Courage

“At some point, you have to stop running and turn around and face whoever wants you dead.The hard thing is finding the courage to do it.”

Katniss Everdeen (Catching Fire)

 

One of best quotes that I liked so much from the novel. I used to feel angry with the society and majority rules. I’ve always been cynical with our social construction. And the hardest thing to do is finding courage to act and fight for my own perspective. Several people died when fighting against evil industry or evil government, but they live in everyone’s heart as a hero.

Advertisements

Catched the Catching Fire

Salah satu teman gue baru aja pulang ke kost-an waktu gue numpang makan malam sambil ngobrol. Tiba-tiba dia nyeletuk, “Ternyata apa yang dikatakan Adorno itu bener ya. Suatu hari hiburan dan seni itu penuh kebohongan. Dipermak buat mempengaruhi pikiran orang demi kepentingan industri atau pemerintah.”

Okey, si Aini, teman saya ini ga tiba-tiba komentar tanpa ada sebab. Latar belakang dia ngomong kayak gitu karena baru saja selesai nonton film yang lagi hype banget saat ini.

whoever owned the copyright, I got this from Google. Thanks

Yes, The Hunger Games: Catching Fire

Gue sendiri adalah penggemar berat The Hunger Games dan Aini baru saja memutuskan untuk nyeburin diri ke fandom zone film ini gara-gara dia sadar akan pesan intrinsik di film ini. Well, you might got the excitement, action, and thrilling moment, but we’ve got more than that. Sadar ga sih kalau cerita di film ini mengandung dimensi sosial yang beragam? Sadar ga sih kalau film ini juga merupakan gambaran konkrit tentang apa yang sedang terjadi di sekitar kita sekarang?

Film pertama dan kedua mungkin nanti yang ketiga sebenarnya menghadirkan putaran konstruksi sosial yang sama hanya konflik dan ceritanya saja yang berbeda.

Apa yang ada di pikiran ketika melihat Capitol dan 12 distrik yang menunjangnya? American fandom terkagum-kagum dengan cara Capitol menikmati hidup, sementara gue yakin pasti ini ‘kemasan manis’ kolonialisme & kapitalisme. Lucu aja sih sementara ada sekumpulan masyarakat modern nan glamor hidup tenang damai tak diperlihatkan mereka bekerja susah-susah sementara ada 12 distrik kecil yang masyarakatnya sengsara, tersiksa jiwa raga mental, dan masih harus kerja cuma buat ngidupin si masyarakat modern. I mean, si Capitol itu dapet pasokan dari distrik-distrik ini dan bertindak selayaknya pemilik modal sekaligus konsumen. Apa bedanya sama penjajah?

Apa yang ada di pikiran ketika melihat sekumpulan anak muda dikumpulkan setiap tahun untuk dikirim dalam game saling bunuh? Sedih, prihatin, semua orang berpikir begitu. Buat gue ini bentuk kritik sosial si Suzanne Collins sebagai penggagas cerita bahwa setiap hari Amerika mengirimkan pemuda-pemuda mereka ke medan perang untuk melumpuhkan negara-negara yang mereka anggap mengancam kestabilan dunia (atau sebenarnya mengancam kelangsungan hidup negara mereka sendiri). Yes, ini kritik akan perang yang terus-terusan terjadi. Kita diajak melarutkan diri dalam katarsis ketakutan kita akan perang. Ya dengan perasaan sedih, prihatin, dan empati itu.

Apa yang ada di pikiran ketika melihat masyarakat Capitol begitu senang dan terhibur nonton The Hunger Games? Ada yang bilang biasa aja, ada yang bila “ya gila aja kali”. That’s how media constructing our mind! Kritik sosial yang berusaha disampaikan adalah masyarakat ini terasing dan seneng banget nonton drama cinta Katniss & Peeta sementara mereka juga menikmati percikan darah, konflik, dan air mata. They treat the game as an entertainment program. Itu yang diperlihatkan media-media kita saat ini terutama televisi. Kita disuguhi tayangan penuh konflik, air mata, percintaan klise nan cetek, kekerasan, dan teror. Ini isu makro di dunia komunikasi media saat ini terlebih dengan adanya konvergensi media (karena kemajuan teknologi dan internet), konten-konten kayak gitu makin mendapat saluran dan tempat hingga ke segmen yang paling kritis…anak-anak dan remaja.

Dan apa yang ada di pikiran ketika melihat medan pertandingan diatur oleh seorang gamemaker? That’s how our media owner or how the government try to construct our mind! Di kalangan anak komunikasi istilah media framing dan agenda setting sudah jadi hal biasa. Di sini media framing dan agenda setting lebih membumi dijelaskan. Apa yang Seneca Crane atau Plutarch Havensbee lakukan untuk mengatur pertandingan sama halnya dengan cara pemimpin media menyetir pemberitaan dengan menggunakan frekuensi publik. Mungkin terlihat sah, tapi secara etika itu hal yang ga etis dilakukan. President Snow yang begitu ketakutan dengan adanya revolusi pun berusaha memasukkan agenda setting ke dalam tayangan, contoh kecilnya sih bikin teror ke semua distrik yang ditayangin sama televisi di Panem. Oh-so-powerful ya media itu.

