Mari ke Taman

#YOIPlayDate (14/4) di Taman Cattleya. Piknik imprint YOI Books biar santai sedikit setelah capek kerja di kantor.

Terlepas dari gayaku yang emang alay, menghabiskan waktu di taman adalah salah satu weekly goal yang jarang banget kesampaian di hidupku. Dulu, karena sering pas liputan diminta cari voxpop, aku sering ke taman buat cari narasumber. Selain itu, hampir nggak pernah aku ke taman, susah banget ngajak teman ke sana.

Namun akhirnya kemarin, aku kembali ke taman. Merasakan semilir hembusan angin sambil tidur-tiduran di bawah pohon; bicara soal rahasia-rahasia dengan teman-teman yang cukup dekat; melihat langit biru sampai awan berarak hilang dan menggelap; mendengar anak-anak tertawa hanya karena nyaris tercebur ke kolam; melihat sekelompok ibu-ibu senam sore dengan riang; menertawai sejoli yang diam-diam berpegangan tangan di sisi yang agak sepi. Aku merasa bersemangat dan dipenuhi inspirasi. Taman begitu hidup. Dia menjadi salah satu pembuluh kota besar yang ada untuk tujuan yang baik.

Kalau kamu anak kota sepertiku, kamu pasti paham bahwa hidup di kota sangat bising. Kota terus bergerak dan selalu saja tergesa. Aku merasa sesak, aku yakin kamu juga. Namun kita memaksa diri kita bertahan, pura-pura mencintainya, atau berusaha mencari blessing in disguise di tiap sudutnya.

Setiap aku berangkat kerja, aku lebih memilih berdiri hanya agar bisa melihat Taman Suropati dari jendela bus. Aku suka membayangkan menghabiskan waktu membaca buku atau menulis di sana. Waktu untuk memberikan diriku energi.

Dorongan itu makin terasa belakangan ini. Aku sampai menandai kalenderku, di hari mana saja kira-kira aku bisa cuti dan menghabiskan waktu seharian di taman.

Mungkin taman adalah blessing in disguise di belantara kota ini. Dan aku sebagai anak kota, merindukan sesuatu yang baik dan perlahan.

Advertisements

Quarter Life

Nasihat yang paling sering gue dengar belakangan ini adalah, “Tetapkan impianmu dan carilah mentor untuk membimbingmu.”

Dan percayalah, sudah susah-susah menentukan impian (tujuan hidup, pencapaian, atau apa pun itu), mendapatkan mentor juga tak sesederhana ngevote oshi di sousenkyo memilih tutor di Ruangguru. Tidak semua orang merasa dirinya mentor material yang dengan percaya diri mendedikasikan dirinya membimbing seseorang dari 0. Mencurahkan segala pengetahuan dan keterampilannya kepada si mentee dan membantunya berkembang. Mengorbankan waktu dan tenaga. Tak jarang juga, untuk mendapat mentor, seseorang harus mengeluarkan uang (banyak, I’m not gonna mention anyone).

Gue punya pengalaman tersendiri soal eksekusi nasihat ini. Walaupun enggak begitu menginspirasi, tapi gue pengen cerita saja sebelum lupa gue pernah muda dan optimistis.

Pertama, menentukan impian. Sampai sekarang gue masih bingung kalau harus menjelaskan ini. Karena gue mengimpikan banyak hal dari kecil, tapi sayangnya tidak semuanya solid. Dari mulai jadi penulis, jurnalis, membuat perubahan revolusioner di industri media, dll. Bullshit! I stop dreaming and start doing the exact thing.

Pada akhirnya yang bisa gue percaya adalah emang ga ada impian yang solid. Yang ada adalah perjalanan menemukan impian itu. Long haul. Gue jadi jurnalis, terus jadi editor, dan disela-sela gue masih tetap menulis, sebenarnya perjalanan itu mengajarkan gue banyak hal.

Yes, living a dream is a series of struggle.

