Katarsis

i just found out that quote while I was googling.

———————————————————-

Buku yang saya baca saat ini berjudul Snow, karya dari Orhan Pamuk (penulis My Name is Red, Istanbul, White Castle). Snow saya beli tahun 2009 ketika masih kelas 1 SMA dan pada saat itu, saya benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya Pamuk tulis di sini. Namun, saya sangat menikmati membaca Istanbul kala itu. Saat ini saya sedang mencoba membaca ulang novel Snow dengan pemahaman yang tentunya sudah berkembang dibanding saat SMA.

Kutipan di atas mungkin jadi tanggapan Pamuk terhadap kritik atas karya-karyanya yang membawa unsur pertarungan ideologi muslim dan sekuler di Turki. Ya, selama membaca Snow saya merasa menemukan sedikit kesamaan antara Indonesia dengan Turki. Ini mungkin opini pribadi atas apa yang bisa saya tangkap.

Pamuk menggambarkan pertarungan ideologi di Turki tersebut sebagai bentuk adu domba yang dirancang negara, mungkin lebih parah…. pihak asing. Masyarakat Turki yang bercita-cita menjadi masyarakat yang lebih modern kebarat-baratan sejak Revolusi Ataturk seperti terombang-ambing dalam kiblat ideologi mereka. Separuh berteguh pada fundamentalisme Islam dan afiliasi agama, separuh memilih tetap menjadi komunis, separuh bertahan dalam ateisme. Sebagian besar hidup dalam mimpi ingin menjadi orang Eropa sesungguhnya. Pamuk membingkai kelompok pergerakan ekstrimis Islam dan partai politik Islam sebagai dua hal yang berbeda, keduanya diadu domba negara dan dijadikan kambing hitam atas kematian dan ancaman akan sekularisme.

Di Indonesia, kadang-kadang saya merasa segala bentuk ekstrimisme agama sebagai rancangan pihak luar yang memanfaatkan keterbatasan masyarakat dunia ketiga dalam bersabar dan menggunakan logika. Cara kita memandang ateisme sama seperti cara orang Turki memandang ateisme, sebagai anti-Tuhan yang harus diberondong dengan pertanyaan “Siapa yang menciptakan matahari?”. Cara kita memandang ekstrimisme agama sama dengan masyarakat Turki memandang Lazuardi dalam novel Snow, sementara itu media menangkapnya sebagai makanan harian, penangkapan disiarkan, pembunuhan dipaparkan, teror sendiri diciptakan oleh media secara laten alih-alih oleh ekstrimis secara manifes. Cara kita memandang partai Islam kurang lebih juga sama dengan masyarakat Turki yang berlindung dibawah partai Islam, ketakutan akan sekularisme dan ketidaksejahteraan, agama dijadikan alat perjuangan politik kepentingan padahal esensinya partai Islam dididirikan seperti halnya PKS saat ini kita kenal adalah untuk berdakwah, memimpin adalah berdakwah.

Terkadang semua luapan pandangan tersebut menjadi bagian kecil mengapa kita tidak pernah bisa mengintegrasikan paradigma. Paradigma Indonesia hanya omong kosong yang kita juga alpa bahkan tidak tahu. Pancasila yang begitu indahnya cuma jadi simbol seremonial. Demokrasi yang memungkinkan kita melakukan perubahan secara revolusioner hanyalah wacana di dalam pikiran bapak bangsa. Sementara kita masih bertarung antara menjadi konservatif, moderat, agamis, liberal, atau sekuler dan tidak benar-benar punya tujuan berjalan beriringan mengembangkan karakter satu sama lain sebagai karakter bangsa ya berwibawa dan tangguh. Di lain pihak, generasi muda yang idealis dan bersemangat perlahan kehilangan ‘api’ nya ketika dihadapkan pada hal ‘yang konstruksi sosial bilang: realistis’. Kalau sudah begini, upaya menggulingkan bangsa tak berkarakter ini bisa jadi sangat mudah, tinggal menunggu waktunya saja.

Apa saya mendambakan tempat yang utopis?

Entahlah, cara saya melihat dunia saat ini mungkin juga masih mengalami banyak kesalahan logika berpikir. Namun, hal-hal ini yang benar-benar membuat saya sedih.

Dan membaca Snow menjadi katarsis bagi saya. Karena menangisi Turki melegakan di tengah kesedihan untuk Indonesia.

Advertisements

Noon Rain

we’re live in cliche. sometimes the cliche leads us to a logical fallacy which people had constructed since a hundred years ago. I write a serial of a cliche to show another way of thinking. What would it be if the only thing that we loved is ourselves? Neither Rain or Sekar didn’t know what was going around them.

————————————————————————-

Chapter 1: Monsoon

Angin musim hujan memang tidak pernah bersahabat kapanpun waktunya. Ia menyisir rambut panjangku yang lupa kukuncir kuda menjadi berantakan alih-alih rapi. Kadang ia membawa dedaunan runtuh dari rantingnya ke trotoar yang sudah cukup kotor dengan sampah plastik. Bahkan lebih parah, ia bisa saja menghujamkan pohon ke atas kendaraan yang kebetulan lewat di saat tak beruntung.

