2016

A very dynamic and inhuman year. 

Saya mengawali tahun ini dengan biasa saja. Sampai akhirnya saya dipercaya mengerjakan program Untuk Perempuan bersama Dianti di bulan Februari 2016. Perpindahan itu jadi pintu masuk saya untuk semangat berkarya. Saya sangat menghargai proses kreatif jurnalisme yang saya lalui di ‘kelas’ ini. Hampir setiap hari saya bertemu dengan perempuan inspiratif yang membuka mata saya pada dunia yang begitu banyak rupa. Pun saya hadir di banyak acara yang saya pikir tak akan pernah ingin saya datangi. Dan ternyata, sangat menyenangkan. Karena sering bekerja tanpa produser, di ‘kelas’ ini saya berlatih peka dan menerapkan self-critic. Filosofi ‘1 hari 1 hal baru’ membuat saya termotivasi untuk berkarya lebih baik lagi. 

Untuk pertama kali juga, saya mengikuti fellowship peliputan pada September lalu. ‘Kelas’ ini memperkenalkan saya pada jurnalis-jurnalis lain dari berbagi daerah. Saya semangat belajar karena meski 4 tahun kuliah jurnalisme, rasanya ilmu itu tak cukup-cukup mengisi gelas akal ini. Meski karya yang saya hasilkan belum cukup untuk menembus jajaran nominasi lomba, saya tetap puas karena cukup bernyali meski belum genap 2 tahun di bidang ini.

Bekerja di media baru yang kekurangan SDM, membuat saya jadi bunglon. Dipaksa autopilot ngerjain tugas produser, back up asisten produser, sampai jadi ban serep presenter. Yang kurang cuma jadi solo journalist dan editor. Oh ya, dari pas kuliah dibilang suaranya ga news material sampai di sini dididik jadi audio talent. Sangat bersyukur karena sepanjang tahun ini saya berusaha meningkatkan kemampuan ini untuk membuka peluang baru. 

Di tengah tahun, saya dan Dodi memulai proyek seminggu satu cerita. Proyek ini berjalan dua bulan sampai tiba-tiba Dodi sakit dan tak ada satupun cerita kami yang dimuat di media. Dodi sakit dan berhenti menulis memang disayangkan. Logika Rasa pun harus hiatus sementara karena perbaikan website. Sampai akhir tahun ini saya masih berusaha menyelesaikan cerita pendek lagi. Tapi tiap hari, saya tak berhenti menuliskan ide di buku harian. Berharap suatu hari, ia benar-benar terlahir.

Untuk Dodi, semoga lekas sembuh. 

2016 tahun yang ribut. Diawali dari bom Thamrin hingga aksi bela Islam yang berlangsung 3 jilid. Gaduh saling serang, tarung paling benar. Bermain dengan massa, pengadilan digelar dari mulai kasus kopi sianida hingga Al Maidah. Sementara di gang milik warga, sembari tetap menghitungi stok mie instan, harta benda keluarga mulai dikemas karena buldoser dan ekskavator mempersiapkannya jadi arena sulap proyek citra cantik Jakarta. Menggeser yang kumuh ke pinggir dalam beton-beton tinggi. 

Dan bagi saya, ini juga bukan tahun yang tenang. Banyak hal yang tak ingin saya ulang. Namun, satu mimpi terwujud akhirnya. 

Pergi ke Jepang secara impulsif. Menonton konser band favorit. Dan berulang tahun bersama di tengah musim panas. Di 2017, saya ingin terbangun di suatu pagi seperti saat-saat itu. 

Nah, sekarang mendekati maghrib terakhir tahun ini. Di pinggiran Bundaran HI, saya menulis di sela peliputan. Berharap ada hal unik yang melengkapi penghujung tahun. Berharap 2017 memberi lebih banyak kesukaan dibanding kesukaran. 

Advertisements

Finance 101

Setelah setahun bekerja ada banyak hal penting yang gue pelajari. Kali ini, soal keuangan.

