Resisten

Q: Kenapa sih lo suka sama JKT48 udah jelas-jelas itu produk objektivikasi perempuan?

Abisnya… aku ga bisa jadi kayak mereka. Ga bisa nyanyi sambil goyang-goyang unyu.

Lagunya bikin semangat sih…

Apa salahnya sih adoring? Mereka menginspirasi gitu

 

Jadi pertanyaannya sekarang, apakah ada banyak orang seperti gue? Kenyataannya, fans perempuan mereka semakin bertambah banyak. Banyak dari kami yang sadar bahwa adik-adik itu hanya jadi buruh industri hiburan yang kapitalis. Banyak dari kami juga yang sadar bahwa teater adalah eufemisme dari etalase perdagangan perempuan. Banyak dari kami juga yang secara sadar mengakui mengalami alienasi.

Jangan-jangan… banyak dari kami juga yang secara sadar mengafirmasi bahwa tidak menjadi masalah jika diri kami menjadi sekrup-sekrup kapitalis, dikomodifikasi, dan kehilangan esensi kebebasan.

Looking depth

TEROPONG FISIPERS UI kembali hadir. Ini adalah paket berita video pertama kami di tahun 2014, sekaligus edisi ke-6 menyambung masa mengudara yang lalu.

Topik dalam paket ini antara lain:
1. Kriminalitas di UI

Akses terbuka UI menyebabkan kampus ini rawan bahaya dari luar. Setidaknya ada 7 pintu akses pada 7 titik wilayah berbeda yaitu Kukusan Kelurahan, Kukusan Teknik, Pondok Cina, Belakang Depok Town Square, Gerbatama Lenteng Agung, Margonda, dan Kukusan Beji. Belakangan ini, berbagai aksi kriminal menimpa warga UI dan menjadi isu lokal di lingkungan kampus. Lewat tayangan ini, kami ingin melaporkan kondisi terkini sekaligus solusi dari pihak keamanan UI. Ada baiknya kita bersikap preventif terhadap aksi kriminal dengan tidak menciptakan peluang pada pelaku. Sebaiknya kita tidak mengeluarkan gadget, dompet, ataupun perhiasan serta tidak berkeliaran di lingkungan kampus dalam jumlah sedikit di malam hari.

2. Pagar Mural Gedung C FISIP UI

Selepas insiden terbakarnya Gedung C FISIP UI pada awal tahun 2014, pihak fakultas mengadakan kompetisi mural untuk menghiasi seng yang memagari gedung tersebut. Kompetisi ini juga masuk dalam rangkaian Dies Natalis FISIP UI. Karya para mahasiswa FISIP UI ini memiliki makna kritikal hingga dukungan. Tiga jurusan juara kompetisi ini, Kriminologi; Komunikasi; Kesejahteraan Sosial memaparkan makna dibalik karya mereka.

 

Tim Produksi TEROPONG FISIPERS UI edisi 6

Pemimpin Redaksi: Aninta Ekanila

Kepala Divisi Penyiaran Digital Kreatif: Verina Haifa

Editor Video: Aufa Arifin

Produser: Riris Endah

Camera Person & Reporter:

Rifaldi Akbar, Monica Fecilya, Otis Andhika, Margareta Mutis, Ardit0 Ramadhan

Voice Over: Ruth Lidya

Anditha

Dear Dita,

Hai… Selamat ulang tahun ke-21 ya, Dit. Tidak terasa ya akhirnya sudah pertengahan Maret, tandanya sebentar lagi kita mau menyelesaikan semester 6 di kuliah nih. Wah, berarti kita hampir menamatkan tahun ke-3 di kampus sekaligus tahun ke-3 kita sebagai teman dekat.

Tiga tahun berteman sepertinya sangat pendek ya, nggak seperti pertemanan dengan teman SMP atau SMA yang sudah berlangsung lama dan awet. Gue juga tahu, Dita teman-temannya banyak walaupun sebenarnya dia-dia lagi dari jaman masih SD hehehe. Biarpun begitu terimakasih ya sudah memberi tempat buat gue masuk ke dalam lingkaran pertemanan lo sekaligus jadi saksi hidup selama tiga tahun ini.

