Casual Dinner

Who is your best bestfriend?

Well, I would say that I have none. I declared once that I have so many close friends, but hardly find the best one. It’s true… I’m keeping my friends close but I can’t decide who are the best for me.

I thought that some of us do the same thing like me. Because it doesn’t matter who is the best, friendship still depends on the the person and the time.

***

So, I had a casual dinner with my girlfriends who used to be my colleague in FISIPERS UI. There are Rani, Aini, Vitha, and Halida. We were came from different peer-circle and major study. We’re only have one common, ‘the need to share’. So we arranged date to meet everytime we feel the urge.

On Wednesday night, we met at Tebet Green. We usually had Dodi, Namira, and Seput joined in our so-professional-yet-kinship discussion, but there’re only 5 of us that day. So the conversation started from our thesis journey, the food who didn’t feel that good, love-life, career, until all kind of random stuffs about The Millenials. Since Vitha is the only one who were graduated and had a settled salary, she bought us ice cream. Then the conversation kept going until Aini decided to sleepover at Rani’s house and I moaned about my Gojek order who didn’t get a driver after 15 minutes.

Well…

When I’m with them, I realized about something, the reason why I wrote this post. I thought I found my own definition about friendship.

Friendship is a state in which person who have close relation to me gives meaning in exact time to fulfill each others. So the friendship term would be more flexible. I could say that my relation with Aini, Namira, Syabina, Anditha, Farraz, Gabby, and Nadia as friendship ’cause there’s meaning in every laugh, they give me happiness. I could say that my relation with CSG as friendship ’cause there’s a meaning in every highschool’s joke, they keep my memories alive. I could say that my relation with The Babi as friendship ’cause there’s a meaning in every existence, they were there when I have none to look. I could say that my relation with D’JOURNALS as friendship ’cause there’s a meaning in every struggle, they were there just to make a sense that we’re not alone in the battlefield.

But, they were not 24 hours actively keep in touch with me. They were not always here for me. Like today… I walked alone back-and-forth around the campus, doing something for my own, enjoying the me-time and I still remembered that I have an amazing friendship with those good people. Even in their absence, I felt fine. That’s enough to make me believe that I have to be stronger. Cause we’re grown up and the friendship itself would be rare to feel. So live it, let all the relations give us meaning.

In the end when you asked me who is your best bestfriend? I still have no answer. But you have to know that I would search for more friends, some people whom with them I could always build a conversation, share feelings, and find meaning. That’s all. That’s friendship.

Berdialog dengan usus membuatku merasa mual. Koto-kun berkata, tubuh seseorang sanggup menjawab pertanyaan apapun yang dimiliki empunya.

Karena ketika kamu mengenal tubuhmu, kamu menjawab dirimu. Mereka cukup mengerti dirimu, juga paling tahu isi kepalamu.

Bagaimana bisa? Aku sering bertanya demikian. Tanpa kucoba meraba kulitku, aku bertanya dengan naifnya.

Coba saja pikirkan sesuatu untuk dimakan.

Dan ketika aku terbangun, hal pertama yang ku rasa adalah lapar. Maka aku ingat, pada malam aku berjalan ke dapur rumah yang selalu bersih karena kami tak buang-buang waktu memasak. Aku membuka kulkas yang kadang menyala dan kadang cukup dingin walau mati. Tidak ada daging di sana, kami hanya punya cukup sayuran dan telur. Tepat ketika aku berpikir apa yang akan kumakan, perutku bereaksi.

Ah! Kamu di situ?

Aku bicara dengan Chou. Ia ingin bekerja saat ini karena telah menganggur seharian. Ya, aku belum makan selama dua puluh jam terakhir. Okaasan tidak bisa keluar dari kamarnya, tidak bisa melangkah. Aku tidak mau memberitahukan penyebabnya pada kalian. Aku tidak berani bahkan untuk memikirkannya.

Ah!

Aku merasa Chou kembali mengajakku berbicara. Apa yang akan terjadi padanya bila aku tidak makan? Sensei belum mau melompat pelajarannya untuk menjelaskan padaku hal tersebut. Mengapa sulit sekali untuk menjadi pintar?

