Perjalanan Pulang

Ada 3 hal yang sering saya lakukan untuk membuat diri tenang:

  1. Berjalan kaki sambil menggerutu lalu setel kipas angin di rumah, gelosoran sampai tidur
  2. Mengelilingi tempat-tempat favorit saya di Jakarta
  3. Memandangi lampu-lampu gedung pencakar langit di Thamrin, Sudirman, dan Menteng

***

Hanya tersisa 3 hari lagi di tahun 2015. Dalam perjalanan pulang hari ini, saya berusaha membuat diri tenang karena sejak bekerja tidak ada hari untuk menenangkan diri. Semua serba tergesa-gesa. Itulah tahun 2015, penuh ketergesaan.

Ketika saya menyadari, beberapa hari ini saya tidak pernah tidak tersenyum-senyum sendiri selama perjalanan pulang, saya tahu mungkin saya sedang bahagia. Alasannya mungkin tidak bisa dideskripsikan karena hanya bisa dirasakan. Namun perjalanan pulang hari ini terasa sangat menenangkan. Tanpa kemacetan, hanya ada angin jalan, lampu-lampu gedung pencakar langit, dan kereta melaju di sepanjang rel Latuharhari.

Saya mulai menyenandungkan sebuah lagu yang saya kenal setelah menonton salah satu film Aragaki Yui berjudul Kuchibiru ni Uta o.

Bila lagu ini bercerita tentang diri orang dewasa yang menyapa kembali dirinya di usia 15 tahun, sedang penuh dengan angan-angan dan kebingungan menghadapi masa depan, saya sedang berusaha mengingat apa yang setahun ini saya lalui.

 

Dan ada 3 hal utama yang ada di pikiran saya tadi. Pertama, saya telah memutuskan beberapa hal penting yang menentukan masa depan saya. Kedua, saya melalui banyak hal karena keputusan itu. Ketiga, saya bertemu orang-orang baru yang memberi lebih dari sekedar inspirasi, tapi juga harapan…

Saya ingat post penuh kegamangan di awal tahun. Sepertinya saya sudah memecahkan separuh dari teka-tekinya.

Dan apakah saya sudah jadi cukup kuat saat ini? Itu yang belum saya capai. Setidaknya Tuhan masih berikan 2016, semoga saya bisa kembali menuntaskan.

28 Desember 2015, hari ini saya menemukan ketenangan. Kembali di jalanan Jakarta. Kembali pada pikiran apakah saya akan menjadi orang yang berbeda? Karena hari terus berjalan, seperti kereta yang melaju di lintasan rel sepanjang Latuharhari menuju stasiun pemberhentian terakhir. Karena akan ada waktunya menjadi tinggi menjulang dan bersinar, seperti cahaya pencakar langit di jalan-jalan protokol Jakarta. Karena akan ada saatnya itu semua jadi kenangan setelah tuntas ia terlewati, seperti angin yang meninggalkan jejak belaian namun tak kembali ke tempat yang sama.

Advertisements