Deconstruct

Hal ini dikatakan secara berantai. Dari dosen kepada mahasiswanya. Dari mahasiswa kepada kawan-kawannya. Bisa juga dari seorang kakak kepada adiknya. 

Teman-teman saya harus melalui proses ini dalam pengerjaan skripsinya dan tesisnya. Beberapa mungkin dalam kegiatan penelitiannya. 

Saya, ternyata melaluinya setiap hari dalam pekerjaan. 

Sebagai editor buku, saya menerima naskah dari penulis. Ketika kita berhadapan dengan tulisan, lawan bicara kita melampaui basa-basi manusia. Kita bicara dengan gagasan, diskursus, atau paradigma. Saya belum tentu lebih pintar… Sudah pasti saya sering terpukau, kagum, menyetujui. Apakah mungkin proses penyuntingan terjadi dengan sikap seperti itu? 

Dalam produksi buku, ada tahapan krusial yang bagi saya lebih sulit dibanding penyuntingan naskah yaitu Tahap Peninjauan. Dan ini adalah tahapan paling awal. Di sini, keputusan penting dibuat, luar dan dalam. 

Di sini, saya akhirnya menyadari sebuah proses yang dinamakan ‘dekonstruksi’ atau ‘unlearning’ di mana kita melepaskan segala pemahaman, asumsi, dan perasaan yang menurut kita benar untuk memberi jarak dan melihat dengan sudut pandang dan perasaan yang berbeda. Itu mungkin yang membuat saya bisa meninjau naskah lebih dari satu kali. Membacanya minggu ini, mendiamkan lalu membacanya seminggu kemudian. 

Saya ‘meruntuhkan’ bangunan utuh dan kokoh yang tadinya saya percayai agar bisa melihat setiap kepingan secara perlahan. Dengan begitu, bagian yang perlu dipertajam, ditambahkan, atau malah dikurangi nampak lebih jelas. 

Menyadari ini membuat saya memahami bahwa mungkin ada masanya dalam hidup kita mendekonstruksi makna. Manusia tentu punya kesalahan bahkan orang terbaik, terpintar, terhebat sekalipun. Namun, seringkali alpa. Luput. Khilaf. 

Dekonstruksi membantu kita tumbuh dan melihat apa yang kita tak hiraukan. Menyadari sebuah kesalahan, kesesatan pemikiran, dan menerima kenyataan yang tak berjalan dengan baik. Proses ini menyedihkan dan melelahkan. Namun, bagi saya, tanpa proses ini, saya mungkin sulit memaafkan diri sendiri dan bangkit. Mungkin tanpa proses ini… Saya akan menjadi terlalu angkuh untuk memahami mereka yang terdekat dan signifikan, yang membutuhkan, atau yang sesungguhnya benar. 

Advertisements