Gabby

I was eating a fried chicken when I remembered I haven’t made a birthday message for her. I hasten my eating then turning on my laptop. It’ll be the last birthday letter to my girls. So here we go…

 

Dear Gabby Evitho,

You don’t know that I spent fifteen minutes in the morning to recall my memories about you. Sometimes, I think that we’re not that close compared with the other. So I guess, it would be hard to find a good description about you. But then, after five seconds of looking at the traffic jam, I found a lot of things about you.

I remembered that you’re primates lover. You put orangutan as your cellphone home screen. And you cannot be separated from Nadia’s chimpanzee everytime we get into her dorm.

I remembered the moment you made jokes with Anditha and Farraz. It was a nice lullaby and also a morning greeting in our sleepover time. You three dialoguing about oh-so-not-important-drama and it was sound like an entertainment show on radio for me.

I remembered that you awkwardly so proud to announce that you knew Nabilah JKT48 live in Priuk (in which you live there). Or you unexpectedly was her brother schoolmate. And all I can do just laughing… Then the other would make a joke about your hometown (fortunately, Bekasi take the trend now).

You’re a person within your own definition. You joined soccer club and having your own experience when we’re not doing any sports. You made your own experiences while playing with your team or winning over a match. For me… that’s so cool.

So, it’s your turn to turn 21. Three years older from the first time we befriend. You face a tough year too, working on thesis, graduating, fighting for your future… Well, because of that, I always wish that you stay like who you are now. For everything you would do in your life, always be the reason of someone’s happiest smile. Cause you’ve been that person to us…

with Gabby

Happy birthday Gabby…

Mediocrity

Once, I became so restless and have nowhere to go. Actually, I have a home that doesn’t feels like home.

 

Thus…

Long ago before I reach 20, I was in vain to find the meaning of ‘effort’ and ‘trying’. Then in that uncertain dissonance condition, I found those people. They’re friends of mine. So we start to rebuild what I called a home for everyone. So every person that we meet could join and feel the happiness or sometimes feel the sorrow. We might suffering in lack-of-anything or feeling inferior over those people who had name. But really… that’s not the matter.

My friends… they’re not great enough to be an opinion leader or outstanding public figure. They’re a mediocre who live in special custom of their own. And that mediocrity makes it even greater.

That mediocrity keeping its alive.

That mediocrity keeping us sane.

That mediocrity protected me from greediness.

Because the important thing is we know what we want to do. Even we’re just a mediocre fighter.

Noon Rain

we found a place to which we drive. and I offer you the time, to sleep, to dream, to wake up when we arrive…

Marble Sounds-The Time to Sleep

————————————————————————-

Chapter 4: Reed

Dia berdiri terlihat tak menarik napas dalam waktu lama, namun matanya hidup. Ia bagai mayat tak terurus, namun tangannya hangat. Tubuhnya kurus, namun melahap tiga nasi kotak untuk dirinya sendiri.

“Hujan membuat kita kedinginan, makanan membuat kita hangat,” Rain berkata dengan naif.

Aku mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tasku. Masih tersisa lima batang, kuhemat untuk saat-saat paling krusial. “Ini lebih nyata,” kataku memberikan satu batang padanya.

“Pukul berapa sekarang?” ia beralih tanpa peduli pada rokok yang kutawarkan. “Ah! Jam dua belas siang! Aku bisa tawarkan waktu padamu.”

“Hah?”

Ia membuang kotak-kotak nasi yang sudah tak berisi. Kemudian ia mengembangkan kembali payungnya dan masuk ke dalam hujan deras. “Kita bisa menunggu sampai hujan reda atau mencari sendiri.”

Rain menarik tanganku dan membawa diriku masuk ke dalam sebuah bis yang lewat di hadapan kami. Aku tidak memperhatikan nomor maupun arah tujuan akhir. Bis terus melaju dan menyajikan pemandangan buram dari balik jendelanya yang basah oleh hujan.

I must be so stupid,” desisku.

Lima menit kemudian, ia kembali menarik tanganku keluar dari dalam bis. Berlari tanpa payung menutupi kepala, masuk ke dalam bis lain yang lebih besar. Kali ini aku benar-benar tidak tahu ke mana kami akan pergi. Di dalam terlalu dingin dan aku terlalu lelah untuk berpikir.

“Kita akan mencari alang-alang,” Rain berkata dalam kebingunganku.

“Alang-alang?”

Ya… dan dia tertidur lebih cepat dari pada kedipan mata. Bis melaju dan kami satu-satunya penumpang dalam parade mencari alang-alang.

Previous Chapters

On way home

I spent the rest of my afternoon walk to figure out my illness. Every step that I took felt so weak. I got tremble.

But then, I walked straight to home. Passed every alleys, through the heavy rain, faced the monsoon. I pushed myself, walked like no pain on my sole. The hot sphere around my eyes felt so thick, but I could see it clear that I’m alone.

I kept pushing myself to walk. One step at a time. One thing to solve in every turn.

I kept myself awake in every single steps. Kept me sane at the same time. Figuring the reason how could I became sick. Then I know there’re some questions that I refuse to answer.

At certain point, I stopped. Took a deep breath, let the not-so-friendly-monsoon got into my lungs. In a sec, I got refresh. I thought I was understand that it’s not physical. I had something on my mind that rarely won’t come out. It was like a BINGO I should get an explanation!

Then I pushed myself to walk afterwards. Fifteen minutes later, I stopped in front of my house. That weakness, illness, and tremble which I’ve been fought on my way home just help me to see it clear. At this point, I think I became a better person.

…that what I’ve tried to make a better living for myself is a big step to make a better living with someone. But the question later is; would you join my parade?