Meskipun begitu, angin musim hujan tidak selamanya menjadi musuh yang buruk. Bila orang bilang, it’d better to have one enemy than no one, mungkin aku setuju. Musuh seringkali mempertemukan kita dengan kawan yang tak terduga. Ia menciptakan ikatan dari sebuah kesamaan yang ditakdirkan untuk menyatu, seperti sama-sama dibuat kesal oleh angin musim hujan.

Begitulah takdir merencanakan Rain untuk bertemu denganku. Ia tiba-tiba muncul dan memayungiku di tengah gerimis ketika payungku terbang terhempas badai siang itu.

“Jakarta memang selalu kejam,” ucapnya pendek padaku.

Aku menatapnya bercampur takjub dan heran. Dari mana datangnya manusia ini? Wajahnya basah terkena rintik hujan, namun senyumnya hangat seperti matahari pagi yang masuk lewat sela jendela kamar. Ia masih terus memayungiku sementara aku hanya terdiam kehabisan kata-kata terpesona dengan mata birunya.

“Di situ ada halte. Sebaiknya berteduh daripada nanti sakit,” lanjutnya padaku.

Tiba-tiba angin jahanam berhembus kencang. Rambutku ditariknya hingga menutupi muka. Air hujan masuk seperti tembakan pistol air. Sementara itu payung yang melindungiku tersingkap ke atas dan rusak.

“Uuurrgghh… I hate monsoon!!!” erangku tiba-tiba.

Dan dia tertawa lepas. “Me too.”

Aku pun mengikuti ritme tawanya sambil kami berdua berjalan beriringan tak berpayung menuju halte yang kini penuh dengan pengendara motor berteduh.

Read Chapter 2

Read Chapter 3

Read Chapter 4

Himawari

I’m glad it’s Sunday morning.

Here’s my thought, Minggu adalah waktunya saya mengingat kembali hal yang menyenangkan. Salah satu hal yang menyenangkan adalah belajar dan mengerjakan tugas menulis hal pertama yang terlintas dibenak pagi ini. Saya ingat janji untuk menulis tentang lagu Himawari.

Sebelumnya, alasan kenapa saya suka lagu ini adalah saya pecinta bunga matahari. Filosofi bunga ini adalah optimisme. Kelopak yang besar dan berwarna cerah menghadap matahari di setiap pagi. Dan saya adalah orang yang sangat optimis (bahkan terhadap mimpi yang mungkin tidak akan pernah terwujud).

Saya rasa selalu ada kemungkinan untuk mencapai suatu hal, biarpun akhirnya tidak kesampaian saya selalu tahu usaha yang saya lakukan adalah wujud bahwa saya sebenarnya mampu. Kadang optimisme ini agak nyenggol ke arah ambisius juga. Well, asalkan tidak pernah menjatuhkan dan merugikan orang lain, saya rasa baik-baik saja.

Lagu Himawari sendiri menunjukkan sebuah harapan dan rasa pantang menyerah.

(yang ditulis dibawah ini dalam bahasa inggris agar lebih universal)

—————————–

The sunflower swaying in the wind
Faces the sun as it blooms
Everlastingly
I raise both of my hands to that blue sky
Even if I’m hit by the rain,
Without wiping away the flowing tears
On that far side of sadness,
I believe in the future

With an old bike
To a landmark tower
I lead you
Closer to summer
Along the way on this slow hill road
The yellow fireworks
Can be seen
Over the sprawling vast land

I can’t hear a thing
If I’m alive
Various things will happen
Like the unpleasantness and pain
During those times,
I, from this knoll
Am gazing by myself

Where is the sunflower 
Inside of you?
If there a dream 
You were aiming for,
It’s something you should remember
In times when the clouds cover overhead,
I never gave up
The sought-after rays of sun
Will one day reach you

Along the guardrail
We rest our hips
Before long, the setting sun
Makes shadows
The electric lines swayed
And were crying weakly
The yellow hope
Nevertheless rises

I can’t do anything
I can only
Think about this scenery
Despite things like sadness, loneliness,
And being depressed, 
You, as your own self,
Look up to the sky

In order for you to be you,
I’ll be waiting until you stand up
Even in the far side of the starry sky
Surely the sun is waiting
Within your chest
Is a blooming sunflower
Close your eyes and remember
One day you’ll sow those seeds

The sunflower swaying in the wind
Faces the sun as it blooms
Everlastingly
I raise both of my hands to that blue sky
Even if I’m hit by the rain,
Without wiping away the flowing tears
On that far side of sadness,
I believe in the future

————————————————

———————————————–

Ya, saya tipikal orang yang sibuk merencanakan hidup. Itu cara saya menikmati setiap waktu dan oksigen yang saya hirup. Setidaknya untuk esok saya tahu apa yang harus saya lakukan dan ketika melewati suatu fase, saya juga tahu harus melakukan apa. Lagu ini membuat saya untuk ingat dengan apa yang sudah saya susun. Saya ini bunga matahari yang menanti berkembang, selalu menantang pagi, mengumpulkan optimisme dalam diri, dan berusaha mewujudkan visi dengan percaya diri.

