Cumulonimbus

dan bergelung-gelung ia di udara
menghitam dan menanti tumpah
lalu menengadah ke langit, aku berpikir,

mungkin air mataku menguap, ter-evaporasi bersamanya

tuan sampaikan surat padaku pagi tadi
menanti kita bertemu
di sisi jalan, dekat gang biasa angin menyapa

sudah lama

begitu singkatnya
dengan harapan semesta menyatukan dua ruang

tapi angin selalu memutarbalikan cerita
meminta lebih dari sekedar daun yang ikut terbang
atau sayap burung yang sekuat hati melawannya

cumulonimbus menuju ke arahku
kemudian ke tempatmu

begitu kudengar darimu

juga kesal, juga sesal
tapi merutuk tidak berguna
karena cumulonimbus datang
dan apa yang sudah dipisahkan hujan, hanya kembali ketika genting rumah berhenti terketuk dan jendela tak lagi berkabut

———

apa yang lebih menyebalkan dari jalanan yang basah?

Advertisements

Kata Rindu

Malam selalu terlalu keras pada kita

Memisahkan selepas deru motor berlalu

Dan jalan menjadi penuh abu

Lalu kamu ingat aku tinggalkan pesan padamu

Ketika hujan tidak menyentuh bumi,

Dan langit tidak berbaik hati menyisakan pelangi, maka

“Cepat tidur…!”

Sudah cukup menjelaskan rindu.

———

karena menanti pagi, seperti menantimu datang kembali

Kamarmu

Namun tepat jarum panjang di angka sepuluh

Lima menit sayang bersimbah peluh

Cinta menyublim dan ku menyatu

 

Tapi sayang…

“Jangan terlalu keras…”

Dan sayang membuatnya kembali dalam “uhm…” dan “ah…”

 

———–

pagi pukul 1, ketika tidak ada puisi kecuali fantasi

Pamit

Kita terlalu sering bicara tentang ‘muse’. Di mana dia berada? Kapan kita bisa mendapatkannya? Namun seringkali ia tidak bisa dicari, ia mendatangi, merasuk, menyentuh rongga-rongga pikiran, menyublim dalam dinding-dinding hati, lalu membuncah keluar lewat cipta karya dan karsa.

Dan ketika saya berusaha menjadikan seseorang sebagai muse saya, sebagai kekasih dalam setiap karya, atau seperti selingkuhan dalam setiap jeda, akhirnya saya menemukan kehampaan.

Kemudian takdir dan keputusan membawa saya ke sebuah arah. Di sana saya membentuk diri, menemukan alienasi hingga mengubahnya jadi sebuah kesadaran penuh bahwa akhirnya saya tahu apa yang mau saya lakukan untuk hidup saya. Saya rasa saya menemukan muse saya. Sebelumnya maaf karena tulisan ini akan sangat panjang.

***

This slideshow requires JavaScript.

Saya ingat bagaimana tiga tahun lalu, sebagai mahasiswa semester dua, saya menawarkan diri masuk ke dalam kumpulan orang yang terlalu serius. Mereka cukup dikenal selama enam tahun sebagai Badan Otonom FISIPERS UI. Jika kamu pernah membaca Rumah, ya saya akan bicara tentang mereka lagi.

Dengan polosnya saya bilang, saya tidak ingin terikat pada lembaga karier, padahal saya sedang terjerumus masuk ke dalam lembaga yang demikian. Dengan kurang ajarnya saya bilang, saya di sini mau ngumpulin port-folio. Dan dengan menyakitkannya, setahun kemudian Jojo cerita, “Nin dulu lo nyaris ga keterima jadi reporter karena lo biasa aja.”

Saya memulai dengan saya yang bukan apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Saya cuma membawa niat.

Kemudian niat itulah yang membawa saya sampai tiga tahun berada di sini. Menjadi kuli tinta, menjadi bosnya kuli tinta, hingga jadi bosnya semua lini tukang panggul kamera, tukang desain, juga si kuli tinta tadi.

