Flowers

Sebagai perempuan kita hidup dalam dunia yang terkonstruksi. Kadang kekejaman masyarakat pada kita melebihi kejamnya beban yang harus ditanggung laki-laki. Namun, setiap dari kita berhak memilih jalannya masing-masing sesuai jalan pikirannya, sejauh ia bisa bernegosiasi dengan sekitarnya, dan sejauh ia bisa mempertahankan dirinya sendiri.

Mengikuti kisah enam perempuan dari tiga generasi berbeda dalam film Flowers mungkin membuat kita mengerti bahwa dunia perlahan-lahan mulai berubah. Perempuan menegosiasikan pilihan-pilihan hidupnya dengan orang-orang di sekitarnya. Helai-helai bunga menggambarkan kehidupan yang begitu terlihat indah namun bisa tergerogoti satu demi satu. Namun pada akhirnya setiap dari helaian memiliki their own bittersweet choice yang memberikan hidup bagi yang lainnya.

Mengalatkan Agama

Saya kembali terlibat dalam diskusi malam dengan tiga teman di kamar kosan ketika salah satu dari kami mencetuskan pertanyaan mengenai partai Islam dan penelitian etnografi kami terkait organisasi kampus berhaluan Tarbiyah. Marilah kita temakan dua pernyataan yang berbeda ini dalam ‘Diskursus Posisi Agama dalam Politik’.

Agama pada dasarnya harus menjadi alat dalam politik. Gue melihat bahwa hal tersebut justru berlangsung secara kebalikannya. Penerapan nilai agama yang dianut mayoritas dominan menjadi tujuan seakan-akan kita ingin menjadi negara beragama dengan hukum agama tertentu. Seharusnya tujuannya adalah kehidupan yang sejahtera, egaliter, dan lebih baik. Agama menjadi alat di mana nilai-nilainya mampu menciptakan kesemua itu. –R

Sementara itu saya sangat mengafirmasi pendapat informan saya yang ayahnya pernah berkecimpung dalam masa-masa awal Partai Keadilan. Sehingga begini pendapat saya menanggapi pernyataan R.

Agama tidak dapat menjadi alat. Tidak dalam keadaan kekuasaan menjadi tujuan utama atau seperti yang lo sebutkan soal penerapan nilai agama mayoritas dominan. Gue menginterpretasi bahwa alat yang berwujud agama saat ini adalah barang dagangan. Nah begitu pula yang informan gue gunakan untuk menggambarkan kondisi kontradiktif partai-partai Islam. Agama adalah alat pengeruk suara serta pembersih nama. Seringkali agama menjadi alat untuk menutupi perilaku laten yang tentunya negatif di dalam tubuh kelompok. Siapa sekarang yang benar-benar punya sikap secara Islami? Siapa sekarang yang benar-benar berideologi Islam?

Ada perbedaan interpretasi ‘agama sebagai alat’ antara saya dan teman saya. R memandang diskursus tersebut secara positif sementara saya negatif. Alat menjadi sesuatu yang bias. Sementara tujuan dari partai-partai beragama dalam politik Indonesia tidak pernah benar-benar kami ketahui. Bisa jadi posisi agama memang seperti yang R bilang, namun bisa jadi juga seperti yang saya bilang. Apakah tujuannya adalah agama itu sendiri atau kekuasaan? Setidaknya dua hal tersebut menunjukkan kondisi ambivalen yang tidak bisa dipahami hanya dengan menjadi spektator dan simpatisan sebuah partai.

Namun, saya setuju dengan poin teman saya bahwa agama memang harus menjadi alat untuk menciptakan kehidupan bernegara yang lebih baik. Kami menggunakan agama dalam tataran umum karena kami menganggap nilai-nilai yang ditanamkan adalah sama sebagai bentuk penolakan diskriminasi terhadap agama minoritas dan kepercayaan lain-lain yang sering disebut ‘aliran’.

Dengan agama, seseorang punya moral objektif untuk malu ketika mereka mengkhianati amanah rakyat. Dengan agama, seseorang punya keinginan untuk introspeksi diri karena senantiasa menyadari bahwa tidak ada yang luput dari kesalahan dibanding mengatakan bahwa ia difitnah atau dicurangi. Dan dengan agama, seseorang menjadi paham bahwa dirinya sangat manusiawi.

Sekarang tinggal bagaimana kita dan mereka sama-sama memperbaiki kualitas penerapan dalam diskursus ini.