Impian itu sesuatu yang kita pupuk. Jadi jurnalis, jadi editor, jadi penulis, bahkan sekarang gue sering jadi MC & moderator, atau nanti kuliah di luar negeri, kerja di perusahaan ternama, apa pun itu cuma benihnya. Kalau gue tetap melakukan hal sebaik-baiknya, bertumbuh di dalamnya, gue akan jadi sebuah pohon kuat dan solid. Mungkin itu yang disebut have a significant role, atau jadi orang, atau sukses. Makanya, walau bisa dibilang gue berhenti jadi jurnalis karena it wasn’t work well, gue sih enggak sedih-sedih amat. Keterampilannya enggak sia-sia, malah jadi added value untuk bidang lain. Teman-teman nyebutnya, gue ‘lulus’ bukan DO hahaha.

Di titik ini, gue cukup senang karena gue menemukan pekerjaan, hobi, dan kegiatan yang membuat gue ingin terus melakukan yang terbaik, bertumbuh, dan punya harapan.

Kedua, menemukan mentor. Jangankan buat orang yang sudah menentukan impiannya, bagi orang yang belum nemu impiannya apa lagi, mentor itu sangat penting. Karena dalam hidup, banyak pertanyaan mengawang di benak kita, punya seseorang yang membimbing kita menemukan jawabannya akan sangat membantu.

Sebenarnya bisa banyak caranya untuk menemukan mentor. Cara yang orang-orang anggap paling mudah adalah memanfaatkan jaringan yang sudah dibentuk sejak kuliah. Makanya, wajar banget kalau melihat anak kuliahan tuh sibuk organisasi dan magang atau ikut komunitas sana-sini. Wajar banget juga melihat anak-anak kuliahan yang nempelin senior, dosen, hingga ikut proyekan biar bisa dikenalin sama tokoh masyarakat.

Namun bagi saya, cara paling realistis adalah masuk ke industrinya dan kerja sama orang. Mentor saya adalah bos saya. Akan tetapi, enggak semua bos juga errr gimana ya nyebutnya mentor material. Balik lagi, enggak ada manusia yang sempurna, enggak semua orang willing jadi mentor.

Gue pernah meng-add Facebook dan nge-chat cerpenis idola gue yang juga seorang scriptwriter andal. Beliau menanggapi dengan baik pesan gue, tapi menolak jadi mentor. Merasa kurang percaya diri untuk mendidik. Beliau menyarankan untuk ikut sekolah-sekolah informal. Namun, yang saya cari bukan lagi sekadar ilmu, melainkan juga pembimbingan.

Sulit kan?

Gue enggak punya senior yang benar-benar bisa gue jadikan tempat berguru. Apa yang mereka tunjukkan bukanlah yang gue cari. Ya dan kebanyakan umur kami enggak berbeda jauh, mereka juga masih cari jati diri.

Akhirnya, kerja pada orang tetaplah jadi pilihan terbaik. Gue harus cari tempat itu. Baiknya Tuhan, gue dikasih jawaban sangat cepat.

Saat ini, gue masuk ke tempat yang siapa pun bisa jadi mentor gue. Tuhan kayak kasih gue banyak opsi. Mau belajar X, bisa sama A. Belajar Y, bisa sama B. Enggak jarang beliau-beliau yang berinisiatif memberikan gue pembelajaran dan bimbingan.

Gue makin percaya bahwa jodoh enggak lari ke mana….

Ketiga, expand the playground. Yang satu ini adalah salah satu nasihat dari senior yang gue anggap mentor di kantor. Beliau bilang, “Tempat di mana kamu merasa tumbuh adalah tempat terbaik untuk membangun playground-mu. Kamu bisa bertahan di sana atau malah memperluasnya.”

Gue selalu beranggapan bahwa gue harus fokus ke satu hal yang mau gue kejar. Gue lupa ya kalau sebagai manusia, Tuhan tuh kasih kita banyak talenta. Seakan ada nubuat non-verbal yang mengisyaratkan untuk berkreasilah dengan maksimal agar bisa bermanfaat seluas-luasnya.

