Kredo

Saya tidak pernah paham bagaimana seseorang mendalami imannya. Bagaimana ia meyakini sebuah cara hidup yang dibawanya sejak ia sadar hingga akhirnya mati bersama seluruh perbuatan yang dilakukannya di muka bumi?

Kita bicara tentang Tuhan seperti halnya semua itu tertulis dan tergaris sempurna. Layaknya kita benar-benar boneka dalam drama yang saya masih tak yakin Tuhan sendiri yang menulisnya. Apakah garis takdir yang ada saat ini benar-benar diciptakan jauh sebelum kita mampu mempercayainya? Ataukah justifikasi yang manusia buat agar mereka tidak dipersalahkan diri mereka sendiri ketika membuat hidupnya terasa hina?

Tuhan bukan ekspresi ketakutan. Lalu mengapa ada orang yang begitu takut menunjukkan keimanannya dan ada yang berani mengutarakan bahwa mereka tak beriman? Bukankah iman adalah sesuatu yang mendasari ucapan, perasaan, dan tindakan? Lalu apakah tak bertuhan juga merupakan iman? Dari mana ketakutan dan keberanian itu berdasar?

Saya memahami Tuhan dan iman sebagai bagian dari diri sendiri. Saya memahami bahwa Tuhan adalah perspektif yang saya pilih untuk percayai dalam hidup. Saya beriman untuk diri saya sendiri, untuk menjaganya tetap seperti yang saya percayai, seperti yang Tuhan sampaikan pada Utusan-Nya. Iman adalah produk kemanusiaan. Dan tindak melawan keimanan orang lain adalah tindak melawan kemanusiaan.

Setidaknya itu yang saya yakini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s