Sama seperti yang gue pernah kasih untuk Ina, anggap saja tulisan pendek ini sebagai hadiah buat lo. Gue mau semua orang kenal siapa teman gue, siapa Dita yang mengajari gue banyak hal juga selama ini.

Ingat ga, Dit pertama kali kita ketemu?

Waktu itu kita jadi teman satu kelompok di ospek jurusan. Kelompok 5 yang salam kelompoknya nggak pernah selesai ditampilin. Kita sering ngobrol bareng karena sama-sama anak program reguler dan gabung digrup BBM KOM UI 2011. Dulu gue ngeliat lo kayak strawberry shortcake; kecil, manis, dan ketawanya malu-malu. Padahal setelah beberapa bulan berselang, ya Allah… boro-boro deh malu-malu, Dita kalau ketawa lebar banget (biarpun nggak selebar goa kayak Desi).

Tiga tahun berselang, ga berarti impresi terhadap Dita stagnan. Ada beberapa hal yang gue pelajari dari Dita dan kadang membuat gue amaze. Salah satunya sih, Dita dari chubby luthu na gaul na jadi kecil kurus badannya.

Dita sebenarnya sangat mager. Dita juga kelihatannya lebih suka duduk ngobrol-ngobrol bareng teman-teman sambil ga berenti ngegosip. Tapi ternyata, Dita sempat lho jadi sukarelawan mengajar anak-anak jalanan. Biarpun awalnya dia diajak teman, menjadi sukarelawan tidak tinggal sebagai wacana untuk orang mageran seperti Dita. Jujur, gue aja belum pernah jadi sukarelawan untuk program filantropis. Ketika gue dengar Dita jadi sukarelawan rasanya bangga sekaligus takjub.

Dita juga sempat aktif di kepanitiaan tingkat universitas sementara gue mainnya masih di dalam fakultas terus. Kagum sendiri sih dengan bertebarnya relasi pergaulan Dita di lingkaran Depok terutama hehehehe…. Sementara itu gue bukan anak yang terlalu lama bergaul. Teman gue bisa dihitung dengan jari. Teman-teman dekat semasa SMP dan SMA sekarang hidupnya terpisah-pisah dan jarang ketemuan. Beda banget sama Dita. (ya mungkin juga faktor geografis yang terpisah-pisah)

Paling suka lihat persahabatannya Dita-Qisthi-Ririn. Gatahu sih mereka pernah mengalami konflik dan masa lalu seperti apa saja, tapi mereka kompak dan awet banget dari kecil. Kadang-kadang iri karena gue ga punya teman yang masih nempel ke mana-mana sampai sekarang kecuali Rancha (itupun juga temen dari SMA). Karena kenal sama Dita juga, sekarang bisa kenal dekat sama Qisthi yang jadi teman baiknya Gery di kampus.

Hmm yang paling nggak bisa didapetin di mana-mana lagi adalah ilmu ngegosip. Biarpun di peer kami, ada banyak biang gosip, Dita salah satu tukang gosok rumor paling sip. Sepertinya memang relasi ke-Depok-an-nya membawa manfaat jadi gosip yang dibawanya bisa dari berbagai sumber. Ada hiburan banget ketika dengar gosip baru dari Dita, soalnya hidup gue terlalu serius.

Di umur 21 ini, gue harap Dita nggak banyak berubah sih. Namun, gue tetap berharap semoga dia lebih berbesar hati menjalani hidup. Tahun depan kita mungkin bakal wisuda bareng-bareng. Tandanya fase baru dari hidup akan segera di mulai. Dita juga sudah punya pasangan baru setelah 2 tahun memilih single (iya gitu), jadi seharusnya hidupnya saat ini lebih berwarna. Semoga dengan segala berlebihnya rejeki dan kebahagiaan, Dita semakin dewasa dan tahu apa saja yang baik bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Dewasa itu juga bukan sekedar pilihan, tetapi pertunjukan pada kehidupan. Jadi apapun keputusan dewasa dan bijak yang lo pikiran harus benar-benar ditunjukkan.

