Noam Chomsky’s

If there was an observer on Mars, they would probably be amazed that we have survived this long.

Chomsky right. Society creates crazy people, judgment makes enmity, while the elites provide no protection. BUT WE SURVIVED! Thanks to logic and faith.

Teh

Secangkir teh pagi ini terasa manis. Kita yang bicara pada daun pintu, keheningan, dan langit-langit rumah akhirnya bisa menemukan teman. Mulai dari jalan layang yang tak kunjung usai hingga perihal siapa yang sembunyi di kolong tempat tidur telah mendekatkan kita selama enam jam.

Secangkir teh pagi ini terasa manis, ya? Takaran dua sendok gula pas di dalam adukan yang larut bersama sari-sari melati. Meja yang dulu hanya taplak meja berdebu kini terhidang toples biskuit, surabi keju, dan teh hangat.

Secangkir teh pagi ini manis sekali… Ditambah senyummu yang sehangat mentari pagi. Ditambah kilau matamu yang sebening permata. Ditambah wangimu yang semerbak melati.

 

Ah aku sampai pada kesimpulan tentang teh pagi ini,

Ternyata dipaksa menikah dengan gadis pilihan orang tua tak selamanya kisah-kisah sedih, ya?

 

 

Lokal

“Salam kelompok yang masih gue inget itu kelompok 10…!”

“Alalalamaaak… alalalamaaak… kelompok spuluh meng-go-da… adududuma…. adududumaaa…. bikin sa-kit ke-pa-la~~”

“HAHAHAHAHA”

“Udah lah yang paling hits sih ini…. Vila!!! Vila vila vila vila mudah ingat namanya” (nada: Lupa-lupa Ingat by Kuburan)

“HAHAHAHA iya bener!”

“Wei! Itu gue tuh.”

“Salam pribadi lah kocak-kocak. Angkatan lo apa yang hits?”

“Itu si C**a kak! ORA ORA ORA ORA The Explorer ORA!” (nada: Dora The Explorer)

“Jiiir…!”

“Trus dia pakai ransel ungu wakakakkakak.”

“Ah tapi angkatan kita dikit banget yang punya salam kelompok”

“Eh ini dong! Kelompoknya si Wil*** sm Nin** isinya artis semua tapi kagak pernah selese salam kelompok. Selalu dipotong di tengah wakakakak.”

“Iya trus ada yang jadi meja trus dicuekin trus malah dimarahin.”

“Wakakakak lagian lu geblek! Orang jadi kamera. Lo malah nungging jadi meja.”

“Ah angkatan kalian ga seru. Seruan angkatan gue namanya kocak-kocak, abotil, syahrini, anang, hahahahaha…”

“Iya tau deh tau…”

 

Lawakan lokal yang sebenernya ga lucu-lucu amat akhirnya berenti ketika:

“HUS! Lokal banget sih becandaannya!” Kali ini satu-satunya anak jurusan lain itu protes.

————————————

Kadang rasanya ga pengen diinget-inget, tapi seru juga sih masa lalu itu. Sayang seribu sayang, perdebatan itu ga pernah ada ujungnya. Ospek itu selalu dilematis. Lebih dilematis lagi ketika makna esensialnya ketutupan sama manifesta negatifnya. Untung sih, begitu masuk organisasi sistem orientasinya beda dan lebih esensial. Sama-sama menghargai dan juga membentuk attitude. Gue masih orang yang berprinsip bahwa senior itu harus dihormatin, bukan karena gue feodal atau apalah…. Etika berhubungan aja sih, bukan konstruksi sosial.

Jakarta

Menghadap Tuhan

Senja itu kesukaan semua orang. Bagi mereka yang menatap langit atau terlalu melankolis untuk mencari waktu lain demi merenung. Bahkan bagi mereka yang mencari ketenangan di macetnya jalanan ibukota.

Jakarta menyajikan senja yang baik dan suportif. Sinar lembayung di langit-langit kota yang pendek seakan mengaburkan awan gelap yang terkontaminasi polusi udara. Cakar-cakar gedung menghujam awan dan membentuk siluet dari kejauhan. Megah…

Saya pikir, nanti kalau saya pergi jauh ke tempat sibuk lain untuk memulai hidup baru, saya tidak akan pernah melupakan Jakarta.

Grogol yang terkenal dengan dua universitas dan satu rumah sakit jiwa. Palmerah dengan kantor media besar di dalamnya. Kota Tua yang ramai dengan anak muda suka foto-foto dan wisatawan penyuka museum.

Ancol selalu heboh dengan wahana baru dan pantai kotor yang anehnya mengundang wisatawan. Pluit yang sedang ditata jadi hunian bebas banjir. Kelapa Gading tak mau kalah dengan deretan toko dan restorannya. Manggadua si pusat perbelanjaan yang santer digunakan untuk  melabeli barang-barang segmen C & D. Ujung-ujung Tanjung Priok yang tak sepi dari kapal dan ABK.

Harmoni daerah persilangan pusat kota, pusat hiburan, dan pusat perdagangan. Senen dengan percetakan di tengah toko-toko onderdil dan pasar jajanan subuh. Gambir sahabat warga urban yang ramai-ramai ruralisasi sementara ke kampung halaman. Ah ya, itu Monas yang selalu iconic juga menimbulkan pro kontra dalam pembangunannya. Tanah Abang sahabat para ibu pencinta grosiran. Thamrin yang tak bosan menyajikan gaya hidup.

