Cerita yang Bercerita

Saya mulai menulis cerita di kelas 5 SD. Saya ingat, pikiran saya selalu menghadirkan sirkus dialog. Suatu hari, saya mengambil buku bekas kelas 4 SD yang baru terpakai 2-3 halaman. Ketika berhadapan dengan buku tersebut, pikiran saya hanya berkata, “Kayaknya saya bisa nulis cerpen deh…”

Dan berikutnya selama seminggu buku tersebut habis terisi oleh cerita-cerita pendek. Akhirnya sirkus dialog di kepala saya tersalurkan. Namun, ada juga hasil duplikasi dan penulisan kembali dari cerita pendek yang pernah saya baca. Dari kecil, gaya tulis saya sudah ‘gelap’ karena saya ingin berbeda saja. Anak-anak senang dengan cerita yang ceria, tapi sentuhan ‘gelap’ bisa menambahkan pilihan atau malah menyentuh mereka.

Buku itu berputar di antara teman sekelas. Kalau tidak salah ingat, teman dekat saya yang bernama Alexa jadi pembaca pertamanya. Dia salah satu supporter saya hingga masuk SMP. Dia rutin memberi masukan, meminjamkan saya buku, dan berbincang tentang cerita-cerita yang telah kami baca. Kami pernah mencoba membuat sebuah novel bersama, saya penulisnya dan Alexa ilustratornya, sayang tidak selesai.

Ada satu cowok di kelas yang akhirnya jadi pacar saya selama 8 bulan (gokil juga anak kecil bisa pacaran 8 bulan, mana norak banget cuma berani SMS-an. salahkan sinetron Inikah Rasanya!), dia membaca buku saya dan berkata, “Lo bisa nulis ya! Bagus deh! Tapi yang cerita ini kayak di Bobo deh gue pernah baca. Mau dong baca buku yang kedua.”

Mungkin itu kali pertama, saya termotivasi untuk menulis lebih banyak cerita. Dari dua buku, jadi tiga. Lalu akhirnya saya mulai menulis di laptop papa, print, sebarkan di kelas. Jadi Penulis! Itu jawaban saya di kelas 6 SD setiap ditanya cita-cita. No more jawaban dokter bedah supaya kelihatan keren.

Sayangnya pacar saya ketika SMP, tidak pernah tertarik pada dunia saya itu. Namun di masa SMP, saya menyelesaikan 1 novel tentang persahabatan dan cinta (ya teenlit abis gitu) yang saya tulis sebagai hadiah kelulusan untuk 8 teman segeng saya. Itu pertama kalinya saya berusaha melakukan sesuatu untuk orang-orang yang saya sayangi. Sesuatu yang memiliki motif.

Saya selesaikan 1 novel lagi di kelas 1 SMA, sahabat saya sewaktu SD-SMA yang bernama Wilona sangat menyukainya. Di tahun itu pula saya aktif menulis puisi karena lagi kesengsem sama cowok yang ga bisa didapetin dan mungkin lagi sadar soal realitas dunia ya… Sahabat saya lainnya, Rancha adalah kawan saya bertukar balasan puisi kritik sosial. Kami aktif menulis di Facebook dan selalu senang mendapatkan respon yang berujung pada diskusi.

Memiliki kawan menulis dan pembaca adalah hal yang esensial dan memotivasi. Saya selalu tidak percaya diri mengirimkan tulisan ke media ataupun lomba, hal ini saya sesali hingga sekarang… Tidak ada yang bisa mengukur.

Akhirnya saya berhenti cukup lama… Tanpa kawan, tanpa pembaca, tanpa berani, dan dibunuh rutinitas harian. Tidak menemukan alasan, motivasi, apalagi gairah. Berhenti dari kegiatan mewaraskan tersebut. Sesuatu yang membuat saya mengeksplorasi pikiran dan perasaan. Sama halnya dengan dunia jurnalisme yang saya tekuni sekarang, bercerita adalah tentang bagaimana menuturkan perspektif dan sesuatu yang tidak terlihat.

Hingga di tahun 2014, Gery yang sudah menemani saya selama 6.5 tahun mengenalkan saya dengan Komunitas Logika Rasa. Dia adalah kritikus dan orang paling tulus yang mau mengetahui apapun yang saya lakukan dalam hidup. Iseng-iseng di tengah tugas kuliah membuat feature televisi di Bandung, saya menulis cerita pendek Kepada Ibu Tentang Pertanyaan Arila setelah pulang liputan dan kedua rekan setim saya sudah tepar kehabisan tenaga. Dari satu tulisan, jadi dua, kemudian tiga dan empat, hingga tahu-tahu sekarang sudah 11. Pembacanya dari seratusan tahu-tahu jadi ribuan. Kapan saya pernah terpikir tulisan saya dibaca segitu banyak orang, disukai, maupun dikritik, “Ga ngerti gue lu ngomongin apa.” Tetap saja itu terbaca. Tetap saja mendapatkan perhatian. Tidak lagi tersimpan di dalam buku-buku sisa sekolah, laptop papa, kertas printan yang kemudian hilang, atau halaman Facebook yang isinya hanya inner circle.

