05.Kopaja 502

Legi bertemu Ikrar di sesaknya Kopaja 502.
Ikrar berbadan tinggi besar dengan kulit gelap seperti tembaga dengan kualitas bagus. Dia berandalan yang terlihat bersih. Rambut panjangnya ikal dicepol tanpa sisa poni.
Ia naik dari pintu belakang ketika kopaja melewati deretan Cikini Raya. Perjalanan masih panjang untuk tiba di Matraman.
Selanjutnya Legi akan banyak tertolong oleh Ikrar. Dari mulai kontrakan, uang makan, perlindungan dari preman, hingga urusan syahwat.
Mereka hanya duduk bersebelah-sebelahan di bangku deret paling belakang. Acuh tak acuh pada awalnya.
Ketika jalanan mulai memadat di pasar bunga, teguran pertama akhirnya mencairkan.

Ada rokok?

Legi memberikan satu untuk mengawali pertemanan itu. Walau pemberhentiannya sudah di depan mata.

Advertisements

04.Pluviophile

Ada kata-kata yang berkumpul di kerongkongan. Seperti isi perut yang membuncah-buncah. Menanti pembuangan terakhirnya di toilet atau selokan. Ya, seperti rasa ingin mengutuk dan mengata-ngatai. Namun siapalah mereka untuk saling berkata demikian?

Dendam seperti itulah jalannya.

Lebih baik simpan saja atau menyesal telah berniat.

Kemudian kereta masih terus melaju sementara gerbongnya menyepi. Kereta melewati Kampung Bandan yang selalu nampak murung. Awan hitam mulai menggelayuti terlihat di atas hamparan rerumputan liar di luar stasiun. Dan kereta kembali melaju.

Kini, roti isi Nirmaya telah habis dimakannya sendiri. Ia memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. Bertanya-tanya apakah hujan akan turun.

Legi menyenderkan dirinya pada sisi tempat duduk yang empuk. Membiarkan kepalanya mengetuk jendela sementara matanya mencuri-curi pandang. Ia tersenyum sedikit. Membiarkan imajinya kembali dalam dejavu ketika ia sering melakukannya dahulu di tempat yang berbeda.

Dan kemudian rintik pertama turun ketika kereta mendekati Duri. Perlahan-lahan menjadi deras.

Kamu masih suka dengan hujan?

Kereta berhenti. Mereka tiba di Duri. Ketika ratusan orang berganti dengan puluhan lainnya dan mulai memenuhi apa yang tadinya tak terisi.

Dan Nirmaya bergeming saja. Ia sudah lama berhenti menyukai hujan sementara Legi baru saja mulai jatuh cinta pada rintik-rintiknya.

 

03.2011

Banyak hal di mulai pada tahun 2011.

Bagi Nirmaya, ia sedang mempersiapkan kelulusan kuliahnya. Mendapati semua orang mendesaknya menyelesaikan bab 3 di tengah batas akhir yang hanya tinggal 2 minggu. Nirmaya tahu, hati kecilnya tak siap untuk buru-buru.

Bagi Legi, ia tak tahu seperti apa ibukota itu sebenarnya. Ngawi tidak memberinya banyak pilihan. Terlebih setelah kakak perempuannya memilih kawin di usia 19 dan ikut suaminya transmigrasi ke Sumatera. Kini ia sendirian, di persimpangan memutuskan untuk lanjut berkuliah atau bekerja. Legi bekerja.

Sangat sulit menerima logika bahwa ada dua jenis manusia di dunia ini. Mereka yang menuntut kecepatan dan mereka yang menuntut perlambatan. Dan keduanya tak bisa hidup berdampingan.

Sehingga ketika Legi bertemu dengan Nirmaya di sebuah perpustakaan umum kota, ia tahu jatuh cinta adalah omong kosong. Jatuh cinta adalah kesadaran yang menyadarkan jarak di antara mereka terpaut jauh. Dari segala lini, dari segala pandangan sosial.

Hanya dengan melihat dari mata coklat itu, Legi tahu ada ketidaknyamanan. Namun, perlakukan konsumenmu sebagai raja dan ratu. Darimanapun kelas sosial mereka.

SELAMAT TAHUN BARU

Nirmaya akhirnya mengulas senyum dan menerima setumpuk buku yang dicari staf magang di perpusatakaan itu, Legi.

 

02.Rajawali

Legi bersandar pada pintu kereta yang sewaktu-waktu bisa terbuka. Maka, ia sisakan celah di balik punggungnya untuk berjaga-jaga.
Terlambat. Ia tergesa-gesa karena uang mengalir seiring waktu berjalan. Bagai darah, bagai jantung, bagai tak ada istirahat untuk orang sepertinya. Setiap detik adalah 1 rupiah. Dan kesiangan membuatnya rugi ratusan ribu.
Juga kesiangan, berarti merelakan tempat untuknya di kereta.
Kemudian matanya memandang satu perempuan di seberangnya. Yang begitu ayu, namun juga begitu angkuh.
Namun, ia ingat betul. Tidak akan terjadi apapun di antara mereka. Kini maupun dulu. Tidak ada yang tahu nanti.

Hmmm…

Deham adalah satu-satunya suara yang bisa ia buat. Menjawab tatapan penuh cibiran perempuan itu.
Kereta pun tiba di Rajawali. Kumpulan manusia itu keluar berbondong-bondong seperti semut menuju lobangnya.
Kini mereka berhadapan hanya sebatas dua langkah di lorong gerbong yang dingin.

01.Sepotong Roti Isi

Nirmaya menyeruak di antara bapak, ibu, murid berseragam putih abu-abu biasa, murid berseragam dengan jaket almamater, perempuan muda yang lebih sibuk dengan ponselnya dibanding memperhatikan langkah dan celah peron, juga keluarga dengan anak-anak mereka yang siap mengokupasi jendela.
Dan ia berhasil mendapat satu tempat di antara kakek tua berkemeja lusuh yang tak henti tersenyum dan perempuan paruh baya yang terlalu lelah untuk memikirkan pekerjaannya di kantor dan anak-anaknya di sekolah.
Satu helaan nafas lega dihembuskan. Kini ia menikmati sepotong roti isi yang dibelinya sesaat yang lalu. Seakan perang telah dimenangkan.
Kemudian seiring roti isi terkunyah, ia tak menyadari pandangan penuh dendam masih dilemparkan seseorang yang berdiri menyender di pintu kereta di seberangnya.
Namun tetap, meski hatinya bertanya-tanya, ia tidak hiraukan.

Sial!

Tidak ada rutukan lain. Suapan terakhir dilahapnya bersama apa yang pernah terjadi.

00.Sepur Pagi

Ada yang terburu-buru. Mengintip di antara sela tiang-tiang peron.
Wajah-wajah tak ramah tak membuatnya kehilangan akal. Meski mereka saling melirik. Beradu pada peluang siapa cepat, dia bisa daratkan pantatnya pada kenyamanan.
Satu-satunya yang membuat mereka sama adalah kesadaran pembayaran 2000 rupiah menuju Palmerah.
Dan tidak ada satu sama lain yang berani membuka mulutnya. Hanya hati yang saling berbicara,

Apakabar?

Kemudian sepur kedua jurusan Tanah Abang pagi itu tiba.