Ketika mendapat gaji pertama, gue sadar bahwa uang yang gue pegang saat itu adalah ‘masa kini’ dan ‘masa depan’. Meski sampai sekarang jumlahnya masih di sekitaran UMP DKI Jakarta, gue tetap bisa memenuhi kebutuhan primer, sekunder, tersier setiap bulan.

Hal pertama yang gue lakukan setiap bulan adalah menyusun rencana keuangan.

Idealnya ini dilakukan beberapa hari menjelang gajian. Tujuannya mendapatkan gambaran yang jelas persebaran pengeluaran. Tidak ada template khusus, jabarkan saja kelompok kebutuhan kita. Ada 2 format yang pernah gue pakai:

img_20161224_153803_hdr_1482568712284

Besaran persentase ditentukan sesuai keinginan masing-masing.

img_20161224_154627_hdr_1482569218799

Ini yang gue pakai beberapa bulan ini. Lebih jelas dan runut. Gue selalu menghitung sebulan 30 hari. Di bulan dengan tanggal 31, ada 1 hari gue nggak akan ke mana-mana dan keluarin uang. Bagi porsi sesuai hari, di akhir pekan (ditandai dengan angka 4) biasanya akan keluarkan lebih banyak uang.

Jika sulit menentukan besaran setiap poin, gue selalu mengambil katalog/bon belanjaan dan mendata harga-harganya. Itu sangat membantu gue menentukan prioritas belanja setiap bulan.

Karena gue melihat ‘masa depan’ dalam gaji gue, hal kedua yang gue lakukan tiap bulan adalah membagi gaji ke beberapa rekening / pos.

Menabung jadi hal yang penting. Sepertiga untuk kebutuhan sehari-hari, sepertiga untuk tabungan utama, sepertiga lagi sisanya (di sini pemasukan dari side job / penghasilan tambahan lainnya jadi penting. Kalau gue nambahin penghasilan dari jatah uang makan karyawan yang dikasih setiap tengah bulan).

  • Rekening payroll (tempat gaji masuk)
  • Pos daily (cash dan tukarkan dengan uang kecil)
  • Rekening pengeluaran
  • Rekening tabungan utama (jangan pernah tarik)
  • Pos dana darurat (bisa di rekening yang nggak bisa ditarik, kalau gue cash karena akan diakumulasi dengan sisaan pengeluaran harian). Dana darurat yang ideal adalah 3 x Pengeluaran atau 1 x Gaji jadi dikumpulkannya pelan-pelan kayak nabung.

Tabungan sifatnya jangka pendek dan punya tujuan yang terukur. Misalnya: buat liburan ke luar negeri atau modal usaha. Tabungan utama dan sekunder juga porsinya dibedakan sesuai prioritasnya. Kalau beli rumah, after married, pensiun, dan lain-lain itu butuh dana besar dan sifatnya jangka panjang sehingga bisa tergerus inflasi. Maka, lebih baik dialihkan dengan beli reksa dana / investasi. Sementara dana darurat hanya dikeluarkan setiap kena musibah dan nggak punya pos untuk menanggung itu gunanya untuk mencegah berhutang. Tapi misalnya, kita musibahnya nggak cukup uang buat bayar makan harian pakai anggaran lain-lain di pos daily saja.

Ketiga; sediakan buku harian keuangan, catatan tabungan, amplop 30/31 hari. Disiplin membawa dan mengeluarkan sesuai anggaran dan mencatat semua alur kas. 

Terus amplop 30/31 itu apa? Sediakan 30-31 amplop yang mewakili setiap hari dalam 1 bulan dan beri tanggal di setiap amplop supaya tidak tertukar. Masukan uang harian kita ke masing-masing tanggal. Jangan bawa uang tanggal 2 ke tanggal 3. Pokoknya jangan tercampur.

Gue punya kebiasaan cuma bawa Rp 40.000 per hari setiap kerja. Dibagi sama rata untuk makan dan transport. Kalau masih ada sisa, misalnya Rp 5.000 itu dibagi 2 lagi: Rp 2.500 masuk ke amplop tanggal itu yang bisa digunakan bulan depan pada tanggal yang sama dan Rp 2.500 lagi masuk ke pos dana darurat/tabungan sekunder.