Seringkali saya mengutuk pada diri sendiri, kalau saya tidak ada di sini pasti saat ini saya sudah bisa magang sana-sini, ikut lomba ini-itu, nonton teater JKT48 tiap hari, nggak perlu ngekos, saya bebas melakukan apapun.

Namun, toh saya tetap maju. Tetap memilih untuk berada di sini bersama teman-teman saya yang juga memulainya dari awal. Semakin lama saya berada di sini, perasaan itu mulai mengikis. Saya mulai merasa senang dan hidup. Semakin lama saya berada di sini, saya juga bertemu semakin banyak orang. Anak-anak baru yang masuk untuk bertahan atau masuk kemudian keluar dan tetap memberi saya pelajaran berharga dalam hidup. Saya rasa tempat ini menjadi awal bagi saya.

Mereka mengajari saya untuk ikhlas, untuk menemukan titik bernama kesabaran, menemukan amarah, menemukan ambisi, juga memunculkan kembali keinginan berkarya. Terlepas dari ego saya terhadap jurnalisme, isu mahasiswa, dan teknik bercerita serta ambisi besar saya di FISIP yang belum kunjung terwujud, saya tetap merasa terpenuhi dengan mereka.

Bersama dengan lima teman saya yang menjadi pengurus inti, kami berusaha membangun rumah ini untuk anak-anak lain yang ingin bergabung, bergembira, dan bersakit-sakit bersama kami.

Kini telah tiba di masa akhir kami bersama. Izinkan saya berterimakasih satu persatu kepada kalian.

Kepada Kharishar Kahfi, Puput Tripeni, Firda Nugraha, Aufa Arifin, Keyza Widiatmika, Pravitha Lascaria, Maharani Karlina… terimakasih atas kesediaan menunggu di awal dan akhir. Terimakasih telah menjadi perpanjangan tangan atau terkadang menjadi mesin penyunting. Gue bener-bener ga tahu kalau tanpa kalian mungkin berat badan gue sekarang tinggal 20 kg (balik kayak jaman SD). Tanpa Kahfi, TOR dan urusan percetakan bisa bikin gue jadi debu jalanan. Tanpa para editor, gue akan punya motivasi untuk banting laptop. Terkhusus Keyza, Vitha, Rani, dan Aufa terimakasih telah menjadi teman diskusi yang menyenangkan. Terimakasih telah melayani pikiran saya dengan pro kontra.

Kepada Nadhilla Iffa dan Monica Fecilya yang bersedia bertahan satu tahun lagi untuk berbagi. Tidak ada yang lebih lapang dada daripada kalian berdua.

Kepada Ellya Mutia, Kartika Sukmatullahi, Anissa Putri, Valid Ganang Pradhitya, dan Verina Haifa… terimakasih telah menjadi kakak-kakak yang baik bagi divisinya. Terimakasih dengan rela menerima omelan serta lelucon. Terimakasih telah berkata dengan jujur setiap saya mengharapkan jawaban. Terimakasih telah mengeluh sehingga saya tahu apa yang tidak bisa manusia terima dalam hidup. Terimakasih untuk kerja kerasnya 2 tahun terakhir. Kalian tim terbaik yang pernah saya miliki, i really mean it…

Kepada Peri, Bela Putri, Bila, Michele, Ayu, Fika, Intan, Albi, Nisqil, Bob, Ides, Manda, Nadia, Nabela, Bilun, Bela Kenyaswati, Poti, Joanna, Era, Col, Hil, Sita, Ajet, Tian, Fia, Otis, Aldi, Greta, Dito, dan Ruth… terimakasih telah menjadi pondasi yang kuat bagi FISIPERS. Kalian tidak tahu seberapa banyak saya mengelus dada atau tersenyum puas. Kalian tidak tahu seberapa banyak harapan saya pada kalian. Apapun yang akan kalian lakukan setelah ini, jangan pernah memberikan setengah hati. Keputusan dan komitmen adalah bagian dari harga diri kalian.

