Menulis Tentang Kamu

Untuk G, 

Menulis tentang kamu adalah carita 1 dekade sebagai manusia. 

Tentang kamu yang dibicarakan orang-orang dan berusaha keras meresapnya hingga menjadi satu bagian darimu. Membuat mereka diam dan membutuhkanmu. Yang tersisa busanya masuk ke pembuangan bersama yang buruk-buruk. 

Tentang kamu yang yakin berhasil mencapai target utama di saat semua orang memprioritaskan belasan cadangan. Kamu selalu menunjukkan bahwa yang tersulit adalah yang paling penting untuk diselesaikan. Akhirnya benar begitu. 

Tentang kamu yang memesan nasi goreng sosis spesial dan es teh untuk makan siang dan masih punya sedikit sisa uang untuk membelikan kekasihnya yang pelit KFC Attack di sore hari sebelum berangkat bimbel. Berbagi jadi caramu menghargai hidup.

Tentang kamu yang kesal jika temanmu tak mau bergantian main game dengan temanmu yang sabar mengantri. Setiap orang tidak punya ‘kemewahan’ yang sama makanya tenggang rasa itu jadi dasar keadilan. 

Tentang kamu yang membolos les dan menyesal berhenti bermusik. Padahal memberi ruang diri kita mencoba hal lain juga adalah sebuah pembelajaran. Nah… Di masa depan yang ‘bukan hal lain’ itulah yang kemudian menjadi ‘hal lain’. Tak apa…, kamu sudah jujur pada dirimu. 

Tentang kamu dan 1001 trik membaca perempuan. Memang aset manusia itu pengalaman hidupnya. Aku rasa itu hal yang harusnya banyak perempuan syukuri jika memiliki pendamping yang seperti kamu. 

Tentang kamu yang berpiutang sebungkus rokok dengan kawan indekost dan bangga melihat si kawan kini mengalungkan berlian pada kekasih. Mensyukuri nikmat itu memang beragam caranya. 

Tentang kamu yang maju pertama dalam pidato ajakanku dan paling marah saat aku berniat berhenti kerja. Bagaimana kita saling menguatkan menghadapi titik terendah dalam hidup.

Tentang kamu yang pemaaf. Aku rasa tidak ada hati yang selapang itu untuk diisi rasa bercampur yang membikin mual. Dan kamu menelan itu kembali… Membuatku menangis nyaris membunuhmu. 

Terakhir, tentang kamu yang menangis… Karena selama hampir 1 dekade bersamamu. Aku tahu banyak tangismu yang hanya menjelma dari permintaan untuk aku memelukmu lebih erat, atau lidahmu yang memilih tak melempar kata kasar, atau ucapan “tapi itu kembali lagi padamu”, dan menungguku sedari tengah malam sampai bangun tidur berangkat kerja subuh-subuh di dalam mobil. 

Dan sebagai manusia kamu lengkap… Tulisanku punya akhir tentang hidup bersamamu menjadi lebih baik. 

thanks for growing up together

Petamburan

Dari atap Yayasan Nurani Insani. Tak jauh dari Sekretariat Front Pembela Islam, Petamburan III, Tanah Abang. Sebuah sekolah nonformal dan klinik gratis berdiri. Mimpi yang terealisasi setelah belasan tahun silam, Dedi Rosadi memulai pengajaran ke anak jalanan dan dhuafa di pinggir rel, kolong jembatan, dan bantaran kali.

Hari itu hari Rabu. Saya berbicara dengan seorang anak bernama Amanda. Dia masih 8 tahun dan jarang masuk sekolah. Seharusnya kami bertemu sehari sebelumnya, namun ya itu… Dia jarang masuk sekolah, ikut ibunya ngamen dari pagi. 

Ibunya hadir juga siang itu membawa si bungsu serta. Pagi tadi mereka tidak mengamen karena menunggu saya di sekolah. 

Pertanyaan saya singkat ke Amanda. 

Manda cita-citanya mau jadi apa? 

Murid kelas 3 SD itu menjawab dengan tersipu. 