Kalau mau hedon ya tinggal tambahin dana harian + pos lain-lain di rekening pengeluaran (bukan yang lain-lain daily lho).

Nah, secara garis besar kira-kira begitulah cara gue mengelola keuangan gue yang akhirnya mempengaruhi alur kehidupan gue. Ketika kita teratur mengelola keuangan, tanpa sadar hidup kita mengikuti. Yang pasti jangan nyiksa diri sendiri sih. Tahu harga, tahu tempat, itu jadi penting hahaha.

Dan cara di atas itu kayaknya ga akan works kalau gue seorang impulsive buyer dan nggak disiplin. Semoga bermanfaat terlebih buat orang-orang yang masih baru masuk dunia kerja.

Injek Tanah yang Sama

Itu diucapkan salah satu juru kamera senior di kantor dalam perbincangan di jeda liputan.

Setelah 1 tahun lebih bekerja, saya jadi paham ada banyak ‘peraturan tidak tertulis’ yang harus kita patuhi supaya tetap konform. Termasuk penerimaan kalau kita dicacimaki sama senior. Karena… “Maksudnya baik. Itu supaya mental lo terlatih!”

Termasuk persoalan injek tanah yang sama. Caci maki itu mengingatkan bahwa kita pernah ada di posisi susah yang sama. (dan gue masih nggak dapat logikanya)

Even kita berada di posisi yang benar, kita diminta terima saja dengan perlakuan tersebut. Lu masih harus dilatih, ya lu harus kuat. Tapi kalau sudah nggak ada batasnya dan nggak jelas karena emang sengklek, ya lawan!

Meskipun di kantor gue hal demikian hampir tidak pernah terjadi. Ya, tapi ada saja yang mengalami. Teman gue yang juru kamera itu bilang, “Ini sudah jadi kultur industri media.” Walau sepertinya di banyak tempat kerja, hal demikian juga terjadi. Bahkan mungkin bukan hanya caci maki yang diterima.

Sebenarnya kekerasan dalam bentuk apapun ya tidak bisa ditolerir. Pun banyak orang mengerti itu. Pun juru kamera gue yang bikin 3 reporter memohon-mohon pada korlip untuk nggak pernah lagi dipasangin sama dia (tapi selalu dipasangin hehehe), dia juga mengerti itu (makanya kita nggak pernah berantem).

Sayangnya, di tanah yang kita pijak bareng-bareng ini… Tidak ada konformitas absolut. Termasuk kultur caci maki, ataupun kultur ramah-nan-baik. Di dalam dan di luar kantor kita berinteraksi sama banyak orang. Kehidupan sosial dan kehidupan kerja kita berurusan sama orang. Dan mereka semua berbeda-beda.

Satu hari, gue dinyinyirin Ahok ketika lempar pertanyaan bodoh bagi dia. Satu hari lagi, gue dihardik Kabagpenum Mabes Polri karena dianggap memberikan perintah. Ada pula hari-hari, gue diterima dengan baik dengan senyuman oleh dirjen di beberapa kementerian. Kemudian, gue diuji kesabaran dan harga dirinya, setiap menghubungi manajer artis untuk wawancara karena mereka selalu jadi tidak menyenangkan ketika tahu kami butuh untuk news yang tidak sediakan budget entertain seperti program produksi. Tapi ada kalanya juga, gue ketemu direktur sekaliber Wulan Tilaar dan dewan penasihat White House sesibuk Shandra Woworuntu disambut dengan ramah, menyenangkan, dan setara.

img_20161201_114810

(Kejaksaan Agung, 1 Desember 2016) Di industri ini, kerja tim jadi kunci. Menghormati rekan kerja sama pentingnya dengan mendapatkan berita. 

And I still walk on my shoes. Apologize properly. Smile honestly. Thank politely.