Ah! 

Aku mual sekarang. Kulkasku berbau dan aku telah membukanya selama hampir lima menit. Ada sebuah apel dan sebuah kentang.

Kamu ingin aku makan ini?

Aku berusaha bicara dengan Chou. Aku tak mendengar jawaban apapun. Kali ini perutku juga sama sekali tidak bereaksi meskipun kami sama-sama tahu, aku dalam kelaparan. Sehingga aku menutup kembali kulkasku.

Aku terduduk di lantai, memeluk lututku. Kulit-kulitku terasa kering bahkan di tanganku sendiri. Pori-porinya kasar dan mengelupas walau tak pernah aku melakukan sesuatu yang berat selain mencuci pakaian dan mengepel lantai rumah.

Kurasa kamu kekurangan nutrisi.

Aku merasa sebuah suara menghampiriku… Namun tak lewat telingaku.

Chou?

Ia berbisik perlahan dari sela-selanya yang tak terlipat, naik terus melewati kerongkongan hingga ke rongga mulutku yang kelam. Aku menyesap suaranya lewat amandelku untuk kemudian dikirim ke hidungnya yang terkadang penuh dengan kotoran. Lalu kemudian, ia berakhir di kepalaku. Berbicara dengan pikiranku.

Makanlah apel, sudah cukup. Aku akan berusaha meloloskannya. Kamu akan baik-baik saja.

Mengapa aku harus mempercayaimu?

Karena aku ususmu.

Lantas kamu bebas memerintahku?

Tidak… Aku berusaha membuatmu mengenalku. Bahwa aku sangat baik. Bahwa aku akan menjagamu jika kamu memikirkanku dan bicara padaku.

Apakah aku akan mati jika aku tidak mau bicara denganmu?

Tidak juga… Karena aku belum mau mati.

Aku kembali berdiri dan membuka kulkasku. Apel dan kentang masih berada di sana. Bau tak sedap dari dalam kulkas masih tercium dan membuatku mual.

Menolak mendengarkanku hanya membuatmu terus membuka kulkas tersebut. Bau itu akan terus menyiksamu, menyiksaku, dan aku akan mengeluarkan sisa-sisa isi perutmu yang paliiiinng terakhir.

Aku bisa mempercayaimu? Aku bertanya dengan keraguan, meskipun setelah aku membayangkan betapa nikmatnya apel dan berkeinginan untuk meraihnya keluar dari kulkas, tanganku mencengkeram apel tersebut dengan yakin. Ketika bibirku menyentuh kulit apel yang terasa lebih halus dari pori-pori jemariku, aku berpikir bisa mencumbu apel itu semalaman. Namun, gigiku bergerak sangat cepat hingga kurasakan airnya yang sepat nikmat mengaliri lidahku, masuk melewati kerongkonganku, menghampiri Chou yang kemudian menerimanya tanpa banyak bicara.

Tidak ada yang pernah benar-benar mengerti dirimu, kecuali tubuhmu sendiri Kiku-chan…

Mei Berlalu

Saya hampir lupa bagaimana menjadi manusia. Atau saya kehilangan makna yang sudah susah-susah saya kumpulkan dan simpan dalam kotak bernama otak. Yah, rupanya satu hal membunuh hal lainnya.

Ketika saya sadar Mei berlalu dan tidak ada satupun yang hinggap untuk dibaca dan ditulis. Begitu saja saya tak meninggalkan jejak. Seperti bapak yang cuma kirimkan uang bulanan atau murid yang pindah sekolah tanpa pamitan.

Atau begitukah hidup saya berjalan? Tanpa saya pusing berkelakar atau pamer sana sini. Tentunya ada banyak capaian yang tidak terkatakan satu dua sepuluh kalimat. Cukup yang saya rasakan, tahu-tahu… sebentar lagi saya sidang sarjana… Tahu-tahu saya selesaikan sebagian yang saya kejar empat tahun silam.

Setidaknya Mei berlalu, hidup saya menemukan arah baru…