Mau jadi artis, kepengen nyanyi. 

Lantas saya tanya lagi. 

Lebih senang sekolah atau ngamen? 

Dia jawab dua-duanya.

Kalau ngamen bisa nyanyi, bisa ketemu saudara terus main ke rumahnya. Kalau sekolah bisa bikin Manda cepat jadi artis. 

Entah dari mana konsepnya, tapi yang namanya anak kecil tidak begitu sadar setiap pilihan dalam hidupnya dan kebiasaannya memiliki dampak signifikan yang berbeda-beda. 

Karena Amanda berada di sekolah nonformal yang hampir seluruh siswanya adalah anak jalanan dan dhuafa, saya menemui banyak anak seperti Amanda. Lucunya mereka dengan senang hati mendeklarasikan ingin jadi artis. 

Kalau saya tanya:

Apa enaknya sih jadi artis? 

Mereka cuma jawab:

Bisa cantik kayak di Mermaid. Bisa hidup enak seperti Syahrini. 

Tapi ketika saya beritahu cara terbaik dan bergengsi untuk mencapai cita-cita mereka itu, mereka kebingungan lagi. Mereka nggak percaya hidup itu bukan tidur malam lalu besok akan berubah. Dan mereka nggak percaya ketika hampir semua orang dewasa di lingkungannya menyatakan hal demikian.

Saya menuliskan sebuah kertas arahan kepada Syifa dan Aliya, murid kelas 4 SD di Nurani Insani, Petamburan, Jakarta Pusat. Jika ingin jadi artis kamu harus sekolah terus karena nanti bisa ikut ajang xyz lah… Saya suruh mereka pajang itu di dinding kamarnya. Lalu Syifa dengan polosnya berkata:

Kak tapi aku nggak punya rumah. Aku taruh mana ya? 

Di situ saya terdiam. Dan yang saya sadar, setiap anak itu tidak bisa diberi tuntutan yang sama. Banyak hal di sekitar mereka jadi kendala yang kompleks. Seperti ternyata sekolah gratis tidak cukup menyelesaikan masalah akses pendidikan, atau memberi pengajaran yang sama dengan murid sekolah formal tidak cukup membantu mereka memperbaiki kualitas penalaran, atau PR ternyata tak mungkin dikerjakan di luar sekolah, lebih miris lagi ternyata tak semua orangtua senang anaknya sering-sering sekolah. 

Sekolah ini berusaha mengajarkan ke anak-anak didiknya bahwa hidup itu sebuah proses perjuangan tanpa henti. Apapun tingkatan akademiknya, nilai bagus atau nggak, nalar itu ditentukan dari kesadaran sosial dan sikap tanggung jawab. Nggak muluk. 

Tidak ada ikan di meja tanpa kail dan pancingan untuk menangkapnya. Bahkan terkadang butuh waktu lama hingga kail kita menarik perhatian si ikan. 

Walau pada akhirnya tak bisa memaksakan kehendak, perubahan itu munculnya dari diri sendiri ketika kita mau lebih mawas diri. 

Kembali pada Amanda dan ibunya. Di akhir sesi wawancara kami, sang ibu menangis. Hidup benar sebuah pertaruhan yang dia nggak tahu apa akan jadi lebih baik dengan semua pilihan yang dibuat. 

Sementara Syifa dan Aliya mereka hampir meninggalkan kertas itu begitu saja dan lebih menuntut saya menjawab bagaimana caranya main sinetron dari usia muda. Masih ngotot jadi artis dan sekolah itu bisa seimbang padahal kakak kelas mereka ada yang kedodoran sekolah dan ekonominya setelah jadi artis. Namun ketika saya mau pulang setelah seminggu saya datang ke sekolah mereka terus, Syifa dan Aliya memeluk saya dengan erat. 

Nanti aku taruh di buku sekolah saja ya. Kakak datang lagi ya, tulisin yang lain lagi. 

Di situ saya merasa hidup saya punya arti. Setidaknya saya punya tanggung jawab memberi mereka informasi yang baik. 

I’ll come back for sure 😆