Sempit banget ketika gue berpikir, gue sibuk kerja, maka gue enggak bisa nulis, enggak bisa bisnis, enggak bisa bantu orang. Padahal bukan kerjaan gue yang salah. Guenya aja yang enggak bisa mengatur waktu dengan baik.

Untuk menebus kecupuan gue dulu, sekarang gue enggak mau menyia-nyiakan sedetik pun waktu gue.

Sorry banget emang belum ada hasil nyatanya…. Ya baru setahun ini gue berusaha memperluas playground. Namun gue enggak akan berani nulis kayak gini, kalau realisasinya ga segera terwujud.

Lagi-lagi terima kasih buat lingkungan baru gue. Banyak orang di sini yang ngasih tunjuk jalan-jalan terbaik yang bisa gue lewati. Walau ya…. terlalu indie. But in this competitive world, even the smallest step is matter.

Keempat dan terakhir, hustling passionately. Dua setengah tahun terjun ke dunia kerja, gue menyimpulkan passion itu bukan tentang karier hahahaha. Passion adalah tentang pembawaan diri.

Buktinya yaaa… Gue mengira jurnalistik adalah passion gue, tapi kenyataannya ketika gue benar-benar menjalaninya passionately, gue malah kehilangan diri gue sendiri. Jadi buat apa?

Namun yang salah bukan passion gue. Passion itu baik. Karena harusnya passion itu ada ketika kita menjalani kegiatan apa pun. Kalau bagi gue, passion itu yang menggerakkan untuk melakukan yang terbaik, minimal buat diri sendiri. Jadi di dalam playground, mustahil gue bisa memainkan wahananya kalau enggak ada passion di dalamnya. Mustahil gue bisa mencapai sesuatu kalau bukan karena passion.

Beberapa orang bilang, passion harus dicari. Enggak, passion itu udah ada di dalam diri, yang perlu dicari tahu adalah ke mana nyalurinnya. Cause we’re the subject. We’re hustling everyday.

Nah, empat hal tersebut yang gue maknai dalam perjalanan menuju umur gue 25 tahun Agustus nanti. Wkwkwk makasih ya udah baca curhatan orang yang baru recover dari quarter life crisis.

2017

Ini tahun yang asik bagi gue pribadi. Namun juga tahun di mana gue sadar, gue enggak puas sama kualitas seseorang dalam bermasyarakat sehingga gue fokus untuk enggak jadi orang kayak mereka. Sayangnya, itu membuat gue dinilai apatis sama beberapa orang. Well, gue cuma mau hidup tenang dan bikin orang lain juga tenang.

Akhirnya ada sebuah tahun yang gue enggak bikin banyak resolusi. Gue cuma punya dua! Resign dan cari kerjaan baru, itu pun langsung gue wujudkan di awal tahun. Untuk pertama kalinya, gue merasakan yang namanya jadi pengangguran terbuka beberapa bulan. Ternyata seperti ada berkilo-kilo beban terangkat, walau semu. Di saat uang tabungan gue mulai kepakai 20% dan gue belum nemu solusi untuk mendatangkan income (karena cara-cara yang gue pakai tak bekerja dengan baik dan guenya emang kurang usaha lebih keras), akhirnya terasa juga jenuhnya jadi pengangguran.

Alhamdulillah, di bulan Mei gue mulai kerja lagi. Bukan jurnalis, gue sekarang editor buku nonfiksi di penerbit Elex Media. Bidang yang benar-benar baru bagi gue. Gue cuma modal EYD, kosa kata di KBBI, kemampuan linguistik sederhana yang dipelajari di masa kuliah jurnalistik, dan kecintaan akan buku. Namun, tidak butuh waktu lama untuk gue menyenangi industri ini. Di balik semua keabu-abuannya, rasanya senang membantu orang lain yang juga suka menulis mewujudkan karyanya. Terlebih gue dapat banyak asupan buku yang bikin tambah ‘kaya pengetahuan’ juga punya kesempatan meluaskan jaringan yang lebih intim dan intense dibanding ketika gue jadi jurnalis. Beberapa bulan di sini, gue merasa bertumbuh secara pribadi. God gave me more than I have ever hoped for. 