Noon Rain

they thought they abandoned each other. without any desire, they run into each other again. but both of them know, it’s better no destiny.

————————————————————————-

Chapter 3: Silence

Hujan kembali mengguyur sebagian besar Jakarta setelah tiga hari hanya mampir untuk membasahi aspal yang baru dicor atau meninggalkan jejak pada mobil yang baru dicuci di akhir pekan. Aku menatap sepatu putihku sambil menyesal. Nanti malam, aku harus bersusah-susah menyikat sepatu sebelum tidur.

“Sekar?” seseorang memanggil namaku. “Sekar kan?”

Aku mendongak. Aku mengenal wajah itu. Seseorang dari masa lalu yang hanya kukenal dalam sehari. Kusesali keberadaannya karena kami begitu bodoh tidak bertanya bagaimana kita bisa saling menghubungi.

“Oh mungkin aku salah orang…,” katanya lagi. Ia kemudian berbalik bersama payung besarnya menerjang kembali hujan di depan langkah kakinya.

Apakabar orang itu? Mengapa ia menghampiriku? Mengapa ia harus mengingat namaku? Bukankah Tuhan membiarkan kami menghilang dari satu sama lain. Karena lebih baik kami tidak bertemu bila tidak ada takdir di antara kami.

“Rain!” aku berteriak, tanpa kontrol dalam mulut. Hanya sebuah keyakinan bahwa Sartre menanamkan pikiran soal filsafat eksistensialisme bahwa aku ‘being for others‘, secara sadar memiliki hubungan antar subjek.

Ia menoleh. Terdiam…

“Ini bukan sebuah kebetulan kan?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Aku menemukanmu.”

Read Chapter 1

Read Chapter 2

Read Chapter 4

Namira

She’s one of my closest friends. Yesterday, she just turned 21. Another girl who turned 21 and will face a really tough year up till this December. 

 

Dear Namira Ajeng,

We coincidentally became friend by destiny (should I mentioned like that?). I know you because my teacher is your grand-auntie. But then I personally know you when I visited Farraz’s dorm. You came with Aini, ‘bullied me’ with attitude (lol). Without even realized, it’s been 3.5 years already. I’ve been there sometimes to accompany you on the way home, sometimes to discuss some personal stuffs, sometimes to share the organization’s problem, sometimes to hanging out without fear of sadness, and sometimes to laugh at your ‘nyinyiran‘. That’s a lot! A lot to know you better.

In just 2 months, you would graduate with Syabina, Anditha, Nadia, and Gabby. So you should know, it’s actually a good thing that I met you. Your existence is so real even your father rarely give a permission. Your advice is wise even you didn’t know the exact thing that happened to me. Your easy going attitude is an expression of ‘alright just trust me. I’ll do my best’. Your tears is a presence of love for your beloved parents and someone you loved the most. Well yes, you are strong enough to face yourself.

Be the best, Jeng. Be someone who could make her own story. Be someone who could freely see the world above your palm. Be someone who could through any land under your sole. Be the sky who worth to be looked at. Be the leaf who will give a life.

And in the end, be the person who always be happy in the rest of your life.

Namira

 

I wish you a happy birthday 🙂

Lesson Learned

Semester ini penuh dengan mata kuliah produksi feature. Ya, sejenis liputan jurnalisme yang mengedepankan sisi human-interest. Capek, rasanya bukan main menguras otak dan energi. Tapi saya belajar sesuatu, belajar memahami. Feature bukan liputan yang kita harus ngejar-ngejar tokoh penting buat kasih statement mutakhir, feature lebih dari itu. Feature mengajak kita mengenal cerita manusia yang disampaikan oleh manusia sendiri. Kadang subyeknya ini super biasa, hidup di tempat yang sangat biasa, ceritanya pun kadang biasa, tapi value-nya bisa jadi luar biasa.

Hmm… dalam perjalanan pulang dari lokasi liputan kemarin saya merasa dalam tingkat ketenangan dan kebahagiaan yang khidmat. Padahal saya tahu, banyak masalah dan tanggung jawab yang masih menanti saya tangani di Jakarta. Saya tahu, semua hal yang belum terselesaikan itu pasti bikin saya stress. Tapi ternyata ga tuh… Setelah saya belajar menggunakan hati dan logika saya secara bersamaan untuk memahami sebuah cerita, saya jadi belajar menggunakan keduanya untuk memahami kehidupan saya sendiri atau… perasaan saya sendiri.

I’m feeling like a human. A full human.

Saya ingat kenapa saya ambil jurusan ini 3.5 tahun yang lalu. Saya pikir, saya bisa bercerita dengan cara lain. Saya pikir, saya bisa semakin membumi, mendekat pada ‘tanah’ yang dzat-nya menciptakan kehidupan. Saya pikir, saya bisa tahu lebih banyak hal, pada isu-isu yang terasa asing, pada teori yang terasa tragis, pada ideologi yang terasa pahit, atau pada masyarakat yang kabarnya sakit. Saya ingin memastikan diri saya, apa saya menuju arah yang tepat. Apa saya menjejak dengan benar?

Ada di sini, menjadi seperti ini, dan bercerita dengan cara ini membuat saya lebih ikhlas.

Mungkin saat ini saya baru sadar, saya harus mengubah hidup saya. Hidup yang lebih terasa seperti manusia sehingga apapun yang akan terjadi di hari esok, saya siap menjadi manusia itu… yang menyediakan ruang besar untuk perubahan pada dirinya sendiri. Karena selalu ada waktu untuk ikhlas. Dan ada hati dan logika untuk memahami.

Jadi, saya memutuskan mengubah impian masa kecil saya. Sehingga suatu hari saya yang jadi subyek sebuah cerita.