Pasca-Kartini

Hampir seminggu Hari Kartini berlalu. Hari seorang tokoh perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Namanya tersohor berkat surat-surat untuk kawan Belanda-nya yang dipublikasi berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Saya melakukan proses baca-cepat linimasa jejaring sosial untuk melihat seremoni kata yang dibuat para selebriti dan masyarakat media sosial. Yang saya dapati adalah ucapan yang membuat saya bertanya apakah yang sebenarnya mereka rayakan.

selamat pagi! Selamat hari kartini, ayo jadi wanita yang strong~

Atau yang seperti ini… Melody-kartini Bicara soal kuat, kuat yang seperti apakah Kartini? Saya skeptis terhadap kata kuat yang dimaksud beberapa orang. Apakah mereka benar-benar tahu apa yang dialami Kartini di dalam pingitan atau gejolak pikirannya yang radikal? Apakah mereka benar-benar tahu apa pertentangan batin yang menguatkan sikap seorang Kartini? Apakah mereka benar-benar tahu kuat yang Kartini harus tumbuhkan dalam perjuangannya melawan feodalisme Jawa yang bukan hanya soal perjuangan egalitarian perempuan dan laki-laki, tapi juga perjuangan kelas?

Bicara soal mandiri, mandiri yang seperti apakah Kartini? Saya skeptis terhadap mandiri yang dimaksud beberapa orang. Apakah yang mereka maksud adalah tidak menikah dan hidup bebas? Ataukah menyingkirkan segara konstruksi dan dogma nilai-nilai agama untuk kembali meredefinisi agama yang kita anut?

Bicara soal kodrat, definisi kodrat mana yang patut kita pakai? Saya skeptis…jangan-jangan pemikiran Kartini juga didistorsi definisi soal kodrat. Kodrat yang kita tidak tahu apakah itu secara fisikal atau sosiologis. Kodrat yang dijadikan budaya patriarkis dan para misoginis untuk menahan perempuan.

Kemudian yang mempertentangkan kodrat hasil konstrusksi patriarkis tersebut mereka labeli (secara sinis) feminis tanpa benar-benar tahu apa awal perjuangan feminisme itu. Kemudian bermanis-manislah anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas berpakaian adat. Dipilihlah satu di antaranya oleh sang guru untuk menjadi perwakilan kelas dalam lomba fashion show, tanpa ada sesi bedah makna emansipasi yang dimaksud Kartini di kelas. Secara bulat-bulat ditelanlah pemahaman bahwa Kartini sekedar memperjuangkan akses perempuan terhadap pendidikan. Sementara pendidikan yang didapat wajib selama sembilan tahun itu mengajarkan kami lebih sedikit dari yang sebenarnya ada, bahkan dimanipulasi agar dosa-dosa politik tak diketahui.

Kita tidak pernah diajarkan pemikiran Kartini yang sebenarnya. Kita tidak pernah benar-benar disuruh membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang ada dalam hati nurani Kartini. Kita hanya bisa mengkritik pemikirannya atau mengafirmasinya secara bulat-bulat dan bahkan mendistorsi maknanya.

Kartini sangatlah radikal. Bahkan dalam pertentangan batinnya menggugat agama dan anggapannya akan pernikahan adalah bentuk opresi terhadap perempuan. Ia adalah feminis sejati yang mungkin tidak terlalu disukai banyak laki-laki dan dicerca para pemegang konservatif ‘kodrat perempuan’.  Ia adalah pejuang perempuan yang pikirannya tak lepas dan relasi kuasanya tidak mampu menentang kekuatan feodal. Ia adalah pejuang perempuan yang terhenti langkahnya dan kemudian dituding menyerah terhadap keadaan.

Banyak Kartini di antara kita semua. Di antara perempuan-perempuan yang ingin melawan ketidakadilan, namun dianggap terlalu radikal. Di antara perempuan-perempuan yang nafasnya terhenti setelah mereka nyaris menang mendapatkan hak mereka di masyarakat. Di antara perempuan-perempuan yang dipandang sebelah mata karena anggapan biner ‘baik dan tidak baik’ hingga peraturan-peraturan daerah yang diskriminatif. Di antara perempuan-perempuan yang dikucilkan dari pertemanan dan dibicarakan di belakang karena dianggap berkekurangan dalam aspek-aspek tertentu. Atau diantara perempuan-perempuan yang tak dapat mendefinisikan cinta dan dambanya pada laki-laki hingga ia terjebak dalam kegagalan merasakan bahagia.