Normal

segala yang normal adalah hasil konstruksi sosial

Setidaknya itu yang malam ini saya dapatkan tertulis di linimasa @Menjadi_ID saat akun tsb membahas apa itu Analisa Sosial.

Saya menaruh perhatian pada NORMAL dan KONSTRUKSI SOSIAL. Gara-gara dua hal ini kita punya doktrin sehingga mereka yang tidak ajeg mengikuti social order dianggap abnormal. Seperti halnya diskriminasi laten terhadap perempuan ‘nakal’, sifat rasis, atau terlalu agamis hingga menganggap yang tak beragama kafir dan harus dimusnahkan.

Kadang saya merasa ada konstruksi sosial yang salah di Indonesia. Normal-nya orang Indonesia juga aneh, ya apalagi yang sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman. Jadi macet adalah hal normal (?)

Ada satu sih yang nggak pernah bisa saya terima dari normal di Indonesia (sebenernya banyak, tp isu SARA terlalu sensitif saya ga berani). Saya masih ga bisa terima kalau perempuan yang sudah tak perawan itu sudah nggak berarti. Mmm… kita sendiri sudah tahu, kehilangan keperawanan ga cuma masalah seks tapi juga krn olahraga, kecelakaan, hingga masalah kesehatan organ kewanitaan. I really hate when there’s a man think that they only want to marry a virgin.

Why?

Satu-satunya alasan logis yang bisa gue tangkep juga bukan masalah harga diri baik perempuan atau laki-laki, tapi seks. Keperawanan adalah hal privat. Bahkan ketika melihat seorang perempuan di depan mata kita nggak bisa langsung judge keperawanan dia. Dan konstruksi sosial kita yang sakit (tanpa sadar selalu) menjadikan perempuan submissive, mengajarkan bahwa perempuan harus menjaga diri agar suatu hari ia menikah dalam keadaan suci dan hal tersebut adalah hadiah terindah bagi suaminya. Oh-so-nguntungin pria banget. Kenapa itu harus kado terhadap suaminya? Kenapa harus si pria yang diutamakan dalam hal ini? Si perempuan juga nggak bisa nilai apakah si pria ini masih perjaka tulen atau ‘perjaka terakhir kali pas baru balig’.

Logikanya, laki-laki tahu perempuan itu perawan atau ga ya pas malam pertama. Atau ketika akhirnya perempuan itu cerita sendiri. Masalahnya di sini, kalau memang cinta kadang kita nggak harus mikirin apakah dia perawan atau tidak karena kita menikahi dan mencintai jiwa dan kepribadian bukan raga. Kalau masalahin perawan yang cuma dirasain pas bener-bener awal, ya namanya mikirin urusan ranjang doang dong.

I also hate when people say, “Makanya jangan bodoh jadi perempuan! Siapa suruh mau diajak begituan!” Okay, bahkan mereka mulai men-judge masa lalu seseorang. Biarpun frasa ‘setiap orang pernah berbuat salah’ tidak bisa dijadikan justifikasi, ini tetap hal yang salah buat saya. Ketika seseorang menceritakan penyesalan, apa yang benar-benar mereka butuhkan adalah dukungan untuk bangkit. Penyesalan adalah titik balik, tanda orang mau berubah, tanda orang mengharapkan hasil yang lebih baik. Dan ya, penyesalan memang datangnya belakangan. Tapi apa salahnya sih kita bersikap baik? Apa salahnya mulut terkunci untuk tidak menghina? Mengapa harus banget-banget kita anggap itu kejahatan kelas berat, toh kalau emang (KALAU EMANG) itu benar-benar dosa, yang tanggung ya yang melakukan. Jangan ikut-ikutan bikin dosa dengan bergunjing.

Hmmm… susah sih menggambarkan isi otak saya terhadap hal ini. Diumur saya yang masuk 20 tahun, gosip seperti ini sering terdengar. Kebanyakan mereka masuk kuping kanan ngendep terus masuk kuping kanan orang lain. Dan saya selalu gemes sama perempuan yang ikutan ngehina perempuan lain.

Hal normal memang sangat normatif, tergantung kultur yang ada di suatu tempat. Saya nggak tahu persis bagaimana kultur bahwa ‘perempuan tidak perawan adalah hina’ ini muncul. Yang pasti saya merasa konstruksi ini harus diubah kalau nggak mau dibilang semua laki-laki itu emang cuma mikirin urusan ranjang.

Pintar

Kamu menyajikan otak di atas meja makan. Sepiring kecerdasan untuk malam ini bertabur merica dan olive oil.   Kamu menyajikan otak di atas meja makan. Bersama anggur berupa hipotesis yang diperas dari bejana pikiran.   Kamu menyajikan otak di atas meja makan. Berlaukkan pertanyaan ontologis rasa ayam bakar dengan saus madu.   Kamu menyajikan otak di atas meja makan. Siapa yang ingin santap di jaman orang tak peduli akan bekas kuning di lipatan buku dan gunanya penelitian untuk membangun logika berpikir?   Alah, mereka bilang live with passion! So in your mind, knowledge, science, research, and theory had no place.   Itu sih naif namanya.