Nah sebenarnya selain resolusi ada hal yang bikin gue merasa 2017 itu tahun yang asik. Gue membangun rutinitas. Banyak orang enggak betah dengan aktivitas rutin, tapi bagi gue ini esensial untuk dibangun. Gue merasa hidup gue jadi lebih teratur, less stress, dan tentunya mendekatkan pada tujuan yang signifikan. I spent my time, money, and energy to things that matter.

Apa saja rutinitias yang gue bangun? 

– Jangan tidur setelah sholat subuh dan bangun sepagi mungkin walau tidak sholat. Rentang waktu sehari terasa lebih panjang karena melek lebih lama. 

– Meal Prep, belanja dan masak di akhir pekan. Menu sederhana saja, tapi gue jadi aware dengan keperluan domestik dan menghemat banyak pengeluaran. Di kantor pun jadi hemat energi, waktu yang biasa gue pakai ke kantin bisa gue alihkan untuk nyelesein kerjaan. 

– Nabung emas di Pegadaian untuk dana darurat. Hakikatnya dana darurat itu likuid, tapi karena sekarang tanggung jawab gue belum banyak, gue bagi dua saja emas dan likuid dengan porsi 80:20. Sebagai penyimpan nilai di masa depan, emas adalah pilihan yang oke dan terjangkau. Duit Rp10 ribu saja bisa dapat 0.02 gram, ya kan kalau uang jajanku sisa bisa berubah jadi aset produktif. 

– Baca buku dan nulis novel dalam perjalanan ke kantor. Yang namanya ngejalanin hobi itu pasti bikin senang dan naikin mood. Gue naik Transjakarta 2x karena harus transit dan ganti jalur. Jadi, dalam perjalanan pertama biasanya gue baca buku. Lalu setelah transit, gue lanjut nulis novel di notes HP. Cara kayak gini emang terasa lambat banget, tapi namanya juga curi-curi waktu untuk buat progress. Di salah satu surat cinta Gery ketika kami SMA, ada nasihat, “Waktu paling jauh itu, satu detik yang lalu.” It’s impossible to turn back time, but we could always make time. 

– Sarapan. Perut kenyang, pikiran fokus. 

Kata almanak, shio gue ciong tahun ini. Namun, gue merasa Allah kasih banyak rezeki dan berkah di hidup gue yang sebenarnya segini-gini saja. Setiap hari, gue selalu merasa bersyukur dan lebih bahagia karena bukan berharap-harap sesuatu, tapi gue melakukan sesuatu yang membuahkan hasil. 

But it was not always sunshine… Ada juga sedihnya. Gue kehilangan oma dan eyang kakung dalam waktu yang berdekatan. Namun di sisi lain, kesedihan itu mengajarkan gue arti penting memaafkan dan hadir untuk satu sama lain di keluarga. Gue beruntung bukan hidup di keluarga penuntut, gue hidup di keluarga yang saling menerima dan berusaha bahagia, fokus kepada hidup nyata di hadapan mereka. So it was a rainbow… To be present and be real.
Semoga di tahun depan, gue bisa lebih manusiawi dan melakukan banyak hal baik. 

Dodi

Saya bisa bertemu Dodi Prananda adalah rencana Tuhan yang unik. Bagaimana saya yang sangat Jakartasentris ini bisa berteman dengan orang di luar lingkaran saya adalah sebuah anugerah. Saya tidak pernah berpikir akan punya teman seluas ini. Di antara hamparan keluasan anugerah itu, Dodi jadi salah satu pohon besar berakar kuat dengan dahan dan ranting bercabang-cabang yang rimbun.

Persahabatan kami juga terbilang unik. Menandingi Dodi adalah ego terbesar saya. Namun ada satu momen dalam hidup saya yang menjadi titik balik dalam hubungan ini. Momen itu adalah saat Dodi meminta saya menjadi ‘salah satu dari tiga tungku’. Walau setelah itu, saya tidak serta merta menganggapnya sahabat, dia membuat saya belajar menghargai orang lain. 

