Idul Fitri

Dulu sekali,  saya kira Idul Fitri dan Natal itu selalu berdekatan. Tahun 90an akhir sepertinya memang jatuh di bulan Desember, sampai saya pikir perayaan tidak pernah ada habisnya. Saya juga masih ingat, ditawari makan malam karena saya malu di acara Natalan keluarga, saya jawab “Inta masih puasa.” Lantas saya diketawai saudara-saudaralah. Dikira lucu. (untungnya! Karena kalau sudah besar, pasti dikira bodoh) 

Nah bagi saya, perayaan keagamaan adalah tentang liburan, kumpul keluarga, dan makan enak. Saya tak kenal tuh salam tempel. Yang menerima selalu ibu saya dan langsung dimasukan tabungan. Sehingga saya tidak pernah anggap perayaan adalah tentang mengepul rezeki berkali-kali lipat tanpa harus kerja lebih keras. 

Semakin besar, saya semakin merenungi banyak hal. Betapa saat kecil hingga remaja saya selalu menanti Ramadhan seperti papa yang ingin makan rujak di siang bolong. Kamu tahu kan maksudnya? Seperti tubuh kekeringan dan butuh kesegaran.

Meskipun puasa bolong-bolong, saya selalu ingin bangun sahur, menahan-nahan tak makan, menahan bohong, menahan ngejahilin teman, menahan bergosip. Rasanya senang ketika maghrib tiba, saya bisa berkata, “Wah aku berhasil!” Kamu tahu, mungkin itu seperti sekarang kita bisa sabar menunggu orang keluar kereta dahulu sebelum kita masuk dan mencari tempat duduk dengan tertib. Kamu senang karena merasa telah berbuat yang benar. 

Namun,  belakangan saya meragukan kemenangan itu. Meskipun puasa saya full di 2 tahun Ramadhan ini, saya tidak merasa menang. Yang saya dapat hanya lapar dan haus saja. Sepertinya saya hanya senang karena puasa berakhir. “Wah akhirnya bisa bablas tidur sampai subuh lagi. Wah bisa ngemil pas lagi bosen kerja. Wah ga perlu ngerasa sedih gabisa tarawih. Wah akhirnya berakhir sudah momen konsumtif bernama bukber yang bikin pulang malam terus.” dan wah wah wah yang lainnya… 

Karena saya pun ga pernah mengharapkan THR segitunya, jadi saya makin merasa biasa saja… 

Mungkin itu yang dinamakan kurang ikhlas. 

Hmmm, pagi ini sembari jalan pulang setelah shalat Ied, saya berpikir saya sudah menjadi orang biasa kebanyakan. Dan saya benci jadi orang biasa. Saya merasa sedih dan malu di hadapan Allah… Kamu tahu? Iman mulai dari pikiran? Saya justru merasa kalah. Saya tak tahu apa yang Allah rasakan pada umat-Nya yang satu ini. 

Dan seharusnya tak perlu menunggu Ramadhan, tak perlu menunggu hilal dan Lebaran, segala hal yang dulu saya jalani dengan murni dan penuh kesenangan serta kemenangan atas ego itu, bisa saya jalani setiap hari. YA SETIAP HARI! 

Sungguh hamba memohon ampun lahir dan batin… 

Langkah Pertama

Bicara soal karier, saya baru menapaki langkah kedua. Jika dulu saya menjuluki teman kost saya kutu loncat karena pindah-pindah kantor, maka saya lebih parah dari kutu loncat itu. Saya berubah profesi.

Saya hanya tahu sedikit tentang industri yang tengah saya geluti ini karena selama ini hanya menjadi konsumen. Bayangkan rasanya jadi raja, kemudian jadi pelayan.

Tapi saya raja yang senang datang ke dapur dan mencicipi tiap bumbu sebelum jadi resep masakan dan terhidang sebagai makanan matang. Well, belajar itu menyenangkan.

Namun sabar, kali ini, saya tidak akan bicara tentang langkah kedua.

***

Beberapa bulan lalu ketika saya sedang happy setelah resign, saya terlibat obrolan tentang karier dengan Bella (junior saya di kampus) yang baru lulus. Obrolan itu menyadarkan saya bahwa karier pertama punya dampak yang signifikan.

Passion Bella adalah jurnalisme. Mungkin kami sedikit sama, sejak sebelum masuk kuliah tahu apa yang harus dikejar dan dilakukan untuk sampai ke sana. Jejaknya juga hampir mirip; tahu dari awal ‘oh aku mau pilih peminatan Jurnalisme’, kayaknya harus nyoba nyemplung jadi panitia Journalight Pekom deh biar dapat banyak insight dan makin yakin, next jadi anggota pers mahasiswa hmm FISIPERS kalau gitu, waktunya magang dapat di NET, oke fixlah habis lulus gue akan jadi jurnalis.