Sebagai seorang teman, gue ingin melihat Dita tumbuh 5 hingga 10 tahun lagi. Sama seperti gue ingin bertemu Ina lagi di saat dia sudah jadi wanita karier yang sukses, gue juga ingin bertemu Dita yang sudah mencoba banyak hal dalam hidupnya. Mungkin saja lo akan pergi shopping ke negara-negara lain nggak cuma Hongkong dan Singapur aja. Percaya Dit, lo butuh banyak berpetualang sehingga cerita yang lo bawa ke kita nanti lebih hidup dan bermakna.

Once again,

Happy birthday Anditha Putri

Once you have mastered time, you will understand how true it is that most people overestimate what they can accomplish in a year – and underestimate what they can achieve in a decade!

Tony Robbins

Dita Ninta(hihi fotona masih lutuna gaulna)

I love youuu 🙂

Meruntuhkan Menara Gading

Segitiga pembangun kekuatan rakyat; pers, media, dan demokrasi terjebak dalam realitas semu. Kepemilikan visi pencerahan terkungkung dalam industri arus utama.

 

Pagi ini saya kembali membaca tulisan Rosihan Anwar dalam bukunya Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia. Saya memetik sebuah gagasan membangun kekuatan rakyat dalam “Didiklah Rakyat Supaya Menjadi Tahu” (1994). Dan sepanjang Anda membaca tulisan saya ini, saya sedang merefleksikannya dengan kondisi paradoks saat ini.

Paragraf dua tulisan tersebut menjelaskan demokrasi sebagai ‘keadaan pikiran’ dan ‘kekuatan membebaskan’. Dua frasa yang Rosihan Anwar anggap dapat dibangun oleh pers dan (saya tambahkan) media di Indonesia. Kemudian beliau menambahkan konteks pada masa itu (Orba) tentang minoritas hegemonik, gap antar kelas, dan birokrasi antikritik yang pada masa kini masih tak jauh berbeda. Rakyat dianggap belum bebas dalam peningkatan kualitas demokrasi, baik dari kelas bawah maupun kelas menengah.

Ya, bagaimana kita bisa paham konteks perjuangan politik dalam demokrasi kalau hanya menjadi spektator yang hanya pandai mengomentari? Bagaimana kita bisa paham konteks menyuarakan aspirasi jika kita bicara soal hak-hak kaum marjinal saja dianggap sebagai ‘banyak mau’? Bagaimana kita bisa paham konteks ‘dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat’ jika kita (yang katanya sangat realistis) hanya bisa berpikir untuk diri sendiri?

Paling lucu sih, bagaimana kita bisa sama-sama menyejajarkan diri sebagai rakyat kalau masih ada kelas-kelas sosial dalam masyarakat?

Kembali pada wacana pers dan media mendidik rakyat. Secara teoritis, ini wacana yang baik. Segala hal yang diberitakan media tentunya bisa menjadi isu dan menyetir pendapat. Namun, dalam kondisi di mana pers dan media menjadi elit industri saat ini, saya jadi ragu. Ada relasi kuasa di mana pers dan media adalah golongan elitis terdidik yang memiliki daya produksi dan mampu mempengaruhi rakyat tak terliterasi. Golongan elit tersebutlah yang punya kekuatan bukan rakyat.

Saya ingat setiap kali saya memulai produksi jurnalistik, ada pertanyaan esensial yang diajukan dari dosen maupun rekan-rekan di kelas dan lembaga. “Cukup menjual ga sih?” Menjual mungkin artinya orang mau baca, mau beli, mau bersusah payah mendapatkannya. Namun, rasanya saya terjebak dalam sebuah realitas semu bahwa media adalah produk transaksional. Saya sulit membedakan apakah yang saya tulis adalah produk pemicu gagasan berupa manifestasi politik dari ruang redaksi atau produk profit industri.