Jika diingat pacar saya dulu sering sekali menasihati saya, “Coba deh kamu dengarkan Dodi dulu. Jangan marah-marah terus.” Akhirnya saya mulai mencoba mendengarkan dan memahami Dodi. Butuh waktu lama sampai akhirnya saya merasa Dodi adalah sosok yang perlu ada di hidup saya. 
Sepanjang saya mengenalnya, Dodi adalah pribadi pemaaf. Dia memandang hidup dari sudut pandang yang positif. Segala hal dilakukannya demi keluarga. Jika Dodi ingin melakukan sesuatu, dia akan berpikir dengan saksama; mengukur kesempatan dan risiko. Terkadang tidak jadi dieksekusi, tapi kalau sudah berani,  maka dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan presisi. Dia juga rajin mengintrospeksi diri. Dodi yang saya kenal sekarang adalah hasil metamorfosis pola pikir, olah rasa, dan etos kerja. 

Saat ini, kami tidak hanya menjadi karib. Dalam jalan takdir yang juga unik, saya sekarang berperan sebagi editor untuk buku non fiksi pertamanya. Setelah bertahun-tahun menjadi teman sekelas, bekerja satu organisasi, menjadi jurnalis di stasiun TV yang sama dan mengerjakan program yang sama, akhirnya kami dipersatukan untuk mewujudkan impian yang sama. 

Pada hari ulang tahunnya yang ke-24 ini saya tak ingin dia merasa tua seperti keluhannya. Dodi justru sedang terlahir kembali karena kini dia jauh lebih sehat, lebih bersemangat mencoba hal baru, bertambah kawannya, semakin luas pandangannya, dan dilingkupi oleh cinta-cinta dari sekitarnya. 

Selamat ulang tahun. Terima kasih, Sahabat. 

Kesakitan

Riek tertidur dengan napas teratur. Setelah berminggu merintih dan meringis, sejenak ia bisa beristirahat dengan normal.

Anak keenamnya berdiri di tepian tempat tidur menggenggam tangan berkata, “Lepaskan… Lepaskan….”

Kedua cucunya yang lama ia besarkan, hanya menatap tanpa banyak kata. Yang satu berpikir tentang kemungkinan ia melihat napas terakhir. Yang satunya lagi ingin menyampaikan kabar gembira, namun dia tak tahu apa itu saja cukup menyembuhkan.

Jika Riek terjaga, ia akan lebih sering mengulang cerita. Akan tetapi, lebih sering ia berkata, “Ampuni aku, Tuhan.” Seperti rasa sakitnya adalah penebusan dosa.

Namun sekali lagi, syukurlah kali ini, ia tertidur dengan napas teratur.

Jika Riek tak sengaja membuka sebelah matanya, ia akan mulai bertanya, “Sudah pukul berapa sekarang?” Maka keluarganya menjawab. Setelah itu, dia akan menanggapi dengan seragam, “Masih lama ya ternyata….” Seakan menunggu jemputan di teras rumah seperti yang biasa dilakukannya.

Namun sekali lagi, syukurlah kali ini, ia tertidur dengan napas teratur.

Dalam tubuh yang telah 86 tahun menampung sedih dan senangnya dunia, ia telah berkelana dari gunung ke gunung. Ia melindungi nyawa-nyawa kecil yang telah lebih dulu berangkat ke rumah Bapa. Ia menanggung kisah, dendam, dan cinta. Ia pun membesarkan nyawa-nyawa kecil yang sekarang menjadi jiwa-jiwa besar.

Ia ingin larung bersama laut dan angin. Ia ingin memaafkan dan dimaafkan. Ia ingin berangkat. Ia ingin tak merasakan sakit lagi…

Salah satu cucunya mengelus keriput-keriput di sela-sela jari Riek. Gadis itu punya cukup waktu akhirnya. Seminggu ini telah mendesak di pikirannya untuk bertemu omanya. Tidak ada yang lebih penting dari menghabiskan waktunya di sini, saat ini.