Dan Pasca-Kartini, kita tetap berada pada kesadaran bahwa hidup kita baik-baik saja. Padahal perjuangan ini masih panjang, sangat panjang sampai kita benar-benar paham bahwa yang dimaksud emansipasi dan egaliter adalah bukan mendahului atau berkuasa di depan lawan jenis, tapi mendapat relasi kuasa yang sama, berjalan beriringan bersama.

Dan Pasca-Kartini, kita harus tetap mencari kebenaran. Apa yang sebenarnya kita sebagai perempuan pikirkan, apa yang sebenarnya kita sebagai perempuan rasakan? Apakah kita sependapat dengan Kartini? Apakah kita tidak sependapat? Setiap perempuan memiliki perjuangannya masing-masing dan tugas perempuan lain adalah memahami perjuangannya sebelum ia menanggapi dengan beragam interpretasi. Membaca, melihat, mendengar, dan berdiskusi jangan tutupi diri jangan batasi diri.

Daya upaya itu ialah pengajaran.  Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu.  Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya. (R.A. Kartini, 12 Januari 1900)

Kartini pergi terlalu muda… Terlalu cepat hingga ia tak sempat membuat aku, kami, dan mereka benar-benar mendapat pengajaran.

—————-

Menarik untuk memahami dan membaca juga tulisan Gadis Arivia dalam laman ini.

Journalight

Sembilan bulan bekerja sama. Mungkin terkesan sangat seremonial secara kultural, namun kami membawa berbagai misi untuk satu tujuan. Kami ingin menjawab tantangan jurnalisme masa kini lewat beragam cara. Tersebutlah tajuk “The Journey of Solo Journalist” yang mengajak seluruh mahasiswa di Indonesia untuk berkompetisi dalam ajang Pekan Komunikasi Universitas Indonesia 2014 cabang Jurnalisme.

Kami mendapatkan banyak peserta lomba Travel Blog Competition dari seluruh Indonesia. Kami mengadakan Seminar dan Workshop yang membuat kami sendiri juga belajar banyak tentang jurnalisme pariwisata dalam aplikasi Solo / Backpack Journalist.

Pada dasarnya perjalanan selama sembilan bulan bukanlah perjalanan yang mulus dan terlalu menyenangkan. But I have to say, that this climax week was the best!!! Love you Journalmates! Keep the spirit of Journalight!

Sebagian kru Journalight menjelang Commweekend (25/4) di rumah Dirga.

Sebagian kru Journalight menjelang Commweekend (25/4) di rumah Dirga.

——————————————————————————————

Saya juga ingin mengajak para pembaca sekalian untuk membuka link-link di bawah ini.

Juara I Journalight: Fatimah Kartini Bohang, Universitas Indonesia http://kelilingmuseum.wordpress.com/

Juara II Journalight: Eri Dwi Cahyono, Universitas Negeri Sebelas Maret http://edckastara.wordpress.com/

Juara III Journalight: Aghnia Mega, Universitas Negeri Sebelas Maret http://dolandolano.wordpress.com/

Video Terbaik Journalight: “Tari Cokek” oleh Nelly Hassani Rachmi, Universitas Bakrie http://gangbetawi.wordpress.com/

FINALIS JOURNALIGHT:

– Amalia Nurul, Universitas Airlangga http://kepoexpert.wordpress.com

– Sinta Agustina, Universitas Sebelas Maret http://agustinasss.wordpress.com

– Erny Kurniawati, Universitas Gadjah Mada http://bingkaipetualang.wordpress.com

– Navia Izzati, Universitas Bakrie http://travelandword.wordpress.com

– Bagus Prasetyo, Institut Teknologi Nasional http://tyosukma.wordpress.com

– Muthia Karima, Universitas Negeri Jenderal Sudirman http://muthiakarimablog.wordpress.com

Let’s digitalize your journey!