Kesakitan

Riek tertidur dengan napas teratur. Setelah berminggu merintih dan meringis, sejenak ia bisa beristirahat dengan normal.

Anak keenamnya berdiri di tepian tempat tidur menggenggam tangan berkata, “Lepaskan… Lepaskan….”

Kedua cucunya yang lama ia besarkan, hanya menatap tanpa banyak kata. Yang satu berpikir tentang kemungkinan ia melihat napas terakhir. Yang satunya lagi ingin menyampaikan kabar gembira, namun dia tak tahu apa itu saja cukup menyembuhkan.

Jika Riek terjaga, ia akan lebih sering mengulang cerita. Akan tetapi, lebih sering ia berkata, “Ampuni aku, Tuhan.” Seperti rasa sakitnya adalah penebusan dosa.

Namun sekali lagi, syukurlah kali ini, ia tertidur dengan napas teratur.

Jika Riek tak sengaja membuka sebelah matanya, ia akan mulai bertanya, “Sudah pukul berapa sekarang?” Maka keluarganya menjawab. Setelah itu, dia akan menanggapi dengan seragam, “Masih lama ya ternyata….” Seakan menunggu jemputan di teras rumah seperti yang biasa dilakukannya.

Namun sekali lagi, syukurlah kali ini, ia tertidur dengan napas teratur.

Dalam tubuh yang telah 86 tahun menampung sedih dan senangnya dunia, ia telah berkelana dari gunung ke gunung. Ia melindungi nyawa-nyawa kecil yang telah lebih dulu berangkat ke rumah Bapa. Ia menanggung kisah, dendam, dan cinta. Ia pun membesarkan nyawa-nyawa kecil yang sekarang menjadi jiwa-jiwa besar.

Ia ingin larung bersama laut dan angin. Ia ingin memaafkan dan dimaafkan. Ia ingin berangkat. Ia ingin tak merasakan sakit lagi…

Salah satu cucunya mengelus keriput-keriput di sela-sela jari Riek. Gadis itu punya cukup waktu akhirnya. Seminggu ini telah mendesak di pikirannya untuk bertemu omanya. Tidak ada yang lebih penting dari menghabiskan waktunya di sini, saat ini.

Cucunya merasakan sakit itu. Sakit di balik aorta, usus, serambi jantung, dan pelupuk mata. Sakit yang bernama kesedihan. Dia pun menyadari betapa ‘hidup’ dirinya dan ingin sekali dia melimpahkan hidup itu untuk memperpanjang usia omanya.

Akan tetapi Nak, menjadi hidup adalah menjalani sakit.

Sakit adalah rasa paling nyata dan paling mudah disadari. Sakit adalah peneguran. Sakit adalah penghabisan. Sakit adalah hal yang harusnya kita syukuri.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak cucunya yang lain, Riek kerap mengingatkan untuk tak bertikai, untuk mengosongkan rumahnya dan memenuhi rumah masing-masing dengan kenangan manis, untuk menjalani hidup sebaik-baiknya.

Akan tetapi Riek, menjadi hidup adalah menjalani sakit…. Sakit…. Sakit yang berkepanjangan yang mungkin seperti yang engkau panggul berpuluh-puluh dekade. Bagi tubuh kecil cucu dan cicit-cicitmu rasa sakit terlalu mengerikan.

Ah tetapi, itu kan artinya engkau menunjukkannya pada mereka saat ini. Agar mereka punya jiwa cukup besar dan hati cukup luas untuk menampungnya.

Riek mengangguk, bernapas teratur, mata terpejam, dan tangan melemas.

***

Riek berangkat ke rumah Bapa, beberapa hari kemudian. Ia tak lagi bernapas teratur, bertanya tentang waktu, memohon ampun, dan berusaha tertidur nyenyak. Waktu telah berjalan begitu lama untuknya dan dalam beberapa detik saja, ia bisa melepaskan jiwanya.

Tak ada keluarga yang melihat. Tak ada.

Ketenangan baginya. Membiarkan sakitnya terbang bersamanya. Membiarkan keluarganya menyimpan maknanya.


I learned that to live a life is to feel a pain. We could nurturing this pain. Learn to live within it and share the remedy.

To Oma Riek, you always have ‘a special passage in my book’. Thank you for genuinely raising me with books, stories, macaroni schotel, and love. I love you…,

My Frederieka Elisabeth Esther Mamoedi-Pelenkahu (19 February 1931-26 July 2017)

Advertisements