Cucunya merasakan sakit itu. Sakit di balik aorta, usus, serambi jantung, dan pelupuk mata. Sakit yang bernama kesedihan. Dia pun menyadari betapa ‘hidup’ dirinya dan ingin sekali dia melimpahkan hidup itu untuk memperpanjang usia omanya.

Akan tetapi Nak, menjadi hidup adalah menjalani sakit.

Sakit adalah rasa paling nyata dan paling mudah disadari. Sakit adalah peneguran. Sakit adalah penghabisan. Sakit adalah hal yang harusnya kita syukuri.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak cucunya yang lain, Riek kerap mengingatkan untuk tak bertikai, untuk mengosongkan rumahnya dan memenuhi rumah masing-masing dengan kenangan manis, untuk menjalani hidup sebaik-baiknya.

Akan tetapi Riek, menjadi hidup adalah menjalani sakit…. Sakit…. Sakit yang berkepanjangan yang mungkin seperti yang engkau panggul berpuluh-puluh dekade. Bagi tubuh kecil cucu dan cicit-cicitmu rasa sakit terlalu mengerikan.

Ah tetapi, itu kan artinya engkau menunjukkannya pada mereka saat ini. Agar mereka punya jiwa cukup besar dan hati cukup luas untuk menampungnya.

Riek mengangguk, bernapas teratur, mata terpejam, dan tangan melemas.

***

Riek berangkat ke rumah Bapa, beberapa hari kemudian. Ia tak lagi bernapas teratur, bertanya tentang waktu, memohon ampun, dan berusaha tertidur nyenyak. Waktu telah berjalan begitu lama untuknya dan dalam beberapa detik saja, ia bisa melepaskan jiwanya.

Tak ada keluarga yang melihat. Tak ada.

Ketenangan baginya. Membiarkan sakitnya terbang bersamanya. Membiarkan keluarganya menyimpan maknanya.


I learned that to live a life is to feel a pain. We could nurturing this pain. Learn to live within it and share the remedy.

To Oma Riek, you always have ‘a special passage in my book’. Thank you for genuinely raising me with books, stories, macaroni schotel, and love. I love you…,

My Frederieka Elisabeth Esther Mamoedi-Pelenkahu (19 February 1931-26 July 2017)

Deconstruct

Hal ini dikatakan secara berantai. Dari dosen kepada mahasiswanya. Dari mahasiswa kepada kawan-kawannya. Bisa juga dari seorang kakak kepada adiknya.

Teman-teman saya harus melalui proses ini dalam pengerjaan skripsinya dan tesisnya. Beberapa mungkin dalam kegiatan penelitiannya.

Saya, ternyata melaluinya setiap hari dalam pekerjaan.

Sebagai editor buku, saya menerima naskah dari penulis. Ketika kita berhadapan dengan tulisan, lawan bicara kita melampaui basa-basi manusia. Kita bicara dengan gagasan, diskursus, atau paradigma. Saya belum tentu lebih pintar… Sudah pasti saya sering terpukau, kagum, menyetujui. Apakah mungkin proses penyuntingan terjadi dengan sikap seperti itu?

Dalam produksi buku, ada tahapan krusial yang bagi saya lebih sulit dibanding penyuntingan naskah yaitu Tahap Peninjauan. Dan ini adalah tahapan paling awal. Di sini, keputusan penting dibuat, luar dan dalam.

Di sini, saya akhirnya menyadari sebuah proses yang dinamakan ‘dekonstruksi’ atau ‘unlearning’ di mana kita melepaskan segala pemahaman, asumsi, dan perasaan yang menurut kita benar untuk memberi jarak dan melihat dengan sudut pandang dan perasaan yang berbeda. Itu mungkin yang membuat saya bisa meninjau naskah lebih dari satu kali. Membacanya minggu ini, mendiamkan lalu membacanya seminggu kemudian.

Saya ‘meruntuhkan’ bangunan utuh dan kokoh yang tadinya saya percayai agar bisa melihat setiap kepingan secara perlahan. Dengan begitu, bagian yang perlu dipertajam, ditambahkan, atau malah dikurangi nampak lebih jelas.

