Untuk G,

Ketika kita sudah jarang bertemu, kamu lebih sering singgah di pikiran. Lebih sering memberi pujian. Juga sekedar membuka percakapan dengan sekawanan organ di tubuhku.

Dan tanpa aku sadar, kamu menjejak jauh dalam gelapnya mataku yang hanya bersinar ketika matahari datang bertamu atau ketika kita bicara soal waktu. Ada tapak kakimu, serta bayang-bayang tubuhmu, juga punggung bidangmu.

Masih juga kurasakan pori-pori kasar telapakmu. Ia berdenyut bersama dengan segala hal yang berada di balik kulitku. Menyiratkanku untuk bergegas atau pelan-pelan sejenak karena meski kakiku ingin berlari kencang kita tetap tidak ingin saling mendahului.

Atau gemamu yang tak habis-habis di telinga. Bicara hal yang kubayangkan kita bicarakan. Sayangnya, kita memperbincangkan hampir semua hal sehingga kata-kata yang akan marah pada kita karena bosan. Di saat itulah kita jeda sesaat untuk mendengarkan tidak hanya pikiran tetapi juga kehidupan.

Ketika kehidupan bicara pada kita, lidahku merasakan manis, pahit, asam, dan asinnya. Itu mengapa maaf menjadi terlalu sering mengganggu kita. Dan kamu tahu, aku tidak pernah pandai meminta maaf.

Tahu apa yang paling aku senangi? Ketika dalam ketiadaanmu dan dalam setiap jeda pun, aku tetap bisa menangkap aromamu di antara oksigen yang kuhirup. Dan sebegitunya kamu melingkupiku.

Hingga satu ketika aku sadar…,

Aku selalu merindukanmu dan keberadaanmu. Mungkin malam ini, juga begitu. Setidaknya, aku tahu aku kembaliĀ akan memulai sesuatu lagi bersamamu….