Kita akan bertemu banyak orang dengan karakter dan sikap yang berbeda. Sangat mungkin kita bertemu orang-orang yang membuat nyali kita ciut atau memperlakukan kita dengan tidak baik sehingga kita harus kuat secara mental. Terlebih dalam hal pekerjaan, ada kewajiban yang harus dituntaskan.

Dan bagi gue, apapun yang orang-orang ingin lakukan untuk melatih mental kuat itu, gue harus tetap perlakukan mereka seperti manusia yang baik. Perlakukan sebagaimana kita mau diperlakukan.

Gue sampai pada satu kesimpulan, kita tidak perlu mencaci untuk membentuk mental. Kehidupan akan memberi setiap orang pelajaran, apabila dia memang mau belajar dan merasakannya.

Natsu Yasumi (Pt. 2)

Baru sempat melanjutkan cerita cuti singkat saya di bulan Agustus.

Kamis, 18 Agustus 2016

KYOTO DAY! Kyoto punya banyaaaak sekali tujuan wisata. Karakteristiknya sedikit mirip Yogyakarta; kota dengan sejarah dan budaya yang mengakar sampai sekarang.

06.00-17.00 JST

Shuntokumichi – Fushimi Inari – Arashiyama Bamboo Grove – Snack & shopping time at Saga Arashiyama –  Kyomizudera – Lunch at Senenzaka

Fushimi Inari dan Arashiyama jadi tujuan wisata favorit turis Indonesia. Menurut beberapa orang, nggak bisa mengunjungi Fushimi Inari dan Arashiyama digabung dalam satu hari. Ya, akhirnya kami memutuskan untuk nggak ke Gion demi dapat semuanya.

Kiyomizudera berada di tengah kota. Kita juga bisa mengunjungi Museum Nasional dan Kyoto Tower jika mau. Namun, waktu kami sudah habis berjalan-jalan di Saga Arashiyama. Dan mengejar menikmati pemandangan Osaka di Umeda Sky Building (yang ujungnya gagal karena kemalaman selesai makan di Grand Front Osaka).

Kyoto memang kota tua yang memikat. Saya mendapatkan sinar senja terbaik yang saya rindukan sejak kecil di Senenzaka.

Wisatawan lain akan menyempatkan waktu dan uangnya untuk memakai kimono & hakama selama berada di Kyoto. Ada banyak tempat penyewaannya, rata-rata sekitar 3.500-5000 yen. Tapi, kami memilih untuk menghematnya.

Pusat kegiatan rata-rata sepi sejak jam 8 malam walaupun denyut perkotaan masih berlangsung hingga tengah malam.

 

Jumat, 19 Agustus 2016

My birthday!

Pagi hari kami sibuk mencari tempat print tiket Summersonic. Karena (gomeen…) salah memahami email mana yang harus diprint.

Jepang bukan seperti Indonesia yang banyak kang fotokopian di pinggir jalan. Tempat ter-serba ada jelas conbini, tapi juga tidak semua conbini menyediakan mesin fotokopi sekaligus print. Untungnya di Osakajoukoen ada Lawson besar yang menyediakan alat. Cara printnya ada banyak; Bluetooth, USB, Memory Card, bahkan email.

Hadiah terbaik tahun ini adalah bisa pergi ke tempat paling diidam-idamkan sejak SMA. Akhirnya setelah hampir 7 tahun pacaran, saya dan Gery bisa merayakan ulang tahun bersama di Osakajou. Sayang, kami datang bukan saat musim semi sehingga tak ada kembang-kembang sakura merekah. Yang ada hanya matahari membara di puncak musim panas…

Biaya masuk ke Osakajou sekitar 600 yen untuk orang dewasa. Lebih murah jika kita datang dengan minimum rombongan 15 orang.

Kastil ini sangat ramai. Naik turun dengan tangga lebih saya rekomendasikan karena liftnya penuh. Selain belajar sejarah, kita juga bisa melihat pemandangan kota di lantai paling atas. I remembered shouting, “Ah itu NHK!”

Kami makan siang di Ichiran Ramen Dotonburi. Nggak bohong, ini ramen terenak yang pernah ada di muka bumi. Saya nangis pas makan (lebay). Antriannya super panjang. Belinya pun pakai vending machine. Dan tempat makannya kayak bilik warnet. Cukup untuk isi energi berbelanja sampai malam di Namba.

