Holy Journey

Juru kamera Aris Sandi mengabadikan fragmen perjalanan Hakam dan Rofi yang singgah di kota Depok, Jawa Barat. Bulan kedua Holy Journey.

Kemarin siang, kami berbincang dengan Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiyah yang tengah singgah di Jabodetabek selama Kementerian Sosial dan Kementerian Luar Negeri mengurus berkas terkait perjalanan mereka ke Timur Tengah dengan sepeda. Keduanya mengayuh sepedanya dari wilayah Bojongsari melewati Sawangan dan berakhir di Beji, Depok bersama kawan-kawan Komunitas Gober Depok. 
Bagi Hakam ini bukan perjalanan personal. Niatnya bukan sekedar menyentuh tanah suci, melainkan menyapa kawan, menyusuri jejak peradaban Islam, bertemu para pemuka, berdialog antar agama, dan mempromosikan perdamaian. Tanpa modal, selalu ada yang membantu sejak mereka berangkat dari Malang Desember lalu. Bahkan sepeda tandem pun gratis dari kawan di perusahaan sepeda. Mereka mengibaratkan diri sebagai raga dan setiap individu yang mendoakan, mendukung, dan membantu mereka sebagai ruh. Perjalanan menguji mental ini pun tak lagi jadi misi pribadi. Yang membuat saya kagum betapa keteguhan hati dan ketulusan membuka jalan dan menjernihkan pandangan menuju ridho Allah SWT. 

Saya hanya ingin menyampaikan Islam adalah agama keselamatan, agama damai. Dengan cara bersilahturahmi dengan orang-orang di luar agama saya, selain dengan tokoh agama saya sendiri. Islam bukan seperti meneriakan Allahuakbar, namun malah membawa kehancuran. Bagi saya, Allahuakbar adalah bentuk saya memuji Tuhan saya. Maka perjalanan ini bukan perjalanan personal, ada ruh umat di dalamnya. Ruh itu adalah mereka yang mendukung dengan doa dan ingin pesan ini tersampaikan hingga perjalanan ini berakhir. 

Setelah bersapa dengan Gus Mus, Khofifah Indar Parawansa, dan para pemimpin umat agama yang lain, keduanya akan berjumpa juga dengan Dalai Lama ketika melintas Nepal kemudian Tibet. Saya berharap semoga hijrah keduanya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. 

Advertisements

Ketika Tidur

Aku mendengar sayup hasutan di telinga kiri. Dia tertawa agak jauh dari telinga. Hanya gaungnya yang bias dengan gema membuat bertanya di koridor mana ia menyusup pada kepala.

Perlahan hasutan itu semakin kencang. Seperti teror mendekat pada nadir manusia ketakutan. Tubuhku kaku. Selimutku menggerayang hingga ke leher.

Mataku terkatup ketika tawa itu berubah jadi teriakan. Yang anehnya tiba-tiba melengking menjauh namun menyisakan sakit yang pekat pada areal dekat mata. Mata tak bisa kubuka. Aku gelagapan hanya dalam nafas yang menanti keluar dalam satu kali hembusan.

Ada apa? Ada apa?

Mana sempat bertanya. Yang kusadar ketika surat-surat doa perlahan berjalan dari buku-buku jariku ke ujung mimpiku, suara itu menghilang, dan tiba-tiba saja badanku lemas. Aku membuka mata. Tak lama adzan subuh mengudara.

Aku rasa sudah belasan kali hal tersebut kerap terjadi. Tapi kalau ada yang bilang aku ketindihan, sepertinya tidak se-ekstrim itu juga.

Setan kok isengnya kebangetan.

Rumah itu di Hati

How’s life in Jakarta?

Sabtu lalu, salah satu narasumber saya dari Belanda, Monica Stepak bertanya pada saya dalam sesi interview terbalik. Ia merekam saya dengan kamera ponselnya untuk daily vlog selama sebulan mengajar di Yayasan Nurani Insani, Petamburan, Jakarta Pusat.

Saya menjawab dengan kikik kekanakan, “It’s frustratin yet it is home.”  

Ketika saya melihat buku harian, minggu ini saya harus bicara tentang rumah. Sedari pagi saya berpikir kata-kata bagus apa yang menggambarkan rumah. Apa? Siapa?

Apakah saya harus berbicara tentang betapa ‘hidupnya’ tinggal di Jakarta? 

Entahlah…

Saya memiliki banyak ‘rumah’. Di sisi orangtua, di dalam kebersamaan dengan Gery, di pelukan guling yang sulit saya lepas ketika pagi datang, di kampus, di f(x) Sudirman yang pernah hampir setiap hari saya datangi beberapa tahun lalu, di semilir angin Matraman yang menyentuh kulit, dan di setiap sudut Menteng yang hanya bisa saya lewati.

Rumah bagi saya bukan sekedar kenyamanan. Rumah menggerakan saya untuk mengisinya dan menikmati setiap momen di dalamnya. Rumah membiarkan saya hidup dalam ruang yang paling kecil sekalipun. Dan rumah tak selalu berarti kepulangan. Rumah bisa jadi titik awal. 

