2017

Ini tahun yang asik bagi gue pribadi. Namun juga tahun di mana gue sadar, gue enggak puas sama kualitas seseorang dalam bermasyarakat sehingga gue fokus untuk enggak jadi orang kayak mereka. Sayangnya, itu membuat gue dinilai apatis sama beberapa orang. Well, gue cuma mau hidup tenang dan bikin orang lain juga tenang.

Akhirnya ada sebuah tahun yang gue enggak bikin banyak resolusi. Gue cuma punya dua! Resign dan cari kerjaan baru, itu pun langsung gue wujudkan di awal tahun. Untuk pertama kalinya, gue merasakan yang namanya jadi pengangguran terbuka beberapa bulan. Ternyata seperti ada berkilo-kilo beban terangkat, walau semu. Di saat uang tabungan gue mulai kepakai 20% dan gue belum nemu solusi untuk mendatangkan income (karena cara-cara yang gue pakai tak bekerja dengan baik dan guenya emang kurang usaha lebih keras), akhirnya terasa juga jenuhnya jadi pengangguran.

Alhamdulillah, di bulan Mei gue mulai kerja lagi. Bukan jurnalis, gue sekarang editor buku nonfiksi di penerbit Elex Media. Bidang yang benar-benar baru bagi gue. Gue cuma modal EYD, kosa kata di KBBI, kemampuan linguistik sederhana yang dipelajari di masa kuliah jurnalistik, dan kecintaan akan buku. Namun, tidak butuh waktu lama untuk gue menyenangi industri ini. Di balik semua keabu-abuannya, rasanya senang membantu orang lain yang juga suka menulis mewujudkan karyanya. Terlebih gue dapat banyak asupan buku yang bikin tambah ‘kaya pengetahuan’ juga punya kesempatan meluaskan jaringan yang lebih intim dan intense dibanding ketika gue jadi jurnalis. Beberapa bulan di sini, gue merasa bertumbuh secara pribadi. God gave me more than I have ever hoped for. 

Nah sebenarnya selain resolusi ada hal yang bikin gue merasa 2017 itu tahun yang asik. Gue membangun rutinitas. Banyak orang enggak betah dengan aktivitas rutin, tapi bagi gue ini esensial untuk dibangun. Gue merasa hidup gue jadi lebih teratur, less stress, dan tentunya mendekatkan pada tujuan yang signifikan. I spent my time, money, and energy to things that matter.

Apa saja rutinitias yang gue bangun? 

– Jangan tidur setelah sholat subuh dan bangun sepagi mungkin walau tidak sholat. Rentang waktu sehari terasa lebih panjang karena melek lebih lama. 

– Meal Prep, belanja dan masak di akhir pekan. Menu sederhana saja, tapi gue jadi aware dengan keperluan domestik dan menghemat banyak pengeluaran. Di kantor pun jadi hemat energi, waktu yang biasa gue pakai ke kantin bisa gue alihkan untuk nyelesein kerjaan. 

– Nabung emas di Pegadaian untuk dana darurat. Hakikatnya dana darurat itu likuid, tapi karena sekarang tanggung jawab gue belum banyak, gue bagi dua saja emas dan likuid dengan porsi 80:20. Sebagai penyimpan nilai di masa depan, emas adalah pilihan yang oke dan terjangkau. Duit Rp10 ribu saja bisa dapat 0.02 gram, ya kan kalau uang jajanku sisa bisa berubah jadi aset produktif. 

– Baca buku dan nulis novel dalam perjalanan ke kantor. Yang namanya ngejalanin hobi itu pasti bikin senang dan naikin mood. Gue naik Transjakarta 2x karena harus transit dan ganti jalur. Jadi, dalam perjalanan pertama biasanya gue baca buku. Lalu setelah transit, gue lanjut nulis novel di notes HP. Cara kayak gini emang terasa lambat banget, tapi namanya juga curi-curi waktu untuk buat progress. Di salah satu surat cinta Gery ketika kami SMA, ada nasihat, “Waktu paling jauh itu, satu detik yang lalu.” It’s impossible to turn back time, but we could always make time. 

– Sarapan. Perut kenyang, pikiran fokus. 

Kata almanak, shio gue ciong tahun ini. Namun, gue merasa Allah kasih banyak rezeki dan berkah di hidup gue yang sebenarnya segini-gini saja. Setiap hari, gue selalu merasa bersyukur dan lebih bahagia karena bukan berharap-harap sesuatu, tapi gue melakukan sesuatu yang membuahkan hasil. 

But it was not always sunshine… Ada juga sedihnya. Gue kehilangan oma dan eyang kakung dalam waktu yang berdekatan. Namun di sisi lain, kesedihan itu mengajarkan gue arti penting memaafkan dan hadir untuk satu sama lain di keluarga. Gue beruntung bukan hidup di keluarga penuntut, gue hidup di keluarga yang saling menerima dan berusaha bahagia, fokus kepada hidup nyata di hadapan mereka. So it was a rainbow… To be present and be real.
Semoga di tahun depan, gue bisa lebih manusiawi dan melakukan banyak hal baik. 

Advertisements