Dan tiba-tiba saja sekarang sudah 2 tahun, saya menjadi bagian di dalamnya. Malam ini kami merayakannya dengan sederhana sekaligus meluncurkan antologi TITIK KOMA. Dari hanya segelintir orang yang percaya cerita mereka punya makna dan arti menjadi 450 orang mengirimkan tulisan dan 30 di antaranya menjadi pencerita tetap. Saya beruntung menjadi salah satu yang bergabung sejak awal.

LR

Karena bergabung dalam entitas ini, apa yang sempat mati suri karena kehilangan gairahnya perlahan hidup. Dari sini, saya menemukan gaya saya sendiri. Dari sini, saya punya alasan mengapa saya harus mencicil satu paragraf setiap hari. Dari sini, saya ingin menghadapi dunia penulisan yang lebih luas semacam menganeksasi diri dalam industri. Dari sini, saya punya motivasi untuk mengukur sejauh apa sebuah karya punya arti dan makna di mata orang lain.

Saya bukan orang yang nyastra dan nyeni. Saya hanya suka bercerita. Seperti membagi energi dan meluruskan pemikiran. Karena ketika saya bicara, acap kali ngelantur. Maka menulis, jadi satu-satunya jalan keluar untuk berbagi sirkus dialog dan realita sosial.

Selamat ulang tahun Logika Rasa. Terima kasih!

Advertisements

“Kayaknya…”

Rasanya sudah lama banget nggak nulis blog ini. Ada banyak hal yang mau gue bagi, tapi buku harian jadi tumpuanku belakangan ini. Hemat waktu, hemat energi, dan private. Beberapa hal memang lebih baik disimpan sendiri sebagai pelajaran hidup.

Setelah mau setahun lepas dari bayang-bayang anak kuliahan, gue pun masih tetap menjadi anak-anak. Baby in adulthood.

Gue ingat pernah mengirim pesan whatsapp ke salah satu teman curhat di kantor.

Kayaknya umur 23 bakal seru banget ya…

Sebuah prediksi yang kemudian akan terbantah. Mendekati pertambahan usia, mendekati masa setahun bekerja, mendekati umur setahun di dunia dewasa gue mengirimkan pesan whatsapp ke grup teman-teman kantor yang sebaya (ga sebaya-sebaya amat sih yang menjelang umur 30 beranak 1 juga ada).

Umur 23 kayaknya urakan banget nih…

Karena gue yang paling muda, ya gue cuma diketawain. Pernyataan itu ga serta-merta keluar gitu aja sih. Gue melihat dan merasakan banyak hal baru bergolak di dalam diri gue.

Tempo hari, Path gue sempat ramai dengan postingan tentang umur 23 tahun. Spesifiknya seperti yang ditulis di sini sih. Beberapa teman yang berada dalam usia itu dan juga yang baru saja melewatinya, mengafirmasi.

Gue ingat bagaimana gue memulai 2016 dengan optimistis. Gue merasa yakin bahwa gue punya rencana yang jelas, manajemen waktu yang cukup, dan juga kesempatan yang banyak. Sekarang masuk di pertengahan tahun, niat dan manajemen waktu ternyata benar-benar membantu rencana berjalan dengan mulus walau gue harus bernegosiasi dan menahan emosi dengan kehidupan kerja yang membuat gue mempertanyakan kewarasan gue sebagai manusia.

Dan karena itu semua, sebelum mencapai usia 23, beberapa hal sudah terjadi. Usia itu semacam datang lebih awal. Perubahan-perubahan kecil yang gue nggak expect ternyata hadir dan cukup bikin gue gelisah, tidak pernah puas dengan jawaban atau nasihat, dan emosi naik turun. Di saat yang bersamaan gue menemui kondisi-kondisi baru yang membuat gue ingin menyelami lebih jauh perasaan, pemikiran, dan pengalaman itu.

Well, ketika gue umur 20 tahun, gue pikir ini usia yang sudah cukup stable terutama bagi orang selabil gue. Tapi yang namanya quarter life crisis itu nyata ya. Sejujurnya, ungkapan klise kedewasaan nggak bisa dilihat dari umur ya bener juga.

Lucunya, ternyata gue bisa melalui itu sedikit, perlahan-lahan sampai nggak ada lagi “kayaknya…”. Lagi-lagi gue harus ngechat teman kantor gue…

Kayaknya gue udah ngerti deh sekarang harus ngapain.

Sorry gue kebanyakan ngelantur… hehe