Namun, segala persepsi serta makna yang saya beri pada sudut, ruang, dan kota… Itu berasal dari pikiran dan perasaan saya sendiri. Yang akhirnya membuat saya memahami dalam perjalanan untuk puluhan ribu kalinya sepanjang 23 tahun saya hidup, rumah itu adalah hati saya sendiri.

jawapostv

Belum banyak orang yang tahu, jawapostv itu ada. Mungkin selama ini gue disangka kerja di TV siluman kali ya (bisa iya, bisa engga tergantung lihatnya dari mana). Sebenarnya post ini didedikasikan buat tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 di TV ini.

Jawapostv merupakan televisi berjaringan milik Jawa Pos Group yang resmi bersiaran sejak 17 Agustus 2015. Berada pada frekuensi 60 UHF yang menjangkau wilayah Jabodetabek. Tapi buat nonton emang butuh effort sih, coba aja wkwkwk…

Untuk tayangan nasional pukul 06.00-08.00 WIB (Nusantara Kini Pagi) dan 22.00-23.30 WIB (Nusantara Kini Malam) sementara tayangan lokal pada pukul 08.00-22.00. Program nasional berformat news magazine ini disiarkan di televisi jaringan Jawa Pos Group lainnya yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi. Jadi kalau mendapati stasiun TV lokal seperti misalnya Riau TV, Pal TV, Pon TV, Nirwana TV,  JTV, dan Fajar TV itu sebagian kecil yang menyiarkan siaran kami pada jam di atas. Jawa Pos Group sendiri punya 200 media dalam naungannya yang menjadikan perusahaan media ini salah satu yang terbesar di Indonesia. Jawapostv juga bisa ditonton melalui live streaming lewat profile youtube jawapostv.

Gue bergabung sebagai reporter di sini sejak 30 Agustus 2015, 2 hari setelah wisuda. Sementara teman dekat gue dari kuliah, Dodi Prananda adalah angkatan pertama yang bergabung sejak penggodokan pra-siar, Februari 2015.

Nah, untuk lebih kenal, gue mau kasih tayangan-tayangan favorit gue sepanjang 2016 dari 3 program di jawapostv.

CARITA

Program dengan format feature yang tayang selama 30 menit dalam 4 segmen. Sebuah narasi dimensional tentang alam dan manusia. Ketiga tayangan di bawah ini punya kisah yang kuat, personal, dan lengkap. Berpihak pada yang berhak dan menggambarkan dampak yang nyata.

Kehidupan Pesisir Jakarta

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Rizal Machyudin | Camera Person: Dio Malau | Editor: Tri Widyastuti)

Terpenjara Janji Penyalur Kerja

(Produser: Rio Rizalino | Reporter: Novaeny Wulandari | Camera Person: Agus Sofyan | Editor: Khoirul)

Merawat Orangutan

(Produser: Rio Rizalino | Reporter : Vela Andapita | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Khoirul)

BICARA INDONESIA

Program current affair tentang profil tokoh yang redaksi anggap memiliki kontribusi dan wacana berpengaruh di Indonesia. Tiga tokoh ini yang paling berkesan buat saya. Mengangkat isu kuliner, pengembangan diri, dan kreativitas. Program ini juga membahas tokoh-tokoh di bidang olahraga, sosial, militer, agama, pendidikan, pertanian, seni, dan lain-lain. Jadi sempatkan untuk menengok dan siap-siap terinspirasi.

Episode Leonard Theosabrata

(Produser: Muhammad Sridipo | Reporter: Ikbal Rambe | Camera Person: Fachru Rozi | Editor: Yanti Bei)

Episode Sisca Soewitomo

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter: Risca Andalina | Reporter: Leovina Putri | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

Episode Yoris Sebastian

(Produser: Muhammad Sridipo | Presenter & Reporter: Vela Andapita | Camera Person: Lucky Devianto | Editor: Yanti Bei)

UNTUK PEREMPUAN

Juga sebuah program current affair yang mengangkat topik yang diperuntukan untuk penonton perempuan. Ditayangkan selama 30 menit dan terdiri dari 4 segmen berbentuk paket liputan dan talkshow. Karena gue yang berada di balik layar program ini, berikut tayangan yang paling berkesan dalam masa pembuatannya.

Talkshow Wulan Tilaar eps Citra Cantik Perempuan Indonesia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera person: Willy Andry & Anggi Prayosi | Editor: Ardiyanto Endan)

Episode Urban Farming

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Cahyani Dean | Reporter: Dianti Kurnianingrum & Aninta Mamoedi | Camera Person: Lucky Devianto & Fachru Rozi | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Polisi Wanita eps Hari Polwan

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Gunther Immerheiser | Editor: Ardiyanto Endan)

Sekolah Pantara eps Gangguan Belajar Disleksia

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Putri Nere | Reporter: Aninta Mamoedi | Camera Person: Willy Andry | Editor: Ardiyanto Endan)

Talkshow Sinta Nuriyah Wahid eps Perempuan Pembangun Bangsa

(Produser: Monique Rijkers | Presenter: Vela Andapita | Reporter: Dianti Kurnianingrum | Camera Person: Willy Andry & Lucky Devianto | Editor: Ardiyanto Endan)