Hal yang Sedih

Waktu menulis di balik detik-detik jarumnya.  Meminta kata berujar dalam ketenangan. Tidak terburu-buru dan sangat lembut. Pada bunyi tik tok tik tok juga dentang bandul di tiap pergantian. 

Hingga ketika tersadar, kita sudah menua, dengan sedikit kerutan di lipatan dekat mata, dan perut membuncit, serta keluarga yang jarang berkumpul di meja makan. 

Sungguh hidup seperti itu sangat menyedihkan… 

Dengan tabah, ibu tertidur di kursi malas. Juga ayah menanti mengunci pagar.

Ketika anak pulang ke rumah. Tak bawa banyak tanda terima kasih hanya menambah tumpuk keluhan ke gudang. Penuh, sepenuh piring rendang yang tak tersentuh. 

Sungguh hidup seperti itu sangat menyedihkan… 

Dan bila baumu hanya tinggal mangkat. Peluh amarah asamu bagai sisa debu di ujung jemari tangan. Dan kau ingat masa mudamu tak penuh cinta,  hanya tekanan. 

Waktu menulis di balik jam-jam, hari-hari, tahun-tahun jarumnya. Meminta kata berujar dalam kebisingan. Karena setelahnya kamu bisu tanpa suara. Hanya tangis batin menjelma menggetar retak lantai surga. Ibu dan ayah menciduk airnya yang mengental. Berharap menambal lubang-lubang kasih sayang. 

Dan kawan, 

Sungguh mati seperti itu sangatlah menyedihkan… 

Yang Hilang dari Dekapan

… adalah hangat

Di mana pori-porimu masih terbuka

Peluh rasuk, basah membasuh

… dan aman

Dari rasa gegar mendetak

Gundah rajuk, bingung yang bisu

… kemudian tentram

Saat bayu berhembus

Dahan meliuk, persatu dedaun gugur

… terakhir kasih

Lewat titipan kilat kereta api

Peduli setan debu menebal, atau rongga menganga
Hingga kepalamu sakit

Atau tangismu hening

Yang hilang dari dekapan adalah tangan-tangan kita yang jemarinya lupa pulang ke rumah

——————————-

Manggarai mengingatkan aku pernah jadi orang baik. Dan aku ingin pulang