Bella mendaftar ke banyak stasiun televisi dari mulai iNews, Kompas TV, NET TV, dan ‘mantan sekolah’ saya jawapostv. Sempat coba media online, Kumparan juga kalau nggak salah. Dari awal saya sudah bilang, panggilan tes buat dia itu bakalan ada terus. She’s smart, camera-face, skilled, experienced, able to work under-pressure, and so on. Dan benar, yang ada dia bingung mau ke mana…

Sebagai ehem… orang yang sudah melewati langkah pertama, saya bilang sama dia:

Lari ke rumah yang paling ingin kamu huni.

Alias, fokus ke prioritas utama. Akhirnya dia berhasil tembus MDP V NET TV sebagai Reporter (soon, we’ll see Nabilla Putri Fhatya on screen). Saya ikut juga lho dalam seleksi dan gagal. Well, setelah kepikiran resign kan saya masih mencari rezeki dengan coba pindah institusi, tetapi kayaknya jalan Allah memang beda sih.

Bella bikin saya merefleksi banyak hal. Saya minta dia hati-hati memilih karena saya sadar ini semua percobaan yang hasilnya bisa hit or miss. Karier pertama kita adalah realita. Waktu kita di sana akan menjadi jawaban apakah jalur yang kita pilih adalah yang paling tepat. Apa yang kita jalani, lalui, dan rasakan akan mempengaruhi jalan kita ke depannya.

Yang bagus adalah ketika karier pertama mengarahkan kita pada tujuan-tujuan baru yang lebih baik, membuka jalan dan jaringan pada kesempatan yang lebih luas, dan membuat lebih percaya diri.

Well, kita semua tahu ekspektasi nyaris tidak pernah sama dengan realita. And you will find it hard! I found it hard! I did my best, all of me. Till I said I’m broken.

Karier pertama akan menguji sebesar apa passion kita. Jika kamu bagus dalam pekerjaan, maka tantangannya jauh lebih sulit. MENTAL! Kamu mungkin ketemu kantor yang unstable, politik dan drama kantor yang nggak banget, atau janji-janji yang tidak terpenuhi. Saat itu, kamu akan diajak berpikir kembali soal kelurusan niat.

Ada orang yang kerja memang cuma ingin cuan. Jadi mau kayak gimana juga keadaannya kalau dia masih bisa ngehasilin cuan ya dia bisa menolerir hal yang tidak mengenakkan. Ada yang karena pengen belajar, jadi ketika tidak berkembang mereka akan pindah mencari tempat baru. Ada yang karena mengikuti gairahnya, ketika hal-hal tersebut membuatnya hilang gairah, dia mulai berpikir untuk pindah kantor atau malah ekstrimnya tertarik dengan profesi lain (oh ini saya hehehe).

Eh tunggu, itu juga kalau kamu sampai ke tempat yang memang kamu ingin tuju.

Kalau tidak? Saya bisa bilang, awal yang salah itu menyulitkan. Mau jadi X karena sangat takut nggak dapat kerja atau kalah dalam ‘kompetisi’ rela jadi A, B, C, D, dst. Pastikan itu bukan keputusan yang prematur dan sia-sia. Karena saat kita tersadar waktu kita terbuang untuk hal yang sia-sia, bisa jadi kita telah kehilangan momen. ITU MENYEDIHKAN! (humm, saya pernah merasakan kehilangan momen itu…)

Setelah proses yang akan draining self esteem, kita akan mulai berpikir soal langkah kedua. Biasanya pilihannya 3:

  • Niat gue lurus, it’s okay gue bisa menghadapi semua ini.
  • Gue cuma salah tempat saja, ayodah cari tempat baru
  • Kayaknya memang rezeki gue bukan di sini… Mari menata hidup baru

Apapun itu, akan membawa kita pada kedewasaan berpikir. Selalu jujur pada diri sendiri. Hit? Miss? Berhasil? Gagal? Oh saya nggak gengsi untuk mengakui langkah pertama saya mungkin gagal dan saya mematikan karier jurnalis saya sendiri dengan banting setir ke jalur lain.

Teman dekat saya waktu SMP bahkan sampai ada yang kaget. “Ta serius, itu kan mimpi lo!!! Kenapa lo lepas?” Percayalah sis, menjalani mimpi itu jauh lebih sulit daripada meraihnya. Mungkin saja kalau gue lebih hati-hati, jalan ceritanya berbeda. Walau sebenarnya, gue senang sih jalan hidup gue kayak gini. Feeling lost and depressed makes me grateful for everything. Somehow, it encourages me to be a better person. Kadang kita harus menghadapi kenyataan kalau kita kalah.

Tapi untuk Bella, dia baru memulai langkahnya. Saya sangat berharap dia menemukan dirinya dan semakin yakin menjadi jurnalis. Karena pada akhirnya ini adalah perjalanan untuk menemukan jati diri.

with bella

Akhir tahun 2015. Bella berhenti dari FISIPERS, saya sedang semangat-semangatnya jadi jurnalis. Cepat banget waktu berjalan!

Follow what excites you the most!

Kita akan tetap belajar. Di tempat terburuk sekalipun, memberikan usaha terbaik (walau kadang nyakitin) akan menghasilkan sesuatu yang baik juga kok. You won’t forget your first step. It showed passion, insecurity, naivete, growth, and maturity.