Mengarung Lagu

Now you should do, what you do and do
Call the final light, it takes a little more

Do Re Mi Fa So La Ti Do
That’s the way the story goes

Though the truth may vary
This ship will carry our bodies safe to shore

I keep depictions of the war
On a roadside, on the floor

The war outside our door keeps raging on
Hold onto this lullaby

It’s a shot in the dark but I’ll make it

(If I could go back to that day
But I’ll never be that person again)

Cause you will hate yourself in the end

dan kawan, bawaku tersesat ke entah berantah

tersaru antara nikmat atau lara

***

Mereka tidak pernah gagal membawa ketenangan. Juga selama lagu masih memiliki ceritanya masing-masing, kita pun bisa memulai dengan memikirkan cerita dari seluruhnya.

Advertisements

Lima Menit

tidak bisa berpikir

apa yang nyala sudah mati

dan detik bergulir tiada henti

sampai-sampai lupa pada bunyi

atau kemudian…

semua menyaru

dalam biru serta haru

dalam lagu paruh waktu

dalam ragu juga malu

lima menit saja

lima menit

untuk hentikan semua rasa sakit

karena kini yang sisa hanya basa-basi dan gelap yang infiniti

——-

lapar tengah malam tapi lampu dapur sudah dimatikan

Saat Min Bersiap Mati

Saat Min bersiap mati.

Aku duduk di ruang tengah. Teh yang kuteguk terasa begitu manis. Gula-gulanya mengendap di dasar cangkir, namun sarinya meruak hingga ke sela-sela tenggorokan yang kering.

“Nooon… Non Adis!!!” Mbok berteriak dengan suara melengking. Teh ku tumpah. Panas menyebar di atas kulit kakiku yang hanya terbungkus katun tipis.

***

Saat Min bersiap mati. Satu jam yang lalu.

Mbok baru pulang dari pasar. Dia menggandeng si kecil Neno yang rewel sejak pagi. Ketika ibu membuka pintu depan dengan tampang senewen, si Mbok langsung minta maaf. Ibu seharian juga rewel khawatir dengan Neno yang menghilang dibawa si Mbok.

Ya, anak bungsu selalu spesial di keluarga ini. Terjadi pada keluarga Bude Lin, Pakle Sys, Yu Rina, Yu Dinda, Mas Andri, dan yang lain-lain.

“Duh, Mbok… Kok lama banget sih bawa Neno-nya?” Ibu merepet tanpa memberi kesempatan si Mbok menarik nafas.

“Angkotnya lama, Nyah… Maafin si Mbok ya.”

“Neno minta yang aneh-aneh nggak tadi di pasar?” Ibu akhirnya membiarkan si Mbok masuk rumah. Ia menggendong Neno yang kini sudah lebih tenang karena memegang robot-robotannya.

“Dia minta sirup-sirupan abang-abang, Nyah. Tapi langsung diem pas Mbok kasih mainan. Untung Mbok nggak lupa bawa robot-robotannya.”

“Duh Neno-nya ibu nangis mulu. Makan roti ya, udah ibu siapin di dapur. Oiya, si Min mana ya? Lantai atas belum dipel.”

“Lagi telpon-telponan sama mba-nya Gandis kali,” aku menjawab sambil lalu. Dengan tenang kubawa beberapa ikat sayur yang dibeli si Mbok ke dapur. Sejenak dari jendela, aku melihat Min. Dia tidak sedang menelepon siapapun. Dia memandang ke dinding rumah Gandis yang tepat berada di sebelah rumahku. Termenung.

***

Saat Min bersiap mati. Lima belas menit yang lalu.

Min mondar-mandir di hadapanku. Ia membawa pel dan ember, naik ke lantai atas, mengepelnya. Ia turun sebentar, mengembalikan pel ke tempat cucian. Datang kembali, hanya untuk bertanya apa aku ingin minum teh di Sabtu pagi yang tenang.

“Jangan banyak-banyak gulanya,” tanggapku.

Ia mengangguk. Kembali ke dapur, membuat teh, mengobrol dengan si Mbok. Lalu datang lagi dengan secangkir teh. Wajahnya masih termenung, kosong, namun ia masih bisa berpikir dan mendengarkan.

“Mas Min kenapa?” tanyaku sambil menerima teh dari tangannya.

“Ndak papa, Non.” Kali ini ia berjalan ke pintu depan. Keluar untuk waktu yang lama.

***

Saat Min bersiap mati.

Di tengah lengkingan suara si Mbok yang panik dan mulai memanggil seluruh isi rumah. Ibu tergesa-gesa turun dari kamarnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tempat bapak menghabiskan tiga puntung rokok setiap hari sembari buang air. Dan di tengah kegaduhan itu, Gandis meneleponku.

“Astaghfirullah!!!” Suara ibu menjerit tidak kalah melengking.

“Halo…?” Aku mengangkat telepon itu.

“Min tahu ke mana si Sumi?” dia bertanya dengan nada tergesa.

“Maksudmu?”

“Sumi hilang sejak semalam. Terakhir ia pergi bersama Min.”

Aku mengernyitkan kening.

“Adis!!! Adis telepon ambulan cepat!” Bapak membentak, minta perintahnya segera dipatuhi. Tanpa sadar kumatikan sambungan teleponku dengan Gandis dan menghubungi rumah sakit terdekat tanpa tahu kegaduhan apa yang terjadi.

***

Saat Min bersiap mati. Lima menit yang lalu.

Min memilih caranya sendiri untuk menikmati hari itu. Ia keluar dari rumah majikannya, menyeringai. Ia mengeluarkan tabung kecil dari dalam sakunya. Puas isinya tinggal setengah. Dua sendok teh ia gunakan tadi malam kepada Sumi, kekasihnya, asisten rumah tangga pacar majikannya. Setengah sendok teh ia tabur ke dalam roti yang disiapkan si Nyonyah untuk anak bungsunya. Satu sendok teh lain ia masukan dalam cangkir teh yang ia hantarkan pada si sulung. Kini ia teguk sekaligus sisanya. Dalam lima menit, rumah itu akan gaduh karena isi tabung kecil itu.

***

Saat Min bersiap mati.

“Halo, Mas kami butuh ambulan ke…,” aku tidak bisa mengeluarkan suaraku lagi. Lambungku sakit. Tenggorokanku panas. Bibirku terasa terbakar. Semua tiba-tiba.

“Halo, Mba?” sahut suara di ujung telepon.

“Adis cepat! Neno keracunan!” Bapak tidak sabaran. Ia menarik telepon dari telingaku dan meminta ambulan sendiri.

Kakiku lemas. Rasanya seluruh tubuhku remuk. Dan aku terjatuh.

***

Min sudah tahu dia akan mati.

Ia merasakan itu. Sama persis seperti yang aku rasakan beberapa menit yang lalu. Lambung yang sakit seperti diaduk-aduk. Tenggorokan yang panas seperti ditempeli bara api. Bibir yang terasa terbakar, seakan pecah melepuh padahal hanya mengering. Kaki yang tak mampu berdiri dan badan yang perlahan seperti diremukan tangan raksasa.

Namun aku melihatnya dalam ketiadaanku. Melihatnya masih sempat menggali tanah di taman depan rumah. Di sana ada Sumi yang dicari-cari Gandis. Di sana ia masuk dalam liang kecil 2×3 meter. Memeluk Sumi dalam tubuhnya yang biru. Dan perlahan Min mengejang, kejang hebat hingga mulutnya berbusa. Ia mati. Ia persiapkan kematiannya sendiri di samping Sumi.

Dan aku tak mendapatkan jawabanku, mengapa aku juga harus diajaknya mati?