Natsu Yasumi (Pt. 1)

Pertengahan Agustus kemarin saya menjalani liburan singkat ke Osaka dan Kyoto, Jepang. Berhubung ini baru kedua kalinya saya ke luar negeri dan perjalanan pertama sudah 10 tahun yang lalu, jadi saya memang agak sedikit norak.

Liburan singkat ini terbilang dadakan. Baru direncanakan sekitar April 2016. Dengan nawaitu nonton Summersonic. Kebetulan ada tiket murah berkah travel fair. Saya dan teman-teman membeli tiket dulu, lalu melakukan pelunasan tiket dan tempat menginap, bikin visa/e-paspor, baru menabung untuk hidup selama di sana.

Saya bawa cash 40.000 yen atau sekitar Rp 5.200.000

Sebagai gambaran umum, total uang yang saya habiskan sedari April-Agustus untuk ke Jepang sekitar Rp 14.000.000.

Selasa, 16 Agustus 2016 saya masih ngantor dulu paginya, menyelesaikan beberapa printilan untuk liputan sekembalinya saya liburan. Sedih sih nggak bisa ikut tapping talkshow dengan Ibu Sinta Nuriyah Wahid (anw talkshownya bisa ditonton di sini). Saya naik penerbangan langsung Jakarta-Kansai dengan Garuda Indonesia pukul 23.15 WIB.

Karena beli di travel fair saya bisa dapat harga miring. PP Jakarta-Kansai-Jakarta hanya Rp 5.055.000 (ngepas banget sama sisaan duit di ATM setelah kerja hampir 8 bulan). Sebenarnya bisa dapat lebih murah sekitar 4jt atau 3.5jt, tapi ada jam-jamnya dan tergantung keberuntungan masing-masing asal tekad dan nawaitunya buat nunggu dan balik lagi besoknya.

Rabu, 17 Agustus 2016 tiba di Kansai pukul 08.15 WIB. Waktu di Osaka 2 jam lebih cepat dibanding Jakarta.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendatangi Tourist Information Center. Beli travel pass yang memudahkan akomodasi kita. Namun karena saya cuma mau muter-muter Osaka-Kyoto, kami langsung ke stasiun dan membeli kartu ICOCA. Karena hanya 5 hari di Jepang, jadi kartu hanya saya isi 1000 yen dan dikhususkan untuk transportasi. Dengan kartu sakti ini saya bisa keliling naik segala jenis kereta di Jepang kecuali Shinkansen. Beberapa bis juga bisa menggunakan kartu.

Hari pertama dihabiskan di Namba: Dotonbori, Shinshaibashi, Nipponbashi, OCAT. Ya bener-bener muterin Namba jalan kaki. Sebenarnya juga hari ini cuma mau dihabiskan untuk riset toko-tokonya dan foto-foto atau jajan takoyaki. Osaka terkenal dengan takoyaki dan okonomiyaki btw. Menghabiskan waktu sebelum waktunya check-in.

Biar mudah dalam bergerak, di setiap stasiun disediakan coin locker yang muat untuk koper dari ukuran small-large. Harganya kisaran 300-700 yen sesuai ukuran koper dan keberadaannya hampir di semua sudut kota. Hanya saja jangan terpaku untuk berlama-lama mencari coin locker. Sambil dibawa asik jalan aja, nanti ngabisin waktu.

Kansai ke Namba bisa ditempuh dengan kereta Nankai. Kira-kira 30-45 menit lamanya (ibarat Jatinegara-Kampung Bandan-Tanah Abang).

Biar gampang mobilisasi dengan kereta di Jepang, kami pakai jasa website Hyperdia. Jalur dan jenis kereta yang super banyak dan ruwet bisa diatasi dengan mudah. Cukup dengan memasukan nama stasiun keberangkatan dan tujuan kita.

Dengan suhu 35 derajat celcius, emang rasanya panas banget. Dan kami sama-sama belum tahu kalau semua bisa ditempuh dari bawah tanah di Namba. Bahkan banyak toko dan restoran yang bisa kita datangin. Makan siang kami lakukan di restoran sekitaran Namba Walk. Ya dalamnya ada yang mirip mall, ada yang level ITC saja. Tapi sayang kalau hari pertama nggak dimanfaatin buat lihat-lihat suasana jalanan. Jadi makan malamnya ya Yoshinoya (entah mengapa rasanya beda banget sama di Jakarta. cabe bubuknya enak banget hahaha)

Harga makanan di Namba agak mirip dengan restoran di Jakarta. Kita bisa ketemu makanan harga 100-500 yen macam onigiri atau bento di conbini (Family Mart, 7/11, Lawson). Atau makanan restoran seharga 500-1500 yen. Minumnya ocha ajalah yang gratis dan refill ibarat teh tawar di warteg.

Kami akhirnya pulang ke penginapan sekitar pukul 9 malam.

Dari jam 8, sudah banyak toko yang tutup di Namba. Dan peak ramainya stasiun sampai kira-kira jam 10-an.

Penginapan kami terletak di Shuntokumichi, Higashiosaka-shi. Kami pesan rumah dengan 3 kamar via AirBnb dan dapat tempat yang super memuaskan. Biaya dibagi berenam. Per orang untuk 4 malam hanya mengeluarkan Rp 1.200.000. Arigatou Akira-san!

Penting! Kawasan pemukiman cenderung sepi dan tenang. Meski banyak orang yang pulang ke rumah masing-masing di waktu malam, tapi ada baiknya kita tidak berbicara terlalu keras, tertawa-tawa, atau berbuat bising. Menghormati orang yang sudah berada di dalam rumah untuk beristirahat sangat penting.

Segitu dulu ya… Kapan-kapan saya lanjutkan lagi! Masih ada 4 hari lagi. Kerjaan masih numpuk.