Fyi, inspirasi Suzanne Collins untuk membuat The Hunger Games ini berasal dari mitologi Yunani yaitu Theseus and The Minotaur. Mitologi ini berkisah tentang kewajiban Kota Athena menjalankan hukuman atas perlakuan buruknya terhadap Kota Kreta dengan mengirimkan 7 pemuda dan pemudi untuk masuk ke arena labirin di Kreta dan menghadapi seekor Minotaur. Selain itu dalam wawancaranya dengan NewsTime (read more), Collins juga mengatakan dia merasa lelah dengan tayangan di media dan keadaan dunia saat ini.

Wah menarik yah!

Ternyata dalam satu film banyak hal yang bisa kita lihat dan gali. Kadang kalau kita cermat kita juga bisa belajar untuk keluar dari keterasingan yang diciptakan konstruksi sosial. Karena sadar ga sadar, kita berada di bawah kumpulan manusia yang punya kekuatan mengatur dunia. Kalau kata Hegel sih kita ini roh objektif yang berusaha mencari roh semesta. Ya biar ga terasing coba deh bongkar-bongkar konten-konten yang selama ini kita konsumsi, gunakan proses dialektika untuk berpikir. Menikmati film dengan cara kayak gini ga bikin capek kok malah bikin ngerasa puas banget.

Okay, selamat malam semuanya! Remember who the enemy is.

Cliche

In our life there are moments when we have to move forward…Regardless of how others may see us. Even if I make a mistake, I wont regret it!

-Inio Asano-

Inio Asano is a manga maker whose his Solanin manga moved me so much. This quote might be written on his book. What I want to tell to the people is… I’m brave enough. As long as I have my mind, my faith, and this little power, I have to survive.

Noon Rain

we think that similarity is a destiny. Sekar and Rain never think that perspective is the essence. After their first met on Monsoon, they start to know each other.

————————————————————————-

Chapter 2: Croissant

2013-11-03-11-58-31_deco

“Rain?” tanyanya sembari menyodorkan secangkir latte hangat kepadaku yang mulai menggigil.

Aku menyeruput latte itu perlahan sebelum mulai bicara. Kehangatannya seperti melumerkan kembali darahku yang seakan berhenti mengalir di balik vena. Ditambah wajah ramah Rain yang tak membosankan untuk dipandang. Aku masih bertanya-tanya, apakah sebenarnya dia manusia.

“Sekar,” jawabku.

Setengah jam yang lalu, aku dan Rain hanyalah dua orang yang kebetulan bertemu. Seharusnya aku menjauhi orang asing, begitu pesan ibuku. Namun, setiap kali aku berusaha menghiraukan laki-laki ini, dia menarikku ke dalam pembicaraan persuasif tentang hujan hari ini. Dia tambahkan sedikit humor untuk menambah renyah topiknya.

“Itu mengapa kamu memakai terusan floral di hari mendung? Karena namamu Sekar yang berarti bunga?” tanyanya. Aku tak menangkap maksudnya.

It suits you,” tambah Rain lagi. Ia mengangkat gelas latte-nya seakan bersulang untukku.

Aku hanya memaksa diriku tersenyum meski aku belum mengerti maksudnya.

Kami masuk ke dalam gerai kopi lima menit yang lalu dengan harapan mendapat kehangatan. Hujan di luar tak kunjung membaik. Deras dan berangin kencang. Aku nyaris frustasi menatap ke jendela yang hanya menyajikan pemandangan kendaraan berbaris sambil tak henti-hentinya membunyikan klakson.

“Macet sudah jadi hal normal ya?” celetuk Rain.

“Saat-saat seperti ini, punya sayap dan terbang di udara juga bukan pilihan yang terbaik. Alih-alih sampai tujuan, tersambar petir yang ada,” sambutku.

“Haha… tadinya kamu mau ke mana?”

“Ke perpustakaan di galeri, bekerja. Kamu?”

“Galeri? Apakah semacam galeri seni dengan banyak lukisan? Di sana ada perpustakaan?” Rain tidak menghiraukan pertanyaanku.

“Begitulah. Pemiliknya pasangan suami istri, sang suami seorang professor humaniora dan istrinya kurator seni.”

“Papa seorang pelukis sebelum dia terkena stroke.” Ia kembali tidak menghiraukan penjelasanku.

“Papamu?”

“Ya. Kami pecinta dan pencipta seni. Papa dengan lukisan, mama dengan musik, dan aku dengan teater.”

I’m sorry to hear about your papa. Bagaimana keadaannya saat ini?”

“Ia sudah tak merasakan sakit. Papa sudah di surga sejak tiga bulan yang lalu,” ucapnya tenang sambil tersenyum.

“Boleh aku melihat karyanya kapan-kapan?”

“Tentu…, tapi ajak aku ke galerimu dahulu.”

“Aku rasa tidak bisa hari ini. Bosku menyuruhku libur karena ia pun tidak bisa keluar rumah. Latuharhari banjir besar.”

Begitulah Rain mengalirkan obrolan. Dia sangat terbuka hingga aku ingin menutup diriku perlahan. Namun di setiap pertanyaannya, ada perasaan untuk menjawab lebih detil. Aku didera rasa ingin dikejar pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?

Gluguklukruk….

Rain tertawa lepas membuat wajahku bersemu merah. “Sorry…

“Ayo kita pesan makan. Kamu mau apa? Aku ingin pesan croissant kismis.”

Croissant kismis…, itu favoritku. “Me too…

Rain kembali mengangkat gelas latte-nya. “Bersulang untuk persamaan.”

Read Chapter 1

Read Chapter 3

Read Chapter 4