Sudirman di sela-sela waktu bersantai dalam mall dan pekerja kantoran yang wara-wiri. Kemang ramai oleh anak-anak muda ibukota. Blok M bersama kumpulan bis kota dan dinamika tawuran SMA.

Menteng yang nyaman dan mewah, menyimpan segudang keinginan untuk punya rumah masa depan di sana. Salemba yang padat dan juga antik. Cikini yang kadang terlihat kumuh, tapi selalu menarik untuk didatangi. Manggarai dengan jalanan kereta, kali kotor, dan kata-kata kasar yang tak sengaja terdengar. Jalanan Matraman yang penuh motor dan angkutan umum buru-buru ingin melewati lampu merah.

Dan tibalah di sekitar rumah, Utan Kayu rumahmu yang halamannya luas di belakang LIA Pramuka. Rawamangun, rumahku yang tenang di perumahan Polisi.

Jelas…, aku akan kembali ke kota ini suatu hari. Tidak ingin jauh-jauh dari tempat yang membangunku sejak dini.

Carnival

Warna daun belum berubah menjadi kuning ketika aku menginjakkan kaki di atas rumput ini kembali. Dengan bianglala yang sama, komidi putar yang sama, piring terbang yang sama, dan poci-poci yang selalu rusak.

Nyiur angin seperti lagu kesunyian yang melodinya membisiki daun telinga di balik rambut. Ia membelai seperti tak tahu diri bahwa aku sudah punya kekasih.

Papan nama wahana masih gagal menyala karena aliran listrik bukan barang murah di tempat ini. Namun, namanya masih jelas, aku bisa menemukan kata “Tong Setan” di tempat kesukaan abangmu. Ya, dia sering bertaruh di situ bersama teman-temannya, kan.

Seorang bapak tua datang menyapu tumpukan sampah di dekat kantin. Di sana selalu ramai orang ya, mereka bergantian membeli makan dan minum dan membuangnya di tempat orang tak peduli ‘kebersihan itu sebagian dari iman’. Aku ingat betapa aku suka makan kembang gula dan kamu suka makan kembang tahu. Hahaha… sama-sama kembang hanya beda sensasi.

Aku melihat panggung yang tegak berdiri dalam kekosongan. Mungkin belum jamnya pertunjukkan. Atau memang sirkus yang sering kita tonton sudah hijrah, secara mereka memang nomaden dan sering diusir pegawai kelurahan karena tak punya KTP.

Kakiku berlari menuju satu mesin. Wah, itu dia kesukaan kita. Kita bisa menghabiskan waktu hingga satu jam dan anak-anak kecil mulai mengadu pada orang tua mereka tentang betapa rakusnya kita ingin mengambil seluruh boneka di dalam mesin tersebut. Ah, itu hanya pelampiasan toh kita juga membagi-bagikan boneka tersebut pada akhirnya. Anak-anak itu saja yang kelewat khawatir dan cengeng.

Aku melewati beberapa pasangan mabuk yang masih tertawa-tawa. Kenapa orang senang masyuk di tempat ini? Segmen umur hiburan ini selalu tak jelas.

Ah, ada bangku! Aku pikir aku ingin menikmati ini semua sejenak.

“Hemmm….,” gumamku.

“Hemm….”

“Hem….”

“Hm….”

“Lalita?” seseorang memanggil namaku. Aku menoleh.

“Ya?” tanyaku. Aku tak kenal dia siapa. Laki-laki jelang usia tiga puluh. Kemeja putih kebapakan dimasukan ke dalam celana jeans hasil permak levis.

“Menunggu Ari?”

“Ya…”

Dia hanya tertunduk. Tanpa jawaban.

 

Vakansi ini berakhir pada satu kalimat.

“Ia meninggal di sana…. Di atas bianglala. Terjun, di hari pernikahanmu.”

Panggung

We don’t know how near we were with our dream.

Kalau bagi saya mungkin sedekat saya ketika berdiri di dekat sound control bersama orang-orang yang bersorak bersama lightstick mereka menghadap panggung yang di atasnya ada sekumpulan remaja perempuan bernyanyi dan menari.

Kadang memang ada batasan. Seperti dua tiang yang menghalangi jarak pandang penonton ke arah panggung atau lampu sorot yang terlalu terang menyilaukan. Kadang juga batasannya berupa kriteria usia.

(credit to Ratu Vieny, jojoincov.devianart.com)

(credit to Ratu Vieny, jojoincov.devianart.com)

Kata orang, kalau kita tidak berusaha, mimpi cuma jadi bunga tidur saja. Mereka juga bilang, kalau kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan, mimpi juga cuma buah tidur saja. Tidak akan pernah jadi visi.

Bagi saya, bila keterbatasannya adalah waktu dan umur, maka ada garis masa depan dan masa lalu di antaranya. Kalau momennya adalah masa lalu, maka mimpi memang cuma jadi bunga tidur. Selamanya ada di dalam kepala yang mulai berpikir untuk melihat masa depan yang lebih baik.

Selamat tinggal panggung… Kalau ada kesempatan aku akan mengejarmu lagi.