengan suhu 35 derajat celcius, emang rasanya panas banget. Dan kami sama-sama belum tahu kalau semua bisa ditempuh dari bawah tanah di Namba. Bahkan banyak toko dan restoran yang bisa kita datangin. Makan siang kami lakukan di restoran sekitaran Namba Walk. Ya dalamnya ada yang mirip mall, ada yang level ITC saja. Tapi sayang kalau hari pertama nggak dimanfaatin buat lihat-lihat suasana jalanan. Jadi makan malamnya ya Yoshinoya (entah mengapa rasanya beda banget sama di Jakarta. cabe bubuknya enak banget hahaha)

Harga makanan di Namba agak mirip dengan restoran di Jakarta. Kita bisa ketemu makanan harga 100-500 yen macam onigiri atau bento di conbini (Family Mart, 7/11, Lawson). Atau makanan restoran seharga 500-1500 yen. Minumnya ocha ajalah yang gratis dan refill ibarat teh tawar di warteg.

Kami akhirnya pulang ke penginapan sekitar pukul 9 malam.

Dari jam 8, sudah banyak toko yang tutup di Namba. Dan peak ramainya stasiun sampai kira-kira jam 10-an.

Penginapan kami terletak di Shuntokumichi, Higashiosaka-shi. Kami pesan rumah dengan 3 kamar via AirBnb dan dapat tempat yang super memuaskan. Biaya dibagi berenam. Per orang untuk 4 malam hanya mengeluarkan Rp 1.200.000. Arigatou Akira-san!

Penting! Kawasan pemukiman cenderung sepi dan tenang. Meski banyak orang yang pulang ke rumah masing-masing di waktu malam, tapi ada baiknya kita tidak berbicara terlalu keras, tertawa-tawa, atau berbuat bising. Menghormati orang yang sudah berada di dalam rumah untuk beristirahat sangat penting.

Segitu dulu ya… Kapan-kapan saya lanjutkan lagi! Masih ada 4 hari lagi. Kerjaan masih numpuk.

Napas

Aku mendengar napasmu
Pelan teratur
Terhentak di akhir
Dengus membentur
Dinding-dinding pikiranmu
Dan kerak-kerak batinku

Bilamana kamu lebih baik
Aku lebih baik
Kita beri rusa makan sekali lagi
—————————————–
kamu cepat sembuh