Semangat yang saya bawa ke dalam ruang redaksi adalah menghasilkan berita yang bisa dikonsumsi. Saya sibuk mencari topik yang bisa menarik orang untuk mengganti defisit yang saya hasilkan dari percetakan pers. Rasa senang didapatkan ketika produk habis terjual. Di luar itu, tak ada dari kami yang tahu sejauh apa magnitude dari produk kami. Rasanya hal tersebut tidak hanya terjadi pada saya, tetapi kebanyakan pekerja media lainnya.

Konten yang dihasilkan pers dan media pun akhirnya bereferensi pada segmen pasar. Jika sudah begitu, media sendiri telah membentuk kelas-kelas baru dalam masyarakat. Bahwa ada media khusus segmen kelas atas, segmen anak-anak kelas menengah, dan segmen lain-lain. Pers dan media tidak ramah lagi untuk semua khalayaknya. Pada akhirnya, pers dan media membangun menara gading yang tak dapat dicapai semua lapisan.

Biarpun begitu, kita tidak dapat memungkiri bahwa tidak semua informasi cocok dengan semua orang. Masyarakat kita terbentuk dalam komunitas-komunitas dengan kebutuhan yang spesifik. Peran media komunitas yang mengakomodir kebutuhan informasi dan memperjuangkan politik komunitas adalah wacana yang paling baik untuk meruntuhkan menara gading pers dan media arus utama. Karena bukan sekedar pencerdasan yang dibutuhkan rakyat, tetapi kekuatan pers dan media yang mendukungnya.

Defining Feminism

G: Masa ya, kalau dibaca-baca, gue tergolong feminis radikal.

Feminisme radikal, lebih memberikan perhatian pada permasalahan reproduksi dan seksualitas kaum perempuan.

R: Lah kalo dari definisinya, gue digolongkan jadi feminis sosialis.

Feminisme Sosialis, memandang kapitalisme dan patriaki merupakan ideologi yang menyebabkan terjadinya penindasan terhadap perempuan.

G&R: *pandang-pandangan* Feminis mah feminis aja. Gausah main kotak-kotakan kayak kata orang postmo.

———————————————————-

Kami berdua terkadang bicara soal hati nurani. Ketika kegelisahan kami dianggap sebuah gagasan, ketika sikap kami dianggap sebuah ideologi, dan ketika aksi kami dianggap militan. Padahal dasar dari semua itu adalah hati nurani yang bahkan tidak pernah kami ketahui bermanifestasi dalam bentuk apa tanpa buku-buku yang ditawarkan pengajar dan kelompok diskusi. Kami hanya sadar bahwa kami membela hak kami sebagai perempuan. Dan pembelaan itu berdasar karena adanya penindasan oleh relasi kuasa dalam tataran sosial budaya masyarakat kita.

But somehow, we’re just ‘too left’ to confess…

News in Control

We not only take money to publish reports, we even take money to block news.

——————————————-

Dokumenter di atas adalah tentang Praktek Berita Berbayar di Media Massa India. Kalau sudah menonton pasti mengertilah kenapa gue merasa wajib berbagi tentang ini. Sebelumnya gue kira cuma di Indonesia, frekuensi publik bisa dipakai untuk kampanye politik terselubung para pemiliknya. Ternyata di India ada kontrol terhadap jurnalisme yang lebih murahan dibanding di sini. Eits, tapi bukan berarti kita bisa mengafirmasi perbuatan Metro TV, TV One, atau MNC ya, siapa tahu di suatu hari mereka malah melakukan apa yang media massa India pernah lakukan. Gue memilih jobless atau mencurahkan tenaga untuk media komunitas aja kalau sampai kayak gitu hiii~

Tiga puluh menit pertama dalam dokumenter tersebut jelas menunjukkan pelanggaran etik jurnalistik. Selain banyaknya elit politik yang memiliki 1-3 Stasiun TV di wilayah konstituen mereka, mereka kerap melakukan praktek ‘blackmailing’ pada lawan politik dan pemerasan pada tokoh politik tertentu. Konten kampanye menjadi bagian dari advertising yang ditawarkan media pada aktor politik dengan tarif progresif sesuai lamanya eksposur. Luar biasanya itu semua terjadi menjelang pekan pemilihan parlemen! Kapitalisme media terlihat dari bagaimana mereka menganggap bahwa pekan pemilihan adalah musim panen dan aktor politik sebagai target pasar, tidak ada kepentingan publik di dalam sana.

