06.Max

Nirmaya jarang menceritakan kehidupannya pada orang-orang. Sehingga ia memiliki Max. Max cukup untuk menampung semua kisahnya walau sepotong-potong didapatinya. Max pun bertambah seiring Nirmaya menua.

Ia masih mengeluhkan skripsinya yang terlampau menjenuhkan walau pembimbingnya memujinya hampir di tiap pertemuan, terkagum akan kemajuan yang dibuatnya. Nirmaya menelan seluruh saran bulat-bulat. Berharap saran itu keluar di lubang toilet dan segera terlupakan begitu ia lepas dari jerat akademik.

Atau tentang remaja laki-laki penjaga perpustakaan yang selalu berusaha mengajaknya bicara. Dari mulai intisari buku yang hendak dibacanya, seakan ia menghirup tiap kata bagai oksigen. Hingga apakah Nirmaya menyukai warna kuning, karena setelahnya remaja itu memberikan sebuah buku catatan berwarna kuning, bakal calon Max yang pada akhirnya tak pernah ia gunakan.

Juga di sela-sela keluhan dan protes itu, Nirmaya masih bercerita tentang malam ia kabur dari rumah. Ia menyeret sepedanya keluar dari halaman rumah. Sedikit derit di pagar nyaris membangunkan ayahnya. Ia tetap bisa melarikan diri setelahnya.

Ketika itulah, ia memutuskan mengarahkan sepedanya melewati keheningan Jalan Diponegoro. Lurus terus hingga ia mampu menangkap kerlipan cahaya jendela-jendela pencakar langit.

Dan ia memutuskan berhenti di sana. Di bawah air mancur Taman Suropati. Membiarkan matanya menikmati kemewahan itu. Kemewahan yang selalu ia harapkan sejak beranjak dewasa. Kabur dari rumah. Sejenak saja cukup 15 menit.

Hei! Hei! Hei Nona yang di sana! Kita punya 2 jam sampai suara adzan subuh terdengar kalau lo mau menikmati semuanya.

Max menyimpan setiap detil cerita tentang laki-laki yang menawarkan diri itu. Tentang pelarian kecil sebelum fajar itu.

Untuk pertama kalinya, Nirmaya menceritakan secara utuh. Termasuk bagaimana ia memutuskan untuk meninggalkan Max karena laki-laki ini, Ikrar membuat bibirnya tak berhenti bicara.

Advertisements