Jakarta Petang

Untuk G,

Adakalanya kemacetan menjadi menyenangkan. Berlama-lama menatap sisi belakang dan samping wajahmu. Kamu bicara tentang kawanmu yang meminjam seribu rupiah dari sakumu. Aku bicara tentang imajinasiku yang mencuri dengar harapan tetangga kamar kosku.

Adakalanya laju kereta menjadi menyenangkan. Berlama-lama terantuk di pundakmu memandang layar yang sajikan kelakar-kelakar maya. Kamu bicara tentang 10 rencana bagaimana semuanya berjalan. Aku bicara tentang surat kabar yang kesulitan dana.

Adakalanya pukul 18 menjadi menyenangkan. Bergegas-gegas menyalip waktu. Kamu bersiap mematikan komputermu. Aku membubuh dua garis miring dalam naskahku.

Pelukmu menjadi rumahku. Aku merengek setiap tak tepat waktu.
Pelukmu menjadi hasratku. Aku gelisah setiap gerak meragu.
Pelukmu menjadi ketenanganku. Aku mendendam setiap pikiran meracau.
Pelukmu… bukalah lagi…

Detakmu yang selalu ku tanya-tanya.
Mengapa tak memelan?
Mengapa tak bisa biasa saja?
Detakmu yang selalu ku tanya-tanya.
Maukah seirama pelan-pelan?

Dan asing…
Jakarta petang
Betapa aku ingin melingkupimu
Merengkuhmu dalam dekapku
Menjadi yang kau tunggu-tunggu
Menjadi yang menunggu-nunggu
Mendetakmu menyesakmu
Menjadi alasanmu tidur cepat
Berlaju di putaran Manggarai
Berpikir hari esok
Berpikir lusa
Berjalan 7 tahun dan 14 tahun dan 21 tahun dan 70 tahun
——————————————————————–
aku rindu, benar begitu, bahkan ketika di sisimu, aku merindu

Advertisements

Agar Kuat

Sembabku di bantal
Sembabku di dinding
Sembabku di besi kursi kereta
Sembabku di meja kerja

Dan kelopak masih sama-sama basah
Dalam dengan kerak bernanah
Luka pun masih sama-sama basah
Dalam terlukis pada roman wajah

Wangimu menggenang
Sentuhanmu melayang
Saksi-saksi pada kulitmu membayang

Mengopek perlahan
Satu-satu dalam tekanan
Mengelupas berjejak di jalanan

Agar kita ingat jalan pulang
Agar kita ingat derita
Agar kita ingat menjejak
Karena hari esok lebih baik, sakit hari ini kumatikan saat ini jadi jejak-jejak putih pada tanah basah yang waktunya tumbuh subur sebagai pupuk dan pelipur

Laki-laki yang Kupanggil Sayang

Untukmu,

Telunjukku memohon maafmu
Saat laju derumu berlalu
Batas antara bayu dan malam yang sendu

Di lubukmu tersimpan ragu
Juga liang-liang hatimu
Dan sendi-sendi otakmu

Terhitung;
Satu, dua, tiga, empat
Detik-detik
Menit-menit
Jam-jam
Hari-hari
Minggu-minggu
Bulan-bulan
Tahun-tahun

Tuhan… Tuhan…

Aku tahu
Aku sepatutnya malu

Pada laki-laki yang kupanggil Sayang
Sisakan belai-Mu untuk dia kenang
Sisakan aku untuk senantiasa buatnya senang
Jangan lagi waktu dan air mata menggenang
Biar rapal doa yang terdengar
———————————————————————–
bila tak tertebus kata-kata ku harap menembus sisi kasih-Mu untuk kekasih dan kami yang mengharap kasih kembali

Destiny

Since I made friends with Dianti, I had became more religious and spiritual. Somehow I felt like my Leo characteristic drawn to her Gemini charm.

Okay I won’t exaggerate anything of our relationship here. That’s another part that I’d tell later (or never hehe). So we were stuck in newsroom at 9 PM yesterday. We’re get used to it, anyway. Working up late and paid less was habitual. Then the conversation of “who I was in the past life” began. She said

He (an Indian-American whom Dianti met in Bali during her healing session) told me about my past life. I always had a vision in my dream about a White Shiva then he told me the same. I was a male monk, a Shiva’s follower, lived in Tibet, but the era was unknown. In another past life I was a queen born in India. There’s a possibility that my current boyfriend is the king who died during the war and gave the throne to me. I was a fortune teller too. I’ve been checked all the evidences, factual condition, and India history. I somehow… found me. That’s not something that people should believe. It’s something so spiritual and personal.

He said that in my past life, I prayed to be born as a woman. Here I am trapped in my own samsara.

I came home with a little thought. I didn’t believe in samsara, my faith didn’t provide this concept. But where my soul wandering before I was born? It is something that I get used to think since I was 8, since I was aware that I’m a human being live in a huge world.

But I learnt how to live in present (also thanks to Dianti for always saying this thing). I just realized that God, the only guardian gives me some signs day-by-day since I saw it placed around me. I wouldn’t tell what was it like. But I learnt not to look on my past. I was destined.

It was none. An absence, a resignation, an eternity. The path towards God is inwards.

Who I was, who I’m today, who I’ll be someday are destined. I’m already on the road. Walking with full consciousness. The only question that I have to bear is

Am I right?

To realize it makes my Ramadhan feels so meaningful.