Mecin

apa jadinya kalau kebanyakan bumbu?

seperti candu

atau seperti kamu

gurih, manis, asam lebih tepat dikatakan nikmat

maka pahit tak perlu dihiraukan

lekas-lekas matang

lekas-lekas saji

lekas-lekas lahap

mampu terasa, mampu terendap

seperti cinta yang bersedimen di dasar pikiran

juga hasrat yang lebih kejam dari hukuman neraka

kita-kita tak perlu banyak bertingkah

“habiskan cepat…!”

maka detik berikutnya kamu yang kulahap

lebih tajam dari mecin pada semangkuk kaldu

———–

antara lapar dan rindu tercipta kamu

Advertisements

Tidak untuk Dipahami

Aku batal tidur
Tak ada mimpi yang mengijinkan
Karena pintunya ditutup rapat
Seperti kamar yang bosan lampunya menyala
Atau perempuan yang akhirnya selingkuh
Dan laki-laki yang pulang ke rumah pelacur
Namun mata tertutup tak seperti bibir
Tak bisa sembunyi, tak bisa menipu
Tapi juga tak selalu jujur
Karena setelah ini tidur pun tetap menyisakan pilu

——-
bilang saja lagi insomnia, apa susah?

Selimut

udara terlalu dingin
tiap rongga terasa bernafas bersama angin
dengan tenang, secara kasar
dengan senang, secara sadar
dibiarkannya sisi hangat perlahan kehilangan arah
sehingga berubah ia menjadi sedingin teman-temannya
bersama hati, juga luka
bersama kaki, juga buku-buku jarinya
kemudian apa yang membeku menjadi tak tersentuh
karena tak ada kekuatan yang cukup panas
atau matahari yang sepekan hilang dari ingatan
dan suhu tidak berubah menyenangkan
lalu kita terjebak dalam ruang di antara mau dan tak mau
karena jika diteruskan aku dan kamu akan usai
seperti cerita yang sudah-sudah
dan semua sesal yang diciptakan manusia
terhakimi oleh setiap nilai dalam perbuatan
dan di sela dingin kenikmatan
maka selimut menjadi rongga yang akhirnya kita mampu selamatkan

——-

kita tidak sedang bermimpi kan?

2015

Hari ini saya berpikir jika saya mengambil langkah pertama di pertengahan tahun nanti, saya akan melangkah ke mana saja selama 1 dekade ke depan.

apa sebaiknya saya bertahan menjadi jurnalis, seperti yang saya tetapkan dari awal? apa saya sebaiknya kembali menjadi pencerita yang kebanyakan menulis fiksi tanpa daging sementara tidak ada lagi pulpen yang habis digunakan untuk menulis? apa saya sebaiknya merumahkan diri dan melepaskan rasa penasaran saya terhadap buku resep untuk dimasak lalu dimakan dengan senang, tapi tak menghasilkan apa-apa? atau sebaiknya saya melanjutkan sekolah dan berpikir untuk menjadi akademisi? atau atau kalau saya terus jadi jurnalis, apa saya masih bisa sekolah dan tetap menjadi jurnalis setelah itu? kenapa sih saya ga nyemplung dan belajar aja di berbagai media di luar, ganti-ganti gitu? bisa ga sih? atau ya kenapa tidak terpikir untuk buka bisnis aja? apa lebih baik ya kalau bangun perusahaan media? eh tapi katanya mau ngembangin koperasi di media komunitas? cuma ya, kalau udah kaya seru juga bikin studio yang bisa dipakai buat pesta sosialita dan studio tari! kangen juga ya nari, kenapa saya ga seriusin nari aja waktu SMA, kenapa musti berhenti? tapi bener, jadi jurnalis lebih bikin saya merasa hidup. tapi ya ga boong, nari itu salah satu cara bercerita dan seluruh emosi dari sedih, senang, patah hati, cinta, amarah, semua hingga kebohongan dan kebenaran bisa ditunjukan dalam tarian. ya andai, dulu saya mau ngikutin kata Gery daftar generasi pertama JKT48. oh iya, trus jadi sekrup kapitalis gitu? bukannya separuh diri saya juga ingin jadi orang terkenal? tapi ya, itu mengkhianati misi budaya. itu bukan seniman! tapi sejak kapan saya pengen jadi seniman? kembali lagi, kenapa saya tidak pindah dari Jakarta saja, mulai hidup yang baru? tapi kalau ga ada tujuan ya sama aja boong. ya tapi di Indonesia, saya merasa terjebak pada hal klise. saya ga mau jadi anjing tetangga yang sekedar ikut menyahut gonggongan. ya kalau gitu berdiri di atas kaki sendiri dong ya harusnya!

OH IYA TKA GUA BELUM SELESAI!!!

I don’t have any story, yet. Nothing to be proud of. Nothing to be shared. I know that I should be scared of what I believe in or what I dreamed. It’ll always be something that represent me. Something that I will taken care of or being frustrated of. Something that will spend more than I ever offered. And at that time, when I must choose the exact path… I wish I’m not a mediocre fighter anymore.

At that point, for the first time in my life, I forgot that I ever really wanted to get married right after graduated.

Am I being too honest?

Kembang Api

Hari ini ia bersembunyi, hanya membuncah dari pucuk-pucuk pencakar langit

Lupa ia, ribuan kepala menengadah

Namun di balik keramaian, selalu ada sepi

Pada bagian tengah yang tiada seorang mampu isi

Karena Tuhan biarkan ia begitu

Di antara waktu dan ruang yang sengaja dipisahkan

Di antara tangis juga tawa yang sengaja diciptakan

Lalu dalam keremangan, decak-decak dan detak-detak

Tuhan menggantungkan pada satu serpihan kembang-kembang di udara

 

Semoga tahun depan kamu berbahagia

——-

untuk yang berduka pada hari ke-365 pukul 23.59