Menyadari ini membuat saya memahami bahwa mungkin ada masanya dalam hidup kita mendekonstruksi makna. Manusia tentu punya kesalahan bahkan orang terbaik, terpintar, terhebat sekali pun. Namun, sering kali alpa. Luput. Khilaf.

Dekonstruksi membantu kita tumbuh dan melihat apa yang kita tak hiraukan. Menyadari sebuah kesalahan, kesesatan pemikiran, dan menerima kenyataan yang tak berjalan dengan baik. Proses ini menyedihkan dan melelahkan. Namun, bagi saya, tanpa proses ini, saya mungkin sulit memaafkan diri sendiri dan bangkit. Mungkin tanpa proses ini… Saya akan menjadi terlalu angkuh untuk memahami mereka yang terdekat dan signifikan, yang membutuhkan, atau yang sesungguhnya benar.

Idul Fitri

Dulu sekali,  saya kira Idul Fitri dan Natal itu selalu berdekatan. Tahun 90an akhir sepertinya memang jatuh di bulan Desember, sampai saya pikir perayaan tidak pernah ada habisnya. Saya juga masih ingat, ditawari makan malam karena saya malu di acara Natalan keluarga, saya jawab “Inta masih puasa.” Lantas saya diketawai saudara-saudaralah. Dikira lucu. (untungnya! Karena kalau sudah besar, pasti dikira bodoh) 

Nah bagi saya, perayaan keagamaan adalah tentang liburan, kumpul keluarga, dan makan enak. Saya tak kenal tuh salam tempel. Yang menerima selalu ibu saya dan langsung dimasukan tabungan. Sehingga saya tidak pernah anggap perayaan adalah tentang mengepul rezeki berkali-kali lipat tanpa harus kerja lebih keras. 

Semakin besar, saya semakin merenungi banyak hal. Betapa saat kecil hingga remaja saya selalu menanti Ramadhan seperti papa yang ingin makan rujak di siang bolong. Kamu tahu kan maksudnya? Seperti tubuh kekeringan dan butuh kesegaran.

Meskipun puasa bolong-bolong, saya selalu ingin bangun sahur, menahan-nahan tak makan, menahan bohong, menahan ngejahilin teman, menahan bergosip. Rasanya senang ketika maghrib tiba, saya bisa berkata, “Wah aku berhasil!” Kamu tahu, mungkin itu seperti sekarang kita bisa sabar menunggu orang keluar kereta dahulu sebelum kita masuk dan mencari tempat duduk dengan tertib. Kamu senang karena merasa telah berbuat yang benar. 

Namun,  belakangan saya meragukan kemenangan itu. Meskipun puasa saya full di 2 tahun Ramadhan ini, saya tidak merasa menang. Yang saya dapat hanya lapar dan haus saja. Sepertinya saya hanya senang karena puasa berakhir. “Wah akhirnya bisa bablas tidur sampai subuh lagi. Wah bisa ngemil pas lagi bosen kerja. Wah ga perlu ngerasa sedih gabisa tarawih. Wah akhirnya berakhir sudah momen konsumtif bernama bukber yang bikin pulang malam terus.” dan wah wah wah yang lainnya… 

Karena saya pun ga pernah mengharapkan THR segitunya, jadi saya makin merasa biasa saja… 

Mungkin itu yang dinamakan kurang ikhlas. 

Hmmm, pagi ini sembari jalan pulang setelah shalat Ied, saya berpikir saya sudah menjadi orang biasa kebanyakan. Dan saya benci jadi orang biasa. Saya merasa sedih dan malu di hadapan Allah… Kamu tahu? Iman mulai dari pikiran? Saya justru merasa kalah. Saya tak tahu apa yang Allah rasakan pada umat-Nya yang satu ini. 

Dan seharusnya tak perlu menunggu Ramadhan, tak perlu menunggu hilal dan Lebaran, segala hal yang dulu saya jalani dengan murni dan penuh kesenangan serta kemenangan atas ego itu, bisa saya jalani setiap hari. YA SETIAP HARI! 

Sungguh hamba memohon ampun lahir dan batin…