Koto-kun

Koto tidak pernah banyak berbicara sementara aku menyerempet lebih sering setiap detik. Ia tidak pernah meninggi apalagi menggendut. Kurus, kecil, tulangnya menimbul di balik kulit perut putihnya yang tipis, bahunya tajam sama dengan sikunya yang menyikut mereka yang jahat. Ia tidak bertumbuh. Tidak juga berubah.

Aku bertemunya pada beberapa malam. Tidurku belum sampai terlelap ketika ujung-ujung jari kakiku dihisap olehnya. Giginya kecil-kecil, namun kuat hingga kukuku seperti tergunting tanpa perlu okaasan menyuruhku merapikannya setiap seminggu sekali.

Hisap. Hisap. Kadang nikmat kadang kasar. Namun, itu caranya berkomunikasi denganku sehingga aku tak takut dengannya seperti aku takut pada laki-laki lain yang datang dengan aroma sake dan tawa lebar penuh frustasi.

“Koto-kun, apa kita akan bermain hari ini?” selalu itu kalimat pertamaku.

Koto akan menggandeng tanganku dan berlari di hadapanku. Ia biarkan mataku terbiasa melihat tubuh telanjangnya yang tak pernah berubah. Wajahnya pucat pasi, namun menyiratkan kebahagiaan yang lebih tulus dibanding ketika okaasan menerima sejumlah uang setelah lebam-lebam matanya atau kesulitan berjalan setelah lima hingga enam laki-laki masuk ke kamarnya dalam sehari. Setidaknya dengan okaasan begitu, menu makan malam kami tidak hanya nasi dan miso atau seperempat mangkuk nato.

Aku dan Koto bermain sejak berusia lima tahun. Ia ajak aku melihat dari atas awan. Atau melompat dari atap gedung sekolahku ke dasar tak terhingga. Ia juga mengajarkanku bicara dengan laba-laba, gajah, beruang, ikan, dan serigala sehingga aku kemudian berteman dengan beberapa dari mereka. Lalu kemudian ia berbicara denganku lewat pikiran, lewat air yang masuk lewat tenggorokan untuk menyisakan kesegaran, lewat detak jantung yang penuh kewaspadaan, dan usus-ususku yang mudah bergejolak saat menerima apa yang seharusnya bukan milikku. Karenanya, aku terbiasa bertanya pada organ tubuhku sebelum membuat keputusan apapun.

Termasuk ketika okaasan meninggal saat usiaku baru saja menginjak lima belas tahun. Aku berhenti sekolah. Aku pergi dari rumah. Aku mencari jawaban hingga ke titik-titik di mana pikiran, tenggorokan, jantung, dan ususku tidak lagi bisa membantuku. Saat itulah Koto menghilang.

“Koto-kun…, ayo kita bermain!” aku memanggil-manggilnya berkali-kali. Ia menguasaiku. Ia menguasaiku. Ia menguasaiku.

Kini ia melepaskanku. Membiarkanku mencari cinta pada kenyataan. Karena setiap kudapati ia tidak muncul dan menghisap ujung-ujung jari kakiku, saat itulah aku tahu aku baru saja terbangun dari tidur.

—————-

“Kiku-chan, carilah cinta yang telanjang dan sederhana. Jangan terlena dengan kuasaku.”

Humans

Yes, you were right ☺

Life corner

A while ago, at lunch. There was a casual conversation in the office.

A friend randomly asked, “What if your parents killed in the past?”

The others and I were confused, “What do you mean?”

“What if your your parents are not whom you thought? What if…. they actually lied, they secretly adore someone else behind the back, or they secretly corrupt? Aren’t we going to be mad? Will we forgive?”

We  stopped chewing our foods and took a few seconds to think. Then, we nodded. We didn’t know what to say but we knew what those questions meant.

“Exactly…. From all the people in the world, our parents are probably the ones we expect and we demand the most. Just wonder how hard it is, to live with such responsibilities and burdens. To always be expected to be a good person, to be the role model, not to make…

View original post 108 more words

Jatinegara

Untuk G,

Ada yang lebih cepat dari kereta

Di saat langkah lari beradu nyali
Juga ketika rombongan dari pinggiran ramai-ramai ke pasar malam

Mungkin sabung ayam baru selesai digelar
Dan bapak belum juga tiba di rumah
Tapi sebelum kita sama-sama selesaikan makan malam
Jemariku sudah menitipkan pesan

Aku sudah tiba di Jatinegara
Telunjukku sudah merindukanmu jua