Oh ya, jangan lupa untuk beli dan coba Pablo cheesecake di Dotonburi. Heaven on earth!

 

Sabtu, 20 Agustus 2016

SUMMERSONIC 2016!! Sebagai festival musik terbesar di Jepang, acara ini juga diadakan di Tokyo dengan guest star yang lebih lengkap. Tapi line up Osaka juga nggak kalah keren kok.

Tiket summersonic dilunasi kedua setelah tiket pesawat. Karena nggak bisa diperjualbelikan atau dipindahtangankan, tiket ini jadi motivasi harus berangkat. Karena di Osaka harganya lebih murah dari di Tokyo; sekitar Rp 1.800.000 untuk 1 hari. Ada pula tiket terusan 2 hari sekitar Rp 3.500.000. Tahun ini kembali diadakan di Maishima Arena yang kayak kota mati begitu keluar dari Stasiun Cosmosquare. Dari stasiun menuju venue disambung dengan bis dari panitia seharga 1000 yen untuk pulang pergi. Tempat ini sebenarnya agak mirip Tanjung Priuk kurang ramai aja hehehehe

It’s worth! Kalau niat banget sehari minimal bisa nonton 4-5 penampilan dalam 1 panggung. Penampilan utama biasanya di panggung yang paling jauh, Ocean Stage. Sementara panggung yang lebih kecil, Forest Stage untuk para newcomer. International band/artist yang super mainstream biasanya juga ditaruh di Mountain Stage (di dalam lapangan baseball super besar). Kalau mau ngadem sih di Sonic Stage, indoor, ber-AC, luas.

Saya bisa nonton 5 penampilan (Alexandros, Kenshi Yonezu, James Bay, Sakanaction, Radiohead) tapi nggak bisa full karena jarak antar panggung yang jauh-jauhan. Hanya Kenshi Yonezu yang benar-benar bisa full. Sebenarnya bisa nonton Two Doors Cinema Club, tapi kan butuh makan dan ke toilet hehehe. Sure it was REALLY GREAT!!! Sakanaction surely made my day!

pixlr

Usahakan sudah sarapan sebelum sampai venue. Kalau di Osaka, setiap stage ada oasis untuk beli konsumsi. Saat terbaik adalah ketika penampilan sudah dimulai karena sepi.

Jangan lupa pakai sunblock dan bawa handuk! Karena panas banget seriusan deh…

Yang jadi highlight hari ini adalah Radiohead tampil kemalaman dan daya tampung bis nggak cukup untuk mengangkut semua penonton balik ke Cosmosquare. Kami naik bis ke Stasiun Universal City (Sakurajima Line) yang sebenarnya lebih dekat. Sayang kami tak bisa mengejar kereta terakhir ke Higashiosaka. Dan malahan………….. TERSESAT DI NARA!!!

Kalau nggak karena skill bahasa jepang yang pas-pasan, kami mungkin nggak tahu baru saja turun di Stasiun Takaida Nara alih-alih Takaida Osaka. Kepala stasiun bilang kalau naik taksi bakalan mahal banget. Karena itu hari terakhir kami sudah nggak punya duit banyak. Akhirnya bermalamlah di stasiun, hampir tidur di halte pinggiran Sungai Yamato dengan angin musim panas yang ternyata dingin.

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Kami punya waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai rumah, packing, dan segera menuju airport. Naik kereta pertama sekitar setengah 5 pagi dan berlari-lari sampai rumah. Mandi sekedarnya, masuk-masukin barang, habisin sisa Pablo untuk sarapan. Out out out kejar kereta ke airport.

Salah satu perjalanan yang membentuk perspektif, membuat saya menghargai orang lain, menikmati hidup, dan menjalani semua apa adanya. Beruntung Jepang sudah well-established sehingga kami bisa survived.

And until now, I’m still dreaming of Osaka windy night and Kyoto lovely noon. Jya, mata nee…