Contemplating Tiananmen

History was erased and twisted by those in power. It’s not just about twisting the facts of what happened; it’s the values they twisted. Even if students know about the crackdown, they say, that’s okay. When the regime ordered the army to fire on people in the name of national pride and economic development, it sent the message that anything can be done to become rich.

If another Tiananmen happened now it would not be out of idealism and passion, but grievances and anger.

-Rowena He (Harvard lecturer and once a schoolgirl who joined the 1989’s protest in Guangzhou. an author of Tiananmen Exiles: Voices of The Struggle) in her discussion with The Guardian-

Then which side do you prefer? Indonesia have its own history and also twisted by those in power. We became more ignorant with what’s going on the grass root. We became more blind and individualistic. Some said being an idealist has nothing to do with society. And the others said that being an idealist has no significance in life. At least for me…, this democracy reached its climax and everybody need to reform and make up their mind. Being an idealist means that I won’t let the society become weak and powerless.

Farraz

Dear Farraz,

 

In this graceful night of Soekarno & A.G. Eka Wenats’ birthday, I’d like to say HAPPY BIRTHDAY TO YOU TOO!!!

Hai… kamu apakabar? Semoga semakin baik ya sejak hijrah kuliah di Seoul. Ternyata sudah tiga tahun saja bisa ngucapin ultah ke Farraz. Ingat banget sempat gagal ngasih surprise di ulang tahun ke-19 gara-gara ketemu di jalan (lol), untung Farraz dengan ‘berbaik hati’ kembali ke kosan dan berpura-pura tidur agar bisa pura-pura kaget juga :”). Masih ingat juga di ulang tahun ke-20 kita semua lagi UAS dan Farraz dipaksa Aini datang ke kampus untuk latihan presentasi gadungan dan kita bisa sukses kasih kue buat ditiup di belakang Gedung Kom. Sekarang… di ulang tahun ke-21, kita dipisahkan jarak dan perbedaan selisih waktu Greenwich hiks…

Yah biarpun tulisan ini tidak akan sebagus dan semenyentuh tulisan Aini, gue juga ingin berbagi perasaan. Terimakasih sudah berteman selama tiga tahun 🙂

 

Waktu pertama kali masuk kuliah ada satu pertanyaan yang membuat gue semangat untuk menghadapi hari pertama rangkaian acara mahasiswa baru. Akan berteman dengan siapa ya nanti? Well, kampus itu komunitas yang cukup besar, belum tentu kita kenal sama mahasiswa dari angkatan yang sama, tapi ada di fakultas sebelah, beda jurusan saja belum tentu kenal.

Salah satu teman dekat pertama gue di KOM UI adalah Syabina, yang kedua Anditha, dan ketiga adalah Farraz. Pertemuan dengan mereka seperti rangkaian waktu berurut yang ternyata juga sesuai dengan urutan tanggal lahirnya. Dan Farraz menjadi salah satu pembentuk pemikiran gue ketika masih mahasiswa baru. Dia menyenangkan, cerdas, supel, dan tentunya dependable.

Sampai sekarang gue masih bersyukur lho kita satu kelas ketika OBM. Kalau tidak ada Farraz mungkin saya tidak bertemu benang merah pertemanan dengan Aini, Namira, Gabby, Nadia, dan bahkan tidak bisa sedekat ini dengan Syabina dan Anditha.

Farraz sangat-sangat menonjol dalam lingkup sosialnya. Dia penyiar radio, Jenderal Media Matters Pekan Komunikasi UI 2013, Campaign Manager Bara-Iki ketika mau maju BEM FISIP 2014, dan tentunya kembang FISIP juga. Sayang banget ya kamu nolakin kumbang-kumbang di taman… Sekarang di Korea kumbang-kumbangnya makin banyak ya kayak oppa-oppa FIB gitu :”)

Titik di mana gue menganggap Farraz adalah teman yang berarti bagi gue adalah ketika gue membaca surat perpisahannya sebelum ke Korea. Masih ingat Farraz menulis “jangan terlalu serius dan ambisius nin… masih banyak hal lain yang bisa dinikmati dalam hidup”.

Yep…, i tried to be not. Menjadi serius dan ambisius mungkin adalah sikap yang membuat gue menjadi buruk dan sering terjebak dalam frustasi. Terimakasih telah mengingatkan untuk berdamai dengan diri sendiri di saat tidak banyak orang yang mengatakan demikian.

Di ulang tahun yang ke-21 tahun ini, gue berharap lo semakin memaknai hidup tidak hanya pada titik kita bisa bersenang-senang. Jarang rasanya melihat Farraz sedih, tapi sebagai teman gue juga ingin jadi tempat Farraz mencari kekuatan dalam kekalutan. Ya, biarpun terkesan berlebihan, but that what makes a friend worth to have. Memang tidak segala hal bisa dibagi, namun ketika kita bisa menguatkan satu sama lain itu pertanda kita pernah punya arti di hidup seseorang. And you surely had that place in my heart, thanks for being such a good friend in my happy yet sad time 🙂

we already made that 21 sign haha

we already made that 21 sign haha

Sekali lagi… terimakasih telah berteman selama tiga tahun ini. Selamat ulang tahun, Farraz Theda, semoga kita bisa wisuda  bersama di September 2015 🙂