Masih mau percaya media yang seperti itu?

But in the end, banyak orang sadar akan hal tersebut. Gerakan pengembalian idealisme jurnalisme dari praktek kotor berita berbayar pun digalakkan meskipun pada awalnya hasilnya tak terlalu signifikan. Namun sekarang, semua orang bersama media yang kembali dengan integritasnya bersama-sama menjalankan fungsi surveillance sebagai watchdog dari praktek-praktek korup media semacam itu.

So anyway….

Sekarang sudah masuk masa kampanye untuk Pemilu Legislatif lho. Sudah pada cek jadwal kampanye belum? Kalau belum cek ya, biar ga kejebak macet di jalan ga salah ketika memilih partai dan wakil rakyat. Kata orang-orang sih kenali visi-misinya, kenali calonnya, kenali track recordnya. Kalau mau golput pun ya tetep dateng ke TPS ya biar surat suaranya tidak disalahgunakan dan tetap bisa memakai hak pilih. Ingat golput saat ini sudah jadi gerakan oposisi. Namun, cari tahu soal calon di Dapil kita itu penting, gue sih gamau gunain hak pilih tanpa terliterasi apapun tentang calon yang mau gue pilih. Sama aja menghancurkan diri sendiri.

Terakhir, tetap awasi dan gugat stasiun televisi tak beretika ke KPI! Jangan lemahkan peran KPI dengan abai terhadap hal ini. Jangan buat peran negara jadi lumpuh. Terkadang mensubtitusi peran negara dengan aksi dari kita sendiri sama saja mengarahkan pada kelumpuhan negara dan melanggengkan praktek kotor yang ada.

Harapan

Tahu rasanya ketika kita punya cita-cita, namun kita tidak ingin itu cepat berlalu? Iya, seperti harapan yang terus-menerus tumbuh.

Dengan cita-cita yang dibangun oleh kami bersama-sama sejak dua tahun lalu, akhirnya kami sampai di pucuk teratas. Jika pengibaratan berlaku, sekarang kami bukan lagi bibit kecil yang menanti disiram dan diterpa terik sinar matahari. Kami tumbuh menjadi pohon yang besar dan menghasilkan oksigen untuk nafas-nafas kehidupan baru. Kami menumbuhkan ranting-ranting yang diselimuti dedaunan rimbun sebagai peneduh bagi mereka yang membutuhkan perlindungan. Kami menjadi sangat tinggi hingga takutnya lupa untuk turun ke bawah.

Namun…

Terimakasih untuk mereka. Untuk bibit-bibit baru yang bersedia menanamkan dirinya di dekat kami. Terimakasih telah bersedia untuk bertumbuh bersama kami. Saya yakin, kalian akan menjadi lebih besar dari nama besar yang pernah ada di tahun-tahun sebelumnya. Kalian kami sambut di rumah kami. Beberapa dari kalian mungkin hanya akan mengisi rumah ini selama satu tahun lalu pergi merantau ke kota baru, tetapi sisanya akan bertahan dan menciptakan rumah baru lagi yang lebih nyaman dan lebih besar.

 

Lebih dari itu,

Harapan saya yang lebih besar adalah bukan sejauh apa kalian membuka diri untuk satu sama lain, tapi sejauh apa kita bersama-sama dapat membangun gagasan menjadi aksi sosial. Saya berharap pada kontribusi dan suara-suara hati nurani. Saya berharap pada cita-cita baru dan inovasi-inovasi yang tumbuh karena sebuah hasrat. Saya berharap sebuah semangat dan visi melihat kehidupan muncul dalam kepala-kepala kita bersama. Ya, sehingga akhirnya kita sama-sama menemukan… siapa kita di dalam masyarakat ini.

Selamat datang teman-teman baru FISIPERS 2014

fisipers 2014

 

Bukan bekerja yang jadi penting di sini, melainkan menemukan esensi dalam setiap proses berpikir dan praktik jurnalisme.