Kepada teman-teman di Perusahaan yang juga banyak dan ingin sekali saya sebutkan satu-satu namanya… Terimakasih… Gue seringkali merasa tidak enak dengan kalian. Gue mendengar banyak tentang apa yang kalian lakukan dan gue tahu seberapa besar lelahnya. Terimakasih atas determinasinya. Atas pertengkaran, perdebatan, dan pelajaran bahwa kita selalu membutuhkan satu sama lain untuk berkembang.

***

Tiga tahun berada di sini, memberi saya nikmat dan rugi yang sama besarnya. Ada sedih dan duka, juga obat dan luka yang sama rasanya. Untunglah, saya tidak mati rasa. Karena mampu merasakannya menyadarkan saya bahwa saya telah melewati satu fase hidup saya sebagai manusia. Telah banyak yang kita lewati bersama dan selamanya abadi dalam kenangan dan kerinduan.

This slideshow requires JavaScript.

Semoga apa yang telah kami bagi meninggalkan jejak yang baik di diri teman-teman. Kami berharap teman-teman mampu membawa tempat ini ke cita-cita aslinya.  Semoga pemimpin yang baru, Anindita Saraswati mampu memberi kebermanfaatan yang seluas-luasnya dan mengajak kita semua semakin cinta terhadap kampus kita tercinta, FISIP Universitas Indonesia. Ingat selalu VERITAS, PROBITAS, IUSTISIA. Ingat selalu Kritis, Informatif, Apresiatif.

Dengan rasa lega bersaru sedih, saya Aninta Ekanila

Bersama Dodi Prananda, Dwi Aini Bestari, Namira Rahajeng Permatatika, Sefiana Putri, Halida Nufaisa, Pravitha Lascaria Utami, dan Maharani Karlina CH pamit dari FISIPERS UI 2014.

From the bottom of our hearts, we'd like to say thank you and... FAREWELL....

From the bottom of our hearts, we’d like to say thank you and… FAREWELL….

Sampai jumpa di masa depan…

Pravitha

Kami bicara banyak hal. Tentang semut yang berjalan, dinding yang menghitam, ketukan di ruang sebelah, karpet berbau, lelaki pecinta lelaki, perempuan senggama dengan perempuan, seks dalam tingkatan intimasi cinta, pil ataukah spiral, kekalutan akan agama, keperluan akan sholat, bilamana kau mengucap syahadat, penerbitan dalam berbagai cara, lensa dengan 1000 kata, teman dalam suka dan duka, masyarakat yang kian hari semakin sakit, masa depan yang abu-abu, dan… ilmu yang bertambah bagai nasi yang disuap ke mulut.

Hari ini aku bicara tentang dia. Sendiri tanpa teman, ia berkata “ini sidang tertutup”. Menyelesaikan dengan cepat di hari pertama ketika calon sarjana lainnya menanti juga dengan penuh harap. Setelah ia keluar dari ruangan dan hidupnya sepenuhnya berubah. Satu fase dilalui setelah 3.5 tahun berkata “shit!” atau “i know right” dalam ragu dan kebenaran, dalam kesalahan ketik atau mulut yang bicara lebih cepat. Dan Pravitha tetap menjadi dirinya yang ambisius namun acuh.

Vit, setiap meninggalkan jejak, jangan lupa untuk menelusurinya kembali. Pulang dan temui wajah-wajah lama yang pernah kamu temani. Selamat datang dan pindah ke dunia baru, datang dan temui sebuah arti.

Anggap saja ini laman yang akhirnya tertulis dalam BOOM (book of our memories) yang tak sempat terisi.

Congraduation Pravitha Lascaria Utami, S.Sos

Gaudeamus Igitur! Vivat academia! Vivat quod libet!

Gaudeamus Igitur! Vivat academia! Vivat quod libet!

 

P.S: Itu lampu di atas kayak panci, gengges sis. Love you pit! Tulisan boleh sering typo, but please idup jangan typo!